Tok... Tok...
"Orion, apakah kamu ada di dalam? ayo buruan makan malam, setelah ini kita masih ada acara!" ucap Serra dari luar kamar.
Aku langsung menyeringai, "Tuh dipanggil kekasihmu, sekarang lepaskan aku!" sarkas ku.
"Kau cemburu?" goda Orion menatapku dalam.
"Dulu mungkin iya, kalau sekarang tidak. Jadi aku justru berharap kamu segera ceraikan aku, setelah itu aku akan mendoakan kamu bisa bahagia bersama Serra!" jawabku sembari mendorongnya keluar dari kamar mandi.
"Jangan harap bisa cerai sebelum kamu bayar hutang papamu!" sergah Orion nampak emosi.
"Oke, nanti akan aku bayar!" balasku bersungguh-sungguh.
Tok... Tok... Tok...
"Orion, kenapa kamu lama banget sih?" pekik Serra semakin keras mengetuk pintunya.
"Aku mandi sebentar!" balas Orion.
Aku mendengus kesal, sungguh tidak sopan. Meskipun dia kenal baik dengan Orion tapi ini merupakan kamar aku juga.
Tiba-tiba saja Orion masuk lagi ke kamar mandi.
"Kamu mau apa?" Pekikku semakin kesal.
"Aku buru-buru mau pergi, aku mandi dulu," sela Orion.
"Aku yang masuk duluan, kalau nggak sabar mandilah di ruang tamu!" tolakku tak ingin terus mengalah.
Orion menatap tajam ke arahku, tanpa banyak bicara ia mulai pelepaskan pakaiannya satu persatu.
"Kalau gitu kita mandi bersama!"
Orion tanpa rasa malu telanj*ng bulat di hadapanku, akupun reflek keluar dari kamar mandi. Sepertinya demi Serra dia sampai tidak memikirkan gengsinya yang biasanya setinggi langit.
Begitu selesai mandi, Orion keluar dan menatapku.
"Ambilkan pakaian!"
"Ambil sendiri, aku juga buru-buru mau mandi!" tolakku mengikuti gaya bicaranya yang terkesan dingin.
"Kenapa kamu mulai membantahku?" pekik Orion tak sabar.
Aku malas menjawab, aku pun buru-buru masuk ke kamar mandi dan mengunci dari dalam. Malam ini aku ingin berendam air hangat untuk meredakan stress ku, aku tak mau ikut makan semeja dengan Serra.
Semua ini demi melindungi diriku sendiri, sebab yang ada nanti mama mertua dan kakak iparku hanya akan membanding-bandingkan kami.
Tapi akibatnya, tengah malam aku kelaparan. Sudah pukul 12 malam, suamiku masih belum pulang. Dari berita gosip yang beredar, Orion dan Serra menghadiri sebuah acara. Dimana kini kedekatan mereka dianggap resmi sebagai sepasang kekasih.
Padahal aku sudah bertekad untuk lupakan Orion, tapi nyatanya d**a ini terasa nyeri. Kalau tahu cinta bertepuk sebelah tangan akan semenyakitkan ini, dulu aku tak akan pernah mau dinikahkan dengan Orion.
Untuk keluar dari jurang yang gelap ini masih butuh waktu, sekarang aku hanya bisa bersabar sembari berdamai dengan luka.
Karena tidak kuat menahan lapar, akupun nekat keluar dari kamar menuju ke dapur. Tapi makanan sudah tidak ada. Akupun membuka kulkas, setidaknya ada buah-buahan.
Aku mengambil buah apel dan pisang.
Saat menaiki tangga, kebetulan bertemu dengan Orion yang baru pulang. Badannya terciuma aroma alkohol yang kuat.
"Kamu belum tidur?" sapa Orion.
Aku hanya mengangguk.
"Kamu kelaparan?" tanya Orion lagi.
Kali ini aku menggeleng. Lalu Orion tersenyum tipis. Aku sendiri merasa heran, kenapa Orion akhir-akhir ini jadi lebih banyak bicara?
Biasanya saat berpas-pasan denganku hanya melirik lalu acuh tak acuh.
"Kalau lapar tinggal bilang lapar, akan aku masakkan," tutur Orion.
"Kau mabuk? Lihat baik-baik siapa yang kamu ajak bicara!" balas ku.
Aku yakin, paling saat ini Orion menganggap aku ini mantan kekasihnya atau mungkin Serra. Karena Orion tak mungkin sebaik itu sampai mau memasakkan untukku.
Akupun berjalan duluan meninggalkannya, aku memilih makan di balkon sembari menikmati udara malam untuk mendinginkan isi kepalaku yang panas.
Tapi tiba-tiba saja Orion menyusul dengan langkah yang sedikit oleng.
"Dingin, kenapa di sini?" tanya Orion lagi.
Suara Orion yang lembut sempat membuatku terlena, apalagi saat ketika wajah tampan itu mendekatiku. Tak bisa dipungkiri, Orion memang sangat mempesona. Lelaki yang tak hanya tampan tapi juga manly.
Tapi suasana yang sempat sendu itu berubah ketika mataku menangkap bekas lipstik di leher suamiku.
"Mandilah, kau bau! Dan lehermu penuh dengan bekas lipstik!" usirku.
"Kenapa dengan ekspresimu itu, kau cemburu padaku?" sergah Orion.
"Tidak, tapi aku jijik padamu," balas ku lalu masuk ke kamar duluan.
Akupun bergegas masuk ke dalam kamar dan rebahan di ranjang, di balik hangatnya selimut air mataku mulai berlinang. Aku sangat lelah menjadi istri yang tak dianggap.
Di sisi lain Orion mandi, lalu ia juga merebahkan dirinya di sisiku. Ia memelukku. Aku mencoba menepisnya, tapi pelukannya semakin erat.
"Orion, lepaskan. Aku merasa gerah kalau kamu nempel-nempel!" protesku sembari menggeser tubuhku ke pinggir.
"Bagaimana mungkin bisa gerah, AC saja sudah dinyalakan," sela Orion tak terima.
Akupun terbangun, memilih pindah tiduran di sofa. Orion hanya menatapku dengan wajah kebingungan.
"Kau marah padaku?" tanya Orion dengan tatapan dinginnya.
"Enggak, aku hanya sedang capek ingin segera tidur. Kamu mengganggu!" balas ku.
"Kau ini kenapa sih? Kenapa kamu jadi pemarah?" tanya Orion nampak kebingungan.
"Karena aku sudah bosan," jawabku tanpa basa-basi.
"Bosan kenapa?" tanya Orion tak mengerti.
"Ya intinya aku sudah bosan dipermainkan olehmu, kalau aku sudah berhasil mengumpulkan uang 9 Milyar kita akan bercerai!"
Orion mulai marah, diapun mendekatiku. Matanya berubah tajam, tangannya pun menarik kepalaku hingga wajah kami sangat dekat.
"Kenapa kamu bandel sekali, Camelia. Sudah enak-enak jadi istriku, menikmati kemewahan di rumah ini dan melayaniku seperti biasanya. Apa yang kurang hah?" gertaknya. "Semua wanita tidak seperti kamu, yang bisa dengan muda menjadi istriku!"
Aku membalas menatap tajam ke arah suamiku, lalu aku dorong tubuhnya hingga menjauh.
"Status yang mana? Dunia tahunya kamu adalah calon suami Serra. Dulu aku mau disentuh olehmu karena kupikir kamu lelaki yang bisa menjaga diri, tapi tadi setelah aku lihat banyak bekas lipstik di lehermu aku baru tahu, kamu lelaki murahan. Jadi mulai sekarang jangan sentuh aku, karena aku tak mau ketularan penyakit!" sarkasku.
Orion nampak terkejut, tapi belum sempat ia membuka mulut aku kembali menyelanya.
"Aku mau tidur, besok aku harus masuk kerja. Kuharap mulai sekarang kamu yang seperti dulu saja, tak pernah menganggap aku ada sekalipun aku di depan matamu!"
Orion yang gengsian pun hanya memalingkan wajah, lalu kembali tidur. Hubungan di antara kami memang selalu canggung dan hambar.
Esok harinya aku bangun lebih pagi, tanpa mengikuti sarapan bersama keluarga aku keluar rumah terlebih dahulu.
Keluar dari rumah yang selama ini mengurungku membuat aku merasa lapang.
Tapi saat aku keluar dari gerbang, aku melihat mobil Serra yang hendak masuk.
"Orion sudah bangun?" tanya Serra dari balik mobilnya.
"Belum, kamu bangunkan saja sendiri!" jawabku.
"Hah, kamu mengizinkan aku masuk ke kamar kalian?" sela Serra.
"Iya, masuk aja," jawabku dengan santai. Akan aku buat jalan yang lebar untuk kalian, agar aku dan Orion bisa segera bercerai.