Bab 6
Johan datang menghampiriku dan membantu membersihkan adonan yang berantakan di meja.
“Maaf ya, Johan. Gara-gara aku jadi kacau begini.”
“Chef Lyon yang langsung merekrutmu?” tanyanya sambil mengelap meja.
“Sepertinya iya. Dia bilang melihat CV-ku.”
Johan berhenti sebentar, lalu menatapku lebih dekat.
“Kamu mantan pacarnya Lyon?” tanyanya tiba-tiba.
Aku membeku. Pertanyaannya benar-benar tidak kuduga.
“Bukan. Aku hanya kenalannya.”
“Sudah kuduga. Pantas saja dia merekrutmu, bukan karena keahlianmu.”
“Maksudmu?“
“Banyak yang melamar di sini,” lanjutnya. “Bahkan wanita yang dekat dengannya juga melamar untuk posisi yang sama denganmu.”
Aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
“Tapi entah kenapa dia bisa menerima kamu. Apalagi setelah kekacauan yang kamu buat barusan.”
Kata-katanya terasa tajam.
“Di sini banyak pelanggan wanita,” katanya lagi.
“Mereka memuja Lyon. Banyak yang ingin jadi asistennya karena mengaguminya. Tapi dia malah menerima orang sepertimu. Kalau tidak ada alasan khusus, rasanya sulit dipercaya.”
Aku terdiam.
Aku tidak bisa membalas perkataannya.
Apakah benar aku tidak pantas bekerja di sini?
Apakah karena kekacauan tadi sikap Chef Lyon berubah?
Aku mulai merasa cemas.
Haruskah aku pergi saja dari tempat ini?
Tapi aku sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Lagipula, tempat ini indah. Dapurnya lengkap. Aku bisa banyak belajar di sini. Rasanya seperti menemukan tempat yang selama ini kucari.
Tapi, kekacauan barusan membuatku merasa sangat bersalah.
Aku menarik napas panjang.
Tidak. Aku tidak boleh menyerah karena satu kesalahan.
“Johan,” kataku akhirnya, “terima kasih sudah jujur. Mungkin aku belum sehebat kamu sekarang. Tapi aku akan belajar dengan sungguh-sungguh.”
Johan hanya menatapku.
“Ini bukan sekolah tempat belajar,” katanya datar. “Aku hanya mengingatkan kalau ini dunia kerja yang sebenarnya.”
Setelah mengatakan itu, dia pergi meninggalkanku.
Aku hanya menatap punggungnya menjauh.
Sore mulai turun. Cahaya dari jendela dapur berubah lebih lembut.
Karena aku datang saat sore, suasana dapur mulai lebih sepi. Namun aku tetap ingin menyelesaikan base cake yang tadi gagal.
Aku memulainya dari awal.
Walaupun sikap Johan terasa ketus, di sela-sela ucapannya tadi dia sudah mengajariku cara menggunakan mixer di dapur ini.
Aku mengikuti langkah-langkahnya dengan lebih hati-hati.
Tak lama kemudian, adonan cake kembali siap.
Aku memasukkannya ke dalam oven.
Karena ovennya mirip dengan yang biasa kupakai saat kelas baking dulu, aku sudah cukup mengerti cara mengatur suhunya.
Sambil menunggu, aku mulai menyiapkan buttercream.
Aku memberi sedikit pewarna wakanan, mencampurnya perlahan sampai menghasilkan warna hijau emerald yang lembut.
Aroma cake yang sedang di panggang mulai memenuhi dapur.
“Base cakenya sudah matang?” tanyanya.
“Sepertinya sudah. Aku akan mengeluarkannya.”
“Hati-hati. Panas.”
“Iya.”
Aku membuka oven dan mengambil loyangnya.
Namun tiba-tiba ujung jariku tersentuh bagian loyang yang masih sangat panas.
“Aduh!”
Johan yang melihatku langsung mendekat.
“Aku sudah bilang hati-hati. Kenapa kamu selalu membuat masalah?” katanya dengan nada kesal.
“Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil.”
“Kamu yang terluka, nanti aku yang di marahi Lyon.”
Dia menghela napas.
“Tunggu di sini. Aku ambil obat di ruangannya.”
Johan pergi keluar dapur.
Aku berdiri di dekat wastafel, membasuh jariku dengan air mengalir agar rasa panasnya berkurang.
Namun yang kembali ke dapur bukan Johan.
Chef Lyon.
Dia sudah berganti baju. Kemeja putihnya diganti dengan kaus hitam sederhana. Rambutnya juga terlihat sedikit basah seperti baru mencuci muka,
Dia langsung menghampiriku dan menarik tanganku.
“Kenapa kamu masih di sini? Kenapa tidak pulang saja?”
Aku membeku mendengar ucapannya.
Apa dia sedang mengusirku?
Aku menatapnya wajahnya, mencoba memastikan maksudnya. Tapi dari sudut mataku aku melihat Johan berdiri di pintu dapur. Dia hanya menatapku sebentar, lalu berbalik pergi tanpa mengatakan apa pun.
Aku semakin bingung.
Apa aku salah karena terluka?
Atau johan mengatakan sesuatu pada Chef Lyon?
Sejak tadi sikapnya terasa berubah. Aku pikir dia kembali ke dapur untuk memaafkanku. Tapi yang kudengar justru pertanyaan itu.
Aku perlahan menarik tanganku dari genggamannya.
“Maaf. Aku membuat kekacauan hari ini. Terima kasih sudah memberiku kesempatan.”
Aku menunduk sedikit.
“Aku akan pergi.”
Kalau memang dia tidak menginginkanku bekerja di sini, seharusnya dia bisa mengatakan dari awal. Aku tidak perlu bertahan sampai sejauh ini.
Aku cepat-cepat melepaskan apron dan berjalan menuju pintu dapur.
Namun saat aku hampir membuka pintu kedua yang menuju ke lorong, tanganku kembali ditarik.
Aku terkejut dan menoleh.
Chef Lyon berdiri tepat di belakangku, dan memegang tanganku.
Kenapa dia menahanku?
“Obati dulu lukamu,” katanya.
“Aku tidak ingin orang mengira aku melukaimu.”
Aku tertegun.
“Ini hanya luka kecil. Tidak apa-apa. Nanti akan kuobati di rumah.”
Dia menatapku beberapa detik sebelum berbicara lagi.
“Kamu berbeda dengannya.”
Aku mengerutkan kening.
“Sejak pertama kali bertemu denganmu pagi itu... aku sudah tahu kamu berbeda.”
Aku semakin tidak mengerti.
“Biarkan aku mengobati lukamu dulu,” lanjutnya.
“Setelah itu, kamu boleh marah padaku.”
Apa maksudnya ini?
Kenapa dia berbicara seperti itu?
Aku benar-benar tidak paham.
“Baiklah,” kataku akhirnya. “Aku akan mengobati luka ini, lalu pulang. Tapi aku ingin bertanya sesuatu.”
“Setelah lukamu diobati, kamu boleh bertanya apa saja,” jawabnya.
“Obatnya ada di ruanganku. Ayo, kita ke atas.”
“Iya... tapi lepaskan tanganku. Aku bisa berjalan sendiri.”
Dia baru melepaskannya.
Saat itu juga pintu dapur terbuka lagi.
Beberapa pegawai masuk sambil membawa tas mereka.
“Chef, kami pulang dulu. Tinggal pintu depan belum di kunci. Kuncinya di atas meja.”
“Baik. Hati-hati di jalan,” jawab Chef Lyon.
“Iya, Chef. Sampai lusa.”
“Selamat ulang tahun, Chef.”
“Terima kasih,” jawabnya. “Maaf ya, tahun ini aku tidak bisa membuat pesta.”
“Tidak apa-apa, Chef. Selama kami bisa bekerja di sini, kami sudah senang.”
Chef Lyon tersenyum kecil mendengar ucapan itu.
Aku yang berdiri di sampingnya mendengar percakapan itu dengan perasaan aneh.
Hari ini ulang tahunnya?
Aku semakin merasa bersalah.
Hari ini aku di panggil untuk interview. Lalu membuat kekacauan di dapurnya. Bahkan hampir membuatnya marah.
Dan sekarang aku baru tahu... ini hari ulang tahunnya.
Kenapa aku datang di saat seperti ini?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Cake yang tadi kubuat.
Aku menoleh ke arah dapur.
Bukankah tadi dia menyuruhku membuat cake?
Apa cake itu sebenarnya untuk ulang tahunnya?
Kalau begitu... setidaknya aku harus menyelesaikannya.
Aku ingin menghiasnya.
Setidaknya, di hari ulang tahunnya, dia masih bisa memakan kue yang kubuat sebagai permintaan maafku karena mengacaukan harinya.