Pekerjaan Impian

1307 Words
Bab 7 Kami berjalan menuju ruangannya. Aku hanya mengikuti langkahnya tanpa banyak bicara. “Duduk di sini. Aku ambil obat dulu,” kata Chef Lyon. Aku mengangguk dan duduk di kursi yang berada di dekat meja kerjanya. Ruangan itu terasa nyaman. Tidak terlalu besar, tapi setiap sudutnya tertata rapi, seperti memang dirancang dengan teliti. Rak kecil di dinding dipenuhi buku resep. Sambil menunggu, aku memperhatikan sekeliling. Pandangan mataku berhenti pada sebuah bingkai foto kecil di sudut meja. Aku menyipitkan mata, mencoba melihat jelas. Di dalam foto itu ada Chef Lyon bersama seorang wanita. Oh... jadi dia sudah menikah, pikirku. Aku melihat sekeliling lagi, tapi tidak ada foto lain. Hanya foto itu yang berdiri di sana. Chef Lyon kembali menghampiriku. Dia membawa kotak obat kecil di tangannya. Dia berlutut di depanku. “Berikan tanganmu yang terluka. Aku akan mengobatinya.” “Biar aku saja. Aku bisa sendiri.” Dia menatapku sebentar. “Kamu keras kepala sekali,” katanya. Lalu dia menarik tangan kananku dengan hati-hati. “Akan sulit mengobati tangan kananmu sendiri.” Dia membuka kotak obat dan mulai membersihkan luka kecil di jariku. “Aku akan menyelesaikannya cepat.” Aku memilih diam. Beberapa detik kemudian dia berkata pelan. “Maafkan aku soal ucapanku tadi.” Aku menatapnya. “Mungkin kata-kataku tadi terdengar menyakitkan.” Aku tidak langsung menjawab. Jujur saja, kata-katanya tadi memang terasa seperti tamparan. Tapi karena dia sekarang meminta maaf, aku merasa sedikit lebih tenang. “Kalau begitu...” kataku pelan. “Biarkan aku menyelesaikan menghias kue itu.” Dia berhenti sejenak dan menatapku. “Kamu masih ingin melanjutkannya dengan luka seperti ini?” “Luka ini tidak seberapa dibanding semua kekacauan yang aku buat tadi,” jawabku. Aku menarik napas. “Aku juga ingin meminta maaf. Mungkin karena aku terlalu gugup saat diuji tiba-tiba, semuanya jadi berantakan.” Aku menatapnya. “Aku ingin memperbaiki dengan menyelesaikan kue itu.” Chef Lyon menutup kotak obatnya. “Tapi sekarang sudah jam pulang.” “Keluargamu pasti menunggu di rumah.” “Itu tidak akan lama,” jawabku. Dia menghela napas pelan. “Baiklah. Aku akan membiarkanmu menyelesaikannya.” Aku tersenyum. “Terima kasih, Chef.” Setelah lukaku selesai diobati, kami kembali ke dapur. Dapur sudah jauh lebih sepi. Beberapa lampu dimatikan, hanya lampu di area kerja yang masih menyala. Aku kembali ke meja kerja dan mulai menghias kue yang tadi kubuat. Aku mencoba membuat tampilannya lebih rapi. Buttercream hijau emerald itu kuhaluskan dengan spatula, lalu kutambahkan sedikit hiasan sederhana di bagian atasnya. Aku menggunakan teknik yang dulu kupelajari saat baking class. Chef Lyon berdiri tidak jauh dariku. Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya memperhatikan pekerjaanku sampai selesai. Setelah selesai, aku membawa kue itu mendekatinya. “Chef... selamat ulang tahun.” Dia terlihat sedikit terkejut mendengar ucapanku. Lalu dia menatap kue itu. “Kue ini cukup bagus,” katanya setelah beberapa saat. “Tampilannya manis. Tapi masih banyak yang perlu diperbaiki kalau ingin sesuai standar toko ini.” Aku tahu itu bukan pujian yang sepenuhnya. Tapi aku tetap tersenyum. “Baik, Chef. Sekarang coba rasanya. Jangan hanya melihat tampilannya.” Dia tiba-tiba terlihat sedikit salah tingkah. “Jangan mengatakan kalimat seperti itu,” katanya pelan. “Terdengar aneh.” Aku mengerutkan kening, tidak benar-benar mengerti maksudnya. Dia mengambil garpu kecil dan memotong sedikit bagian kue itu. Aku memperhatikan wajahnya dengan penuh harap. Saat dia mencicipinya, mataku sedikit berbinar. Aku hampir yakin rasanya enak. “Bagaimana, Chef?” tanyaku. “Apa aku sudah layak bekerja di sini?” Dia menatapku beberapa detik sebelum menjawab. “Dengan semua kekacauan yang kamu buat tadi... seharusnya tidak.” Aku langsung terdiam. “Tapi,” lanjutnya, “karena kue ini rasanya enak... aku tetap menerimamu.” Wajahku langsung cerah. “Terima kasih, Chef! Aku berjanji tidak akan membuat kekacauan lagi.” Dia tersenyum tipis. “Tapi kamu masih harus banyak belajar, Sera.” “Kue ini enak, tapi masih bisa diperbaiki.” “Tentu, Chef. Aku akan mendengarkan semua arahanmu.” “Bagus.” Dia melirik jam di dinding. “Besok toko ini tutup.” “Kamu mulai bekerja lusa.” Aku mengangguk. “Bukannya besok bukan tanggal merah ya, Chef?” “Setiap tahun aku menutup toko, sehari setelah ulang tahunku,” jawabnya santai. “Oh begitu. Baiklah.” Aku merasa sangat senang. Aku benar-benar diterima bekerja di toko ini. Rasanya seperti mimpi. Aku akan belajar banyak hal dari seorang chef yang jelas sangat berpengalaman. Aku mengambil tasku yang tadi kutaruh di meja dapur. “Kalau begitu saya pulang dulu, Chef.” “Iya. Hati-hati di jalan.” “Chef yang akan menutup toko ini?” “Iya. Aku akan menutupnya sebentar lagi.” “Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu.” Aku melangkah menuju pintu depan dan membukanya. Namun tiba-tiba dia memanggilku. “Sera.” Aku berhenti dan berbalik. “Iya?” “Apa besok kamu ada waktu?” “Besok?” aku sedikit bingung. “Apa aku harus mulai berkerja besok?” “Bukan itu.” Dia terlihat ragu sejenak sebelum melanjutkan. “Aku hanya ingin meminta maaf dengan benar atas sikapku tadi.” Aku tersenyum kecil. “Aku sudah memafkan kata-katamu sejak kamu bilang kue yang kubuat enak.” Dia menatapku beberapa detik. “Begitu ya,” katanya akhirnya. “Kalau begitu... kamu pulang saja.” Aku mengangguk. “Iya, Chef.” Aku keluar dari toko itu dan berjalan menuju halte bus. Kenapa dia tadi menanyakan apakah aku punya waktu? Tentu saja aku punya waktu. Tapi aku tidak ingin terlalu sering berdua dengannya di luar urusan pekerjaan. Aku baru saja mulai bekerja di sana. Akan lebih baik jika semuanya tetap profesional. Tak lama kemudian aku sampai di rumah. Seperti biasa, aku kembali pada rutinitasku. Mengurus anakku, membereskan rumah, lalu menyiapkan makan malam sederhana. Setelah semuanya agak tenang, aku mengambil ponsel dan menghubungi suamiku. Aku ingin memberitahunya kabar baik ini. Teleponku tersambung. “Halo, Pa?” “Iya, Ma.” “Pa, mama keterima kerja di toko roti.” “Toko roti mana, Ma?” “Toko roti ‘Le Thé’.” “Mereka buka cabang baru dekat sini, Pa.” “Kok kita tidak pernah dengar ya?” “Iya, karena cabang yang ini masih baru, Pa. Belum terlalu terkenal. Makanya mereka masih butuh pegawai.” “Syukur ya, Ma.” Lalu dia bertanya. “Sudah tahu gajinya berapa?” Aku langsung terdiam. Aku benar-benar lupa menanyakannya. Aku hanya terlalu senang saat Chef Lyon mengatakan aku diterima bekerja di sana. “Belum tahu, Pa,” jawabku akhirnya. “Lusa baru mulai kerja. Nanti mama tanyakan.” Suamiku menghela napas kecil. “Mama bisa lupa hal yang paling penting.” Aku tertawa pelan. “Sudah lama tidak interview, Pa. Mama Cuma bersyukur diterima.” “Oh ya, Pa,” kataku lagi. “Papa pasti kaget denger yang satu ini.” “Kenapa?” “Yang punya toko itu Chef Lyon, Pa. Ingat?” “Chef yang di hotel itu?” “Iya.” Aku masih sedikit tidak percaya saat mengatakan itu. “Hebat sekali ya. Dia sudah punya usaha sendiri selain bekerja di hotel.” “Wah, kebetulan sekali ya, Ma.” “Iya kan? Mama juga kaget waktu interview ternyata dia.” “Berarti mama beruntung sekali.” Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Papa doakan mama sukses ya. Siapa tahu nanti mama bisa punya toko seperti itu juga. Bukankah itu impian mama?” “Aamiin.” “Makasih ya, Pa, doanya.” “Anak kita mana, Ma? Papa mau video call.” Aku menoleh ke arah ruang tamu, melihat anakku yang sedang bermain. “Nih, lagi main.” Aku mengangkat ponsel dan mulai video call. Begitulah percakapanku dengan suamiku malam itu. Aku merasa sangat bahagia. Setelah sekian lama hanya menjadi ibu rumah tangga dan mengurus keluarga, akhirnya aku bisa kembali bekerja. Aku tetap seorang ibu. Tapi sekarang aku juga akan memiliki penghasilan sendiri dari hal yang aku sukai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD