bc

Honey and Pastry

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
family
kickass heroine
drama
sweet
lighthearted
office/work place
secrets
like
intro-logo
Blurb

Sera tidak pernah menyangka bahwa pertemuan kecil di sebuah minimarket—hanya karena sebotol minuman favorit—akan membuka pintu baru dalam hidupnya.

Ia hanyalah ibu rumah tangga biasa yang mencintai dapur kecilnya dan keluarganya. Hidupnya sederhana, hangat, dan cukup.

Sampai suatu pagi, seorang pria asing membukakan tutup botol minumannya, tersenyum, lalu menghilang begitu saja.

Pertemuan itu seharusnya berakhir di sana.

Namun takdir mempertemukan mereka kembali di sebuah hotel, saat Sera tanpa sengaja bertemu pria itu sebagai seorang chef profesional.

Dari percakapan sederhana tentang makanan yang tidak pedas untuk anak-anak, perlahan sebuah kesempatan muncul—kesempatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Apakah Sera dan pria asing itu akan bersama?

Atau batasan dalam sebuah hubungan akan memiliki akhirnya yang lebih berarti dari hubungan itu sendiri.

Sera dan Pria itu akan menghadapi hubungan yang di pertemukan oleh takdir.

“Namun, semakin dekat mereka, semakin jelas bahwa takdir tidak selalu berarti kebahagiaan.”

chap-preview
Free preview
New Green Tea-Madu
Bab 1 Pagi itu, setelah aku belanja sayuran untuk masak hari ini, aku merasa haus sekali. Dalam perjalanan pulang, aku mampir sebentar ke Minimarket yang searah dengan rumahku. Aku memarkirkan motor, lalu masuk ke dalam. Lagu yang terdengar pagi ini sangat ceria, Blackpink – bombayah. Aku tersenyum sendiri. Kupikir yang jaga hari ini pasti anak Gen Z yang suka K-pop sepertiku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju rak pendingin untuk membeli minuman kesukaanku: New Green Tea-Madu. Aku menyusuri lorong kulkas minuman, mencari-cari letaknya. Setelah memperhatikan beberapa rak, akhirnya aku melihat satu botol terakhir di rak dingin. Kulkasnya dua pintu, bisa di buka dari kanan dan kiri. Aku membuka pintu sebelah kiri. Namun, bersamaan dengan itu, pintu sebelah kanan juga terbuka. Aku tidak menyangka ada orang lain yang mengincar minuman yang sama. Aku menoleh ke samping kanan. Seorang pria berdiri di sana. Tangannya juga mengarah ke botol yang sama. Ujung jari kami hampir bersamaan menyentuhnya. “Eh...” kataku refleks, sedikit terkejut karena tanganku bersentuhan dengannya. Aku langsung menarik tangan. “Kamu mau ambil ini juga?” tanyanya dengan nada santai. “Iya... Abang juga?” “Iya. Tapi kalau kamu mau, ambil saja. Aku bisa beli yang lain.” “Oh, nggak apa-apa. Kalau Abang juga mau, ambil saja.” “Nggak apa-apa. Untukmu saja.” “Oh ya sudah, kalau begitu,” kataku akhirnya. Aku membawa botol itu ke kasir. Aku menoleh ke belakang, kulihat pria itu mengambil air mineral dari kulkas lain. Saat aku sampai di kasir, ternyata dia juga berdiri di belakangku. Ketika kasir hendak memindai minumanku, pria itu berkata, “Kak, sekalian ini saja minuman saya. Biar saya yang bayar itu juga.” Aku menoleh cepat ke arahnya. “Nggak usah, Bang. Saya bayar sendiri saja.” “Nggak apa-apa, Mbak. Saya mau traktir.” Aku menatap Mbak kasir. Dia hanya tersenyum kecil melihat kami. Aku jadi kikuk dan tidak melanjutkan penolakan itu. Setelah selesai membayar, aku mengambil botol minumanku. “Makasih ya, Bang.” “Iya, sama-sama,” katanya sambil tersenyum. Aku keluar dari Minimarket dan hendak membuka minumanku. Tiba-tiba dia sudah di sampingku, masih memegang air mineralnya. Tanpa banyak bicara, dia mengambil botol dari tanganku dan membukakan tutupnya. Aku terdiam, hanya menatapnya. “Nih. Selamat menikmati,” katanya sambil memberikan kembali botol yang sudah terbuka. Aku mengambilnya pelan. Entah kenapa aku tidak langsung meminumnya. Aku hanya memegangnya sambil masih sedikit bingung dengan perlakuannya. “Saya duluan ya, Mbak,” ujarnya lagi. “Iya, Bang,” jawabku canggung. Aku memperhatikannya berjalan menuju sebuah mobil Fortuner. Dia masuk ke dalam mobil itu. Kacanya gelap, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya lagi. Aku akhirnya meneguk minuman itu. Ah... ini enak sekali. Segar dan manis bersamaan. Rasa capek habis belanja langsung terasa berkurang. Mobil itu mundur pelan. Aku kembali naik ke motorku. Saat hendak menyeberang, mobil pria itu berhenti sejajar denganku. Tiba-tiba dia membuka kacanya. Aku menoleh, sedikit terkejut. “Hati-hati ya, Mbak. Senang ketemu kamu. Karena kita berdua suka minuman yang sama,” ucapnya sambil tersenyum lagi. Aku hanya terdiam. Tidak membalas senyumannya, tidak juga menjawab ucapannya. Mobilnya melaju lebih dulu menyeberang jalan. Aku masih diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut menyeberang. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan kejadian tadi. Pagi ini terasa aneh. Seperti mimpi kecil yang tidak disengaja. Bertemu pria asing hanya karena minuman favorit. Aku sampai di rumah dan memarkirkan motor. Suamiku sudah bangun dan langsung menghampiriku. “Belanja apa hari ini, Ma?" “Belanja daging, Pa. Mau masak sop daging.” “Wah, enak banget.” Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia membantu menurunkan belanjaan, sementara aku masuk membawa sarapan yang sudah kubeli – nasi lemak. Anakku masih tidur di kamar. Beberapa minggu ini suamiku sedang cuti kerja. Tapi minggu depan dia akan kembali merantau. Aku duduk di meja makan dan membuka bungkusan nasi lemak. “Ini, Pa. Nasi lemak pakai perkedel dan telur bulat. Sambal dan banyak tauco kesukaan, Papa.” Dia tersenyum. “Mama, nasi lemaknya pakai perkedel dan serundeng yang banyak.” Lalu dia melihat botol minumanku. “Mama singgah ke Indomaret tadi beli itu?” “Iya. Tadi panas banget. Di pasar ramai, jadi haus.” Aku membuka tutup botolnya, lalu meneguknya. Sekilas aku teringat pria tadi. Tapi aku tidak menceritakannya pada suamiku. Tidak ada yang perlu di ceritakan. Itu hanya kejadian kecil di pagi hari. Kami sarapan bersama seperti biasa. Rutinitasku kembali berjalan normal. Setelah ini aku akan memasak makan siang untuk keluarga kami. Hanya saja... entah kenapa, senyum pria asing itu masih teringat jelas di kepalaku. Mungkinkah kami akan bertemu lagi secara tidak sengaja di hari lain?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.8K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.6K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
9.5K
bc

Unchosen Wife

read
5.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook