Bab 2
Aku dan suamiku berencana liburan kecil bersama anak kami ke Hotel Sartika Dyandra.
Hanya satu malam. Tapi rasanya seperti hadiah kecil untuk diri sendiri.
Aku sudah memesan kamar sejak seminggu lalu.
“Pa, kita berangkat jam berapa?” tanyaku sambil melipat baju ganti.
“Jam dua belas saja, Ma. Nanti singgah makan siang dulu, terus check-in.”
“Oke, Pa.”
Aku berkemas membawa baju ganti kami. Anak kami sudah dari kemarin bilang ingin berenang. Hotel ini katanya bagus, bintang empat. Dalam hatiku ada rasa senang yang sulit dijelaskan. Bukan karena mewahnya, tapi karena kami pergi bersama.
Kami pun berangkat.
Tiba di hotel, suasananya langsung terasa berbeda.
Lobi luas, wangi, dan dingin. Aku menggenggam tangan anakku agar tidak berlari ke sana kemari.
Proses check-in berjalan lancar. Untuk naik lift, harus tap kartu kamar terlebih dahulu. Rasanya seperti masuk ke dunia yang lebih rapi dari keseharianku.
Aku sempat salah pesan kamar. Seharusnya double bed, tapi yang kupesan twin bed. Namun resepsionis dengan ramah mengganti menjadi double bed karena kami membawa anak kecil.
“Wah, baik sekali ya, Pa,” bisikku pelan.
Suamiku tersenyum. “Iya, hotelnya ramah keluarga.”
Hal kecil seperti itu membuatku merasa di hargai sebagai tamu. Entah kenapa, aku senang.
Kamarnya indah. View-nya menghadap kota. Tirai putihnya lembut, tempat tidurnya empuk. Aku berdiri sejenak memandangi jendela, menikmati perasaaan sederhana itu – benar-benar merasa sedang berlibur.
Kami beristirahat sebentar, lalu makan siang di luar hotel. Setelah itu anakku langsung merengek ingin berenang.
Sore itu kami benar-benar menikmati waktu bersama. Tidak memikirkan pekerjaan, tidak memikirkan rutinitas dapur, tidak memikirkan apa pun.
Hanya kami bertiga.
Keesokan paginya.
Aku bangun pukul tujuh. Tiba-tiba teringat aku lupa menanyakan di mana letak restoran. Jadi aku menghubungi resepsionis.
Tekan 5.
“Tuut...”
“Halo, Selamat pagi. Ada yang bisa di bantu?” suara resepsionis terdengar ramah.
“Mbak, restonya di mana ya?”
“Di lantai 3. Bu.”
“Oh, sampai jam berapa ya sarapannya?”
“Dari jam 6 sampai jam 10, Bu.”
“Oh iya, terima kasih.”
“Sama-sama, Bu.”
Telepon ditutup.
Aku turun dari tempat tidur dan bersiap untuk sarapan. Anak dan suamiku masih tidur. Aku berniat pergi sendiri dulu, nanti membawakan sarapan untuk mereka.
Aku menepuk pelan bahu suamiku.
“Pa, sarapan?”
“Iya...” jawabnya setengah sadar.
“Mama pergi duluan saja ya. Anak kita masih tidur.”
“Sama-sama saja, Ma,” katanya.
“Tapi Resa masih lama bangunnya. Nanti mama bawakan saja.”
“Oh gitu. Ya sudah.”
Aku pergi sendiri ke restoran hotel, membawa tas yang di dalamnya sudah kusiapkan food container untuk sarapan anakku.
Aku tidak membawa kartu kamar. Karena untuk turun ke bawah tidak perlu kartu, hanya naik saja yang harus tap. Nanti aku bisa ikut tamu lain saat kembali, pikirku. Saat itu rasanya hal kecil yang tidak perlu dipikirkan.
Aku bergegas turun.
Sampai di lantai tiga, aku masuk ke restoran dengan menyebutkan nomor kamar. Pegawai hotel langsung memahami dan mempersilahkanku masuk.
Restorannya sangat besar. Banyak makanan tersedia, dari lokal, western, hingga Asia. Aneka kue dan pastry juga tersusun rapi di meja panjang.
Aku berjalan melihat ke kanan dan ke kiri. Tamu hotel cukup ramai pagi ini.
Aku duduk di meja dua kursi dekat sudut yang menghadap taman. Pemandangannya hijau dan tenang.
Aku mengambil nasi dan mi masing-masing sedikit dalam satu piring, dengan ayam goreng tepung tanpa tulang dan capcay.
Lalu menyeduh teh, mengambil buah, dan beberapa potong roti.
Saat semua sudah tersusun di atas meja, aku sedikit malu melihatnya. Ternyata pilihanku cukup banyak. Rasanya seperti kalap, padahal niatnya hanya sarapan sederhana.
Aku menghela napas pelan, lalu tetap mulai makan.
Di sela makan, aku mengeluarkan food container yang sudah kubawa. Aku berhenti sejenak, lalu berdiri kembali mencari makanan yang tidak pedas untuk anakku.
Aku berjalan menyusuri barisan makanan berat. Mengambil nasi putih, lalu mulai memilih lauk yang aman untuk anak kecil.
Aku melihat ikan goreng tepung dengan saus seperti asam manis. Namun aku tidak yakin itu pedas atau tidak.
Di ujung lorong, seorang chef sedang mengaduk sup.
Aku memutuskan untuk bertanya.
Aku menghampirinya.
“Maaf, Chef, saya mau tanya.”
Chef itu menghentikan tangannya. lalu menoleh ke arahku.
Mata kami saling bertemu. Kami sama-sama terdiam beberapa detik.
“Kamu?” katanya.
“Abang?” jawabku refleks.
“Kamu, my new green tea,” katanya melanjutkan dengan senyum tipis.
Aku hanya tersenyum canggung mendengar ucapannya. Jadi dia masih mengingat minuman itu.
“Loh, Abang chef di sini?”
“Iya. Aku chef-nya.”
“Kamu tadi mau tanya apa?”
“Oh, itu ikan dori yang di sana dengan saus itu, pedas tidak ya?” tanyaku sambil menunjuk rak tempat ikan itu berada.
“Yang mana? Coba aku lihat,” katanya.
Kami berjalan menuju rak tersebut. Dia memperhatikan ikannya lebih dekat.
“Oh, ini tidak terlalu pedas. Tapi memang ada sedikit saus cabai.”
“Oh begitu. Anak saya tidak bisa makan pedas.”
“Ini untuk anak kamu?”
“Iya. Dia masih tidur. Nanti akan kubawakan ke kamar setelah selesai sarapan.
“Kalau begitu, aku bisa ambilkan yang belum diberi saus.”
“Memangnya bisa?”
“Bisa. Tunggu sebentar.”
“Iya, terima kasih sebelumnya.”
“Sama-sama.”
Dia pergi sambil tersenyum.
Aku kembali ke tempat duduk. Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pria asing yang kemarin menyukai minuman favoritku. Dan ternyata dia seorang chef di hotel ini.
Rasanya aneh. Dunia terasa sempit sekali.
Beberapa pegawai sempat melirik ke arahku. Mungkin karena tadi aku berbicara cukup lama dengan chef itu.
Tak lama, seorang pegawai perempuan menghampiriku.
“Maaf, Mbak. Apa mbak pacar Chef Lyon?”
Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
“Bukan, Mbak. Saya cuma tamu hotel.”
“Oh, maaf. Saya salah paham. Soalnya Chef Lyon tersenyum saat berbicara dengan Mbak. Jadi saya pikir begitu.”
“Tersenyum?” ulangku tanpa sadar.
“Memangnya dia tidak pernah tersenyum?”
Pegawai itu tersenyum kecil. “Jarang, Mbak.”
“Oh...”
“Maaf ya, Mbak. Saya permisi dulu.”
Aku mengangguk pelan.
Aku masih memikirkan ucapan pegawai tadi. Hanya karena dia tersenyum? Bukankah itu hal biasa? Mungkin saja dia memang ramah pada semua tamu.
Tidak lama kemudian, chef itu berjalan kembali ke arahku membawa sepiring ikan tanpa saus.
Dan hampir bersamaan –
“Mama!”
Aku menoleh. Anakku datang bersama suamiku.
Chef berjalan dari sisi kanan menuju mejaku.
Suami dan anakku datang dari sisi kiri.
Langkah mereka semakin dekat.
Dan dalam beberapa detik, mereka akan saling berhadapan.
Aku berdiri.
Aku merasa jantungku berdetak sedikit lebih cepat.