Bab 3
Mereka berdua menuju mejaku.
Aku sedikit gugup. Siapa yang harus kusapa lebih dulu?
Tiba-tiba pegawai hotel memanggil suamiku.
Suamiku berbalik dan berjalan ke arah pintu masuk restoran.
Chef tiba lebih dulu di depanku.
“Ini, sudah aku bungkuskan ikan untuk anakmu.”
Aku melihat bungkusan itu.
“Terima kasih banyak.”
“Kamu mau yang lain? Pastry mungkin? Untuk anakmu. Dia suka yang manis?”
“Iya, dia suka. Nanti aku akan ambil sendiri ke bagian pastry.”
“Oh ya sudah, aku pergi dulu.”
“Oh ya, maaf, Bang. Sudah merepotkan lagi. Kenalkan, aku Sera.”
“Iya, tidak apa-apa. Aku senang ketemu kamu waktu itu. Aku Anggara. Di sini mereka memanggilku Chef Lyon.”
“Kenapa berbeda?”
“Namaku Anggara Lyonel.”
“Ooo... iya.”
Aku tersenyum, dan dia juga. Percakapan singkat itu terasa ringan. Setelah itu, dia kembali ke dapur.
Tak lama, suamiku kembali ke meja.
“Loh, Pa. Reisa sudah bangun makanya nyusul?”
“Belum, Ma. Papa bangunkan, makanya masih setengah tidur.”
“Kasihan dong, Pa.”
“Tidak apa-apa. Biar sarapan di sini sekalian.”
“Ini, sudah dibungkus untuk dibawa ke kamar.”
“Papa saja yang ambil sarapan lagi. Sini gantian gendongnya.”
“Iya.”
Suamiku pergi mengambil sarapan tambahan. Aku menggendong Reisa sambil tetap makan perlahan.
Tiba-tiba seorang pegawai hotel mendatangiku.
“Bu, ini pastrynya dari chef.”
“Oh... iya, terima kasih.”
Aku sedikit terheran. Ternyata dia benar-benar mengirimkannya. Mungkin karena melihatku sedang menggendong anak tidak sempat mengambil sendiri.
Di piring itu ada croissant cokelat dan donat cokelat.
Donat untuk Reisa. Croissant kumakan setelah makanan beratku habis.
Suamiku memperhatikan pegawai yang tadi memberikan pastry.
“Loh, Ma, kok bisa dikasih roti begitu? Tadi katanya dari chef. Maksudnya gimana?”
“Iya, Pa. Mama kebetulan kenal chef-nya. Teman lama rupanya kerja di sini. Tadi ketemu. tapi sudah kembali kerja lagi.”
“Oh gitu. Wah, hebat ya jadi chef di sini.”
“Iya ya, Pa.”
Setelah selesai makan, kami bergegas kembali ke atas. Keluar dari restoran dan menunggu lift.
Saat pintu lift hampir tertutup, aku tiba-tiba teringat sesuatu.
Bungkusan ikan tadi.
Tertinggal di meja.
Aku yang sudah berada di dalam lift langsung buru-buru keluar.
“Pa, ada yang ketinggalan di meja. Papa duluan saja.”
Pintu lift tertutup, meninggalkanku di depan.
Aku berjalan cepat kembali ke meja tadi.
Namun di sana, Chef Lyon sudah berdiri sambil memegang bungkusan itu.
“Chef, saya lupa membawanya. Saya kembali untuk mengambilnya.”
Dia berbalik dan tersenyum.
“Ini. Aku pikir kamu meninggalkannya.”
“Tidak mungkin. Aku sangat menghargai pemberian orang.”
“Iya, terima kasih,” katanya.
Aku sedikit bingung.
Kenapa malah dia yang mengucapkan terima kasih?
Belum sempat aku bertanya lebih jauh, dia kembali berbicara.
“Oh ya, kenapa kamu suka minuman itu?” tanyanya.
“Hah? New green tea?”
“Iya. Tapi kamu hanya mengambil yang rasa madu, kan?”
“Iya, benar. Aku memang hanya suka yang madu.”
“Kenapa?”
“Ya, karena rasanya manis. Dan aku suka yang manis. Hanya itu.”
“Berarti kamu suka madu?”
“Madu? Hmm... aku tidak suka madu kalau hanya dimakan begitu saja.”
“Kenapa?”
“Kalau madu kumakan langsung, tenggorokanku terasa gatal.”
“Oh, begitu. Oke, aku paham.”
“Paham? Soal apa?”
“Kesukaanmu.”
“Hah?”
Aku hanya tersenyum canggung. Dia justru tersenyum lebar, seolah percakapan sederhana itu menyenangkan baginya.
“Apa kamu akan menginap lama di sini?”
“Tidak. Siang ini kami sudah pulang.”
“Oh, kenapa cepat sekali?”
“Tarif kamarnya mahal,” jawabku jujur.
Dia tertawa kecil.
“Iya, benar. Apa kamu mau aku beri ekstra satu malam lagi?”
“Hah? Tidak, Chef. Kamu sudah cukup baik.”
“Bukankah kita baru saja berkenalan? Kenapa kamu sangat baik, Chef?”
Aku terdiam sebentar.
“Karena kamu berbeda.”
“Berbeda? Maksudnya?”
“Kamu bisa membuatku tersenyum. Dan aku suka tersenyum.”
“Hah?”
Aku makin bingung. Percakapan ini terasa berjalan terlalu ringan, terlalu cepat.
Aku harus segera mengakhirinya.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Suamiku mungkin sudah menunggu.”
“Iya, ini,” ia menyerahkan satu bungkusan lagi.
“Apa ini?”
“Pastry.”
“Tapi aku sudah memakannya tadi. Pemberianmu.”
“Ini yang lain. Supaya setiap kamu makan pastry, kamu mengingatku.”
Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
“Baiklah,” ucapku akhirnya.
Aku berbalik meninggalkannya.
Di depan lift, baru aku sadar.
Aku tidak membawa kartu kamar.
Bagaimana ini?
Lift tidak bisa naik tanpa kartu.
Aku berdiri saja di depan pintu lift. Pegawai restoran mulai membereskan meja. Tamu lain sudah tidak ada.
Beberapa detik kemudian, seseorang berdiri di sampingku.
“Apakah kamu butuh kartu untuk naik ke atas?”
Aku menoleh. Dia lagi.
“Iya, Chef.”
“Jangan panggil aku Chef saat tidak bekerja. Panggil aku Anggara. Atau Bang saja.”
Aku masih kikuk.
“Iya... Bang Anggara.”
Ting.
Lift berhenti di depan kami.
Aku masuk lebih dulu. Dia menempelkan kartu.
“Lantai berapa?”
“Sembilan.”
Dia menekan tombol. Lift mulai bergerak.
“Abang mau ke atas juga?”
“Iya. Aku menginap di sini. Lantai dua belas.”
“Tinggal di sini?”
“Tidak. Aku hanya menginap dua bulan. Sebelum pulang.”
“Pulang? Ke mana?”
Ia menoleh sedikit, mendekat.
“Apa kamu ingin tahu tentangku?”
Aku langsung merasa tidak enak.
“Kalau tidak mau jawab tidak apa-apa. Maaf, aku memang banyak bertanya.”
“Aku akan memberitahumu kalau kita bertemu lagi secara kebetulan.”
“Hah? Kurasa kita tidak mungkin bertemu lagi. Kita seperti berada di dua tempat yang sangat berbeda.”
Dia tersenyum tipis.
“Kalau memang ditakdirkan bertemu seperti kemarin pagi, kita pasti akan bertemu lagi.”
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai sembilan.
Aku melangkah keluar.
“Saya duluan, Bang.”
“Hati-hati ya, Sera. Aku senang bertemu kamu lagi. Dan berharap bisa bertemu lagi.”
Aku sempat berhenti mendengar kalimat itu.
Lalu berbalik.
“Kurasa kita tidak akan bertemu lagi. Terima kasih banyak.”
Dia hanya menatapku saat pintu lift perlahan tertutup. Kali ini tanpa senyum.
Tatapannya berbeda. Lebih serius.
Aku menarik napas pelan, lalu berjalan menuju kamar.
Beberapa langkah sebelum menekan bel–
Seseorang meraih tanganku.