Bab 4
Aku tiba di lantai kamar tempat kami menginap.
Saat akan menekan bel, seseorang meraih tanganku.
Aku menoleh.
Itu Chef Lyon.
Aku tertegun,
“Chef? Ada apa?”
“Sudah kubilang, tidak perlu memanggilku chef kalau aku sedang di luar jam kerja.”
“Oh iya, maaf, Bang.”
“Ini, aku lupa memberikannya,” ia menyerahkan sekantong kecil padaku.
“Apa ini, Bang?”
“Itu cokelat. Mungkin anakmu akan menyukainya. Aku membuatnya untuk Valentine nanti, tapi kuberikan padamu dulu.”
Aku memperhatikan isi kantong itu. Cokelat berbentuk hati, dua warna – stroberi dan cokelat. Bentuknya rapi dan cantik.
“Terima kasih ya, Bang. Sepertinya aku jadi merepotkan.”
“Tidak sama sekali.”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Suamiku keluar.
“Ma, kenapa di luar? Tidak tekan bel?”
“Eh, Pa. Iya ini mau masuk, tapi ketemu dengan chef hotel ini. Dia memberikan cokelat untuk Reisa.”
Aku memperkenalkan mereka.
“Aksa,” kata suamiku sambil mengulurkan tangan.
“Anggara,” jawabnya, menjabat tangan suamiku.
“Bukankah nama kamu Chef Lyon?”
“Iya, itu panggilan saat bekerja. Kalau tidak bekerja, panggil saja Anggara.”
Suamiku mengangguk.
“Oh begitu. Terima kasih untuk cokelatnya. Anak saya pasti suka.”
“Iya, sama-sama. Awalnya untuk Valentine minggu depan. Tapi karena bertemu Sera, kupikir bisa kuberikan untuk anaknya sekarang.”
Aku dan Aksa sempat saling menatap. Entah kenapa suasananya terasa sedikit canggung.
Aku harus mengakhirinya.
“Kalau begitu kami masuk dulu ya, Bang,” kataku sambil mengajak suamiku masuk.
“Senang berkenalan dengan kamu, Anggara,” kata suamiku.
“Iya. Aku juga senang berkenalan dengan kalian,” ucapnya, menatapku sebentar.
Kami masuk dan menutup pintu.
Beberapa detik kemudian, terdengar langkah menjauh dari depan kamar kami.
Di dalam kamar, suamiku mulai berbicara.
“Kenapa chef itu bersikap seperti itu, Ma?”
“Bersikap seperti apa, Pa?”
“Iya, dia terlalu baik padamu.”
Aku tersenyum kecil
“Bukankah dia juga baik pada Papa?”
“Iya sih... mungkin hanya perasaanku saja,” kata suamiku sambil menghela napas pelan.
“Iya, mungkin begitu.”
Aku membuka bungkus cokelat itu dan mencicipinya satu.
Rasanya lembut dan tidak terlalu manis. Tidak seperti cokelat biasa yang dijual di pasaran. Ada rasa yang lebih dalam, seperti dibuat dengan serius.
Di bawah kotaknya ada kartu nama.
Tertulis.
Lyon
WA: +62 877 6521 xxxx
Aku terdiam sebentar.
Kenapa dia meletakkan kartu nama ini?
Tapi aku tidak memikirkannya terlalu jauh. Mungkin memang untuk tamu Valentine minggu depan, sebagai penanda siapa pembuatnya.
Liburan kami pun selesai.
Kami kembali kerumah.
Besok suamiku sudah harus kembali merantau.
Malam ini kami ingin menghabiskan waktu bersama, berbincang santai seperti biasa.
“Pa, boleh tidak kalau Mama kerja lagi selama Papa merantau? Lumayan untuk mengisi waktu. Sayang saja sertifikat Mama.”
“Mau kerja di mana sih, Ma? Sudah umur segini, masih ada yang menerima?”
“Ih, Pa. Mama kan sarjana, punya sertifikat kuliner. Lagi pula umur Mama baru 30 tahun.”
“Nah itu dia. Tiga puluh tahun kan sudah kepala tiga.”
“Tapi belum dicoba. Mama cuma mau minta izin dulu.”
Aku menatapnya pelan.
Bukan soal uang semata. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang membuatku merasa hidup kembali.
Suamiku menghela napas panjang.
Ucapan tentang umur kepala tiga tadi sempat membuatku sedikit tidak percaya diri. Tapi aku tetap ingin mencoba. Setidaknya untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku masih mampu.
Aku kembali merengek.
“Pa, ayolah. Mama coba melamar dulu. Kalau tidak diterima ya sudah. Tapi kalau diterima, Papa harus izinkan. Bagaimana?”
Suamiku menatapku beberapa detik. Akhirnya dia mengangguk.
“Boleh. Tapi jangan lupa kewajibanmu sebagai istri dan ibu.”
Aku langsung tersenyum.
“Siap, Pa.”
Aku senang. Setidaknya aku punya kesempatan untuk mencoba.
Kalau diterima, aku bisa menitipkan Reisa pada ibuku. Dia sudah cukup besar untuk bermain sendiri, meski tentu tetap perlu pengawasan.
Walaupun aku tahu mungkin tidak mudah mendapatkan pekerjaan di usia sekarang, tidak ada salahnya berusaha.
Mentari pagi bersinar cerah. Aku sudah menyiapkan barang-barang suamiku untuk kembali bekerja.
Dia berpamitan.
“Hati-hati di jalan ya, Pa. Kalau sudah sampai jangan lupa kabari.”
“Iya, Ma. Kamu juga hati-hati di rumah.”
Suamiku selalu berusaha membahagiakan kami. Walau pekerjaannya mengharuskan dia merantau, kami sama-sama berusaha saling percaya. Semua Ini demi masa depan anak kami.
Setelah suamiku pergi, aku kembali ke rutinitas sebagai ibu rumah tangga.
Namun hari ini berbeda. Aku akan mulai melamar pekerjaan.
Aku menyiapkan semua berkas: ijazah, sertifikat dan CV.
Aku membuka LinkedIn, memperbarui CV, mengunggah resume, dan melengkapi dokumen yang dibutuhkan. Aku mengubah pengaturannya menjadi open to work.
Aku mencari beberapa lowongan sebagai asisten pastry.
Tidak banyak yang menerima pelamar dengan usia kepala tiga. Aku hanya bisa melamar sebagai asisten, karena sudah lama vakum dari dunia kerja.
Sertifikat itu pun sudah kudapatkan sebelum menikah.
Walaupun sedikit khawatir tidak akan diterima, aku tetap mencoba.
Hari itu berlalu cukup cepat. Dalam hati aku berharap ada yang melihat CV-ku dan menghubungiku untuk wawancara.
Itu saja sudah cukup membuatku semangat.
Kesokan paginya kembali cerah.
Aku melakukan peregangan ringan dan olaharaga sebentar. Setelah itu, sambil minum teh, aku membuka laptop.
Ada notifikiasi email masuk.
Dan pemberitahuan di LinkedIn.
Aku membuka email itu perlahan.
Undangan wawancara. Hari ini pukul tiga sore. Di sebuah kafe.
Aku membaca nama perusahaannya.
Toko Cake and Pastry “Le Thé”.
Aku kembali membuka akun LinkedIn-ku. Karena melamar ke banyak tempat, aku sempat lupa apakah pernah melamar ke sana.
Setelah kucek, ternyata benar. Aku memang mengirim lamaran ke tempat itu.
Syaratnya tidak membatasi usia. Yang penting pernah membuat kue dan memiliki sertifikat.
Dan aku memenuhi syarat itu.
Aku tersenyum sendiri.
Akhirnya ada yang memanggilku wawancara.
Walaupun hanya toko roti kecil, bagiku ini langkah awal. Aku hanya perlu mengasah kembali kemampuanku.
Aku menutup laptop dan menarik napas pelan.
Aku harus bersiap untuk wawancara sore ini.