New Green Tea-Madu

759 Words
Bab 1 Pagi itu, setelah aku belanja sayuran untuk masak hari ini, aku merasa haus sekali. Dalam perjalanan pulang, aku mampir sebentar ke Minimarket yang searah dengan rumahku. Aku memarkirkan motor, lalu masuk ke dalam. Lagu yang terdengar pagi ini sangat ceria, Blackpink – bombayah. Aku tersenyum sendiri. Kupikir yang jaga hari ini pasti anak Gen Z yang suka K-pop sepertiku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju rak pendingin untuk membeli minuman kesukaanku: New Green Tea-Madu. Aku menyusuri lorong kulkas minuman, mencari-cari letaknya. Setelah memperhatikan beberapa rak, akhirnya aku melihat satu botol terakhir di rak dingin. Kulkasnya dua pintu, bisa di buka dari kanan dan kiri. Aku membuka pintu sebelah kiri. Namun, bersamaan dengan itu, pintu sebelah kanan juga terbuka. Aku tidak menyangka ada orang lain yang mengincar minuman yang sama. Aku menoleh ke samping kanan. Seorang pria berdiri di sana. Tangannya juga mengarah ke botol yang sama. Ujung jari kami hampir bersamaan menyentuhnya. “Eh...” kataku refleks, sedikit terkejut karena tanganku bersentuhan dengannya. Aku langsung menarik tangan. “Kamu mau ambil ini juga?” tanyanya dengan nada santai. “Iya... Abang juga?” “Iya. Tapi kalau kamu mau, ambil saja. Aku bisa beli yang lain.” “Oh, nggak apa-apa. Kalau Abang juga mau, ambil saja.” “Nggak apa-apa. Untukmu saja.” “Oh ya sudah, kalau begitu,” kataku akhirnya. Aku membawa botol itu ke kasir. Aku menoleh ke belakang, kulihat pria itu mengambil air mineral dari kulkas lain. Saat aku sampai di kasir, ternyata dia juga berdiri di belakangku. Ketika kasir hendak memindai minumanku, pria itu berkata, “Kak, sekalian ini saja minuman saya. Biar saya yang bayar itu juga.” Aku menoleh cepat ke arahnya. “Nggak usah, Bang. Saya bayar sendiri saja.” “Nggak apa-apa, Mbak. Saya mau traktir.” Aku menatap Mbak kasir. Dia hanya tersenyum kecil melihat kami. Aku jadi kikuk dan tidak melanjutkan penolakan itu. Setelah selesai membayar, aku mengambil botol minumanku. “Makasih ya, Bang.” “Iya, sama-sama,” katanya sambil tersenyum. Aku keluar dari Minimarket dan hendak membuka minumanku. Tiba-tiba dia sudah di sampingku, masih memegang air mineralnya. Tanpa banyak bicara, dia mengambil botol dari tanganku dan membukakan tutupnya. Aku terdiam, hanya menatapnya. “Nih. Selamat menikmati,” katanya sambil memberikan kembali botol yang sudah terbuka. Aku mengambilnya pelan. Entah kenapa aku tidak langsung meminumnya. Aku hanya memegangnya sambil masih sedikit bingung dengan perlakuannya. “Saya duluan ya, Mbak,” ujarnya lagi. “Iya, Bang,” jawabku canggung. Aku memperhatikannya berjalan menuju sebuah mobil Fortuner. Dia masuk ke dalam mobil itu. Kacanya gelap, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya lagi. Aku akhirnya meneguk minuman itu. Ah... ini enak sekali. Segar dan manis bersamaan. Rasa capek habis belanja langsung terasa berkurang. Mobil itu mundur pelan. Aku kembali naik ke motorku. Saat hendak menyeberang, mobil pria itu berhenti sejajar denganku. Tiba-tiba dia membuka kacanya. Aku menoleh, sedikit terkejut. “Hati-hati ya, Mbak. Senang ketemu kamu. Karena kita berdua suka minuman yang sama,” ucapnya sambil tersenyum lagi. Aku hanya terdiam. Tidak membalas senyumannya, tidak juga menjawab ucapannya. Mobilnya melaju lebih dulu menyeberang jalan. Aku masih diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut menyeberang. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan kejadian tadi. Pagi ini terasa aneh. Seperti mimpi kecil yang tidak disengaja. Bertemu pria asing hanya karena minuman favorit. Aku sampai di rumah dan memarkirkan motor. Suamiku sudah bangun dan langsung menghampiriku. “Belanja apa hari ini, Ma?" “Belanja daging, Pa. Mau masak sop daging.” “Wah, enak banget.” Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia membantu menurunkan belanjaan, sementara aku masuk membawa sarapan yang sudah kubeli – nasi lemak. Anakku masih tidur di kamar. Beberapa minggu ini suamiku sedang cuti kerja. Tapi minggu depan dia akan kembali merantau. Aku duduk di meja makan dan membuka bungkusan nasi lemak. “Ini, Pa. Nasi lemak pakai perkedel dan telur bulat. Sambal dan banyak tauco kesukaan, Papa.” Dia tersenyum. “Mama, nasi lemaknya pakai perkedel dan serundeng yang banyak.” Lalu dia melihat botol minumanku. “Mama singgah ke Indomaret tadi beli itu?” “Iya. Tadi panas banget. Di pasar ramai, jadi haus.” Aku membuka tutup botolnya, lalu meneguknya. Sekilas aku teringat pria tadi. Tapi aku tidak menceritakannya pada suamiku. Tidak ada yang perlu di ceritakan. Itu hanya kejadian kecil di pagi hari. Kami sarapan bersama seperti biasa. Rutinitasku kembali berjalan normal. Setelah ini aku akan memasak makan siang untuk keluarga kami. Hanya saja... entah kenapa, senyum pria asing itu masih teringat jelas di kepalaku. Mungkinkah kami akan bertemu lagi secara tidak sengaja di hari lain?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD