Rs. Hernina

1505 Words
Bab 8 Hari ini langit terlihat mendung. Awan abu-abu menggantung rendah seolah menahan hujan yang bisa turun kapan saja. Aku memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana dan menikmati waktu santai di rumah. Anakku sedang bermain di ruang tengah bersama eyangnya. Sesekali terdengar suara tawanya bercampur dengan suara ibuku yang menenangkannya ketika dia terlalu bersemangat. Aku duduk di sofa sambil memegang ponsel, membaca berbagai resep kue kekinian. Banyak sekali ide baru yang muncul belakangan ini – tart dengan lapisan mousse tipis, croissant dengan isian krim matcha, sampai donat dengan topping buah segar. Tanpa sadar aku mulai membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari aku bisa membuat semuanya di dapur toko. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan w******p masuk dari nomor yang tidak kukenal. Aku membukanya. | Sera, aku Anggara. Aku menatap layar ponsel beberapa detik. Anggara? Siapa itu? Lalu ingatanku kembali pada satu nama. Chef Lyon. Dia pernah mengatakan bahwa saat tidak bekerja, aku boleh memanggilnya dengan nama aslinya – Anggara. Tapi tetap saja aku merasa heran. Bukankah hari ini hari libur? Kenapa dia menghubungiku? Aku hanya menatap pesan itu tanpa membalasnya. Beberapa menit kemudian ponselku kembali bergetar. Kali ini panggilan masuk dari nomor yang sama. Aku hanya melihat layar itu berdering tanpa mengangkatnya. Kupikir hubunganku dengannya hanya sebatas pekerjaan. Hari libur seperti ini pasti setiap orang punya urusan masing-masing. Tak lama kemudian pesan lain masuk. | Sera, saya kecelakaan. Bisa kamu datang sebentar ke Rs Hernina. Dokter meminta wali untuk menyetujui surat pernyataan. Saya sudah menghubungi Johan tapi ponselnya tidak aktif. Aku membaca pesan itu dua kali. Perasaanku langsung berubah. Rasa santai yang tadi ada tiba-tiba hilang. Tanpa pikir panjang aku bangkit dari sofa. “Bu, tolong jaga Reisa sebentar ya. Aku mau keluar sebentar,” kataku pada ibuku. Ibuku menoleh dari ruang tengah. “Mau ke mana?” “Ada teman kecelakaan. Aku mau ke rumah sakit dulu.” Aku mengambil tas dan segera pergi. Saat tiba di rumah sakit, aku langsung menuju meja informasi. “Mbak, pasien bernama Anggara Lyonel di mana ya?” tanyaku. Petugas itu mengetik sesuatu di komputernya. “Sebentar ya, Mbak.” Beberapa detik kemudian dia kembali menatapku. “Pasiennya di UGD.” Deg. Jantungku langsung berdegup lebih cepat. UGD? Kenapa bosku sampai berada di ruang gawat darurat? Tanpa sadar aku berjalan cepat menuju arah yang ditunjukkan petugas. Langkahku semakin cepat sampai akhirnya aku hampir berlari di lorong rumah sakit. Aku bahkan tidak sempat membalas pesannya. Saat tiba di UGD, aku langsung mengenalinya. Dia duduk di atas ranjang pasien dengan tangan kanan diperban tebal. Wajahnya terlihat pucat, tapi dia masih sadar. Namun yang membuatku berhenti sejenak adalah seseorang yang berdiri di sampingnya. Seorang wanita. Aku tidak mengenalnya. Wanita itu berdiri dekat sekali dengannya, seolah sudah berada di sana cukup lama. Mungkin pacarnya, pikirku. Kalau begitu... kenapa dia memintaku datang? “Sera? Tiba-tiba dia memanggilku. “Chef...” kataku refleks, lalu cepat memperbaiki ucapanku. “Maksudku... Anggara.” Wanita di sampingnya ikut menatapku. “Kamu datang?” kata chef. “Kenapa tidak membalas pesanku?” Aku berjalan mendekat. “Aku sedang di jalan waktu membaca pesanmu. Jadi aku langsung ke sini. Tidak sempat membalas.” Tiba-tiba wanita itu berbicara. “Anggara? Kamu masih menyuruh temanmu tidak memanggilmu chef saat sedang tidak bekerja?” Chef hanya menatapnya sebentar tanpa menjawab. Suasana di antara kami terasa canggung. Aku merasa seperti orang yang datang di waktu yang salah. “Chef, kalau begitu saya permisi pulang saja,” kataku akhirnya. “Sepertinya sudah ada yang menemani.” Dia hanya menatapku tanpa langsung menjawab. “Permisi.” Aku berbalik hendak pergi. “Sera.” Aku berhenti. “Bisakah kamu di sini sebentar?” katanya. “Aku ingin bicara.” Aku kembali menoleh ke arahnya. “Bicara soal apa, Chef?” “Soal tanganku.” Aku melihat perban tebal yang membungkus tangan kanannya. Tangan itu tampak hampir tidak bisa digerakkan. Aku akhirnya mengangguk pelan. Aku berdiri di sisi kirinya, karena wanita itu sudah lebih dulu berada di sisi kanan. “Sera,” katanya kemudian, “kenalkan. ini temanku, Dina.” Aku mengulurkan tangan sambil tersenyum canggung. “Sera. Saya karyawan baru di toko Chef Lyon.” Wanita itu menyambut uluran tanganku. “Oh, jadi kamu yang akhirnya diterima.” Dia tersenyum tipis. “Aku Dina.” Dia menatapku dari ujung kepala sampai kaki, seolah menilai sesuatu. “Semoga kamu betah ya, Sera,” katanya lagi. “Soalnya Lyon sangat perfeksionis. Dia sering memecat karyawan.” Aku sedikit terkejut mendengar ucapannya. Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba suara petir terdengar keras dari luar gedung rumah sakit. Suaranya memecah keheningan di antara kami. “Iya, Dina,” kata chef akhirnya berkata dengan nada bercanda. Dia menoleh pada wanita itu. “Dina, kamu pulang saja. Aku akan berbicara dengan Sera.” Mereka saling menatap beberapa detik. Tatapan itu terasa dingin. Seolah ada sesuatu yang tidak kuketahui di antara mereka. “Kamu hanya memanggilku saat perlu,” kata Dina pelan. “Sudah menjadi kebiasaanmu.” “Maaf,” jawab chef singkat. “Karena dokter butuh persetujuan cepat.” “Baiklah. Aku pergi.” Dina mengangkat bahu ringan. “Aku sudah mendatangani suratnya sesuai kemauanmu.” “Terima kasih.” Dina menoleh ke arahku. “Sera, sampai jumpa lagi di toko ya.” “I-iya,” jawabku sedikit gugup. Aku memperhatikannya berjalan keluar dari ruang UGD. Perkataannya tadi membuatku heran. Apa dia juga bekerja di toko? Tapi kemarin aku sama sekali tidak melihatnya di sana. Chef tadi mengatakan dia temannya... tapi cara dia berbicara terasa seperti lebih dari sekadar teman. Siapa sebenarnya dia? “Sera.” Suara chef membuyarkan lamunanku. Aku baru sadar sejak tadi masih menatap pintu tempat Dina keluar. “Eh... iya, Chef.” Dia menatapku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. “Apa kamu lebih nyaman memanggilku chef daripada Anggara?” “Iya,” jawabku jujur. “Sudah kebiasaan. Bagaimanapun kamu bosku.” Dia menghela napas pelan. “Jadi... kamu hanya menganggap aku bosmu?” “Hah?” Aku sedikit bingung. “Maksudnya?” Aku merasa pembicaraan ini mulai mengarah ke sesuatu yang tidak ingin kupikirkan. Jadi aku cepat mengalihkan topik. “Tadi kamu bilang ingin bicara soal tanganmu. Apa yang sebenarnya terjadi?” “Aku kecelakaan saat pulang dari makam.” “Makam?” tanyaku refleks. “Kamu habis berziarah?” “Iya.” Aku tidak ingin bertanya lebih jauh. Ada hal-hal yang mungkin tidak perlu kuketahui. “Lalu... bagaimana kondisi tanganmu?” tanyaku lagi. “Dokter bilang aku harus dioperasi. Sore ini.” Aku langsung terkejut. “Operasi? Berarti lukanya cukup serius?” “Kurasa begitu.” Dia menatap perban di tangannya. “Karena itu aku memintamu datang. Tapi kamu tidak membalas pesanku.” Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Jadi aku meminta Dina datang untuk menandatangani persetujuan sebagai waliku.” Aku hanya mengangguk pelan. “Begini, Sera,” katanya kemudian. “Aku perlu baju ganti. Maukah kamu menolongku mengambilkannya di rumahku?” Aku kembali terkejut. “Aku? Tapi...” “Kalau kamu tidak bisa juga tidak apa-apa,” katanya cepat. “Aku akan memakai ini saja. Atau mencoba menghubungi Johan lagi.” Aku menatapnya. Wajahnya terlihat lelah, dan tangannya jelas tidak bisa digerakkan dengan bebas. “Apakah kamu tidak punya saudara lain di sini?” tanyaku. “Tidak ada.” Dia menggeleng pelan. “Aku pernah bilang padamu di hotel. Aku hanya di sini dua bulan sebelum kembali. Keluargaku tidak tinggal di kota ini.” Aku sebenarnya tidak ingin terlibat sejauh ini. Tapi melihat kondisinya sekarang, rasanya tidak mungkin aku menolak. Lagipula dia bosku. Dan tidak ada orang yang ingin mengalami musibah seperti ini. “Baiklah,” kataku akhirnya. “Aku akan mengambilnya.” Dia tersenyum tipis, “Maafkan aku, Sera. Aku juga tidak menyangka akan berakhir di sini... Dan harus dioperasi.” “Tidak apa-apa, Chef.” Aku lalu teringat sesuatu. “Kalau kamu dioperasi, bagaimana dengan toko?” “Toko tetap buka seperti biasa.” Dia menjawab tenang. “Dina akan membantu menggantikanku. Johan juga selalu bisa diandalkan.” Dia menatapku. “Dan ada kamu.” Entah kenapa kata-kata itu membuatku merasa sedikit dihargai. Seolah aku benar-benar bagian dari tim mereka. “Kalau begitu aku pergi sekarang,” kataku. “Beritahu aku alamatmu.” “Kamu tidak mengingatnya?” katanya sambil mengangkat alis. “Aku tidak tahu alamat rumahmu.” “Aku pernah bilang. Aku tinggal di lantai dua belas Hotel Sartika.” “Oh iya...” Aku akhirnya ingat. “Benar. Kuncinya?” “Kamu bisa ambil dari tasku.” Aku mengambil tas yang terletak di samping ranjangnya. “Kuncinya ada di dompetku,” katanya lagi. “Kamu buka saja.” Aku sedikit ragu. “Aku tidak enak membuka dompet orang.” “Aku sudah memberimu izin.” Dia tersenyum kecil. “Lagipula aku tidak bisa mengambilnya sendiri. Tangan kanan diperban, tangan kiri sedang diinfus.” Aku menghela napas pelan. Akhirnya aku membuka dompetnya. Saat dompet itu terbuka, pandanganku langsung tertuju pada sebuah foto kecil yang terselip di dalamnya. Aku terdiam sejenak. Wanita di foto itu... Sekilas mirip denganku. Dadaku terasa sedikit berdebar. Aku menatap foto itu sekali lagi. Dan semakin aku melihatnya... semakin terasa aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD