Kami sudah berada di rumah sejak tadi kami saling diam. Saga masih marah karena aku masih terus bertanya pada dokter perihal obat apa yang mungkin bisa aku minum agar aku bisa berangkat bekerja. Saga duduk sambil menatap laptop miliknya. Kami tidur di kamar bawah karena Saga tak ingin aku naik turun tangga. Aku melirik Saga, sejujurnya aku merasa malas untuk meminta maaf. "Ga," panggilku. "Kalau kamu masih maksa kerja jawaban aku enggak." Saga berucap bahkan tanpa menatap ku. "Kenapa? aku istirahat seminggu ini. Aku janji bakal bedrest. Kalau enggak enak badan aku janji akan langsung hubungi kamu. Hmm?" Saga menutup laptop miliknya, meletakkan di nakas yang berada di samping tempat tidur, kemudian menatapku. "Seberapa penting sih Res kerjaan itu dibanding anak dalam kandungan kamu? Dia

