Pagi ini aku sudah bnagun segera mandi. Selesai mandi aku tak segera mengganti pakaian kerja. Berniat berjalan keluar untuk membeli sarapan. Seperti biasa, nasi uduk buatan Bu Oma selalu jadi andalan penyelamat pagi. Sejak subuh tempat ini sudah ramai biasanya jam setengah tujuh semua yang ada di meja dagang Bu Oma sudah ludes diborong.
Aku menunggu membiarkan ibu-ibu lain lebih dulu menyelesaikan pesanannya. Enggak enak rasanya kalau rebutan gitu.
"Mbak Reres," sapa salah seorang ibu terlihat ia membawa tentengan kue yang ia letakkan di dalam box plastik yang tertutup rapat.
"Ah, iya bu." kujawab meski tak kenal siapa ibu ini.
"Istrinya Mas Saga kan ya?'" ia bertanya lagi sambil tersenyum.
"iya bu betul," kujawab lagi.
Ibu itu membuka kotak box berisi kue. Aku bisa melihat ada aneka kue dan gorengan risol, dadar gulung, cucur, onde-onde dan banyak lagi. IA memasukkan beberapa kue ke kantong plastik, lalu menutup kembali kotak makanan jualannya. Ibu itu kemudian memberikan aneka kue tadi padaku.
"Ini buat Mas Saga sama Mbak Reres sarapan. Minggu kemarin anak saya jatuh, alhamdulilah ada Mas Saga pulang kerja. Di obatin, dibawa ke rumah jua. Makasih banyak saya sampaikan ya Mbak."
Aku menerima. "Terima kasih banyak ya Bu. Anaknya sudah sembuh?"
"Sudah Mbak, harti ini sudah sekolah alhamdulilah. "
Aku menerima pemberian ibu tadi bukan karena aku ingin sesuatu yang gratis meskipun itu memang menyenangkan. Aku menerima karena itu adalah bentuk dari rasa terima kasih yang diucapkan untuk Saga. Aku menerima agar ia tak lagi merasa berhutang budi dan ia juga senang karena telah memberikan sesuatu.
"Terima kasih ya Bu."
"Semoga suka, itu buatan saya sendiri. Sampaikan Salam saya untuk Mas Saga ya Mbak."
"Iya, pasti saya sampaikan nanti.""
Setelah mendapatkan nasi uduk aku segera melangkah pulang. Di ruang makan Saga sudah duduk rapi dengan dua kopi panas yang sudah tersaji. Jangan tanya bagaimana rupa Saga pagi ini. Rambutnya berantakan, pakaian kucel, masih terpampang muka bantal. Aku berjalan mendekat lalu kukecup kening suamiku.
"Acem ih ayank belum mandi." Kataku lalu meletakan nasi udah dan kue yang aku bawa.
"Kok lama?"
"Masa lama?" tanyaku seraya membuka bungkusan nasi uduk ke atas piring yang sudah disiapkan Saga.
"Kamu buka pager kan aku bangun.biasanya aku bikin kopi kamu udah dateng,"
Aku menyerahkan kue pada Saga. "Ini tadi ada ibu-ibu yang ngasih ini. Katanya dia makasih banget sama kamu karena kamu udah nolongin anaknya pas jatuh." kataku.
"Ah, Bu Darmi, anak nya kayaknya kena tabrak lai enggak apa-apa sih. Cuma enggak ada yang bantu padahal dia pingsan gitu."
"loh, kenapa enggak ada yang mau bantu?"
"Suaminya Bu Darmi itu ODHA. Mereka masih percaya kalau Iyan itu ODHA juga. Padahal yang aku tau Iyan itu bukan ODHA. Pas lahir pun dia caesar dan itu sama sekali nggak turun ke Iyan. Mereka takut ketularan."
ODHA Orang Dengan HIV AIDS. yang aku tau penularan virus HIV itu nggak semudah itu. Karena Virus AIDS akan mati beberapa detik setelah terkena udara atau air. Virus akan tumbuh dengan tiga hal yang. Satu tempat yang tepat yaitu, tubuh manusia di Darah, a******i, cairan praejakulasi, cairan annus, cairan dari kelamin wanita dan ASI.
Dua, cara yang tepat yaitu, seks bebas, transfusi darah atau para pengguna NAPZA yang menggunakan jarum suntik bergantian, dari luka terbuka dan Ibu ke bayi dan ketiga virus hanya bisa hidup di suhu yang tepat.
Sekarang jaman semakin maju. Yang aku tau bahwa saat ini jika ODHA ingin memiliki keturunan bisa dikonsultasikan agar ibu bisa mengantisipasi dengan meminum obat rutin, Sedih juga sih masih banyak yang belum mengetahui ini sehingga seolah para penderita banyak yang terasingkan karena masyarakat yang kurang pengetahuan. Padahal bersentuhan fisik secara umum seperti berjabat tangan, berpelukan, berpegangan tangan,menggunakan toilet bersama , ciuman atau bahkan saling memuaskan hasrat dengan melakukan pet**ng tanpa membuka pakain sama sekali tak menularkan virus.
Air liur, air mata dan keringat bukan perantara virus. Memang di sana ada virus aktif hanya saja jumlahnya tidak cukup untuk menularkan. Butuh lebih dari satu galon cairan tersebut untuk bisa menularkan.
"Kok kamu baik banget sih?" sungguh aku bangga sekali dengan apa yang dilakukan suamiku.
"Ya, karena itu kewajiban sesama manusia tolong menolong. Aku juga berharap kalau ada kejadian buruk atau apapun itu akan ada orang yang nolongin kita nanti. Begitukan hukum hidup? Apa yang kita tanam itu yang kita tuai."
Satu lagi hal yang buat aku begitu bangga dan sayang sama Saga. Saga memang baik sejak dulu sejak kami SMU, meski tampang Saga judes. Dan mungkin enggak akan ada yang percaya kalau Saga baik dan hangat.
***
Aku berada di ruangan bersama Mbak Naya dan Mas Bumi. Kali ini tim sudah menentukan pemain untuk sitkom kali ini. Ada Ahbi yang juga duduk bersama kami. Aku memerhatikan foto yang tadi diberikan Mas Bumi.
"Gimana oke enggak?" Tanya Ahbi padaku yang masih sibuk memerhatikan foto.
Sebenarnya, hampir semua oke hanya ada 2 tokoh yang kurang pas menurutku. Hanya saja aku tau mereka artis yang punya banyak jam terbang. Rasanya tak mungkin jika mengecewakan acara ini.
"Oke semua kok." Kujawab demikian seraya menyerahkan kembali map ke Ahbi.
"Good kalau gitu kita tinggal baca naskah Minggu depan." Ujar mas Bumi senang. "Lo ikut kan Res?"
"Lah aku ikut juga?" Tanyaku. Tahun kemarin aku sama sekali enggak ikut andil. Kenapa tahun ini jadi ikut andil?
"Kerjaan Lo sekarang kan enggak butuh ke lapangan atau bikin rundown. Lo punya waktu lenih banyak untuk jadi bagian ini." Mas Bumi menjelaskan.
"Iya, kita mau ke Bogor nginep sekalian nunggu pergantian tahun." Ahbi menimpali.
"Jauh banget sampe Bogor? Enggak di kantor aja?" Tanyaku bingung.
"Gue sih yang ngajak semalam aja kok." Ujar Mbak Naya. "Sekali-sekali lah, kita jalan bareng."
Ya, tujuan aku naik jabatan supaya enggak ke lapangan dan kerjaan harian supaya bisa lama-lama sama Saga. Bukan buat kegiatan kaya gini.
Saat itu pintu diketuk kami semua sontak menoleh.
"Masuk." Mas Bumi menyahut dan pintu terbuka.
Seseorang masuk, kami saling tatap.
"Res, udah kenal kan? Saga yang bakal bantu kita buat isi soundtrack-nya."
Reaksi ku? Mau bereaksi gimana? Aku dan Saga saling tatap. Namun, Saga dengan cepat merubah reaksinya. Ia tersenyum lalu menjabat tangan semua yang ada di ruangan.
"Kenal lah Mas. Sering ketemu pas masih ngurus anak-anak gosip. Mbak Reres kan?" Tanya Saga seraya mengulurkan tangannya segera aku jabat tangan Saga.
"I-iya, Reres."
"Duduk Ga, gue mau bahas sekalian. Makannya gue minta Lo ke sini."
Saga duduk di samping Ahbi dan kini kami duduk bersebrangan. Sedari tadi ia coba tak menatapku. Kami sama-sama gugup dan itu usahanya buat aku tak panik. Tumben banget Mas Bumi pake Saga? Saga kan biasa ngurus musik anak talk show?
"Jadi kita mau bikin sitkom Ga. Nah, itu buatannya art director kita nih." Mas Bumi kemudian melirikku buat aku tersenyum kecut. Jadi, yang gue mau Lo buat soundtrack-nya. Gue suka banget band Lo Hari ke-6 gue rasa mereka cocok banget buat ngisi."
Sial, udah Saga terus mau Brian juga ada di sini? Mati kutu aku.
"Ah, gitu oke bisa aja sih. Tapi .., apa semua setuju? Maksud gue siapa tau ada yang enggak setuju." Jawab Saga dan aku tau ia meminta aku untuk menjawab apa aku setuju atau tidak dengan keberadaannya di tim ini.
"Aku sih setuju Mas." Kataku.
Mas Bumi menunjuk Mbak Naya dan Ahbi yang juga mengangguk setuju. "Semua udah oke. Kalau bisa Lo ikut juga nih sama kita ke Bogor. Mau ada kegiatan baca naskah enggak lama tiga hari dua malam aja."
"Seriusan Mas mau ke Bogor?" Tanyaku lagi.
"Lo harus ikut pokoknya." Mas Bumi menekan itu jelas itu adalah perintah.
"Aish, aku mau pulkam tahun baru." Kataku kesal.
"Paling enggak Lo ikut pas baca naskah. Ya kan Nay?" Tanya mas Bumi pada Mbak Naya yang mengangguk setuju.
"Ya Lo emang harus ikut lagi. Soalnya kan Lo yang buat karakter tiap tokoh. Lo yang paling pas buat penilaian tentang cocok atau enggaknya atau harus kaya Gimana mereka nanti," ujar Ahbi lagi seraya menepuk-nepuk tanganku yang segera aku lepaskan. Bisa ngamuk Saga di rumah kalau dia lihat ini.
"Oke aku ikut malam pertama aja ya?" Tanyaku.
"Oke deal." Sahut Mas Bumi. "Lo ikut kan Ga?"
"Oke gue ikut," jawab Saga tanpa menatapku.
***
.
.
.
. waduh Saga Reres 1 tim..
ಥ_ಥಥ_ಥ