Ke-10

1216 Words
Waktu benar-benar cepat sekali berlalu. tak terasa sudah di penghujung November. Tentu saja mendekati pergantian tahun selalu jadi salah satu rutinitas yang menyibukkan, semua harus diawasi. Karena akulah yang mengontrol semua acara dan program tetap berada dalam lina yang seharusnya. Salah satu tugasku adalah memastikan acara dan program sesuai dengan konsep, tema, juga visi dan misi perusahaan. Pagi ini aku telah memulai rapat untuk mengecek semua divisi program. Memastikan semua acara sudah sesuai dengan yang kami bicarakan sebelumnya. Pembicaraan kami selesai setelah aku mengecek semua rundown acara yang akan ditayangkan selama periode pergantian tahun. "Oke terima kasih," ucapku mengakhiri rapat kami pagi ini. Semua keluar satu persatu hingga ruangan rapat menjadi sepi dan hanya aku sendiri. Aku duduk sebentar di kursi rasanya lelah sekali beberapa hari ini. Kadang ada kalanya kau lelah dengan semua kebohongan yang aku buat demi bisa berada di sini. Hanya saja jelas ini aku lakukan demi masa depanku juga. Aku tak ingin bergantung pada harta papi meski papi bisa memberi semua yang aku butuhkan. Aku ingin berusaha lebih banyak lagi untuk masa depanku, Saga dan anak kami nanti. Aku memejam sesaat rasanya ada penat yang harus aku usir. Aku harus kembali dan bekerja dengan semua pekerjaan yang menumpuk. Toh, sebentar lagi aku akan libur lumayan lama. Aku ingin menghabiskan waktu bersama suamiku. menikmati waktu kami berdua dengan berlibur. Saat mata terpejam sesaat pintu terbuka buat aku sedikit menoleh. "Mas Bumi?" Aku melihat Mas Bumi yang kini berjalan masuk seraya membawa beberapa map di tangannya. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di samping kiriku. Buat aku segera duduk tegak. Sebel juga sih padahal aku nyaris saja terlelap sesaat. "Gue ganggu ya?" aku mengangguk, "Aku baru mau tidur sebentar," jawabku. Aku tak suka berbohong jadi lebih baik jika aku menjawab pertanyaan Mas Bumi dengan jujur. Jawabanku buat atasanku itu terkekeh. "Selalu gue suka dari lo itu karena lo jujur." Sungguh ucapan Mas bumi barusan buat aku malu sendiri. Andai ia tau kalau selama ini aku adalah seorang pembohong besar. Aku menutupi status demi bisa mencapai pekerjaan impian, aku tak layak dikatakan seorang yang jujur. Maka ku tarik omongan barusan bahwa aku tak suka kebohongan padahal jelas selama ini aku adalah seorang pembohong. Aih, Reres bener-bener enggak tau malu deh. "Kenapa Mas?" Tanyaku, jelas ia datang ke ruangan rapat untuk menghampiri ku jelas bukan tanpa alasan pasti ada sesuatu yang akan ia katakan atau ia perintahkan untuk aku kerjakan. "gua mau ngomongin masalah sitkom yang mau kita garap. Kan lo udah nulis mini skripnya. Dan gue ini mau serahin ke Ahbi gimana?" tanya mas Bumi. "Aku setuju kalau sama Ahbi. lagian waktu dia pegang sitkom aku yang pertama semuanya udah sesuaibanget sama kemauan aku mas,' jawabku menyetujui apa yang disarankan oleh Mas Bumi. Ahbi salah satu penulis skenario kami sepertinya memiliki pemikiran yang sama. hingga waktu pengerjaan sitkom pertamaku. Aku tak perlu banyak memberi instruksi. Tata letak, lokasi dan tokoh yang telah diketik Ahbi semua sesuai dengan keinginan ku. Hingga kali ini jika Mas Bumi memilih Ahbi untuk mengerjakan sitkom keduaku tentu saja aku tak akan menolak. "Oke deh, kalau talent dan lain-lain?" tanyanya lagi. "Aku serahkan semua ke tim deh. biar mereka yang menentukan. Aku percaya kok sama kalian. sama kaya sitkom pertama juga semua oke. meski awal kemarin agar perdebatan tentang cerita yang terlalu rapat." Aku bisa melihat Mas Bumi mengangguk, "Oke deh soalnya kita udah mau mulai audisi nih, cari talent. Maknaya gue mau tanya lo, apa lo mau ikut tim buat milih." "Aku ngikut aja Mas," jawabku sejujurnya aku malas sekali jika menambah kegiatan lain apalagi di saat pergantian tahun yang pastinya akan menyita waktu lebih banyak untuk pekerjaan. "lagian kenapa Mas bumi ikut capek-capek nanya ini itu ke aku? Maksudku ini kan buka jobnya Mas?" "Ya, karena gue tertarik sama sitkom kali ini. Gue harap akan sukses seperti yang sebelumnya. Lagian, gue proud banget sama lo. Lo penulis naskah, lo nentuin desain iklan, banner, lo juga bisa buat tim sejalan sama Visi misi dan tujuan SDTV. Enggak salah memang pilihannya Kanaya." Mas Bumi memuji bahkan kini menunjukan kedua ibu jarinya. "Terbvang deh aku dipouji gini." "Mau gue beliin kopi enggak?" tawab Mas Bumi sambil menatap layar ponselnya. "Gue mau pesan nih. mumpung ada promo beli satu gratis satu,' ujarnya lalu terkekeh. "Hmm, gitu ya, Mas Bumi cuma belii aku kalau ada gratisannya doang," ujarku iseng buat Mas Bumi terkeh. "Mau lah, aku ditraktir. Kapan lagi ya kan?" "Oke deh, aku pesan dua nih. Lo mau rasa apa?" tanyanya. "Apa aja yang gratis, aku doyan Mas. asal jangan dikasih sianida aja." "Enggaklah, masa gue bunuh aset SDTV." Kadang Mas Bumi memang seasik ini. Kadang juga bisa menyebalkan sekali, atau menyeramkan buat kami di ruangan terdiam karena dia yang marah. Yang aku tau Mas Bumi itu duda, dulu pernah menikah dengan seorang model yang akhirnya bercerai karena sang istri yang lebih memilih karir ketimbang hubungan rumah tangga mereka. Dari apa yang aku dengar itu, tentu saja buat aku bersyukur memiliki Saga. Ia bisa menerima aku yang terlihat lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dirinya. Saga tetap prioritas. Meski kadang digantikan pekerjaan jika mendesak sekali. Beruntung saga mengerti dan memahami situasinya. Aku seratus persen sadar kalau cinta dan kasih sayang Saga jauh lebih besar. Jika aku telah berhenti dari pekerjaan ini aku ingin menjadikan Saga prioritasku juga. Senin, selasa, sampai minggu hanya untuk Saga dan tentang Saga. aku harap saat itu kami sudah memiliki buah hati, anak perempuan pasti akan lucu sekali. *** Aku pulang ke rumah dengan lemas berjalan masuk dan duduk di sebelah Suamiku yang kini tengah duduk di ruang tengah dan sibuk membaca artikel dari ponsel di tangannya. Saga memerhatikan ku yang kini tengah berjalan menghampiri dirinya. Aku lalu duduk di sebelah saga dan bersandar ke bahu suamiku kemudian memeluknya erat. "Aku capek banget." "Mau aku pijitin?" Ia bertanya seraya melingkarkan tanganya ke tubuhku lalu kecup keningku dengan lembut. "Enggak, kamu capek juga pasti tadi seharian di studio.' jawabku tak mau menyusahkan suamiku itu. "Enggak aku enggak capok. Lagian cuma mijitin kamu doang enggak mungkin capek aku. Hmm? Mau aku pijitin?' Aku menggeleng, ,ie mengusap wajahku dengan tangannya dengan lembut. ''Yaudah ,mau aku buatin teh manis atau kopi? Atau mau jajan yuk?' Segalanya ia tanya agar aku lebih baik dan menghilangkan rasa lelah yang aku rasakan. Aku menggeleng, yang aku inginkan saat ini hanyalah bersama Saga rebah dan beristirahat di kamar kami berdua menghabiskan malam bersama dengan saling berbicara tentang hari yang kami lalui bersama. "Aku cuma mau bobo dan ngobrol sama kamu," kataku manja. "Yaudah mandi dulu sana, habis itu kita istirahat ya sayang." katanya lalu mengecup lagi wajahku dengan lembut. Malam ini kami habiskan dengan mengobrol hari-hari yang kami lalui. Aku senang setiap kali suamiku menceritakan harinya di studio tentang rekan kerjanya yang aneh, atau menyebalkan, tentang ia yang sering kali harus marah dan kesal pada Brian karena begitu ceroboh di studio. Karena aku tak bersamanya aku ingin banyak tau tentang apa yang ia lalui dan aku tau saga menyukai itu, bagaimana aku antusias setiap kali ia bercerita. aku ingin Saga merasa dibutuhkan, di mengerti dan dinanti. Dan aku juga berharap kalau Saga akan terus seperti ini. "Sayang kamu Res," ucapnya setelah selesai dengan semua ceritanya. "Sayang kamu juga sayang, suami aku, cintanya aku, dunianya aku," kataku kemudian mengecup bibir saga lembut. ** siapa yang baca cerita ini hayo?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD