Aku pulang setelah semua pekerjaan usai, melaju di kota yang tak pernah tidur. Jakarta malam ini mulai lengang, karena besok masih hari sibuk sepertinya jadi, para penghuninya memilih untuk pulang lebih cepat dan beristirahat. itu juga yang aku inginkan. Aku lelah Setelah seharian duduk dan mengerjakan laporan. Ingin segera rebah di rumah dan kelon sama Saga suami kesayangan.
Memasuki tol menuju rumahku yang berada di ujung kota, perbatasan dengan kota yang katanya planet lain. Sejak tadi aku merasa ada yang aneh dengan mobilku sebelum aku memasuki tol. Sepertinya ban mobilku kempes, aku memilih menepi. Setelah menepi aku memilih menghubungi Saga. Jujur aku takut jika harus mengecek ban mobil sendirian.
"Assalamualaikum, kok belum pulang?" Tanya Saga.
"Waalaikumsalam Yank, aku udah di jalan pulang. Tapi, masuk tol mobil aku kaya goyang enggak enak banget. Aku takut bannya bocor."
"Dimana? Jangan ke luar mobil, di dalam aja aku ke sana ya. Jangan matiin panggilannya."
"Di jalan tol udah minggir nepi aku, iiya ini di dalam mobil aja" jawabku.
Aku bisa mendengar suamiku sedang berada keramaian. Sesekali aku bisa mendengar ia meminta ijin dan permisi. Mungkin ada tahlil di lingkungan rumah. dan Saga memang cukup rajin datang ke acara-acara seperti itu, beda denganku yang memilih di rumah saja kalau enggak ada kegiatan.
"Yank," sapanya.
"Hmm?"
"Jangan panik. Aku ke sana sama Brian mumpung dia ada di sini.Minum dulu," katanya. Justru Saga yang saat ini terdengar panik sekarang.
"Iya, aku enggak panik Yank. Aku di jalan tol masuk pondok ya," jelasku memberitahu dimana lokasiku saat ini.
Aku di dalam mobil selama menunggu di sampingku pepohonan sesekali membayangkan ada sesuatu yang muncul dari sana buat aku bergidik ngeri juga. Aku cukup penakut dalam hal mistis dan horor maka menyaksikan acara atau film horor bukan pilihan. Saga juga penakut bedanya dia suka banget nonton fil horor. Inget beberapa waktu lalu dia nonton The ring, yang terjadi setelah nonton? Malam harinya dia minta aku temenin dia pipis di toilet, sebel banget. Dia yang nonton, dia juga yang ketakutan. Aku sudah beberapa kali bilang ke Saga enggak usah nonton, jangan nonton,. dan lain-lain tapi katanya seru. Ya itu, akhirnya aku jadi tukang antar dia ke toilet.
Tak lama aku bisa melihat cahaya berkedip beberapa kali, aku melihat dari kaca dashboard mobil suamiku berhenti di sana dan ia sedang berjalan ke luar. Aku membuka kaca jendela, ia berjalan menghampiri. Saga berdiri tepat di hadapanku. Aku mengulurkan tangan meminta tangannya untukku cium, ia menyambut uluran tangan ku mencium tangannya, Saga lalu mengecup keningku.
"Bannya bocor, kok bisa sih kamu enggak ngerasa?"
"Terasa sih goyang cuma aku nggak tau kaalau bocor beneran,"
"Kalian balik aja deh, biar gue yang disini sambil nunggu tukang dereknya." Kata Brian yang kini ada menghampiri kami.
"Lo sendirian nanti," ujar saga.
"Enggak apa-apa santai aja. Beneran kalian baik aja duluan nanti gue yang urusin. Sana gih, kesian Reres," ujar Brian.
Brian orang kepercayaan Saga, hanya dia yang mengetahui hubungan kami dan ia juga orang yang bisa kami percaya. Karena Brian adalah teman yang juga sahabat suamiku sejak ia SMA. Yang jelas yang membuat hubungan keduanya agak berjarak dulu ya aku. Aku terlalu banyak mengambil waktu Saga hingga kurang waktu untuk bermain bersama teman-temannya dulu.
"Gue enggak apa-apa sih kan di dalam mobil." kataku, mana enak ninggalin Brian sendirian.
"Enggak apa-apa kalau ada kalian gue malah jadi obat nyamuk. Lo berdua enggak ngerti perasaan jomblo kaya gue,' keluh Brian yang malah disahuti kekehan oleh saga.
"Liat tuh Res kelakuan suami lo, sialan kan?'
"Lah lo bukannya jadian sama Vega SPG di mart deket Studio?" tanyaku mengingat apa yang dikatakan Saga beberapa waktu lalu.
"Apaan, gue cuma dijadiin ojek doang. Antar jemput, begitu dia pindah job udah gue di Ghosting, anjir bnaget nasib, nasib." Brian curhat, dengan tampang melas seraya mengusap rambutnya beberapa kali.
Sementara Brian curhat Saga malah ngakak enggak berhenti-berhenti seolah apa yang dikatakan Brian adalah hal yang lucu. Enggak punya perasaan banget deh Saga.
"Belum jodoh berarti, sabar aja nanti juga kalau ada yang datang kalau emang jodoh enggak akan kemana." Aku coba besarkan hatinya.
"Liat nih istri lo, ini begini temen. temen susah malah lo ngakak sialan emang lo Saga," keluh Brian sambil menunjuk saga yang masih saja terkekeh,
"gue ketawa justru menghibur, biar lo enggak sedih," jawab saga sambil menepuk-nepuk bahu BRian.
Brian hela napas, kayanya dia udah terbiasa bnaget diledekin saga jadi begitu tabah punya temen yang nyebelinnya kaya suamiku itu. "Ya emang enggak sedih cuma jadi kesel aja gue."
"Nah itu berarti cara gue berhasil dong bikin lo enggak sedih lagi."
"Tau ah, udah kalian balik rumah aja deh. Daripada makin kesel gue. Sana bawa plang suami lo nih Res. Sebelum ada berita seorang jomblo menikam temannya hingga tewas karena di ledek terus menerus."
"Yakin lo enggak apa-apa?" tanyaku lagi.
'Gue malah kenapa-napa kalau ada Saga," jawab Brian.
Aku dan Saga akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Enggak tega juga sebenarnya meninggalkan Brian sendirian. Tapi, saga bilang enggak apa-apa.
"Kalau kaya gitu tadi kamu jangan ke luar ya Res." kata saga sambil fokus mengendarai mobil.
"Iya, aku juga takut bayangin ada kunti yang tiba-tiba muncul dari sana," jawabku.
'Ya, kalau kunti ya kamu paling kesurupan. Kalau begal?"
"Jadi kamu mau aku kesurupan kunti?"
"Ya, daripada kenapa-napa mana mau aku jauh-jauh dari istri kesayangan. aku bener, gimana kalau itu begal? Duh enggak mau aku bayangin. atau kalau pulang malam kamu naik mobil online aja lah."
"Iya Saga sayang." jawabku lalu memerhatikan Saga. Suamiku masih mengenakan baju koko hitam dan sarung kotak-kotak biru putih. "kamu habis tahlilan ya?'
"Iya, tadi Pak Joko ada tahlilan anaknya mau nikah. Enggak sempat ganti baju aku langsung jemput brian di studio buat nemenin."
"Uuu, aku jadi terharu,' kataku dengan gaya yang kubuat imut.
saga terkekeh lalu mencubit pahaku. "jangan nyebelin kamu, liat tuh aku, sarungan gini nyusul kamu. Kurang sayang apa aku."
"Kurang lah buat aku," sahutku lalu membecik kesal.
"Kurang gimana Reres sayang?"
"Cinta dan kasih sayang kamu tuh nagih, kayak seblak."
Saga mendesis lalu, menye-menye dengan menyebalkan.
"Kok kamu nyebelin?"
"Ya kamu enggak ada perumpamaan lain apa selain seblak?" kesalnya.
"Ya, seblak kan emang enak."
"Apaan enak? bentuknya aja kaya gumoh Godzilla gitu,'' ledek Saga disertai kekesalannya padaku.
Ku pukul bahu Saga, "Kok kamu ngehina makanan pujaan hati aku?''
"Biarin, aneh dasar. Suka seblak."
"Biarin, daripada kamu. suka aku?" Kulirik dia dengan manja. saga menoleh lalu tersenyum.
"Iya enakan kamu empuk," kami terkekeh setelah mendengar jawaban dari suamiku itu.
Benar,Saga memang selalu bisa jadi tempatku pulang, lepas penat dan jenuh, hilangkan lelah dan kekesalan dari semua pekerjaan seharian. saga selalu bisa buat aku tertawa. Sayangn banget sama Saga, terus sayang sama aku ya Ga.
***
.
.
.
.
.
.
maaf ya kakak Buna baru update karena aku lagi fokus buat tamatin guru Dingin itu Suamiku sama aku ada ikut event non romance dari dreame. aku sebentar fokus dulu di sana ya.
mohin pengertiannya ya kakak sayang.
terima kasih.. sehat selalu..