Ke-8

1237 Words
Deadline adalah hal yang buat emosiku berantakan. Salahku memang karena tak segera mengerjakan. Tapi kan, ini salah Mas Bumi juga yang selalu kasih tugas dadakan. Lupa dia, kalau udah banyak kasih job ke aku. Ini memang tanggung jawabku atas jabatanku saat ini dan memang seharusnya aku tak mengeluh. Hanya saja, tetap ini kadang terasa menyebalkan dan buat aku kesal sendiri. Sebentar lagi jam makan siang, aku sudah merapikan berkas, menutup laptop dan bersiap untuk ke luar. Makan siang sama suamiku meski cuma lewat video call. Tetap saja ini jadi rutinitas yang hampir selalu kami lakukan. Jujur itu kurangi bebanku di kantor. Buang sedikit penat pekerjaan. Pukul dua belas siang aku melangkahkan kaki ke luar ruangan. Siang ini pengen banget makan soto ayam atau bakso yang seger buat keringat dan siapa tau bisa ngurangin berat badan. Saat aku melangkah menuju lift aku melihat jodi lambaikan tangan. Meminta aku untuk menunggunya. Aku membalik tubuh menunggu Jodi, ia sampai lalu memberikan sebuah surat undangan. "Dari Anisa." katanya. "Anisa mana? reporter? kameramen? anak pantry?" tanyaku setauku ada tiga anisa di kantor ini. "Siti Anisa," jawab Jodi. "Siti Anisa anak mana Bambang?" ketusku kesal. Jodi membuka kertas undangan dan membukanya, ia lalu menunjukkan foto pasangan yang akan menikah. "Ini nih Mbak." "Ah, Siti ini reporter." "Anisa," protes Jodi Kucubit bahu Jodi. "Gue manggil dia Siti." Aku tak mau kalah. Karena memang aku memanggilnya demikian. "Lo jalan sama siapa Mbak?" tanya Jodi "Sendiri paling, atau sama patner gue." "Sapa partner lo?" tanya Jodi penasaran. Jelass aku tak mungkin mengajak Saga. Aku hanya bercanda perihal partner barusan. "Adalah." " Lo udah punya pacar?!" "Siapa yang punya pacar?" Mas Bumi mendadak ada di belakang kami. Kapan dia ada di sini? Terus ngapain juga dia di lantai empat?' "Mbak Reres," jawab Jodi atas pertanyaan Mas Bumi barusa. Mas Bumi tersenyum seraya menyenggol bahuku, "Diem-diem lo ya?" "Idih, Jodi aja yang nerka-nerka. Jawab aja aku belum. Mau ajak Lee Min Ho. Kalau dia mau, kalau enggak ya sendiri." Kujawab demikian karena kini aku merasa gugup. "Udah ah mau makan." Aku dan Mas Bumi masuk ke dalam lift setelah terbuka. Ia diam, aku juga diam saat lift turun sampai ke lantai tiga. "Makan siang di ruangan gue, ada yang mau gue bahas masalah iklan." Lift terbuka, Mas Bumi berjalan ke luar dan aku masih terpaku dengan perintahnya tadi. aku segera menyusul ke luar. "Mas, sekarang?" tanyaku ia jawab dengan anggukan. "Aku mau makan siang." Ia melirik. "Kan sama aja makan siang sama gue sama Kanaya." Kepalaku pusing, sial banget kayaknya hari ini. Kau bener-bener harus makan siang sama Saga karena dia ngambek kemarin. Duh, ada-ada aja MAs Bumi. "Aku mau makan siang di Mkd." "Ya, kan bisa pesan." jawab Mas Bumi dan kini kami telah sampai di depan ruangan nya ia membuka pintu. "Aku ke toilet dulu," kataku sambil jalan ke toilet, buat hubungi Saga. Ya ampun rasanya ingin ucap sumpah serapah. Masalah iklah yang mana lagi? Bukannya kemarin semua udah deal? Duh, bener-bener susah banget kalau punya atasan labil gini. Apalagi yang harus dibahas sih? Sampai di toilet, aku masuk dan sialnya di sini ramai banget. Aku melangkah ke tangga darurat dan segera masuk di sana. Tempat aman nomor satu cuma aku takut aja kalau di sini. Segera aku hubungi suamiku. Ia tersenyum manis banget, gemes. "Assalamualaikum dimana kamu?" tanya Saga. "Waalaikumsayang, di tangga darurat.' jawabku seraya mengarahkan kamera kes sekitar. "Loh enggak ke luar kantor?" ia bertanya dan segera aku jawab dengan menggelengkan kepala. "Mas Bumi ngajak rapat dadakan. Maaf, ya yank." Saga berdecak, raut wajahnya sebel banget. Aaaaa, kalau dia ngambek lagi gimana? "Ya udah, tapi nanti pulang kaya biasa kan?" aku menggeleng lagi. "aku urus laporan buat besok. Maaf yank." Aku bisa melihat ia hela napas, ia menatapku kesal. "Yaudah, kalau pulang di atas jam sepuluh aku jemput. Enggak boleh nolak." Aku mengangguk saja, daripada buat perkara sama saga. "Iya, iya. oke bos." "Yaudah, Love you." ucapnya. ""love you more,' jawabku kemudian mematikan panggilan dan kembali berjalan ke luar menuju ruangan Mas Bumi. . . dan di sini aku di ruangan Mas Bumi dan Mbak Naya tengah membicarakan beberapa kepentingan untuk pergantian tahun. Ya sebenarnya ini sudah selesai dalam rapat beberapa bulan lalu. Hanya saja, Mas Bumi dan mbak Naya masih ragu untuk menggunakan perusahaan mana yang mungkin akan bekerja sama dengan kami nanti dalam penggarapan beberapa hal yang diperlukan. 'Kalau menurut kalian ini yang buat Animasi sama iklannya yang mana ya? Praja design atau H2u?" tanya MBak Naya. Mas Bumi menunjuk aku untuk berpendapat. "Kalau praja ini dia memang designya rapi banget mbak. Kaya dia merhatiin ke detail terkecil, cuma emang pricenya lumayan. Kaya dia kasih revisi satu kali, kalau kita mau ada revisi selanjutnya kita kena tambahan dana Sekitar seratus lima puluh sampai dua ratus ribu. Itu makannya tahun kemarin kita kena hampir beberapa juta buat tambahan, Ya, aku bolak balik minta revisi, hehehehe." Mas Bumi dan Mbak Naya mengangguk agaknya mereka mengerti bahwa aku kadang jadi perfeksionis sekali dalam beberapa hal. "Kalau H2u?" Mbak Naya bertanya lagi. "Bagus juga sih, lebih murah juga. Cuma aku malesnya mereka lama kalau balas komplain. Kurang komunikatif menurut aku ya. Jadi waktu itu aku milih desainnya praja meski menurut aku warna mereka cerah-cerah banget. Aku sampai minta diubah beberapa kali buat template iklan kita itu." ku jelaskan semua pengalaman yang aku alami selama bekerja sama dengan dua tempat yang ditanyakan Mbak Naya. "Ambil Praja aja lagi," Kata mas Bumi. "H2u itu katanya punya saudaranya anak kreatif juga si Intan." Mbak Naya buka suara. "Iya mau punya saudara siapa kalau enggak komunikatif buat apa?" kini mas bumi ungkapkan apa yang ia pikirkan. Dan apa yang ia pikirkan sama denganku. Sebenarnya aku sudah dengar desas-desus kalau H2u itu adalah milik sepupu MBak intan hanya saja, aku sama sekali tak peduli. Ini kan urusan pekerjaan enggak ada sangkut pautnya dengan siapa saudaranya siapa. Profesional aja lah aku sekarang ini. aku memilih Praja juga bukan karena apa-apa. Semua karena Praja design yang memang lebih komunikatif. Mas Bumi melirik. "terus lo milih siapa Res? "Praja Mas, udah aku masukin ke laporan." jawabku. "Kamu enggak milih itu karena sesuatu kan?" tanya Mbak Naya. Agaknya ia takut kalau aku memilih Praja lantaran hubunganku yang tak baik dengan Mbak Intan. "Enggak lah mbak. Sebelumnya aku kan udah pernah pake H2u dan emang mereka enggak komunikatif banget. Aku sampai kesel sendiri kan waktu itu. Mbak Naya sama Mas Bumi tau sendiri waktu itu panik karena H-2 itu mereka belum selesaikan revisian." Ya, hari ini kami bertiga banyak membicarakan perencanaan akhir tahun. Beruntung ini semua selesai pukul tiga sore. Aku kembali ke ruangan, lalu kembali menyusun perencanaan yang harus diserahkan besok. Tak mungkin ditunda lagi. Saat mengerjakan seperti ini semua berjalan begitu cepat. Waktu seolah dua kali melaju lebih cepat dari biasanya. Padahal rasanya aku baru memulai di pukul empat sore dan kini sudah pukul delapan malam. Laporan sudah aku kerjakan, di lantai tiga sudah sepi tak ada orang sama sekali. Aku menuju ruang fotocopy untuk membuat salinan laporan yang aku kerjakan. Bahkan aku sama sekali belum menyentuh ponsel sejak tadi. Setelah mengcopy semua laporan aku segera merapikan barang-barang milikku. Aku bahkan tak lagi menggunakan sepatu hak tinggi milikku. Aku punya sandal jepit yang sengaja aku tinggal di ruangan. setelah semua rapi aku melangkah pulang, hari ini lelah sekali. Aku ingin segera rebah dan tidur di pelukan Saga. Sambil ciumi dan kecupi wajahnya. Kangen banget sama Saga, padahal setiap hari ketemu, dasar aku bucin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD