Pagi-pagi aku udah dibangunin papi buat olahraga. Saga malah cekikikan enggak jelas, sialan emang. Dia seneng banget kalau lihat aku tersiksa. Setiap di sini pasti papi ajak buat olahraga di ruang fitnes yang ada di lantai tiga rumah papi. Ada salon, sauna dan kolam air panas. Rumah ini lumayan gede tapi enggak lebih gede dari Mbak Siska yang videonya viral di t****k itu.
Aku kini mengayuh sepeda kata papi harus nonstop lima belas menit. Ini baru enam menit dan kakiku rasanya udah pegel banget. Saga lagi angkat beban katanya biar kuat angkat aku. Dih, dia angkat lima belas kilo aja uratnya ke luar semua. Ada pelatih papi yang menemani. Papi masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Dan akhirnya aku menyerah lalu turun dan duduk di lantai. Papi melirik dan tersenyum dengan senyum meledek.
"Ayo dong mana semangatnya?" tanya papi.
"Reres mau mandi ah, mau makan nasi goreng buatan Mbok." Aku berjalan mendekati Saga dan mengajaknya turun.
"Lah, kok udahan?" tanya Saga.
"Buruan aku laper," ajakku sambil berusaha menarik tangan Saga.
"Aku nemenin papi deh di sini. Kamu makan duluan ya?" Saga sok jagoan. Mau nemenin papi katanya?
"Pi, Saga besok masih ada kegiatan kalau Saga udahan enggak apa apa ya?" Aku minya ijin. Lagian papi ada ada aja anaknya main ke rumah, malah diajak olahraga.
"Duluan deh sana. Saga temenin Anak kesayangan papi. Aduh kalau ngambek bahaya nanti." Papi terkekeh.
Saga melirik ia marah karena aku memintanya seperti ini. Sungguh bukan mau kurang ajar sama papi. Tapi, aku tau Saga cepet capek karena memang jarang berolahraga.Aku enggak mau dia kecapekan besok sementara ia punya pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Dan begitulah yang terjadi sampai kami dalam perjalanan pulang. Saga diam dan aku juga diam. Kadang Saga enggak ngerti kalau disayang. Aku takut dia sakit dan kecapekan besok. Terus, semua kerjaan dia terganggu karena badannya yang pegal.
Sejak tadi ia sama sekali tak buka suara, dengan tatapan serius yang selalu buat aku mengkerut. Kami sampai rumah, dalam diam masuk masing-masing dia bahkan enggak mau bawakan tasku masuk ke dalam. Kalau udah kaya gini jurus baju seksi juga udah enggak mempan. Paling sebel kalau Saga kaya gini. Dia udah jalan ke dalam kamar meletakkan tasnya dan berjalan menuju studio, ruang kerjanya.
Aku memang biasanya diamkan dulu Saga sampai benar-benar lebih tenang baru minta maaf. Ya aku tau Saga berniat baik ingin menemani papi hanya saja aku juga enggak mau Saga kecapekan. Serba salah jadinya.
Aku menatap jam, sudah tiga jam sejak ia diam tadi. Kemudian aku melangkah menuju studio rekaman. Ku ketuk pintu, "Sayang ...," sapaku yang jelas sapaan sayang jadi salah satu rayuan buat suamiku luluh.
"Masuk," jawabnya dingin.
Aku berjalan masuk melihatnya yang sibuk di depan peralatan miliknya. Aku berjalan mendekat, seraya menggeser salah satu kursi, lalu duduk di samping Saga yang tengah serius. "Ga, sorry, maaf. Aku tau aku salah. Maaf," Ku ucapkan itu, ia diam lalu menghela napas.
"Aku cuma mau kamu enggak kecapekan besok. Aku takut kamu pegel karena olahraga dadakan tadi." Aku mulai menjelaskan alasanku.
Saga menoleh menatapku, aku bisa melihat jika ia sedikit luluh. "Aku cuma mau nemenin papi sebentar. Kamu jarang ke sana dan aku ngerasa bersalah sama papi. Kamu anak satu-satunya Res, kamu enggak mau setiap papi ajak ke acara, kamu enggak mau ngurusin kerjaan papi, kamu nolak papi kasih tau siapa anaknya. Sedikit banyak aku tau apa yang papi rasain. We just need you, lebih care aja ke papi. Usia papi juga udah enggak muda, mami juga. Please make them happy. Buat mereka bahagia. I love you so much, dari banyak hal yang aku sukai di dunia ini kamu yang paling penting paling berharga. Bukan aku marah karena apa, no! aku enggak bisa marah ke kamu. Dan aku udah bilang berkali-kali. Sayang sama Papi, sayang sama mami. Terutama mami, lepasin dendam kamu ke beliau. Mami sayang sama kamu kok, kamunya aja yang cuek."
Apa yang dikatakan benar, entahlah aku tak tau bagimana ini. Hanya saja kami punya argumen masing-masing. Saga hanya ingin kesampingkan hal lain dan beri perhatian pada kedua orang tuaku. aku juga melakukan ini untuk Saga. Intinya kami marahan karena saling sayang. Bingung kan?
"Sorry, maaf aku egois."
"Aku cuma enggak mau papi sama mami ngerasa kehilangan anak mereka."
Saga begitu memikirkan hubungan aku dan kedua orangtuaku. Sebenarnya aku merasa tak akan ada bedanya. Sejak dulu mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Hanya ada di rumah seminggu dalam sebulan atau enggak ada sama sekali. Aku manut dan tunduk hanya karena tak ingin memperburuk hubungan dengan Saga.
"Iya, maaf Saga," aku kemudian memeluk suamiku itu.
"Manis banget emang kalau minta maaf." Saga mengeluh karena tak pernah bisa marah terlalu lama.
"Love you Alivian Saga Majendra."
"Sayang juga sama kamu cewek nyebelin."
***
Pagi begitu cepat datang hari senin lagi. Hari yang banyak dibenci. Kesian Senin, jadi tumbal orang malas dan terbuai hari libur seperti aku. hehehe. Kalau udah lama libur rasanya jadi males lagi kalau mau beraktivitas. Tapi, pagi ini Saga masih tidur, jam lima pagi aku udah jalan ke luar rumah cari sarapan. Dengan dandanan khas ala emak-emak pakai daster, rambut cepolan, langsung ke luar cari nasi uduk.
Dekat rumah ada yang jual jadi enggak usah jalan jauh. Harganya murah lagi, cuma lima ribu udah dapat nasi uduk pakai satu gorengan, kalau mau tambah telur semur atau balado cuma tambah tiga ribu.
Selesai beli nasi uduk aku segera sarapan sama Saga. Hari ini aku harus masuk kantor lebih cepat. Aku harus mengerjakan beberapa program yang masih harus ku urus.
Setelah tiba di kantor aku segera menuju ruang tim. Melihat mereka tengah sibuk untuk memulai acara pagi. Tim B di bawah pimpinan Intan sebagai art director. Kini mereka duduk bersama aku tau mereka membicarakan tentang acara GoTis Gosip Artis jam sembilan nanti. Biasanya tim ku yang memegang acara ini hanya saja, sejak aku naik jabatan untuk sementara diurus Mbak Intan dan tim. Aku berjalan mendekat.
"Pagi Mbak," sapa semua kompak, hanya Mbak Intan yang tampak enggan.
"Pagi ini ada gosip baru kan? Jeli nujeli artis dangdut itu ke gap lagi sama Pengacara kondang di hotel?" tanyaku.
"Iya Mbak, kemarin ada berita duka juga." Nina menambahkan.
Aku mengangguk lalu duduk saat Kiko salah satu tim Intan memberikan kursi. "Thank you," Ucapku dijawab anggukan oleh kiko. "Gue kasih masukan host ucapin bela sungkawa dulu, cuma berita duka itu jangan di hold tetap di tampilkan di awal." Aku katakan demikian karena intan punya kebiasaan menampilkan lebih dulu berita yang tengah ramai.
Intan menoleh nampak tak setuju. "Gimana kalau kita ucap bela sungkawa terus langsung berita Jeli Nujeli. Ini hits banget lho, gila kali kita enggak hype juga?"
"Its not just about hype baby. Ini menuntut empati kita sebagai manusia, masalah Jeli Nujeli enggak ada urgensinya meski itu populis. Gue tau kita butuh sesuatu yang menarik untuk pemirsa. Cuma jangan sampai hilang empati dengan menunda berita padahal berita itu bisa buat orang memanjat doa. Oke Good ya empati first, we are human right? Oke gue liat tim lain dulu."
Setelahnya aku menuju Tim A aku tau hari ini mereka tak ada pekerjaan pagi dan sibuk membuat susunan acara untuk acara talk show malam nanti. Jodi, Nita dan Rara duduk di ruangan mereka malah asik makan gorengan. Begitu melihatku mereka buru-buru merapikan gorengan di meja. Sialan, gimana mau maju kalau malas gini? Nita lagi di kasih kepercayaan malah gini.
Ku sentil kening Rara, memukul bahu Jodi dan Nita. "Mau gue cekek lo satu-satu? Rundown udah selesai?"
Jodi dan Rara menggeleng, kupukul keduanya dengan map yang aku pegang, "Ih, gimana sih? selesaikan gue mau masukin info acara terbaru di sana. Awas kalau jam sembilan enggak selesai."
Aku berjalan menuju ruangan. Hari ini pagi-pagi udah dibuat emosi sama trio kwek-kwek. Biasanya Nita galak, bisa-bisanya dia ikut-ikutan melempem kaya Jodi. di lorong aku bertemu Mas Bumi mengenakan jas biru elektrik sibuk menatap ponsel. Aku sengaja berdiri dan diam, bisa-bisanya orang sibuk sama hape pas jalan. Begitu sampai di depanku Mas Bumi berhenti menatap seolah bertanya ada apa?
"Saya paling sebel liat orang jalan sambil main hape." ketusku.
"Lo marah sama gue?"
Aku menggeleng, "marah sama tim A."
"Kok judesnya sama gue?"
"Ya, sebel aja sama oarng yang jalan sambil main hape."
"Ya berarti lo marah sama gue?''
"Iya, yaudah gue ke ruangan dulu lah. Masih ngerjain tugas dari Mas bumi."
Mas Bumi berjalan kuikuti kami berjalan menuju lift.
"Yang mana?"
"Konsep buat iklan akhir tahun sama pilih film-film yang mau kita puter buat akhir tahun dan acara kaya apa."
Mas Bumi mengangguk. "Gue tunggu. sekalian budget kalau bisa besok pagi."
"Oke." oke berarti senin ini alamat ngelembur lagi biar bisa cepat kasih semua laporan ke Mas Bumi.
**
. siapakah yang membaca cerita ini? tunjukan pesona kalian. hehehe