“Tania, kamu lagi ngapain? Ayo duduk dekat mama sini, Nak! Ada yang mau mama bicarakan.” Tiara memanggil anaknya dengan lembut. Tania tersentak dari lamunannya. Lalu menoleh ke sang ibu yang ternyata sudah berada dalam kamar tanpa disadarinya. “Mau bicara apa, Ma?” Tania bertanya dengan wajah lesu. Ia berjalan ke arah mamanya dan duduk di pinggir tempat tidur di samping Tiara. Tiara mengusap rambut sebahu putri semata wayangnya penuh kasih sayang. Permata hatinya yang sedang terluka. Tiara tahu perasaan Tania saat ini. Kehilangan orang yang kita sayangi memang menghadirkan luka yang teramat dalam. Ia juga mengalami hal yang sama sejak enam bulan yang lalu. Rasa sakitnya tidak berkurang hingga detik ini. Mamanya Tania itu menghela napas panjang untuk menghilangkan sesak yang tiba-tiba d

