pergerakan Brian

1507 Words
Adel beserta ketiga sahabatnya sudah berada dibioskop. Lucifer akhirnya mengijinkan Adel untuk pergi bersama teman-temannya, setelah perempuan itu membujuk iblis tersebut terus menerus. "haaahh.. Sudah lama sekali ya, Kita tidak menghabiskan waktu bersama-sama seperti ini." ujar Ghavin dan di angguki oleh semua yang ada disana. "terlebih lagi, saat Adelia sudah menjadi kekasih Lucifer. Ia jadi jarang berkumpul dengan Kita." "tidak seperti itu, Nata.." "benar kok, kata Nata. Lucifer seperti memonopoli mu, Del." Althezza pun ikut angkat bicara. "maaf... Aku hanya sedang malas untuk kemana-mana..." melirik kearah Natasia. "...Kau tahu sendiri kan, Nat." "iya...iya... Kami paham..." Ia kemudian melirik kearah food corner. "....Del, Kita beli camilan dulu yuk. Biar Ghavin dan ezza duluan saja." ujar Natasia langsung menggandeng lengan sahabatnya dan membuat kedua pria itu geleng-geleng kepala. "aduh..." Natasia memegangi perutnya. Ia kemudian memberikan bungkus popcorn yang Ia pegang kepada Adelia. "...maaf, Del. Aku mau ke toilet dulu." Adel menerima popcorn milik Natasia. "yasudah.. Aku duluan ya." Natasia hanya mengangguk sebelum pergi meninggalkan Adel sendiri. Perempuan dengan surai panjang itu terlihat sedikit kerepotan dengan barang bawaannya. "boleh Ku bantu??" Adelia langsung menoleh kearah sumber suara. Matanya menyipit melihat orang tersebut. "Asta?" Lelaki itu tersenyum. "ternya benar, ini Kau. Aku fikir jika Aku salah lihat." "Kau sedang apa?" Asta menunjukan tiket nonton yang Ia pegang dan ternyata film tersebut sama dengan film yang akan di tonton Adel beserta teman-temannya. Asta kemudian mengambil sebagian barang bawaan milik Adel. "eh.. Tidak u--" "tidak apa-apa." potong Asta. "...lagi pula Kita akan menonton film yang sama." "bagaimana Kau tahu?" Mereka pun melangkahkan kaki menuju studio tempat film yang akan mereka tonton di putar. Asta tersenyum. "sebenarnya, Aku sudah datang dari tadi. Dan Aku melihat mu dan ketiga teman mu itu memesan tiket yang sama. Aku ingin menyapa tapi takut salah orang. Jadi, Aku ingin memastikan lebih dulu." Adel hanya mengangguk mendengar penjelasan pemuda tampan tersebut. "Kau lama sekali...eh, Dia siapa? Dan dimana Nata?" Ghavin menatap Asta yang berada di belakang Adel. Mereka menempati kursi bagian tengah yang kebetulan pula kursi Adel bersebelahan dengan kursi milik Asta. "ah, Dia Asta. Murid baru disekolah Kita..." melirik sekilas kearah pemuda dengan surai hitam tersebut. "...dan Nata, Dia sedang di toilet." Ghavin mengangguk mengerti. Mereka pun menempati kursi masing-masing karena film akan segera dimulai. • "Del, maaf ya. Aku harus pulang duluan." perempuan berponi depan itu menatap tak enak pada sang Sahabat. Pasalnya, Ghavin dan Althezza juga sudah pulang lebih dulu karena ada jadwal latihan basket untuk tanding lusa nanti. "tidak apa-apa, Nat. Lagi pula kan ini telepon dari rumah sakit. Aku turut senang ya, mendengar kabar tersebut." Ya, Natasia mendapat telepon dari rumah sakit jika sang Kakak telah sadar dari masa koma nya. Natasia langsung memeluk tubuh Adel. "terima kasih ya, Del. Setelah apa yang dilakukan Kakak, Kau masih mau bersahabat dengan Ku." Adel membalas pelukannya. "Kau kan sahabat Ku sejak lama. Lagi pula, itu bukan salah mu." melepaskan pelukan. "...yasudah, Kau pulanglah. Titip salam untuk Paman, ya." Nata mengangguk sebelum pergi dari sana. "bagaimana jika Kau pulang bersama Ku?" Adel terkejut karena Asta tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. Padahal, tadi saat film selesai, pemuda itu pergi lebih dahulu dan hilang entah kemana. "Kau mengagetkan Ku saja..." Adel mengelus dadanya. "...kenapa Kau masih ada disini?" Menunjuk kearah toko buku yang ada dibelakangnya. "Aku habis mencari sebuah buku, tetapi ternyata tidak ada." Adel hanya ber'oh ria. "jadi, bagaimana?" Menautkan alis. "bagaimana apanya?" "mau pulang bareng dengan Ku? Aku membawa motor." melihat kearah jam. "...jam segini, jika naik taxi atau bus pasti akan macet loh." Adel menimbang ajakan Asta. Ada benarnya juga ucapan pemuda itu. Ini adalah jam pulang kantor, dan jalanan pasti akan padat. Jika Ia pulang telat, Lucifer juga pasti akan khawatir. Menarik nafas, sebelum menjawab. "baiklah." Asta pun akhirnya tersenyum mendengar jawaban Adel. Pemuda itu membawa Adel ke tempat parkir. Didepannya sudah ada motor sport berwarna hitam. Asta kemudian memberikan sebuah helm pada Adelia dan langsung diterima oleh perempuan itu. "terima kasih." Ia kemudian naik ke motor Asta. Motor sport ini membuat tubuhnya jadi lebih dekat dengan pemuda itu dan membuat sedikit canggung. "pegangan dengan Ku jika Kau tidak ingin jatuh." ujar Asta. Sedikit ragu, namun akhirnya mau tak mau Adelia menggenggam sedikit ujung jaket kulit yang sedang dikenakan Asta. Pemuda itu pun tersenyum penuh arti, sebelum mulai menjalankan mesin motornya. ¤•¤•¤•¤ "Aku pulang." Adel memasuki apartemen. Lucifer pun langsung menghampiri dan memeluk tubuh wanitanya. "Aku merindukan mu." Adel membalas pelukan Lucifer sambil terkekeh. "Aku hanya keluar beberapa jam saja kan." Merasa ada aroma yang tidak biasa dari tubuh sang wanita, Lucifer pun langsung melepas pelukannya. "Kau pulang dengan siapa?" "Aku pulang dengan teman Ku, ada apa?" "teman? Siapa?" Lucifer memegang kedua bahu Adel. Pasalnya, aroma yang tertinggal di tubuh Adel bukan aroma manusia biasa. "hei.. Ada apa sebenarnya?" Adel menatap heran pada Lucifer. "...Aku tadi pulang bersama Asta karena Natasia harus segera pergi ke rumah sakit. Kebetulan Aku dan Asta bertemu disana. Ada apa memangnya?" Lucifer menggeleng. "lebih baik, Kau membersihkan diri lalu bersiap untuk makan malam. Aku sudah menyediakan makanan kesukaan mu." "Kau tidak apa-apa?" Lucifer membelai pipi Adelia. "iya, Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir." • Adelia dan Lucifer sudah selesai makan malam. "Adel. Untuk sementara, Aku ingin Kau jangan terlalu percaya dan terlalu dekat dengan siapa pun." "apa ada sesuatu?" Lucifer memejamkan mata sejenak, sebelum mulai bercerita. Ia juga menceritakan tentang pemberontakan kaki tangannya sampai alasan kenapa dirinya sampai tersegel. "jadi, ada iblis lain yang sedang mengincar Ku karena tahu Aku menjalin hubungan mu?" Lucifer mengangguk. "apa Kau sekarang takut dan menyesal telah mengenal Ku?" Adelia menggelengkan kepalanya. "tentu saja tidak. Lagi pula, Kau kan selalu membantu dan melindungi Ku." Lucifer tersenyum sambil membelai surai milik Adel. "Kau kan milikku. Jadi, apapun yang terjadi, Aku akan selalu membantu dan melindungi mu." "terima kasih." Adel memeluk tubuh kekasihnya tersebut. ¤•¤•¤ "Kak..." Natasia memasuki ruang perawatan sang Kakak. "....Kakak ingin minum?" Terlihat pria tersebut menoleh kearah sang Adik. "apa Adel baik-baik saja?" bukannya menjawab, pria itu malah menanyakan kabar wanita yang dicintainya. Natasia menempatkan diri di kursi yang terletak disamping brankar sang Kakak. "Adel, baik-baik saja. Sebaiknya Kakak khawatirkan kondisi Kakak dulu." "Aku ingin bertemu dengannya." ujar pria tersebut dengan wajah datarnya. "untuk apa Kakak ingin menemui Adel? Apa Kakak masih tidak bisa melupakannya?" "Aku sangat mencintainya, Natasia!! Hanya Dia wanita yang Aku cintai." pekik Reji. "...Aku hanya ingin Dia!! Aku hanya mencintainya!!!" Natasia terkejut. Kakaknya masih saja tidak berubah. Ia kemudian memanggil suster, karena kondisi Reji yang kembali tidak stabil. Tidak menunggu waktu lama, suster pun datang dan menyuntikkan obat penenang kepada Reji. Pria itu pun kembali tenang. Melihat kondisi sang Kakak yang kembali tenang, Natasia pun memberanikan diri menggenggam tangan Reji. "jika Kakak memang benar-benar mencintai, Adel. Kakak harus bisa merelakan agar Ia bahagia Kak." bisik Natasia. Andai saja Kakaknya itu normal seperti laki-laki lain pada umumnya, mungkin Ia akan membantu mendekatkan sang Kakak dengan sahabatnya. Hanya saja, penyakit sang Kakak lah yang membuat Natasia berfikir ulang untuk melakukan hal tersebut. Karena, Natasia juga ingin melihat sang Sahabat bahagia. Apalagi, saat ini Adelia sudah mempunyai seseorang yang sahabatnya itu cintai. Semoga saja, sang Kakak bisa merelakan sahabatnya tersebut. Drrtttt.... Drrrrtttttt.... Dering ponsel, menyadarkan Natasia dari lamunannya. Perempuan itu menautkan alis sebelum menerima panggilan tersebut. "ada apa, Brian?" ?: "Kau ada dimana? Ada yang ingin Aku bicarakan." Natasia melirik kearah sang Kakak. "Aku sedang di rumah sakit. Kak Reji sudah sadar." ?: "baiklah, Aku akan kesana menjemputmu." "memangnya ada hal apa sampai Kau ingin kemari menjemput ku?" ?: "Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Adel. Aku ingin membeli hadiah untuk ulang tahunnya, tetapi Aku tidak tahu apa yang Ia suka dan sedang Ia inginkan. Kau kan sahabatnya." Natasia membuang nafas. "baiklah. Aku akan menunggu disini." Brian pun mematikan sambungan ponselnya. Natasia tidak mengerti, apa sebenarnya yang ada di fikiran pria tersebut. Saat pria itu masih berstatus sebagai tunangan sang sahabat, Ia tidak pernah sekali pun perhatian dan meluangkan waktu untuk Adelia. Bahkan, pria itu selalu melewatkan hari ulang tahun sang sahabat dengan alasan lupa atau sibuk. Namun kini, saat Adelia membatalkan pertunangan, pria itu malah gencar mendekati dan memberi perhatian pada Adelia. "kira-kira, apa yang terjadi jika Brian mengetahui Adelia sudah mempunyai kekasih ya?" gumam Natasia yang entah dengan siapa. ¤•¤•¤ "jadi, jika x di tambah dengan y, Kau akan menemukan hasilnya." ujar Adelia mencoba menjelaskan kepada pria yang terlihat sedang menatap buku dengan tanpa minat. "kenapa manusia menyukai hal merepotkan seperti sih." Adel langsung mengangkat wajahnya dan menatap lucifer. "jika Kau tidak belajar, Kau tidak akan lulus." "Aku tinggal menggunakan sihir Ku." Tuk.. "kenapa Kau memukul Ku?" Lucifer menatap tak percaya Adel yang memukul dahinya dengan bolpoint. "karena Kau selalu saja bermain-main. Lagi pula, Aku kan sudah melarang mu menggunakan sihir ditempat umum." omel Adelia. Ia tidak ingin orang-orang sampai mengetahui jika Lucifer bukanlah manusia. "baiklah-baiklah.. Aku akan serius mengerjakan tugas merepotkan ini." Lucifer akhirnya mengalah. Lagi pula, bukankah tidak ada yang bisa menang jika melawan seorang wanita? Ucapan Lucifer membuat Adel tersenyum penuh kemenangan. to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD