saingan cinta Lucifer

1422 Words
Adel dan Natasia baru saja habis dari ruang ganti. Saat ini, mereka masuk mata pelajaran olahraga. Tap.. Tap.. Tap.. Tap.. Bruk... "aduh.." Adelia tak sengaja menabrak seseorang. "maaf, apa Kau baik-baik saja?" Adelia mengangkat wajah, menatap sebuah tangan yang terulur kearahnya. Telah berdiri seorang pemuda dihadapannya. "Adel!!" Sebelum Adel menerima uluran tangan pemuda tersebut, Natasia lebih dulu membantu sahabatnya itu untuk berdiri. "tidak apa-apa, Aku baik-baik saja. Lagi pula, Aku juga bersalah karena kurang berhati-hati." Pemuda itu kembali mengulurkan tangannya kearah Adel. "Asta.." ujarnya. Adel dan Natasia saling tatap, sebelum menerima uluran tangan pemuda tersebut. "Adelia. Dan ini..." menoleh kearah perempuan disampingnya. "...Natasia." Pemuda itu mengangguk. "salam kenal ya, Adelia. Aku murid baru disini." "pantas saja Aku baru pertama kali melihat mu." bukan Adelia yang menjawab, melainkan Natasia. Tidak menjawab, Asta malah kembali menatap Adelia. "omong-omong, Apa bisa Kau mengantar Ku ke ruang guru? Aku belum hafal letak ruangan sekolah ini." "Del, Nat..." kedua perempuan itu menoleh kearah sumber suara. Sudah ada Ghavin disana. "...kalian lama sekali. Guru olahraga sudah datang." ujarnya. "iya Vin, tunggu sebentar..." Adelia kembali menoleh ke Asta. "...As, maaf banget ya. Tapi Kita harus buru-buru." Ia kemudian memanggil salah satu murid yang lewat dan meminta tolong untuk mengantar murid baru tersebut ke ruang guru. "...Kau ikuti saja Dia. Sekali lagi, maaf ya." Asta tersenyum kearah Adelia. "tidak apa-apa. Maaf ya sudah membuat kalian jadi terlambat." Adelia hanya tersenyum, kemudian Ia langsung membawa Natasia pergi dari sana, meninggalkan Asta yang masih menatapnya. ¤•¤•¤ "Kalian habis dari mana?" tanya guru olahraga. "maaf, Pak. Kami tadi habis mengantar murid baru ke ruang guru." jawab Natasia. "yasudah. Kalian cepat gabung dengan yang lain." "baik, Pak." • "Adel, Kau kemana saja?" Lucifer langsung menghampiri wanitanya. "Aku tidak sengaja menabrak murid baru tadi." Lucifer memegang kedua bahu Adelia dan menatapnya dari atas sampai bawah. "apa Kau terluka?" Adel menggeleng. "Aku tidak apa-apa." "syukurlah. Lain kali, Aku akan mengantar mu ke ruang ganti agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi." "Kau terlalu berlebihan, Lucifer." "Aku hanya ingin membuatmu tidak terluka sedikit pun." "Kau khawatir padaku?" Lucifer langsung melepas genggaman pada bahu Adelia dan memalingkan wajahnya. "te..tentu saja, Kau kan milikku. Aku tidak ingin melihat milik ku terluka." Adelia tersenyum. "terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, Lucifer." Mereka berdua tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan mereka dari atap gedung sekolah. ¤•¤•¤ Sesampainya di apartemen, lagi-lagi Adelia menerima kiriman barang dari sang Ayah dan selalu berakhir dengan dibuangnya barang tersebut. "kenapa tidak berbaikan saja dengan Ayah mu?" "Aku sedang tidak bertengkar dengannya." Lucifer menaikan sebelah alisnya, "lalu, kenapa Kau selalu membuang barang pemberian Ayahmu?" "Aku tidak memerlukannya." wanita itu menjawab sambil berjalan memasuki apartemenya. Lucifer mengikuti Adelia dibelakang. "Aku tahu yang Kau butuhkan. Kau hanya ingin perhatian dari nya kan." Deg!!! Adelia terdiam sesaat. "Aku ingin makan soup setelah berendam air hangat. Apa Kau bisa membuatkannya?" Adelia mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Aku ingin ikut berendam." "jangan harap!!" Blammm.. Ujar Adelia sebelum menutup pintu toilet. • Hari sudah mulai larut, tetapi dua orang berlainan jenis itu masih tetap terjaga. "Lucifer. Aku ingin bertanya sesuatu padamu?" "tanya apa?" Lucifer masih asyik memainkan surai wanita yang saat ini sedang berbaring didekapannya. "saat pertama kali Kita melakukan 'itu', Kau sempat mengucapkan jika Kau mencintai Ku. Apa Kau tahu arti dari kalimat tersebut?" "Apa Kau meragukan Ku?" Bukannya menjawab, Lucifer malah balik bertanya. "bukan seperti itu. Maksud Ku, Kita ini kan berbeda. Bagaimana mungkin Kau bisa langsung mencintai Ku? Kau tampan, kuat, hebat. Sedangkan Aku?" "Aku tidak peduli perbedaan itu..." Lucifer mengecup pucuk kepala Adelia. "...bagiku, Kau lebih dari sekedar cukup.." Lucifer menarik dagu Adelia agar menatap wajahnya. "..asal Kau tahu saja. Seorang iblis tidak mudah untuk jatuh cinta. Dan selama ribuan tahun ini, Aku baru merasakan perasaan tersebut ketika bersama mu. Apa Kau bisa percaya padaku?" Melihat hanya ada kesungguhan serta ketulusan dimata sang iblis tampan tersebut, Adelia tersenyum. "ya, Aku percaya padamu." Cup.. Lucifer mencium bibir Adelia, selama beberapa saat "terima kasih, Adelia." ujar Lucifer setelah melepas ciumannya. Adelia memegang bibirnya. "Apa yang Kau masukan kedalam mulut Ku?" Lucifer menangkup wajah Adelia. "Aku memberikan setengah kehidupan Ku padamu." "a..apa maksud mu? Apa ada efeknya? Kenapa Kau tidak ijin dulu kepada Ku?" "itu adalah bentuk dari rasa cinta Ku padamu. Dengan begitu, Kau akan bisa hidup lebih lama dibanding manusia normal pada umumnya. Dan Aku jadi lebih mudah melacak keberadaan mu. Karena, seperuh jiwaku sudah ada padamu." "lalu, apa efeknya bagimu?" "Aku akan bisa merasakan, apa yang Kau rasakan." Adelia menautkan alisnya. "jadi maksud mu, jika suatu saat Aku mati, Kau juga akan mati bersama Ku?" "hmm.. Entahlah. Mungkin saja itu akan terjadi." "tidak, Aku tidak mau. Aku tidak mau seperti itu..." Adelia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Lucifer. "...Aku tidak ingin Kau menderita dan terluka karena Ku." Lucifer kembali menarik Adel kedalam pelukannya. "Kau tenang saja, Adelia. Aku bukan iblis yang selemah itu." Lucifer mengusap punggung Adelia yang berada dipelukannya. ¤•¤•¤ "Adelia?" Wanita itu menoleh, lalu menautkan alisnya. "ah... Kau anak baru yang kemarin ya?" Saat ini, Adelia sedang berjalan sendiri menuju ke perpustakaan. Dan kebetulan sekali dilorong sekolah, Ia bertemu dengan siswa baru yang kemarin menabraknya. "namaku Asta, apa Kau lupa?" Adelia tersenyum kikuk. "maaf, Aku suka lupa." "tidak apa-apa. Kau mau kemana?" "ke perpus." ujar Adelia sambil menunjuk kearah kanannya. "kebetulan sekali. Mau bareng dengan Ku?" "hmmm.." Adel menimbang ajakan pemuda tersebut. "ayolah! Aku belum memiliki banyak teman disini." bujuk Asta. Membuang nafas pasrah. "baiklah." Asta pun tersenyum penuh arti, mendengar jawaban Adelia. "Kau tinggal dimana?" saat ini, mereka sudah ada di perpustakaan sekolah. "tak jauh dari sini." Asta mengangguk. "Kau suka baca?" pemuda yang masih saja mengikuti Adelia itu pun selalu saja mencoba membuka percakapan. "tidak juga." tetapi, Adelia menjawab pertanyaan dengan seadanya. Perempuan itu lebih memilih fokus pada buku yang sedang dibaca nya. Walaupun Asta termasuk murid baru yang populer karena ketampanannya, namun Adel tetap tidak tertarik. "terus, apa yang Kau suka?" Adel menghela nafas kemudian menoleh kearah Asta. "Aku suka ketenangan saat sedang membaca. Dengan begitu, apa yang Aku baca bisa langsung dicerna oleh otakku." "ah.. Baiklah, Aku akan diam." Asta menopang kepala dengan tangan kanannya sambil memandangi Adel yang kembali fokus pada bukunya. "tadi Kau bilang ingin ke perpus. Tetapi, Kau malah tidak mengambil satu buku pun untuk dibaca. Jadi, apa sebenarnya tujuan mu kesini?" "Aku hanya ingin lebih dekat dengan mu." Jawaban Asta, sukses membuat Adel menghentikan kegiatan membacanya. "maksudmu?" "mungkin Aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mu." Adel langsung menutup bukunya, "itu tidak lucu..." Ia kemudian bangkit dari kursinya. "...maaf, tapi sepertinya Aku harus kembali ke kelas." ujar Adel sebelum pergi meninggalkan Asta. "Aku pasti akan merebut mu, Manusia." gumam Asta setelah kepergian Adelia. ¤•¤•¤•¤ "Kau dari mana? Aku mencarimu dari tadi." Lucifer berjalan kearah meja wanitanya dan duduk disana. Adel langsung melingkarkan tangannya diperut pria tersebut. Hubungan keduanya sudah diketahui oleh sahabat dan teman-teman Adel. Bahkan, ada beberapa murid yang menatap iri pada hubungan mereka karena terlihat begitu harmonis. "Aku habis ke perpus. Bukankah tadi Aku sudah bilang padamu?" Adel mendongakan wajahnya menatap kekasihnya. Lucifer mengangkat kedua bahu. "omong-omong, apa Kau di perpus bersama seseorang." Adel mengangguk. "siswa baru yang Ku ceritakan kemarin. Dia meminta ikut ke perpus bersama Ku." "sepertinya kalian semakin dekat." Adel menarik sudut bibirnya. "Kau cemburu?" Lucifer menarik hidung Adelia. "tentu saja, Kau kan milik Ku. Apa Kau lupa?" Perempuan itu mengusap hidungnya sambil mengembungkan pipi. "itu sakit, tahu. Lagi pula, Aku juga tidak tertarik dengannya. Ia hanya pemuda yang aneh." Iblis yang sedang menyamar menjadi manusia itu mengacak surai Adel dan membuat perempuan itu kembali mendengus. "hei, kalian berdua!!" Adel dan Lucifer menoleh kearah Natasia yang memanggil mereka. "sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai dan berhentilah mengumbar kemesraan yang membuat Aku dan yang lainnya iri." Adelia melepaskan tangannya yang melingkar di perut Lucifer, lalu Ia pun terkekeh. "maaf..maaf... Nata sayang..." perempuan itu kemudian menatap kekasihnya. "...lebih baik, Kau kembali ke tempat duduk mu sebelum murid lain masuk dan ikut protes." Lucifer turun dari meja Adelia kemudian berjalan menuju kursinya yang bersebelahan dengan sang kekasih. ¤•¤•¤ "Tuan Muda. Satu minggu lagi Nona Adelia akan berulang tahun. Apa ada yang ingin Anda persiapkan?" tanya seorang asisten kepada pria dengan surai pirang. "cari tahu apa saja yang sedang di inginkan olehnya. Dan kosongkan jadwal Ku untuk dua minggu ke depan. Aku akan menghabiskan waktu dengannya." "baik, Tuan muda." ujar sang asisten sebelum keluar dari ruangan tersebut. "Aku akan membuat mu menjadi milikku lagi, Adelia." to be continued..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD