Tap... Tap... Tap...
Pria itu menyeret seseorang yang sudah berlumuran darah ditangannya.
Ia kemudian melepaskan lalu menatap orang tersebut.
Berjongkok disamping tubuh yang sudah tak berdaya, Ia kemudian mengarahkan kelima jarinya yang dihiasi kuku tajam nan panjang itu ke d**a korban.
Zraasshhh
Dengan sekali tusukan, Ia berhasil mengoyak d**a orang tersebut yang tubuhnya mengejang.
Ia lalu menarik jantung korbannya.
Seringai terlihat di bibir.
"dasar manusia lemah." Ia kemudian memakan jantung tersebut.
Memang sudah menjadi kebiasaan bagi iblis memakan jantung manusia untuk menambah kekuatan.
Sesaat kemudian, Ia tertawa dengan mulut yang berlumuran darah.
"Aku tidak menyangka jika wanita itu lebih menarik dari dugaan Ku...." kembali bangkit, lalu berjalan kearah kursinya. "....kira-kira, apa reaksi Lucifer jika Aku berhasil merebutnya ya."
.
¤•¤•¤•¤
Ckiiittt
Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti didepan apartemen yang berada di perbatasan kota.
Seorang pelayan membukakan pintu mobil tersebut.
Terlihat pria paruh baya dengan surai coklat panjang turun dari sana.
Matanya menatap apartemen yang merupakan tempat tinggal sang puteri semata wayangnya.
Tap.. Tap.. Tap..
Ia langsung melangkah masuk ke apartemen.
¤•¤•¤•¤
Disisi lain...
"memangnya Kau bisa masak?"
Adel memperhatikan Lucifer yang sedang serius berkutat dengan beberapa jenis makanan. Padahal, biasanya iblis tersebut akan menggunakan kekuatan untuk menyiapkan segala keperluan Adelia.
"tidak."
Adel mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban yang terlontar dari mulut sang Iblis. "lalu, untuk apa Kau melakukan semua ini?"
"Aku hanya mencoba bersikap seperti manusia..." Ia kemudian menyendok sedikit kuah sup miso yang baru saja matang. Meniupnya sebentar. "...coba ini." ujar Lucifer sambil menyuapkannya pada Adel.
Sedikit ragu, tetapi Adel tetap menerima suapan dari Lucifer.
"hmmm.... Ini enak sekali."
"hohoho... Tentu saja. Itukan Aku yang memasaknya." ujarnya penuh percaya diri.
Adelia tersenyum. Ia kemudian meraih sendok dan gantian menyuapkan kearah Lucifer.
"saahhh... Sekarang giliran mu, aaahhh~"
Hap..
Lucifer menerima suapan Adelia.
Selang beberapa detik, wajahnya berubah.
Hueekkkk...
"ini asin sekali."
Lucifer kembali mencoba kuah sup miso yang ada di panci.
Rasanya berbeda, yang dipanci terasa normal dan lezat.
"hahahahahahahaha..." Adel tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang sakit.
Ternyata Adel sedang mengerjai Lucifer.
"A de li a..." Lucifer melirik kearah Adel "...awas Kau ya!!" ujarnya sambil mengejar wanita tersebut.
Adel pun berlari menghindari Lucufer.
Namun, tiba-tiba kakinya tersandung. Tubuhnya mulai oleng.
Grepp..
Beruntung Lucifer langsung meraih pinggangnya.
"te..terima kasih. Kau bisa melepaskan Ku."
Bukannya melepaskan, Lucifer malah mengangkat tubuh Adel dan membawanya ke kamar.
"arrghh~"
Ia kemudian melempar tubuh Adel ke ranjang.
"Lu..Lucifer.."
"Kau harus di hukum, Sayang."
"kyaaa... Tidak!!"
Lucifer mulai menindih Adel.
Ia mendekatkan wajahnya kearah sang wanita, semakin lama semakin mendekat sampai....
Ting.... Tong....
Suara bel mengintrupsi kegiatan mereka berdua.
Lucifer menarik diri, sedangkan Adel langsung melangkahkan kakinya keluar kamar. Mengintip dari lubang pintu, Ia kemudian terkejut melihat siapa yang datang.
Adel bergegas kembali kekamar.
"Lucifer... Gawat!!! Ayahku datang."
"lalu kenapa jika pria tua itu datang?" tanya nya santai.
"bodoh!! Menurutmu apa yang akan dia lakukan begitu tahu jika anaknya tinggal dengan seorang pria??" Adel kemudian seperti teringat sesuatu. "....ah Aku tahu. Kau berubahlah kedalam wujud wanita seperti waktu itu."
"tidak mau!!" tolak Lucifer.
Sudah cukup Ia menjadi bahan ejekan Astaroth saat itu. Ia tidak ingin kejadian seperti itu terulang kembali. Sebagai iblis, Ia mempunyai harga diri yang tinggi.
"Aku mohon.."
Lucifer menggeleng.
Ting... Tong...
Bel kembali berbunyi.
"Lucifer!! Aku mohon.. Jika Kau melakukannya, Aku akan menuruti semua permintaan mu." ucap Adelia dengan wajah puppy eyes
Lucifer melirik kearah Adel.
Mempertimbangkan ucapan wanitanya.
Sesaat kemudian, Ia pun menarik sudut bibirnya. "baiklah... Kau mempunyai satu hutang padaku."
Sriiingggg...
Lucifer kembali berubah ke dalam wujud wanita.
Untuk sekarang, Adelia bisa bernafas lega. Ia kemudian kembali kedepan, lalu membuka pintu apartemen.
"kenapa lama sekali?" sang Ayah langsung melangkah masuk.
"Aku sedang di toilet tadi."
Mempersilahkan duduk, Ia kemudian memanggil Lucifer yang menyamar sebagai lucy untuk menyiapkan minuman.
"Ayah tidak tahu jika Kau membawa pelayan ke apartemen."
Adel melirik kearah iblis tersebut. "Aku juga belum lama mempekerjakannya."
Sang Ayah mengangguk.
"bagaimana keadaan mu?"
" baik..." Adel sedikit menundukan pandangannya. "...ada urusan apa sampai Ayah mengunjungi Ku langsung kesini?"
Pertanyaan Adel, membuat Indra sedikit tersentak. "memangnya, ada tujuan khusus untuk seoarang Ayah bisa menemui anaknya?"
Adelia mengepalkan tangannya. "karena selama ini, Ayah tidak pernah seperti itu..." air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Ia kembali mengingat memori saat sang Ibu meninggalkannya, sedangkan setelah itu Indra yang merupakan satu-satunya sosok orangtua bagi Adel pun tidak peduli bahkan sangat jarang bertemu dengannya.
"maafkan Ayah, Adelia. Ayah salah padamu. Ayah tahu perasaan mu."
Runtuh sudah pertahanan Adel untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Ayah tahu apa?" gumam Adel.
"..Ibu pergi meninggalkan Kita saat Aku masih kecil. Ayah tidak pernah berbicara dengan Ku sejak saat itu...hikss...Aku... Aku..." Adel semakin menundukan wajahnya. "...Aku selalu mencoba terlihat baik-baik saja.. hikss... Aku ingin Ayah dan Ibu menyayangi Ku.. Hikss.. Jika Ibu tidak menyayangi Ku, setidaknya Aku ingin Ayah sedikit peduli padaku..."
Lucifer melirik Adel dengan ekor matanya. Ingin rasanya Ia memeluk dan menenangkan wanitanya, namun keadaan saat ini tidak memungkinkan.
Sementara, wanita itu menutup wajah dengan kedua tangannya. "...lima belas tahun...hiks...selama lima belas tahun Aku makan sendirian di meja makan yang besar itu.. Selama itu pula, Aku menahan sakit Ku sendiri."
Indra menundukan wajahnya. "Ayah benar-benar minta maaf, Adel."
Adelia mengangkat wajahnya.
Ia kemudian memaksakan tersenyum. "Aku sudah memaafkannya. Tetapi, bukankah sesuatu yang telah rusak tidak bisa diperbaiki dengan sempurna lagi?" Adel kemudian bangkit. "....maaf Ayah. Tapi sebentar lagi Aku ada les di sekolah."
Ujarnya lalu pergi meninggalkan sang Ayah.
Indra hanya bisa membuang nafas pasrah.
Semua ini memang salahnya.
Ia fikir, dengan hanya Adel tidak mengeluh atau berbicara apa-apa, semuanya berjalan baik-baik saja. Tetapi tidak, Luka yang dirasakan sang anak sudah begitu dalam. Ia tidak bisa memaksakan agar Sakura bisa kembali dekat dengannya.
Indra pun bangkit, Ia kemudian menatap Lucifer. "Aku titip Adel padamu. Tolong jaga Dia. Jika terjadi sesuatu, langsung laporkan Padaku."
Lucifer sedikit membungkukan tubuhnya. "Baik, Tuan."
"kalau begitu, sampai kan salam Ku pada Adel. Aku pamit dulu." ucapnya sebelum meninggalkan apartemen sang anak.
¤•¤•¤•¤
Setelah kepergian Indra, Lucifer pun langsung menghampiri Adel yang sedanf berada di kamar. Memasuki ruangan tersebut tanpa mengetuk pintu, Lucifer bisa melihat Adel yang sedang duduk diranjang sambil menekuk kaki dan memeluknya. Jejak air mata masih terlihat di pipi milik wanita tersebut.
"Adelia.."
Wanita itu langsung mengangkat wajahnya menatap sang Iblis yang sedang berjalan kearahnya.
Adel pun kemudian menghamburkan dirinya kedalam pelukan Lucifer yang sudah berubah kedalam wujud aslinya.
"menangislah jika Kau ingin menangis." ujar Lucifer sambil mengelus punggung wanitanya, mencoba menenangkan.
Tangis Adel pun semakin pecah. "Aku...hiks..Aku.."
"sudah.. Tenangkan dirimu dulu." Lucifer melepas pelukan Adel. Kemudian menghapus jejak air mata dipipi wanitanya. "..Ada Aku disini, mulai sekarang Kau tidak akan pernah sendirian lagi. Aku akan selalu ada disisimu."
Adel mengangguk. Beruntung saat ini ada Lucifer disisinya. Tidak seperti dulu. Walaupun Ia mempunyai Sahabat, tetap saja Ia tidak bisa menceritakan semuanya pada Natasia.