Tiga hari berlalu setelah kejadian tersebut.
Reji masih hidup, tetapi dalam kondisi kritis.
Pria itu terbukti memiliki penyakit kejiwaan.
Orang-orang yang terlibat dengan Reji pun ditangkap.
Termasuk Erin yang selama ini melakukan tindak pembullyan kepada Adel.
Adel pun akhirnya mengetahui alasan, kenapa selama ini Erin selalu mengganggunya.
Itu dikarenakan, Erin cemburu kepada Adel karena Reji hanya mencintai Adel dan tidak pernah menganggapnya sebagai tunangan.
Bahkan, Reji tega melakukan kekerasan kepada Erin dan juga rela membunuh Ayah Erin.
Saat ini, Adel sudah kembali ke apartemennya. Ia sempat berdebat cukup lama dengan sang Ayah, karena tidak di ijinkan untuk tinggal sendiri lagi. Namun, Adel bersikeras dan akhirnya sang Ayah hanya bisa pasrah.
Indra yang biasanya cuek dengan sang anak pun, kini malah menjadi protektif.
Setiap pulang kerja, pria paruh baya itu menyempatkan diri untuk mampir ke apartemen sang anak.
Semua orang belum tahu bagaimana Adel bisa selamat.
Karena, gadis itu hanya cerita jika Ia berhasil melarikan diri.
Tidak mungkin juga Adel menceritakan kalau dirinya diselamatkan oleh iblis.
Yang ada, semua orang akan menganggapnya gila.
Serupa dengan Indra. Saat ini, Lucifer pun menjadi sangat overprotektif padanya.
Adel tidak pernah lagi pergi kemana-mana sendiri. Dan Lucifer pun tidak pernah membiarkan Adel sendirian. Bahkan, iblis tersebut menunggu Adel didepan pintu kamar mandi saat gadis itu buang air atau mandi.
Benar-benar kelewat protektif sekali iblis tersebut.
¤•¤•¤
Saat ini, Adel baru saja selesai mandi.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, menampilakn gadis dengan surai yang masih basah.Beberapa tetes air terjatuh dari helaian surainya.Wangi sabun yang menguar dari tubuhnya pun terasa menenangkan.
Lucifer meneguk ludah melihat pemandangan tersebut.
Gadis itu kemudian menoleh kearah sang Iblis.
"bisa Kau bantu Aku mengeringkan rambut?"
Lucifer menatap tak percaya pada Adel.
Baru kali ini ada anak manusia yang berani menyuruhnya. Apalagi Ia malah disuruh mengeringkan rambut.
Tetapi walaupun mengeluh, Lucifer tetap melakukannya untuk Adel.
Dengan lembut dan perlahan, Ia mengusap surai Adel dengan handuk.
Jika di fikir-fikir, kenapa Ia tidak melakukannya dengan sihir? Bukankah itu akan menjadi lebih cepat?
Namun faktanya, Lucifer lebih suka menikmati waktu dan kegiatan seperti ini. Dia jadi bisa lebih dekat dengan gadisnya itu.
Lucifer masih dengan aktifitas mengeringkan rambut gadisnya.
Manik semerah darah nya menatap leher jenjang sang gadis musim semi.
Kulit putih mulus, lembut dan harum itu.
Lucifer benar-benar sudah tidak tahan.
Ia mendekatkan wajahnya ke leher jenjang milik Adel dan menciumnya, membuat gadis itu sedikit mendesah.
Fikiran erotis Lucifer pun mulai menguasai.
Dengan cepat, Ia membalikan tubuh Adel untuk menghadapnya.
Pria itu kemudian menempelkan bibirnya diatas bibir sang gadis. Mengecup bibir itu kemudian membuat ciuman mereka semakin dalam.
Adel yang terbawa oleh nafsu pun membalas ciuman panas Lucifer.
Tangannya melingkar di leher milik iblis tersebut.
Ciuman yang awalnya di bibir pun berpindah ke leher jenjang Adel.
Lucifer menggigit kecil, meninggalkan tanda kepemilikan disana.
"ahh~"
Adel semakin mendesah..
Brukk
Lucifer mendorong tubuh Adel agar terbaring di ranjang..
Ia kemudian langsung mengunci pergerakan gadis itu dibawahnya.
Wajah iblis tersebut sudah memerah, begitu pun dengan Adel.
Lonjakan hasrat yang mereka berdua rasakan, sepertinya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Lucifer kembali mencumbu bibir Adel.
Gadis itu pun membalas ciuman Lucifer.
Setelah cukup lama, mereka berdua melepaskan ciuman saat Adel memerlukan oksigen.
Lucifer sedikit menjauhkan wajahnya, memperhatikan wajah gadis yang berada dibawahnya.
"Adelia... Apa Kau sudah yakin? Jika Kau belum bisa, Aku akan menunggu."
Adel memantapkan hatinya sebelum menganggukan kepala.
Melihat respon Adel, Lucifer pun langsung memeluk tubuh gadis yang akan Ia ubah menjadi wanita.
Tangannya mulai terulur untuk membuka handuk kimono yang menutupi tubuh Adel.
Setelah terbuka, Lucifer kembali memperhatikan tubuh polos sang Gadis.
Kulit putih mulus Adelia, membuat hasrat Lucifer semakin memuncak.
"ja..jangan menatap Ku seperti itu. Aku malu." wajah gadis itu sudah memerah dan membuat Lucifer semakin ingin melahapnya.
Tangannya mulai menjelajahi setiap bagian yang bisa Ia sentuh.
"ah~~"
Lucifer sudah membuka seluruh pakaiannya. Tubuh kekar, dan perut sixpack milik iblis tersebut terpampang nyata dihadapannya.
Adel yakin, jika Lucifer memamerkannya maka setiap wanita akan memohon untuk bisa bercinta dengan pria tersebut.
Reflek, tangan Adel terulur untuk membelai otot perut milik Lucifer.
Tatapannya beralih pada bagian bawah pria tersebut.
Sedikit merasa ciut, karena milik Lucifer terlihat sangat panjang dan besar.
Ia tidak yakin jika itu bisa masuk kedalam miliknya.
"sudah siap untuk menu utama nya?"
"ap..apakah akan sakit sekali?"
Lucifer tersenyum lalu mencium sekilas bibir Adel. "relaks saja, Adelia. Aku akan melakukannya dengan lembut dan perlahan."
Adel menarik nafas. Ia kemudian menganggukan kepalanya.
Lucifer berhasil mengambil harta karun paling berharga milik Adelia. Setelah itu, Lucifer memeluk erat tubuh Adel dan membisikan sebuah kalimat yang membuat gadis yang telah berubah menjadi wanita itu pun terkejut.
"Aku mencintai mu, Adelia."
¤•¤•¤•¤
Cip cip cip..
Matahari mulai masuk melalui celah jendela.
Dua orang yang saling berpelukan itu masih bergelung dibawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
Tak lama, sang wanita membuka mata.
Lengan Lucifer masih berada diperutnya.
Wajah Adel kembali merona saat mengingat kejadian dan ucapan Lucifer semalam.
"Aku mencintaimu, Adelia."
Tangan Adel pun terulur untuk membelai surai iblis tampan yang semakin hari, semakin mengisi hatinya tersebut.
Adel memandangi wajah terlelap Lucifer.
"tidurlah lagi. Aku masih ingin seperti ini."
Adel pun terkejut, karena Lucifer tiba-tiba membuka suara.
"mau sampai kapan seperti ini?"
"selamanya." jawab Lucifer tanpa membuka mata.
"Aku lapar... Aku butuh sarapan."
Dengan terpaksa, Lucifer membuka matanya. "baiklah..baiklah... Aku akan menyiapkannya..." iblis itu pun bangkit dari ranjang.
Berbalik sebentar menatap Adelia. "...Kau diam saja disini. Aku akan membawakan makanannya kemari. Aku yakin, saat ini Kau sulit untuk bergerak."
Kekuatan iblis, melebihi kekuatan manusia.
Dan memang benar, saat ini tubuh Adel sangat sulit digerakan dan bagian bawahnya pun juga terasa sakit.
Mungkin, jika sekali melakukan seks dengan Iblis, rasanya seperti sepuluh kali dengan orang biasa.
Oleh karena itu, Lucifer akan merawat Adel sampai wanitanya itu pulih.
¤•¤•¤
Adel telah selesai menyantap habis sarapan yang dibawakan oleh Lucifer.
Setelah itu, pria tersebut menggendong wanitanya ke kamar mandi.
"Aku bisa melakukannya sendiri." ujar Adel.
"diam saja. Aku akan merawat mu dengan baik."
Adel hanya bisa membuang nafas pasrah.
Lucifer menurunkannya di bathtub. Ia mencuci rambut serta menggosok tubuh Adelia layaknya Ibu memandikan anaknnya.
Sentuhan tangan Lucifer membuatnya nyaman.
Manik merah lucifer memperhatikan tubuh telanjang milik Adelia.
Juniornya pun kembali bereaksi.
'tenang..tenang.. Sarang mu masih sakit. Kita akan memasukinya beberapa hari lagi.' batin Lucifer.
Setelah selesai, Lucifer kembali membawa Adel ke kamar.
Pria itu benar-benar memanjakannya.
Entah kenapa, Adel semakin nyaman bersama Lucifer.
Walaupun Lucifer adalah Iblis, tetapi pria itu selalu bersikap lembut kepada Adelia. Dan Ia pun bersyukur akan hal itu.
Setelah mengenakan pakaian, Lucifer pun menyisir surai milik Adel.
"untuk seorang Iblis, Kau ahli juga dalam mengurus seseorang."
Lucifer menatap Adel. "karena Aku seorang Iblis, makanya Aku harus ahli dalam mengurus apapun."
Adel pun akhirnya sudah rapih.
"Kau harus tetap dirumah sampai benar-benar pulih." ujar Lucifer.
Ia sengaja memberikan baju santai untuk wanitanya.
"baiklah..."
Grepp
Adel tiba-tiba memeluk Lucifer dan membuat iblis tersebut sedikit kaget.
"....terima kasih ya untuk semuanya." ujar Adelia.
¤•¤•¤
Keesokan harinya.
"Kau? Kenapa terlihat sangat muda?"
Adel mendekat menatap wajah Lucifer dan membuat pria itu terkejut.
"A...Aku akan mendaftar di sekolah mu."
"Hah?" kali ini, Adel lah yang terkejut. "...untuk apa?"
Grepp..
Tiba-tiba Lucifer memeluk posesif pinggul Adelia. "tentu saja untuk melindungi mu. Kau kan sudah resmi menjadi milikku."
"ta..tapi.... Eummhh.."
Lucifer mencium bibir Adel.
Entah kenapa, wanita itu merasa jika Lucifer semakin posesif padanya.
Bahkan kemarin, ketika mereka sedang berada di minimarket. Lucifer hampir memukul seseorang hanya karena pria tersebut tersenyum kepada nya.
"Aku baru tahu kalau iblis itu sangat pecemburu."
Ciuman Lucifer saat ini beralih pada leher jenjang milik Adel, sehingga membuat wanita itu menahan desahannya.
"Lu..Lucifer Hentikan!! Aku ingin mengerjakan tugas kelompok."
Adel berusaha melepaskan diri dari Lucifer.
Jika Ia menuruti kemauan iblis itu saat ini, bisa-bisa Ia tidak mampu berjalan lagi seperti waktu itu.
"tapi Aku menginginkan Kau, Adelia."
"weekend...." Adel menatap Lucifer. "...Kita akan melakukannya saat weekend."
Lucifer membuang nafas pasrah "baiklah... Tapi, Aku ikut ya."
"tidak bisa!!"
"ku mohon!!" Lucifer memasang puppy eyes nya.
"haaahhh... Baiklah. Tetapi, berjanjilah Kau tidak akan berbuat onar."
"oke, Aku janji." ujar Lucifer dengan wajah sumringah.
¤•¤•¤•¤
Hari kembali berganti.
Iblis tersebut benar-benar mendaftar disekolah yang sama dengan Adel.
Gadis itu tidak tahu bagaimana caranya sampai iblis tersebut diterima di sekolahnya yang terkenal sangat ketat dalam menerima murid baru.
"anak-anak... Kita kedatangan murid baru..." ujar sang Guru.
Adel sudah bisa menebak siapa murid baru tersebut.
"....hei, Kau.. Silahkan masuk."
Lucifer pun memasuki kelas.
Bisik-bisik pun mulai terdengar, terutama para siswi yang terpesona oleh ketampanan Lucifer.
"perkenalkan dirimu."
"Lucifer." hanya itu yang diucapkan iblis tersebut.
"baiklah Lucifer. Kau bisa duduk di...."
"Aku akan memilih sendiri." potongnya.
Ia kemudian langsung berjalan kearah meja disamping Adel.
"pindah Kau." ujarnya dengan seseorang yang menempati meja tersebut.
"tapi, ini kan..." kata-katanya terhenti. Tiba-tiba saja Ia langsung pindah ke meja kosong yang ada di bagian belakang.
Adel yang melihatnya hanya bisa menggeleng.
Ia tahu jika Lucifer pasti menggunakan kekuatannya.
Gadis itu merasa, kehidupannya akan sangat berubah untuk kedepannya.
¤•¤•¤•¤
Bel istirahat telah berbunyi.
Para siswi langsung mengerubungi meja milik Lucifer.
"hai Lucifer, kenalkan Aku Ami."
"Lucifer, apa mau makan siang dengan Ku?"
"Lucifer, Kau tinggal dimana?"
"Lucifer, apa Kau sudah punya pacar?"
Masih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan siswi-siswi tersebut.
"Del. Apa Kau kenal dengan anak baru itu?" tanya Natasia
Adel mengangguk.
"Kau kok tidak bilang padaku? Jangan-jangan, Ia teman dekat mu saat ini."
"ya... Begitulah.." ujar Adek sambil menampilkan cengirannya.
Jengah, Lucifer pun akhirnya bangkit dari kursinya.
Lalu, Ia meraih pergelangan tangan Adel.
"eh?"
Tanpa aba-aba, Ia langsung membawa Adelia keluar dari sana dan membuat yang ada disana menatap heran serta iri.
¤•¤•¤
Saat ini, Mereka berada di gudang sekolah.
"ada apa Kau membawa Ku kesini?"
Tidak menjawab, Lucifer malah memeluk tubuh Adel.
Merasa diabaikan, Adel pun menjauhkan sedikit tubuh Lucifer.
Ia kemudian sedikit terkejut, melihat wajah Lucifer yang pucat.
"Ka..Kau kenapa?"
"sesak..." kembali memeluk Adel. "....para manusia itu terlalu dekat...hasrat membunuhku meningkat." Ia kemudian meraih dagu Adel lalu mengecup bibir wanitanya.
Adel membiarkan Lucifer melakukannya, karena Ia tahu jika iblis tersebut sedang tidak baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, Lucifer akhirnya melepas ciuman.
Ia sudah terlihat sedikit tenang.
"katakan padaku, ada apa sebenarnya?"
Lucifer menatap Adel. "Aku tidak bisa terlalu dekat dengan manusia dengan jumlah banyak seperti itu...." Ia mengepalkan tangannya. "...rasanya, nafsu membunuhku meningkat saat dekat dengan mereka. Itulah insting alami bangsa iblis."
Adel memeluk tubuh Lucifer. "kenapa Kau tidak bilang dari awal?"
"Aku takut, Kau tidak mengijinkan Ku untuk bersekolah disini."
Adel membuang nafas.
"lalu, apa yang harus Ku lakukan jika hal seperti itu terjadi lagi?"
Lucifer menangkup wajah Adel. "Kau hanya perlu tetap berada disisiku. Karena, aroma tubuh mu bisa menenangkan Ku."
Adel pun mengangguk. "baiklah."
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka.
Ia pun menyeringai lalu pergi dari sana.
¤•¤•¤•¤
"apa selama Aku di luar Kota, Adel pernah berkunjung kemari?"
"tidak, Tuan."
Indra pun mendudukan dirinya di sofa.
Ia kemudian membuang nafas kasar.
"apa Ia baik-baik saja?"
Orang itu mengangguk. "menurut pengawal yang berjaga disekitar apartemen milik Nona Adelia, beliau terlihat baik-baik saja. Hanya...."
Indra langsung melirik kearah sang asisten, menunggu kelanjutannya.
"....beliau jadi jarang keluar apartemen. Bahkan, Ia juga tidak pernah memesan makanan."
Mendengar itu, Indra langsung memasang ekspresi terkejut.
Jika puterinya jarang keluar dan jarang memesan makanan, lalu bagaimana cara puterinya untuk makan?
"apa teman-temannya sering berkunjung kesana?"
"tidak, Tuan."
"bagaimana dengan Brian?"
"Tuan muda sedang melakukan perjalanan bisnis ke Kanada."
Indra langsung bangkit dari sofa. "siapkan mobil. Aku akan ke apartemen Puteri Ku."
Sejak insiden penculikan sang Puteri beberapa waktu lalu, Indra jadi sering merasa khawatir pada sang anak.
Ia juga merasa bersalah, karena selama ini sering mengabaikan sang Puteri.
Sebenarnya, Ia bukannya tidak sayang dengan Puteri semata wayangnya tersebut. Hanya saja, ketika Ia melihat wajah sang Puteri, Ia jadi teringat mantan istrinya yang merupakan Ibu dari Adel.
Ia merasa seperti melarikan diri selama ini.
Apakah Ia bisa memperbaiki hubungannya dengan sang Anak mulai sekarang?
To be continued...