Lucien membatalkan niatnya kembali ke kantor. Dia berputar dan melangkah menyusuri koridor menuju bagian lain dari rumah sakit itu, ruangan dokter bedah. Kedatangan pemuda yang mengunjungi Michella dan memanggil Michella dengan sebutan ‘sayang’ itu membuat Lucien gerah. Ingin sekali dia masuk kembali ke ruangan Michella dan menjejalkan kembali kata-kata itu ke mulut si pemuda namun Lucien tahu kalau Michella akan langsung mencincangnya setelah itu.
Langkah kakinya terhenti saat matanya menangkap papan nama yang tergantung di dinding.
Dr. Samuel Adam, Sp.BA
Belum sempat Lucien melangkan memasuki ruangan, sebuah suara lembut menyapanya. “Maaf, ada yang bisa dibantu?”sapa perawat yang menjadi asisten Adam.
“Namaku Lucien dan aku ingin bertemu dengan Adam.”sahut Lucien datar, kekesalan masih bercokol di hatinya hingga Lucien melupakan tata krama-nya sendiri.
“Dr. Adam sedang ada pasien. Anda bisa menunggu di ruang tunggu.”sahut perawat tadi masih tetap sopan.
Decakan kesal langsung keluar dari bibirnya saat Lucien mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Adam. Panggilan Lucien langsung dijawab pada dering ketiga.
“Ada apa, Luke?”
“Aku di depan ruanganmu dan asistenmu menyuruhku menunggu di ruang tunggu.”gumam Lucien jelas terdengar tidak senang.
“Beri aku waktu 5 menit setelah itu kita pergi keluar. Dan tolong jangan kau apa-apakan Jennifer. Dia hanya menjalankan apa yang kuperintahkan padanya dan juga jangan menebar pesonamu di bagianku. Aku hanya dokter bedah biasa, aku tidak siap mengobati wanita-wanita yang patah hati.”
“Lima menit. Lebih dari itu aku tidak bertanggung jawab atas apa yang mungkin saja bisa terjadi.”balas Lucien sambil melayangkan satu tatapan tajam pada perawat yang menjadi asisten Adam itu.
“Kau mengganggu jam praktekku hanya untuk menanyakan apakah Michella sering mendapatkan tamu laki-laki atau tidak?”ulang Adam tidak percaya dengan suara yang cukup besar hingga menarik perhatian pengunjung kafetaria yang lain. Seolah menyadari kesalahannya, Adam langsung merendahkan suaranya. “Aku tidak tahu, Luke. Kau bisa lihat sendiri kalau ruangan kami sangat berjauhan. Kenapa kau tidak menanyakan pada asisten Michella? Dia pasti lebih tahu dibanding siapapun.”
Lucien meneguk Kafe con cioccolato miliknya. “Gadis itu tidak menyukaiku.”
“Benarkah? Demi Tuhan, kau bilang Anastasia tidak menyukaimu?”tanya Adam tidak percaya. “Akhirnya ada juga wanita normal lainnya selain tunanganmu yang menyadari kalau kau tidak sempurna.”
“Aku tidak peduli apa pendapat orang padaku. Yang aku pedulikan hanya Michella dan laki-laki yang selalu mengunjunginya.”
Adam menatap Lucien dengan seksama sebelum menggeleng pelan. “Kau cemburu. Dan rasanya aneh melihat orang yang terlalu dingin sepertimu bisa merasakan kecemburuan.”
“Aku tetap manusia.”
“Itu dia yang selama ini aku ragukan.”sahut Adam cepat lalu buru-buru menambahkan, “Aku akan menanyakannya nanti tentang tamu-tamu Michella.”sebelum Lucien meledak marah.
***
Josh menatap nanar apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Aaron jatuh pingsan begitu masuk ke ruangan Rachelle dan menemukan foto Rachelle berdua dengan Michella. Foto yang diambil saat liburan tahun baru 3 tahun yang lalu. Kalau dulu sebagai anak kembar mereka terlihat berbeda, maka kini mereka benar-benar terlihat seperti anak kembar. Wajah yang sama, potongan rambut yang sama, bentuk tubuh yang sama, dan segalanya. Cara membedakan mereka hanyalah dengan berbicara. Rachelle lebih penuh perhitungan dan sederhana, sebaliknya dengan Michella. Wanita itu blak-blakan dan jujur. Rachelle yang tidak tahu dengan apa yang terjadi langsung bangkit dan menghampiri tubuh Aaron yang tergeletak tidak jauh dari mejanya.
“What are you doing, Josh? Come here and help him!”seru Rachelle saat menyadari Aaron tidak sendiri saat mengunjungi ruangannya.
Josh melangkah pelan menghampiri tubuh Aarron dan mengangkatnya ke sofa. “Telpon dokter perusahaan dan minta dia kesini. Akan jadi keributan kalau kita membawa Aaron ke klinik. Vice Director JG tidak mungkin jatuh pingsan dihari pertamanya masuk kantor.”ujar Josh tenang.
“Kau yakin kita tidak perlu membawanya ke rumah sakit?”
Josh menggeleng pelan. “Aku sudah memperkirakan hal ini terjadi, Elle. Kau tahu? Foto-foto di lemari itu yang menjadi penyebabnya. Tidak ada seorangpun yang pernah memperlihatkan foto Michel padanya selama ini.”
“Aku tahu. Tapi sebegitu parahkah amnesia yang dideritanya hingga dia langsung pingsan begitu melihat foto Michel? Tidak adakah sedikitpun ingatannya tentang Michel?”tanya Rachelle terdengar sesak. Rachelle tahu dengan pasti bagaimana perasaan adik kembarnya pada pria yang terbaring pingsan di sofa ruang kerjanya ini.
“Dia selalu tahu ada yang kurang dalam hidupnya, hanya saja dia tidak yakin. Setelah bertemu denganmu kemarin, dia selalu menanyakan pertanyaan yang sama padaku. ‘Apakah dia mengenalmu atau tidak? Kenapa dia merasa sudah mengenalmu jauh sebelum ini? Kenapa selalu ada sosok tidak berwajah setiap kali dia ingin menggali ingatannya tentangmu?’. Dia tahu, tapi dia tidak yakin. Tidak ada dari kita yang mengatakan kalau dirinya amnesia selama 7 tahun ini. Bahkan orangtuanya mengambil langkah aman dengan menyimpan semua hal yang berhubungan dengan Michel.”
Rachelle yang perhatiannya sempat terbagi saat menelpon klinik kini memperhatikan Josh dengan perhatian penuh. Rachelle juga sudah menduga akan terjadi sesuatu saat Aaron melihatnya, namun Rachelle tidak pernah menduga kalau Aaron malah akan jatuh pingsan hanya dengan melihat foto Michella. Seketika itu juga Rachelle menyadari kalau adiknya sangat berarti bagi pria yang sedang pingsan itu. 7 tahun amnesia tidak membuatnya benar-benar melupakan Michella. Ada bagian diri pria itu yang mengingatnya hingga membuatnya jadi seperti saat ini. Hatinya Aaron selalu ingat siapa pemiliknya.
“Bagaimana kalau dia tetap tidak ingat, Josh?”
“Itu pilihannya, dan akan menjadi takdirnya. Dia akan kehilangan Michel, orang yang pernah memiliki hatinya.”gumam Josh pasrah lalu tiba-tiba mengangkat wajah menatap Rachelle. “Aku tidak tahu apa Michella sudah mengatakan ini padamu atau belum mengingat aku sendiri diberitahu oleh Erroll. Adikmu itu akan segera menikah dengan pimpinan BB Group.”
Kalau Josh menamparnya saat ini, Rachelle tidak akan lebih terkejut daripada saat mendengar apa yang Josh katakan. Michella akan menikah dan sebagai kakak kembarnya, Rachelle tidak tahu apapun. Rachelle tidak tahu apa yang harus didahulukannya saat ini, mengurus Aaron hingga ingatan pria itu kembali atau terbang ke Chicago dan mencekik kembarannya itu.
“Dia mencintai pria itu?”
Josh mengedikkan kedua bahunya, “Aku tidak tahu. Kau tahu sendiri kalau beberapa tahun terakhir Michel tertutup dalam soal perasaan. Dia tidak berkencan dan sekarang dia malah akan segera menikah. Kalau bukan Erroll yang memberitahukan ini, aku tidak akan pernah tahu. Aku yakin Michel baru akan mengabarkan masalah pernikahan ini kalau acaranya sudah dekat supaya tidak ada yang menghancurkan rencananya.”
Rachelle terdiam.
Josh benar. 7 tahun belakangan ini Michella tertutup dalam soal perasaan. Dia tidak pernah lagi menceritakan tentang apa yang dia rasakan. Dalam setiap telponnya, Michella hanya bercerita tentang kesehariannya. Rachelle tidak tahu lagi bagaimana cara mendobrak benteng dalam hati adiknya itu. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya membiarkan Michella berada dalam zona amannya.
Beberapa detik kemudian pintu ruangan Rachelle terbuka, seorang wanita cantik bergegas masuk dan membelalak saat melihat Aaron terbaring di sofa panjang ruang kerja Rachelle. “Siapa dia, Rachel?”tanya wanita cantik itu bingung, namun tetap menghampiri Aaron.
“Tolong periksa dia, Sunny. Dia Vice Director kita yang baru menggantikan ayahnya. Dan ini Josh Bisley, wakil direktur senior dari kantor pusat.”ujar Rachelle cepat sekalian mengenalkan Josh pada dokter klinik di perusahaan mereka.
Sunshine memperhatikan Josh selama beberapa detik sebelum mengulurkan tangan. “Senang bertemu dengan anda. Aku Sunshine Marlock, lebih sering dipanggil Sunny. Dokter umum.”ujar Sunshine ramah.
“Josh.”gumam Josh sambil menggenggam lembut tangan Sunshine.
“Apa yang terjadi pada dirinya?”tanya Sunshine sambil berlutut di sebelah sofa tempat Aaron terbaring lalu mulai memeriksa Aaron.
“Dia pingsan saat melihat koleksi fotoku. Dia amnesia selama 7 tahun, Sunny.”ujar Rachelle pelan.
“Kasihan sekali.”gumam Sunshine tanpa mengalihkan perhatiannya dari Aaron. “Kita hanya perlu menyadarkannya saat ini, setelah itu aku akan memeriksanya di klinik. Kalau memang foto-fotomu yang menjadi pemicunya, dia harus menjauhi ruanganmu, Rachelle. Sangat menyakitkan bagi penderita amnesia kalau dipaksa mengingat kenangan yang terlupa setelah bertahun-tahun.”
“Kita lihat saja nanti.”gumam Josh yang yakin sekali kalau Aaron akan memilih pingsan berkali-kali demi mendapatkan kepingan kenangannya yang terlupakan.
Selama satu jam Rachelle bekerja di ruangannya sambil menjaga Aaron. Tidak jarang Rachelle mencuri pandang untuk memperhatikan pria itu. Bukan karena ada perasaan tertentu namun lebih pada kasihan untuk adiknya. Rachelle sangat menyayangi Michella, bahkan tidak ada diantara saudaranya yang tidak menyayangi Michella lebih dari nyawa mereka sendiri. Rachelle sadar kalau Michella membawa lebih banyak beban dalam hidupnya dibandingkan Rachelle. Karena itu Rachelle akan selalu berusaha membahagiakan Michella. Pertama kali Rachelle mengenal Aaron adalah saat dirinya dan Michella sedang jalan-jalan di sebuah mall di Jakarta. Aaron adalah ketua kelas Michella saat itu. Mereka dekat dan makin lama Aaron berhasil merebut hati Michella yang dikubur adiknya itu bersama Sean. Rachelle sama sekali tidak iri melihat adiknya menjalin hubungan dengan seorang pria sementara dirinya sendiri belum menemukan pria yang tepat. Rachelle bahagia kalau Michella bahagia.
Tapi segalanya selalu berakhir buruk. Kesialan selalu membayangi setiap langkah Michella. Tidak ada seorangpun yang mencintai adiknya yang bertahan hidup. Kecelakaan menimpa Aaron di London saat keduanya sedang berlibur di salah satu kota Inggris tersebut. Hati Michella hancur sementara Aaron kehilangan ingatannya. 7 tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu dan Michella sama sekali tidak pernah menjalin hubungan lagi dengan siapapun. Selama itu juga Rachelle tidak pernah bertemu Aaron. Pria itu dijaga di Indonesia, tidak satupun benda kenangan Michella yang masih tersisa dalam hidup pria itu. Dan kini saat Rachelle bertemu kembali dengan Aaron setelah 7 tahun, adiknya malah akan menikah dengan pria lain.
***
Aaron menatap nanar langit-langit kamarnya. Tadi dia pingsan di kantor Rachelle. Rasa sakit di kepalanya terasa begitu hebat dan tidak tertahankan saat melihat isi lemari pajangan di dalam ruangan wanita itu. Ada banyak sekali foto disana. Dan yang membuat rasa nyeri itu datang adalah ada dua wajah sama di setiap foto. Seolah mengatakan kalau Rachelle memiliki kembaran yang memiliki wajah identik dengan wajahnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Apa yang kulupakan?”geram Aaron sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Aaron ingin sekali menelpon kedua orang tuanya dan bertanya. Namun dia yakin kalau kedua orangtuanya pasti akan cemas dan menyuruhnya pulang. Yang terburuk adalah kedua orangtuanya akan mengabaikan peringatan dokter dan langsung terbang ke Inggris untuk menemui Aaron. Tidak. Aaron akan melakukannya dengan caranya sendiri dan mencari tahu segalanya. Sudah cukup dia selalu dilindungi oleh orang-orang disekitarnya. Mulai saat ini dia akan berjuang seorang diri. Dia akan menguatkan diri untuk masuk ke ruangan Rachelle, berusaha mencari tahu kenapa dia selalu merasa sakit setiap kali memandang wajah Rachelle atau foto Rachelle bersama seseorang berwajah sama. Aaron bersumpah dia akan mengetahuinya.
***
Michella baru saja melangkah keluar dari kafe dan baru akan menyeberang untuk kembali ke rumah sakit saat sebuah Ferrari merah mengkilat berhenti di hadapan Michella. Pengemudinya menoleh sambil membuka kacamata dan tersenyum pada Michella.
“Hallo, cantik.”sapa si pengemudi Ferrari ringan.
Michella hanya bisa membelalakkan matanya saat mengenali siapa si pengemudi Ferrari itu. Michella mengenali si pengemudi. Orang yang selama 5 tahun terakhir memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Michella. Namun hanya butuh beberapa detik sebelum Michella mendapatkan kembali pengendalian dirinya. Dengan cepat Michella berputar dan berjalan menjauhi Ferrari itu untuk kembali menyeberang menuju rumah sakit. Si pengemudi terkejut melihat reaksi Michella dan langsung turun dari mobilnya, tidak peduli ada tanda dilarang berhenti disana. Laki-laki itu berlari mengikuti Michella dan begitu sampai di seberang, laki-laki itu kembali menghadang Michella.
“Marah?”tanyanya sambil mengamati Michella.
Michella menggeleng pelan. “Untuk apa? Bukan urusanku apapun yang kau lakukan. Aku yang meminta kalian meninggalkanku dan kau melaksanakannya dengan segera.”gumam Michella. “Minggir. Aku harus bekerja.”
Laki-laki itu mengulurkan tangan dan meraih pergelangan tangan Michella. “Kau marah.”bisiknya pelan sambil mengelus buku jari Michella. “Ayo kita bicara, princess.”
“Aku harus bekerja, Rexnall. Pasienku banyak.”geram Michella mulai kesal. Laki-laki dihadapannya ini adalah satu dari beberapa orang yang selalu bisa membuat Michella kesal.
“Aku akan menunggumu. Kita harus bicara.”ujar Rex terdengar serius.
“Tidak perlu.”
“Perlu, Princess. I’ll be waiting for you.”tegas Rex lagi.
Michella menatap Rex tajam hingga membuat laki-laki itu meringis, “Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Aku masih banyak pekerjaan. Ada banyak nyawa yang bisa melayang karena keegoisanmu ini, Rex.”ujar Michella pelan namun penuh ketegasan yang langsung membuat Rex melepaskan tangan Michella.
“Aku akan menunggumu.”bisik Rex lagi saat Michella berjalan melewatinya memasuki pekarangan rumah sakit.
Tiga jam kemudian, Michella menyelesaikan pekerjaannya di poli klinik anak dan mendapati kalau Rex berdiri di depan kantornya. Pria itu memilih untuk menunggu di tempat yang sangat tepat.
Menyadari kalau ada orang yang memperhatikannya, Rex mendongak untuk melihat orang yang memperhatikannya. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Michella memperhatikan Rex dengan tatapan kesal. Senyum langsung muncul di wajah Rex begitu melihat Michella.
“Kau benar-benar tidak bisa diusir, ya?”tanya Michella pelan sambil melangkah menuju kantornya.
Rex menggeleng pelan. “Aku cukup keras kepala.”
Michella duduk di kursinya, meletakkan stetoskop di atas meja dan menatap Rex. “Katakan apa yang ingin kau bicarakan. Aku ada janji makan malam.”
“Aku tahu. Karena itu aku datang sebelum kau dijemput Lucien.”
Michella menyipitkan matanya, “Kau menyelidiki kami?”
“Tidak ada yang tidak mengetahui pertunangan kalian, Princess. Setidaknya tidak ada yang melewatkan untuk memberitakan pertunangan pemilik BB Group. Aku hanya mengikuti berita.”jawab Rex tanpa mengungkapkan kalau dia juga mengetahui dengan cara yang lain, langsung bertanya pada yang bersangkutan.
“Anggap saja aku percaya. Apa yang ingin kau katakan?”
“Aku tidak pernah meninggalkanmu selama ini.”ujar Rex cepat dan lembut.
Michella memutar bola matanya. “Benarkah? Rasanya aku tidak pernah melihatmu selama 5 tahun ini. Aneh, bukan?”
“Aku memang tidak ada didekatmu, tapi aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu. Aku selalu berhubungan dengan yang lain.”
“Lucu. Erroll bilang setahun terakhir kalian lost contact.”sindir Michella datar.
Rex mengangguk pelan. “Setahun ini begitu berat bagiku, princess. Kau memintaku dan yang lain meninggalkanmu. Kami tidak bisa, tidak akan pernah bisa. Saat yang lain memutuskan untuk tetap di dekatmu, aku memutuskan untuk mengubah hidupku sebelum kembali ke sisimu. Apa yang bisa kulakukan 5 tahun lalu selain membuat keributan dan menuai kemarahan darimu? Tidak ada, princess. Aku pulang ke mana aku memiliki tanggung jawab. Aku belajar dan setahun terakhir segalanya berlangsung buruk. Ada banyak masalah dan mau tidak mau aku harus menjauhkan orang-orang yang kusayangi.”
“Dan kau merasa kalau kau sudah lebih baik dari 5 tahun lalu? Kau merasa sudah lebih bertanggung jawab dan dewasa? Kau merasa sudah pantas kembali ke sisiku?”tanya Michella datar.
“Tidak sepenuhnya. Namun aku tidak lagi menjadi orang yang tidak berguna seperti 5 tahun lalu.”
Michella bangkit dari kursinya dan mendekati Rex. Wanita itu mengulurkan tangan hingga jari telunjuknya menekan d**a kiri tempat jantung Rex berdetak. “Kau, Rexnall Saiga Springfield, terlalu bodoh karena berpikiran seperti itu. Kalau kau memang tidak berguna, aku tidak akan mengizinkanmu berada disekitarku selama 9 tahun. Kau bertanya apa aku marah? Ya, aku marah. Kenapa? Karena kau bodoh, stupid, t***l! Aku melepas kalian karena ingin kalian hidup dengan normal. Tapi bukan berarti kalian harus menghilang lalu tidak ada kabar sama sekali. Kau tahu betapa khawatirnya aku? Kau tidak akan bisa membayangkannya karena kau bodoh, i***t, dan egois! Aku tidak pernah peduli apakah kau hanya bisa membuat keributan atau kau seorang pewaris klan Saiga. Aku tidak peduli. Bagiku kau adalah Rex, sahabatku. Dan kalau kau berpikir aku memperdulikan semua hal sepele itu, silakan angkat bokongmu dari ruanganku sekarang juga!”sembur Michella dengan kekesalan yang sudah memuncak.
Rex melotot tidak percaya mendengar ucapan Michella namun sesaat kemudian senyum merekah diwajah pria itu saat dia meraih tangan Michella dan mengecup punggung tangan wanita itu. “Kau memang selalu penuh kejutan, princess. Tidak sekalipun kau pernah memakiku sepanjang itu. Sekarang aku baru merasakan apa yang sering kau lakukan pada Josh. Aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan melakukan semua kebodohan ini lagi. Dan walaupun aku ingin mengobrol lebih lama denganmu, tapi aku tidak bisa. Tunanganmu akan segera sampai dan melihatku disini bersamamu bukanlah hal baik untuk saat ini.”
Michella tidak ingin meributkan kembali masalah kenapa Rex bisa tahu kalau dia sudah memiliki tunangan. Sahabat-sahabatnya memiliki cara mereka sendiri untuk mencari tahu kabar terbaru. Namun cara yang Rex gunakan adalah satu-satunya hal yang tidak ingin Michella ketahui.
“Kenapa kau kembali?”
“Karena kau akan menikah dengan Lucien.”sahut Rex tenang.
“Kau ingin menggagalkannya?”
“Tidak akan. Membuatmu bersedih adalah hal terakhir yang akan kulakukan. Aku hanya ingin menjagamu.”sahutnya cepat seolah kata-kata itu sudah terpatri di dalam kepala dan hatinya.
“Aku mengerti. Pergilah.”gumam Michella sambil menarik tangannya dari genggaman Rex dan kembali duduk di kursinya.
Rex tersenyum lembut pada Michella saat dia berjalan keluar. Langkahnya terhenti di pintu sebelum dia berbalik. “Biasakan dirimu melihatku disekitarmu, princess. Mulai saat ini, bukan hanya Erroll yang akan menjadi bayanganmu.”ujar Rex sambil mengedipkan mata dan kemudian keluar dari ruangan Michella.
Hanya beberapa detik kemudian, Lucien masuk ke ruangan Michella untuk menjemput tunangannya itu.