Chapter 10

2705 Words
Sudah tiga minggu Aaron berada di London, dan selama itu juga dia masih merasa tidak nyaman setiap kali mengunjungi ruangan Rachelle. Bukan berarti dia harus mendatangi ruangan Rachelle, tapi karena Aaron ingin membiasakan diri dengan apapun yang dia temukan di ruangan Rachelle. Setidaknya usahanya selama 3 minggu ini tidak sia-sia. Wanita lain di foto itu memang kembaran Rachelle. Lahir beberapa menit setelah Rachelle. Tapi pertanyaan dalam kepala Aaron tidak selesai sampai disitu saja. Muncul pertanyaan lain setiap kali dia memandangi foto kembaran Rachelle itu. Kenapa kepalanya terasa lebih sakit setiap kali melihat wanita itu? Kenapa ada rasa rindu menyakitkan di hatinya setiap kali menandang wanita itu? Kenapa dia tidak pernah melihat wanita itu kalau mereka memang pernah bertemu atau berkenalan? Siapa wanita itu dalam hidupnya selain kembaran Rachelle? “Aku penasaran, Rachelle. Entah kenapa aku merasa sangat mengenalmu. Apa dulu kita pernah satu kampus?”tanya Aaron saat makan siang bersama Josh dan Rachelle di restoran terdekat dengan kantor. Bukan dengan Rachelle, Aaron.bisik Josh dalam hati namun masih belum berani mengucapkannya dengan lantang. Disatu sisi dia ingin Aaron segera mengingat segala hal tentang Michel. Namun disisi lain, Josh sudah terlalu lama berteman dengan Aaron untuk tidak mempedulikan rasa sakit yang dideritanya setiap kali ingin mengingat Michel. Josh terombang-ambing diantara kesetian pada dua sahabatnya. “Aku rasa tidak. Aku kuliah di disini. Dan kau di Indonesia, bukan?”tanya Rachelle balik walaupun dia tahu yang sebenarnya. Aaron pernah menghabiskan 2 semester di Oxford bersama Michella sebelum semua tragedi itu terjadi. Aaron mengangguk pelan. Rachelle benar. Aaron memang kuliah di Indonesia. Di Universitas Indonesia lebih tepatnya. Rasanya memang tidak mungkin kalau dia teman kuliah Rachelle. “SMA?” Baik Rachelle maupun Josh kedua terdiam. Mereka tidak menyangka kalau Aaron masih berkeras mencari tahu apakah dia memang pernah mengenal Rachelle. Aaron menanyakan pertanyaan yang salah. Dan saat ini mereka memiliki kesempatan untuk membenarkannya. “Bukan aku yang satu SMA denganmu, tapi Michella.”bisik Rachelle pelan sambil mengamati perubahan Aaron. Dan benar saja. Laki-laki itu meringis menahan sakit beberapa saat kemudian. Rasa nyeri itu kembali menyerang Aaron saat dia berusaha mengingat apakah dia pernah bertemu seorang gadis bernama Michella dan berwajah seperti Rachelle saat SMA. Namun tidak ada kenangan tentang gadis itu. Alih-alih kenangan tentang kembaran Rachelle, ingatan Aaron kembali memunculkan sosok tanpa wajah yang menemaninya semasa SMA. Aaron semakin yakin kalau dia memiliki hubungan khusus dengan sosok itu. Betapa Aaron berharap bisa mengingatnya. “Aku pikir aku mengalami amnesia. Ada sosok tanpa wajah dalam ingatanku. Namun aku malah tidak bisa mengingat adikmu. Betapa ironisnya.”gumam Aaron lalu meneguk air putih di hadapannya. “Sudahlah. Berikan waktu bagi tubuhmu untuk membiasakan diri. Kau terlalu memaksakan diri belakangan ini. Kalau kau terus seperti ini, kau akan berakhir di rumah sakit, sobat.”tukas Josh yang kasihan saat melihat keadaan Aaron. “Aku pikir juga begitu. Aku hanya berharap aku tahu siapa sosok tanpa wajah itu. Aku merindukannya dan aku yakin kalau kami memiliki hubungan khusus.”bisik Aaron lagi. “Kalau saatnya tiba, kau pasti akan tahu.”bisik Rachelle pelan. *** Entah untuk keberapa kalinya Lucien menculik Michella dari apartemennya. Kenyataan kalau Lucien lebih suka datang mendadak tanpa pemberitahuan membuat Michella sering lepas dari pengawasan Erroll dan Favian. Seperti hari ini Lucien muncul di depan apartemen Michella dengan pakaian rapi, jeans biru gelap dengan jumper putih padahal jam baru menujukkan pukul 7 pagi. Michella yang baru bangun langsung mengeluarkan sumpah serapah saat membuka pintu dan membiarkan Lucien masuk. “Kau tidak bisa melakukan ini terus, Luke! Aku butuh liburan, darimu dan dari pekerjaanku.”geram Michella yang kembali masuk ke dalam kamarnya dan meringkuk di ranjang, menggulung tubuhnya dengan selimut tebal. Lucien tersenyum geli melihat tingkah Michella yang seperti remaja pemalas dan bukannya wanita dewasa yang berprofesi sebagai seorang dokter anak profesional. Dengan santai Lucien duduk di pinggir ranjang Michella dan menarik selimutnya dengan satu sentakan kuat. “Ayo bangun, my sweety.” “Aku ingin tidur, Luke! Tinggalkan aku atau setidaknya diamlah!” “Bangunlah. Kalau tidak aku akan bergabung denganmu.” Michella menggeram pelan lalu duduk bersandar di kepala ranjang. “Apa maumu?”tanya Michella kesal. Kalau saja tatapan bisa membunuh seseorang, maka saat ini Lucien pasti sudah dikuburkan. “Aku ingin kita pergi jalan.” “Aku capek, Luke. Aku mau di rumah saja.”balas Michella cepat lalu kembali bergelung dengan selimutnya. Lucien tidak membiarkan Michella kembali tidur. “Ayolah. Jarang-jarang aku bisa kabur dari kantor, sayang.” Michella memutar bola matanya. “Jarang kau bilang? Kau selalu libur setiap aku libur!”sembur Michella yang sudah bersiap untuk berbaring lagi di ranjangnya yang hangat tepat saat kedua tangan Lucien mengurung tubuhnya diantara tubuh Lucien dan kepala ranjang. “Apa yang kau lakukan?”tanya Michella dengan suara tertahan. Lucien menatap Michella dengan seksama. Wanita itu hanya mengenakan kaos oversize dengan hotpant putih yang tersembunyi dibalik kaos besarnya. Dan untuk Lucien itu lebih seksi dibandingkan pakaian manapun yang pernah dikenakan wanita-wanita lain. Tanpa sadar Lucien mengulurkan tangan untuk menyentuh belakang leher Michella, ingin menarik wanita itu mendekat padanya. Namun, tepat saat jemari Lucien menyentuh lehernya, Michella langsung mencengkram pergelangan tangan Lucien, menarik tubuh pria itu sementara dirinya sendiri bergeser dengan cepat kesamping, membanting tubuh Lucien dalam sekejap ke ranjang. Michella menahan satu tangan Lucien dengan tangan kirinya sementara lengan bawah tangan kanannya menahan leher Lucien dengan ketat. Lutut Michella berada persis dicelah antara kedua paha Lucien, siap memberikan serangan mematikan pada pria itu. Semua itu terjadi hanya dalam beberapa detik. “Astaga!”seru Lucien takjub dan bukannya takut dengan apa yang mengancam masa depan kesuburannya dibawah sana. “Itu refleks yang sempurna, sayang!”ucap Lucien lagi tanpa menyembunyikan kekagumannya dan menatap Michella dengan mata berbinar. Lucien selalu mengagumi wanita yang bisa menjaga diri. Suara Lucien yang terdengar bersemangat itulah yang akhirnya menyadarkan Michella. Dengan perlahan Michella melepaskan cengkramannya dan menjauhi Lucien. “Sudah kubilang kalau jangan sembarangan menyentuhku.”gumam Michella pelan. Untung saja aku tidak lagi terbiasa tidur dengan senjata api dibawah bantalku.sambung Michella dalam hati. “Aku mau mandi. Silakan lakukan apapun yang kau suka.”ujarnya sambil berjalan ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Lucien duduk di ranjang Michella sambil mengamati kepergian wanita itu. Bahkan saat Michella sudah mengunci pintu kamar mandi, Lucien masih mengarahkan tatapannya ke pintu yang tertutup itu. Refleks itu... Itu refleks yang dimiliki ahli beladiri. Atau orang yang terbiasa berkelahi seperti Lucien. Dan Michella? Dia tidak mungkin terbiasa berkelahi. Alejandra tidak akan menjodohkannya dengan wanita yang tidak benar. Michella pasti bisa bela diri.pikir Lucien tanpa beranjak sedikitpun dari ranjang Michella. Setengah jam kemudian Michella keluar dari kamar mandinya yang bersatu dengan walk in closet miliknya dengan mengenakan short skirt motif polkadot mini coklat dengan dasar beige serta kemeja tanpa lengan berbahan jeans. Rambutnya yang panjang diikat satu dan kemudian digelung kecil. Michella mengatupkan rahangnya kesal saat melihat Lucien dengan santainya berbaring di ranjang Michella sambil menonton TV. Kakinya yang panjang diluruskan sementara tubuhnya bersandar di kepala ranjang. “Katakan kemana kau akan membawaku?” Senyum lebar muncul di wajah Lucien saat dengan santainya dia menarik tangan Michella agar mengikutinya keluar dari apartemen. “Ikut saja.”bisiknya santai lalu membiarkan Michella mengunci pintu sebelum mereka memasuki lift menuju basement. Setengah jam kemudian Michella menatap Lucien tidak percaya. “Untuk apa kita kesini?” Lucien meraih tangan Michella dan menggenggamnya erat. “Aku tidak bisa memberikan cincin pertunangan yang kau inginkan. Karena itu aku akan memperbaikinya. Kita akan membeli cincin pernikahan sesuai dengan yang kau inginkan.” “Tidak perlu, Luke. Percayalah, aku akan menerima apapun yang kau berikan.” Lucien menggeleng pelan. “Tidak, sayang. Kau akan memilih cincin pernikahan kita. Kita hanya sekali menjalani pernikahan ini dan aku menginginkan yang terbaik untukmu.” Hati Michella terenyuh mendengar ucapan Lucien. Hanya sekali.ulang Michella dalam hati. Entah kenapa Michella terharu mendengar Lucien berkomitmen padanya mengingat bagaimana sepak terjangnya dulu sebagai cassanova sejati. “Kau yakin mengizinkan aku memilih apa yang kumau?” “Tentu saja. Aku bahkan tidak peduli kalau kau memborong lebih dari satu. Aku hanya ingin kau memilih cincin pernikahan kita, benda yang akan kita pakai hingga akhir hidup kita.”ujar Lucien lalu mengecup buku jari Michella penuh kasih. Michella sama sekali tidak memprotes lagi saat Lucien membawanya masuk ke dalam toko perhiasan tersebut dan langsung disambut oleh seorang wanita cantik berambut pirang madu. “Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?”tanya si pirang tanpa melepaskan tatapannya dari Lucien. Lucien tersenyum pada Michella sebelum menatap pramuniaga itu. “Kami ingin melihat cincin pernikahan.”ujar Lucien ringan. Namun tidak dengan pramuniaga itu. Dia terlihat terkejut dan mengalihkan pandangannya pada Michella, menatap Michella dengan pandangan menilai sebelum mengangguk pelan. Seperti biasa, butuh lebih dari sekali pandang untuk mengagumi sosok Lucien Bergmann. “Mari silakan di sebelah sini.”ujarnya sambil membimbing Lucien dan Michella ke bagian cincin pernikahan. Ada banyak pasang cincin indah dipajang disana. Dari yang berbahan emas polos, hingga cincin platina bertahtakan berlian mahal. Namun perhatian Michella langsung tersita oleh sepasang cincin bertahtakan berlian biru yang sangat indah. Untuk sang wanita cincin platina itu memiliki sebuah berlian biru dengan tiga berlian kecil di kedua sisinya. Sedangkan untuk sang pria sebuah cincin platina polos dengan sebuah berlian biru kecil tertanam di bagian tengahnya. Sepasang cincin yang sangat indah. Lucien menyadari kemana perhatian tunangannya tersita. Senyum mereka di wajah pria itu. Michella jarang terlihat sangat tertarik akan sesuatu. Dan kali ini Lucien memastikan kalau Michella akan mendapatkan cincin pernikahan seperti yang dia inginkan. “Bisa lihat cincin yang itu?”tanya Lucien sambil menunjuk cincin dengan berlian biru itu. Perhatian Michella masih belum teralihkan saat mendengar suara Lucien. Namun ketika si pirang mengambil dan mengeluarkan sepasang cincin dengan berlian biru, Michella langsung menatap Lucien. “Luke?” Lucien mendekatkan tubuhnya dan berbisik pelan. “Aku berjanji kalau kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan?”ujarnya pelan lalu memberikan kecupan pelan yang sangat tiba-tiba di dahi Michella. “Cobalah.”ujar Lucien kemudian saat mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan memasangnya di jari Michella. Cincin itu pas dengan ukuran jari Michella. Begitu juga dengan cincin sang pria. Lucien sama sekali tidak bisa menghilangkan senyum diwajahnya saat dengan santainya dia mengulurkan kartu American Expressnya pada si pirang bahkan setelah si pirang menyebutkan harga cincin yang mencapai $10 ribu. “Kau tidak harus membelinya, Luke.” “Kau menyukainya?” “Iya, tapi...” “Bukan masalah kalau begitu. Pernikahan ini hanya akan terjadi satu kali seumur hidup kita, dan kita akan melakukannya sesuai yang kau inginkan. Kita akan menjadikannya sempurna.” “Kenapa?” “Apa?” “Kenapa kau melakukan ini semua, Luke?” “Kupikir karena aku mulai jatuh cinta padamu.” Michella menegang tepat sebelum masuk ke dalam mobil. Dengan enggan dilangkahkannya kakinya memasuki mobil Lucien dan membiarkan Lucien menutup pintu. Saat Lucien sudah duduk kembali di tempatnya, Michella berbisik pelan. “Jangan.” “Apa, sayang?” “Jangan jatuh cinta padaku. Semua ini hanya demi Alejandra.” Senyum di wajah Lucien tidak juga menghilang, malah semakin lebar. “Ya, kau benar. Tapi siapa yang bisa melarang kalau aku akhirnya malah menyukaimu?” Michella kembali menegang di tempat duduknya, dan kali ini Lucien bisa melihatnya. Senyum di wajah Lucien langsung lenyap seketika. Dia tahu ada yang salah dengan ucapannya. “Michella... Ada apa?” “Kau tidak boleh jatuh cinta padaku, Luke.”bisik Michella pelan. “Baiklah, tapi kenapa?” “Pokoknya kau tidak boleh. Jangan.” Lucien mendesah panjang. “Berikan aku satu alasan kenapa aku tidak boleh jatuh cinta padamu. Hanya satu. Kenapa, Michel?” “Karena semua orang yang mencintaiku akan meninggal.”bisik Michella pelan dan Lucien nyaris tidak mendengarnya kalau saja dia tidak memfokuskan perhatiannya pada Michella. Meninggal? Apa yang sebenarnya ingin dia katakan? Apa dia bermaksud mengatakan kalau setiap orang yang mencintainya akan meninggal lebih cepat? Kutukan?tanya Lucien dalam hati. “Kau percaya kutukan?”tanya Lucien tidak percaya, namun dia berusaha membuat suaranya terdengar normal. “Bukan kutukan. Tapi kesialan.” “Lihat aku, Michel.”desak Lucien pelan namun langsung dituruti oleh Michella. “Aku mungkin bukan orang yang beriman, sayang. Tapi aku percaya kalau takdir di tangan Tuhan. Kalau aku memang ditakdirkan meninggal lebih cepat, aku pasti akan meninggal. Semuanya tergantung takdir, sayang, bukan kesialan.” “Tapi, Luke, semua yang mencintaiku meninggal.” “Apa kembaranmu meninggal? Apa Ethan meninggal? Apa adikmu meninggal? Apa kedua orangtuamu juga meninggal?”tanya Lucien cepat. “Tidak, Michel. Mereka masih hidup dan masih mencintaimu. Selalu.” “Luke... Kau tidak mendengarkanku.” Lucien tersenyum. “Aku mendengarkan, sayang. Hanya saja aku tidak mempercayai adanya kesialan, sayang.” “Jadi apa yang kau inginkan? Aku tidak bisa mengatakan kalau aku juga mencintaimu. Itu bohong, Luke. Aku... Aku tidak bisa membohongimu. Setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan karena aku tidak mencintaimu.” Lucien mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Michella. Hatinya perih mendengar Michella tidak mencintainya, namun dia tahu kalau dirinyalah yang terlalu mudah jatuh cinta pada wanita itu. “Aku tidak butuh kau mencintaiku. Hanya saja jangan pernah meninggalkanku.”bisik Lucien lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Michella. Dan untuk pertama kalinya, Michella tidak menegang dan malah membalas ciuman Lucien seolah kejadian beberapa jam sebelumnya bukanlah bentuk pertahanan diri Michella dari sentuhan Lucien. *** “Tidak!” “Ya, sayang.” “Tidak, Luke. Tidak. Aku hanya ingin pulang sebentar ke Indonesia. Menemui orangtuaku dan mengabarkan tentang pernikahan dadakan ini. Kau disini, bekerja.”tegas Michella untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu 2 jam sebelum keberangkatannya ke Indonesia. “Dan aku juga ingin bertemu dan berkenalan dengan calon mertuaku.” “Luke?” “Ya?” “Tinggal saja disini, dan biarkan aku yang menyelesaikannya.” Lucien hanya tersenyum lebar lalu menggeleng pelan. “Tidak, sayang. Kau bisa meminta apapun, tapi aku akan tetap ikut bersamamu ke Indonesia.” “Aku menggunakan transportasi umum, Luke. Kelas ekonomi.” “Benarkah? Apakah kau sudah memastikannya?” Seketika itu juga Michella menyadari kalau Lucien akan tetap ikut dengannya apapun yang terjadi. Michella juga sadar kalau Lucien sudah melakukan sesuatu pada tiket kelas ekonomi miliknya. “Kau membatalkannya!”sembur Michella begitu saja tanpa mempedulikan banyak pasang mata yang kini menatap ke arahnya. Senyum Lucien tetap bertahan di wajahnya. “Tidak. Aku tidak sejahat itu.” Tanpa menunggu apapun lagi, Michella langsung pergi ke counter maskapai penerbangan yang dipilihnya dan menanyakan status penerbangannya. “Tiket anda sudah di upgrade ke kelas bisnis, Ms. Reynard.” “Kelas bisnis?”ulang Michella geram karena dia tahu kalau ini semua adalah ulah Lucien. “Ya, Ma’am.” Michella terdiam sejenak. Otaknya sedang memikirkan cara tercepat untuk membunuh laki-laki yang menjadi tunangannya itu. Michella tidak terbiasa mendapat campur tangan orang lain dalam masalahnya. Dengan senyum sopan Michella berlalu dari counter maskapai dan bergegas menghampiri Lucien. “Kau!”seru Michella sambil menekankan jari telunjuknya ke d**a Lucien. “Aku benci, Luke! Aku tidak suka ada orang yang mencampuri urusanku. Berani-beraninya kau, Lucien Bergmann!”geram Michella kesal. “Aku tidak akan melakukannya kalau kau membicarakan masalah ini denganku.”sahut Lucien cepat, ada nada dingin yang tidak pernah didengar Michella muncul dalam suara pria itu. “Kita akan menikah kurang dari sebulan, sweetheart. Dan aku bahkan belum pernah bertemu dengan keluargamu selain Ethan. Sebagai calon suamimu, aku seharusnya bertemu dengan mereka dan melamarmu. Tapi karena kita tidak melalui proses itu, makanya sekarang aku benar-benar ingin bertemu dengan orangtuamu.”tegas Lucien dingin. Michella cukup terkejut karena untuk pertama kalinya Lucien terlihat asing dimata Michella. Tiga bulan mengenal pria itu, Michella hampir yakin kalau Lucien tidak akan pernah serius walaupun dia merupakan sosok yang berbeda saat di kantor. Tapi Lucien yang baru saja bicara bukan sosok berwibawa yang terkadang dilihat Michella di kantor pria itu, namun sosok dingin penuh ancaman yang tidak pernah muncul selama ini. “Kau tidak akan mengalah, bukan?”tanya Michella pelan, nyaris pasrah. Sejak bertunangan dengan Lucien, Michella benar-benar menjadi sosok yang lain. Dia lebih sering mengomel dan menggerutu akibat tingkah Lucien yang sering kali memaksakan keinginannya. Namun walaupun begitu Michella terkadang juga terhibur dengan sikap Lucien. “Kau semakin mengenalku, sayang.”bisik Lucien dan dengan cepat mengecup bibir Michella hingga membuat wanita itu membelalak kaget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD