Sengatan matahari langsung menyerang Lucien saat turun dari pesawat yang membawa mereka dari London hingga Jakarta. Lucien sering berkunjung ke berbagai belahan dunia, namun Indonesia bukan salah satunya. Ini menjadi kali pertama Lucien menginjakkan kaki di negara tropis yang hanya memiliki dua musim itu.
“Ini lebih dari yang kubayangkan, sweetheart. Benar-benar panas.”bisik Lucien saat dia melangkah menyamai langkah Michella yang terlihat nyaman di situasi sepanas itu.
Michella memutar bola matanya dan terus melangkah keluar dari terminal 2 Soekarno-Hatta. “Kau sendiri yang ingin ikut, Luke. Jangan mengeluh.”tegur Michella saat matanya memandang liar ke sekeliling mereka untuk mencari taksi.
“Aku tahu, sweetheart.”gumam Lucien sambil mengelap keringat di dahinya. Lucien sama sekali tidak mempedulikan tatapan penuh kagum orang-orang disekitar mereka. Saat ini fokusnya hanya terpusat pada satu hal. Mencari tempat sejuk secepat mungkin. “Apa yang kau cari, Michel?”
“Taksi, Luke. Aku tidak mengabari siapapun tentang kedatanganku. Jadi tidak akan ada yang menjemput kita.”ujar Michella cepat dan saat itu juga menyadari sesuatu. “Aku pikir kita lebih baik naik Silver Bird. Kau pasti tidak akan nyaman dengan taksi biasa.”sambung Michella kemudian.
“Aku menyerahkan nyawaku padamu.”bisik Lucien pasrah. Dan Lucien benar-benar menyerahkan nasibnya pada Michella.
Michella menatap gerbang putih yang berdiri angkuh di hadapannya. Sudah 5 tahun Michella tidak pernah pulang ke tempat ini, rumah keluarganya, rumah dimana dia menghabiskan masa-masa SMA-nya yang penuh kebahagiaan dan kenangan indah. Namun di saat yang bersamaan, rumah ini juga mengingatkan Michella akan hatinya yang hancur. Tanpa sadar jemari Michella bergetar saat akan menekan bel rumah. Lucien yang menyadari hal itu hanya mengerutkan dahinya bingung hingga sebuah suara memecah keheningan menegangkan itu.
“Non Michel?”seru seorang pria tua yang tergopoh-gopoh menghampiri pagar.
Pria tua itu mengenakan kaos pudar dengan celana kain batik dibawah lutut. Dia juga mengenakan sebuah topi yang biasa disebut kaum muslim sebagai peci atau kopiah berwarna hitam. Melihat pria tua itu, ketegangan di wajah Michella langsung lenyap dan digantikan raut berbinar penuh kerinduan.
“Mang Udin!”seru Michella kuat tepat saat gerbang besar itu mengayun terbuka.
“Ya ampun, Non. Akhirnya Non pulang juga. Ibu sama Bapak itu rindu sekali loh sama Non Michel. Setiap Bapak bisa libur pasti mereka pergi ke Amerika sana liat Non. Tapi Non Michel gak pernah pulang.”ujar pria yang dipanggil Michell dengan Mang Udin itu.
“Sweetheart?”panggil Lucien pelan, namun berhasil membuat Michella menyadari kalau dia tidak seorang diri pulang ke rumah keluarganya.
Michella menatap Lucien lalu mengangguk entah untuk apa. Namun sebelum Michella sempat mengenalkan Lucien, Mang Udin kembali menyela. “Oh ya ampun! Non bawa teman rupanya! Sudah lama Non gak bawa teman laki-laki ya?”seru Mang Udin ringan bahkan tidak menyadari ketegangan yang kembali menyerang Michella, hal yang tidak pernah luput dari perhatian Lucien.
“Aku boleh masuk gak sih, Mang? Panas ini.”tanya Michella berusaha mengalihkan pembicaraan. Topik teman laki-laki terakhir yang Michella bawa ke rumah adalah hal yang paling tidak ingin Michella bicarakan selamanya. Atau tidak sampai hatinya siap.
“Oalah, Non, ayo masuk mari! Maafkan Mamang, Non. Mamang senang sekali Non Michella pulang.”ujar Mang Udin cepat.
Michella hanya tersenyum tipis pada Mang Udin sebelum kembali menatap Lucien. “Masuklah. Selamat datang di rumah keluarga Reynard.”ujar Michella sambil merentangkan tangannya ke arah bangunan bercat putih itu dan mempersilakan Lucien memasuki pekarangan lebih dahulu.
Lucien melangkah pelan, sengaja menunggu Michella saat telinganya mendengar deru halus mesin bertenaga besar khas mobil sport di belakangnya. Namun tidak sepatah katapun yang sempat terucap dari bibir pria itu saat sekelebat bayangan menghambur ke arah Michella dan memeluk tunangannya itu.
Namun wajah dari orang yang memeluk Michella itu membuat Lucien mengurungkan niatnya untuk menegur pria itu. Wajah itu adalah wajah yang sama dengan wajah seseorang yang pernah mengunjungi Michella di Chicago.
“Siapa dia, Michel?”
Itu adalah kalimat pertama yang meluncur dari mulut pria yang memeluk Michella erat. Matanya terpaku pada Lucien dalam sebuah tatapan tajam penuh selidik. Lucien sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu sehingga apa yang dilakukan pria itu sama sekali tidak menganggunya.
“Kau tidak mungkin melupakan aku, E.”ujar Lucien tegas, bingung dengan sikap Ethan yang seolah tidak mengenalnya.
“Aku Nathan, kembaran Ethan. Dan aku tidak mengenalmu, anak muda.”balas Nate serius.
Seulas senyum geli langsung muncul di wajah Michella. Wanita itu mendadak lupa dengan semua kenangan yang menyerbunya ketika menginjakkan kaki di depan gerbang rumahnya. Wajah Lucien yang terlihat kaget walau hanya sesaat membuktikan kalau pria itu sama sekali tidak menyangka akan bertemu makhluk kembar lainnya. Sebelum Lucien sempat mengucapkan apapun, Michella langsung melepaskan pelukan Nathan dan menyentuh lengan Lucien lembut. Sebuah gerakan tanpa sadar yang tidak luput dari perhatian kedua pria itu.
“Luke? Ini Nathan Alkins, kembaran Ethan sekaligus anak tertua. Dan Nate? Ini Lucien Bergmann, tunanganku.”ucap Michella tenang.
Nathan menatap pria berambut hitam di hadapannya. Matanya menelusuri sosok Lucien dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lucien hampir sama tinggi dengannya, atau lebih tepatnya hanya lebih rendah sekitar 5cm darinya. Nathan tahu kalau pria dihadapannya ini terbiasa mendominasi, sama seperti dirinya. Dan mereka berdua adalah kombinasi yang buruk, dua hal yang tidak akan mungkin bisa disatukan. Dengan sengaja Nathan memalingkan wajahnya dan kembali menatap adik perempuannya.
“Ada banyak yang ingin kutanyakan, Michel. Tapi aku juga tahu kau lelah. Istirahatlah dan kita akan bicara nanti.”
Michella mengangguk setuju. Dia memang lelah dan ingin beristirahat. “Luke akan tinggal disini, Nate. Rasanya sia-sia kalau dia menginap di hotel sementara kita punya kamar kosong dan kami disini hanya untuk beberapa hari saja.”ujar Michella pelan, sengaja memberitahukan masalah ini pada Nathan. Kakaknya yang satu ini cenderung untuk bertindak dengan kekerasan lebih dulu sebelum bertanya. Dan seperti yang Michella tahu beberapa minggu belakangan, Lucien adalah orang yang paling sering membuat orang kesal dengan sengaja.
“Kau tahu kalau aku tidak bisa memutuskan apapun. Mom masih di butik. Dia baru pulang sekitar dua jam lagi. Sampai Mom pulang aku akan mencoba bertahan untuk tidak menyentuh ‘dia’.”gumam Nathan dingin.
“Astaga, Nate. Aku yakin kalau E sudah menyampaikan masalah ini sejak lama. Tapi kenapa kau tetap belum bisa menerimanya?”
Nathan hanya memutar bola matanya dan melirik Lucien sekilas. “Kita bicara nanti, sayang. Masuk dan istirahatlah.”ujar Nathan sambil mendorong punggung Michella pelan.
Lucien menatap pemandangan di hadapannya dengan takjub. Orangtua Michella terlihat bahagia dengan kedatangan putri mereka. Lucien tidak bisa membayangkan sebenarnya sudah berapa lama wanita itu tidak mengunjungi keluarganya. Duduk diantara kedua orangtuanya, Michella terlihat bahagia. Namun, Lucien tetap tidak memungkiri kalau sejak kedatangannya, ada seseorang yang menatapnya penuh permusuhan dan kecurigaan. Orang itu adalah Nathan.
“Sampai kapan kau akan menatapnya seolah ingin mengunyahnya, Nate?”tanya Hestia sambil menatap Nathan yang duduk diseberangnya.
Nathan mengalihkan tatapannya dari Lucien pada ibunya. Tatapannya tetap tajam, walaupun tidak ada kecurigaan, Lucien yakin kalau Nathan bahkan menatap ibunya dengan penuh permusuhan. “Aku tidak ingin mengunyahnya. Aku hanya ingin mencincangnya dan membuangnya ke laut selatan.”sahut Nathan datar.
“Nate?”tegur Michella pelan namun berhasil menghilangkan tatapan permusuhan di mata Nathan. “Dad, Mom, ada yang ingin kubicarakan dengan kalian. Sejujurnya aku hanya ingin memberitahukannya. Aku tidak meminta izin kalian, namun aku yakin kalau kalian akan setuju.”
“Katakan saja, sweetheart.”ujar Gerrard lembut.
“Kalian pasti sudah menduganya sejak aku mengenalkan Lucien pada kalian. Kami akan menikah dalam waktu dekat ini. Segalanya sudah disiapkan disana. Kami memutuskan untuk menikah disana.”
“Menikah?”ulang Gerrard dan Hestia bersamaan.
Mereka memang sudah curiga sejak melihat kehadiran Lucien di rumah mereka. Michella tidak pernah lagi membawa temannya ke rumah sejak 7 tahun lalu. Setiap kepulangannya Michella hanya datang seorang diri. Dan kali ini setelah 5 tahun, Michella pulang dengan mengatakan kalau dia akan menikah.
“Kami sudah bertunangan bulan lalu. Alejandra meminta pernikahan ini dilakukan secepatnya.”ujar Michella lagi masih dengan ketenangan yang sama.
Hestia menggenggam tangan Michella lembut, “Sayangku, kau tidak hamil, bukan?”tanya Hestia tiba-tiba.
Michella sudah menduga kalau ibunya akan menanyakan hal itu. Namun sepertinya Lucien tidak. Wajah pria itu jelas terlihat tidak senang dan tersinggung. “Sorry, Mrs. Reynard. Kami berdua memutuskan untuk menikah bukan karena Michella hamil atau segala sesuatu yang mengarah kesana. Semua ini murni keputusan kami dengan akal sehat. Anda meragukan putri anda sendiri dengan menanyakan hal itu.”tukas Lucien cepat.
“Luke?”panggil Michella pelan, entah kenapa dia hampir yakin kalau Lucien nyaris lepas kendali. Tapi kenapa? “Jangan marah. Mom hanya cemas.”
Lucien menatap Michella sebentar lalu menghela napas panjang. Dia tidak mengatakan apapun lagi setelahnya, memilih diam dan membiarkan Michella mengatakan apa yang dia inginkan. Hanya saja Lucien berjanji dalam hatinya. Kalau ada satu orang saja yang mulai meragukan Michella, menghinanya, tidak peduli siapa orangnya, Lucien akan membungkam mulut orang itu selamanya.
Lucien berjalan pelan menuju gazebo di taman belakang. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi tapi dia tetap belum bisa memejamkan matanya. Mungkin karena jetlag atau mungkin karena pembicaraan dengan keluarga Michella tadi. Ada yang aneh. Lucien tahu itu. Kedua orangtuanya, atau seluruh keluarganya sangat menyayangi Michella. Hanya saja mereka terlihat sangat menjaga Michella dalam berhubungan dengan laki-laki.
“Tidak mungkin kalau mereka melakukan itu karena apa yang dia katakan saat itu.”gumam Lucien pelan sambil merebahkan dirinya di tumpukan bantal di lantai gazebo sambil menatap langit malam yang terselimuti awan.
“Belum tidur, anak muda?”sapa sebuah suara yang langsung membuat Lucien waspada. Jujur, Lucien memang mengendurkan kewaspadaannya karena saat ini dia berada di Indonesia, negara yang tidak pernah dikunjunginya. Aneh? Tapi bagi Lucien negara asing jauh lebih aman daripada tempat-tempat yang biasa dia kunjungi karena tempat-tempat itu sudah diketahui oleh musuh-musuhnya.
“Anda juga, Mr. Reynard.”balas Lucien pelan setelah mengetahui siapa yang menyapanya.
Gerrard tersenyum lalu mengambil tempat di sebelah Lucien. “Apa kau ada waktu?”tanya Gerrard lagi.
“Ada apa?”tanya Lucien curiga. Tidak mungkin pria ini menyapanya dan menanyakan waktunya tiba-tiba seperti itu.
“Kau mencintai putriku?”
“Ya.”
“Tahukah kau apa yang terjadi pada masa lalunya?”
Lucien bisa menebak kemana pembicaraan ini. Dengan cepat ditegakkannya tubuhnya dan menatap Gerrard tajam. “Kalau kau berharap aku akan meninggalkan Michella karena takut mati, maka kau salah. Aku akan tetap disisinya bahkan jika dia tetap tidak mencintaiku. Aku hanya akan meninggalkan kalau dia tidak membutuhkanku. Bahkan kalau dia hanya membutuhkanku untuk mengusir serangga sekalipun, aku akan berada disisisnya.”
“Kau pasti berpikir aku ingin memisahkan kalian, bukan?”
“Katakan padaku apa yang harus aku pikirkan setelah semua pembicaraan tadi?”tanya Lucien dingin.
“Aku mengerti. Aku hanya ingin memastikan kalau putriku akan dicintai oleh suaminya.”
“Tentu saja. Kau tidak akan mendapatkan kurang dari itu.”
“Dan orang itu tidak akan mundur bahkan kalau kematian membayangi langkah putriku.”
“Aku sudah menghadapi banyak kematian lebih dari yang kau duga. Itu tidak akan membuatku meninggalkan Michella.”
Gerrard tersenyum tulus, “Baguslah. Aku senang dia akhirnya bisa menemukan seseorang untuk menggantikan Aaron. Tolong jaga putriku. Aku harap kau bisa membahagiakannya. Dia tidak berhak mendapatkan kesedihan lagi setelah semua yang dia alami.”
“Akan kulakukan apapun untuk membuatnya tersenyum.”gumam Lucien lalu mengingat-ingat apakah Michella pernah tersenyum padanya.
Tidak.
Lucien tersenyum geli mengingatnya. Michella selalu kesal dan ingin membunuhnya setiap kali Lucien memberikan kejutan. Namun itu jauh lebih baik daripada melihat Michella bersedih.
“Ingatlah janjimu, anak muda. Karena sekali saja kau membuatnya menangis, tidak akan ada tempat bagimu di dunia ini untuk sembunyi dari murkaku.”
***
Telepon dari Adam dua hari sejak dia tiba di Indonesia membuat Lucien membatalkan rencananya untuk ikut Michella ke Madrid mengunjungi adiknya yang sedang tur dunia. Dengan penerbangan pertama, Lucien langsung kembali ke Chicago setelah transit di Singapura untuk bertukar pesawat dengan jet pribadi miliknya. Penerbangan yang menghabiskan waktu hampir 24 jam itu membuat Lucien nyaris mengalami disorientasi waktu setibanya di O’Hare. Beruntung Adam sudah menyiapkan jemputan untuknya.
“Ada masalah apa, Adrian?”tanya Lucien serak, tanda kalau tubuhnya sedang tidak dalam kondisi prima.
Pria yang bernama Adrian yang mengemudikan Ford Mondeo hitam metalik itu menjawab dengan pelan. “Kartel senjata kita yang seharusnya tiba di Rio kemarin malam sampai saat ini tidak ditemukan, Sir. Kami sudah memerintahkan orang-orang di Rio untuk mencarinya, namun barang itu tetap tidak ditemukan. Dugaan sementara kartel kita diambil oleh Kauzivak saat melintasi Kolombia, Sir.”
“Kauzivak? Bukankah mereka di Uzbekistan?”tanya Lucien tidak percaya sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali dia bertemu dengan musuh bebuyutannya itu.
“Ya dan tidak, Sir. Arion Kauzivak memang berada disana hingga saat ini, namun putranya, Dorian Kauzivak dilaporkan terlihat beberapa kali di Chicago, New York dan terakhir di perbatasan Kolombia, Sir.”
“Kalian punya bukti menuduhnya?”
“Selain laporan keberadaannya, kami tidak punya apapun, Sir. Kami akan menyelidikinya lebih lanjut saat Adam memerintahkan kalau kami tidak boleh melakukan apapun sampai anda kembali.”
“Adam benar. Kauzivak kerabat dekat petinggi Rusia. Mengusik mereka dengan tuduhan tak berbukti membahayakan kita. Antarkan aku ke perusahaan, sementara itu kau siapkan timku untuk segera berangkat ke Kolombia dalam waktu 3 jam.”ujar Lucien pelan.
Masalah yang selama ini Lucien hadapi tidak pernah membuatnya harus terbang ke belahan dunia lain hanya untuk mengurus satu pengiriman senjata yang hilang. Namun kali ini semuanya berbeda. Kauzivak bukan lawan yang bisa diremehkan. Salah satu alasan kenapa Lucien sangat berkeras menjalin kerja sama dengan Klan Saiga adalah karena keluarga Rusia itu. Lucien butuh lebih dari kekebalan hukum negaranya sendiri kalau ingin berhadapan dengan mafia terbesar di Eropa Utara itu. Dan kenyataan kalau keluarga Kauzivak lebih kejam daripada Lucien membuat Lucien tidak ingin membahayakan nyawa anggotanya.
***
Michella duduk diam di ruang tamu suite hotelnya di Madrid. Adiknya Tora sudah lama pergi untuk konser sementara dia menunggu seseorang disini. Janjinya untuk hadir di konser Tora bergantung pada lamanya pembicaraan dengan orang yang akan ditemuinya saat ini. Dan Michella tidak punya waktu lagi untuk menonton konser Tora karena besok dia harus segera kembali ke Chicago.
Dering bel pintu membuyarkan lamunan Michella. Dengan cepat Michella membuka pintu dan membiarkan tamunya masuk. “Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku, Rex.”ujar Michella langsung pada masalahnya.
“Sudah kuduga. Apa yang kau inginkan, princess?”tanya Rex santai seolah telepon Michella kemarin malam yang mengharuskannya terbang dari Tokyo hingga ke Madrid bukan masalah besar.
“Tunanganku menghilang.”
Kerutan samar langsung muncul di dahi Rex. Bukan karena dia tidak mengenal siapa tunangan Michella, namun karena keyakinan dalam suara Michella saat mengatakan kalau tunangannya itu menghilang.
“Apa maksudmu?”
“Luke tidak pernah tidak menghubungiku lebih dari 24 jam. Bahkan dia nyaris menelponku setiap dua jam sekali.”
“Lalu?”
“Dia sudah tidak menghubungiku selama seminggu, Rex. Aku yakin terjadi sesuatu padanya.”ujar Michella cepat.
Rex paham. Michella mencemaskan Lucien. Namun ada yang harus dipastikannya dan jawaban Michella mempengaruhi segalanya. “Kau mencintainya?”
“Ini bukan masalah cinta. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada calon suamiku. Satu-satunya orang yang akan kunikahi dan mungkin mulai kusayangi.”
BINGO!
Jawaban Michella barusan membuat Rex mau tidak mau harus menemukan Lucien Bergmann bahkan kalau itu artinya Rex harus berhadapan langsung dengan mafia Rusia. Ya, pemimpin klan Saiga itu tahu apa yang mungkin terjadi pada Lucien. Namun dia tidak melakukan apapun karena Lucien memang tidak meminta bantuannya. Lagipula sesungguhnya Lucien Bergmann tidak menghilang. Dia hanya sedang tidak ingin menunjukkan kehadirannya pada siapapun. Siapapun.
“Kau ingin aku mencarinya?”
Michella menggeleng. “Cari dia, bawa dia pulang.”
“Bagaimana kalau dia sendiri yang ingin keberadaannya ditutupi?”
“Bukan alasan. Apapun yang dia lakukan bukan alasan untuk tidak menelponku selama seminggu.”
Rex menggeleng tidak percaya. Dia masih ingat jawaban Lucien saat mereka pertama kali bertemu. Pria itu tidak ingin tunangan dan keluarganya tahu apa yang dia lakukan disela-sela waktu luangnya menjalankan bisnis ayahnya. Tapi apa yang dia lakukan saat ini jelas mencurigakan. Keluarganya mungkin tidak terlalu cemas karena sudah terbiasa mendapati Lucien tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Namun tidak bagi Michella. Sebagai orang yang pernah hampir berada di jalan yang sama, Michella punya kecemasannya tersendiri jika ada orang-orang di sekitarnya yang mendadak hilang tanpa kabar.
“Gimme a time, princess. Terluka di pedalaman hutan Kolombia dan tanpa memiliki alat komunikasi membuat tunanganmu akan cukup sulit ditemukan.”
Kali ini dahi Michella yang berkerut dalam. “Apa maksud ucapanmu, Rex? Terluka? Di hutan Kolombia?”
“Tanyakan pada tunanganmu nanti setelah aku membawanya pulang. Sudah waktunya bagi kalian untuk saling mengetahui masa lalu. Pernikahan kalian hanya tinggal menunggu waktu.”bisik Rex sebelum berbalik dan menutup pintu suite hotel Michella. Meninggalkan wanita itu dengan ribuan pertanyaan dalam kepalanya.