Chapter 5

2690 Words
Kalau ada orang yang melihat Ethan, maka orang akan mengira kalau Ethan sudah tidak waras. Pria itu bicara pada ruangan kosong. Hanya ada pintu apartemen lain disana. Namun beberapa detik kemudian pintu itu mengayun terbuka. Erroll keluar dari apartemennya yang berada tepat di seberang apartemen Michella dan menghampiri Ethan dalam langkah pelan tapi pasti. “Apa kabar, E?”sapa Erroll tenang sambil mengulurkan tangan pada teman SMA-nya itu. Tanpa menjabat tangan Erroll, Ethan berbalik dan langsung masuk ke dalam apartemen Michella. “Seperti yang kau lihat.”gumam Ethan pelan. Secara keseluruhan, Ethan menyukai semua orang disekitar Michella. Hanya saja Ethan selalu membenci kenyataan kalau ketujuh_keenam saat ini_teman Michella selalu ada disisi adiknya itu alih-alih dirinya. Tapi Ethan tidak memungkiri kalau keberadaan mereka bisa melindungi adiknya. “Aku tidak tahu kalau kau masih seperti dulu, selalu ada dimanapun Michella berada seperti bayangan. Jadi katakan padaku, kenapa kau tidak mengikuti Michella tadi?” “Kau masih tidak menyukai kami ya?”tanya Erroll langsung pada kakak tertua Michella itu. “Sudah 14 tahun, E. Dan kau tetap tidak menyukai kami.” “Kalian aneh. Mengikuti Michel, menuruti perintahnya dengan kesetiaan penuh seolah dia adalah bos mafia yang selalu membutuhkan perlindungan setiap saat.” “Sama. Kalian juga aneh.” Ethan melotot pada Erroll karena mengatakan kalau dirinya dan Ethan adalah sama. “Dia adikku.” “Kau punya adik lain yang bisa kau lindungi.”tukas Erroll cepat. “Dan ngomong-ngomong, aku sahabatnya.” “Tidak ada sahabat yang bersikap seperti dirimu.” “Dan tidak ada kakak yang pilih kasih sepertimu.”balas Erroll tidak kalah tajam. Ethan mendengus kesal. Erroll adalah salah satu dari teman-teman Michella yang berani mendebatnya selain Sean dan Rex karena usia mereka. Mengingat Sean sudah meninggal dan Rex tidak pernah muncul sejak 5 tahun yang lalu, jadi hanya Erroll yang tersisa saat ini. Dan Ethan tahu kalau dia terus berdebat dengan laki-laki ini, ujung-ujungnya mereka akan berkelahi hingga pingsan. “Siapa yang bersama Michella sekarang?” “Favian.”sahut Erroll singkat. Sama seperti Ethan, Erroll juga tidak ingin terlibat dengan pria ini. Ethan mungkin lebih mudah diajak bekerja sama, namun pria ini tetap kembaran Nathan. Mereka berdua adalah petarung bebas sejak SMA terlepas dari apa profesi mereka saat ini. Hanya orang bodoh yang sengaja membuat mereka kesal. “Aku tidak leluasa mengikuti Michella saat ini. Ada orang yang menyelidikiku.” “Siapa?” Erroll menggeleng pelan. “Entahlah. Aku mencurigai seseorang, tapi aku tidak yakin.”jawab Erroll pelan. “Berhati-hatilah. Jangan sampai Michella tahu. Dia akan mencemaskanmu.”gumam Ethan pelan. “Bagaimana dengan Lucien?” Kali ini Erroll yang mendengus kesal. “Michella hanya melakukan penyelidikan standar untuknya. Hanya informasi biasa seperti fakta kalau laki-laki itu seorang cassanova, pewaris kekayaan  miliaran dollar, incaran para wanita, dan beberapa hal tidak penting lainnya. Michella melarang kami melakukan penyelidikan menyeluruh.” “Dia terlihat baik.” “Aku tidak mendebat hal itu.” “Tapi kau yakin kalau dia punya rahasia?” Erroll menatap Ethan tajam. “Tidak ada orang yang benar-benar bersih, E. Bahkan Michella sekalipun.” Ethan mengangguk setuju. “Aku tidak akan memintamu menyelidiki Lucien. Tapi jangan pernah melepaskan pengawasan padanya sampai dia terbukti bisa menjaga Michella.” “Tidak akan ada lagi saat dimana kami membiarkan Michella seorang diri bahkan saat dia memiliki orang yang bisa melindunginya. Setiap kali kami membiarkannya, Michella selalu dalam bahaya. Dua kali, E. Aku tidak ingin yang ketiga kali malah Michella yang menjadi korban.” “Kau tahu dengan pasti kalau semua ini sia-sia. Michella akan marah. Murka. Dan dia bisa mengusir kalian semua.” “Aku tidak peduli lagi. Bahkan kalau dia sendiri yang menghajarku, aku tetap akan ada disisinya.”ucap Erroll serius. Ethan tiba-tiba terbahak. Suara tawanya menggema di apartemen Michella, membuat Erroll mengernyit kesal. “Aneh bukan? Kau selalu bilang kalau aku pilih kasih terhadap adik-adikku. Tapi pada kenyataannya aku hanya memperhatikan siapa yang lebih butuh perhatian. Aku juga akan bersikap sama kalau Rachelle yang ada di posisi Michella. Namun bukan begitu faktanya, kan? Michella-lah yang selama ini selalu berada dalam bahaya, bukan Rachelle.” “Tapi tidak dengan Tora, bukan? Kalau pemuda itu yang berada dalam bahaya, aku berani bertaruh kalau kau dan Nate pasti akan langsung mendukung musuh. Tora tidak pernah jadi adik favorit bagi kalian berdua.” Senyum Ethan langsung menghilang. Ada jejak kebencian yang muncul di wajah tampan itu. “Aku lebih membencinya daripada kalian. Dia bukan adikku dan aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai adik. ”gumam Ethan pelan dan langsung menggeleng pelan, mengusir semua pikiran tentang Tora seolah hanya dengan memikirkannya, bisa mengotori otak. “Kesetiaan kalianlah yang membuatku bertanya-tanya. Aku tidak mempertanyakan apa yang Sean dan Aaron lakukan. Mereka mencintai adikku karena itu mereka melindungi dan menjaga Michel sepenuh hati. Kalian? Alasan kalau Michella sudah menyelamatkan nyawa kalian tidak akan pernah kupercayai. Apa kalian juga mencintai adikku? Rasanya tidak untuk Ty dan Liv. Mereka sepasang kekasih, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang bisa memisahkan mereka. Jadi katakan padaku, apa yang membuat kalian tetap setiap pada Michella selama 14 tahun? Bersedia melakukan apapun untuk adikku? 14 tahun bukan waktu yang singkat namun terlalu lama hanya untuk sekedar membalas budi.” “Itu bukan urusanmu.” “Itu urusanku selama ada kaitannya dengan Michella. Setidaknya aku harus memastikan kalau kalian tidak akan menyakiti Michella.” Erroll menatap Ethan tidak percaya. Wajahnya menunjukkan kalau dia berpikir Ethan sudah gila. “Kalau aku memang ingin menyakiti Michella, aku bisa melakukannya sejak dulu dan bukan berpura-pura selama 14 tahun. Itu bukan waktu yang singkat. Aku hanya tidak bisa melihatnya terluka.” “Itulah yang membuatku penasaran.” Erroll berdebat di dalam hatinya. Dia tidak harus mengatakan alasannya, namun dia tahu kalau Ethan juga bukan orang yang mudah menyerah. “Tidak ada yang sama. Aku dan yang lain... Kami punya alasan berbeda untuk tetap berada disisi Michella. Aku...”Erroll tediam. Seolah dia tidak yakin dengan alasannya selama ini memilih untuk berada disisi Michella. Ethan sendiri sudah menunggu saat-saat ini. Dia sudah bersabar untuk mencari tahu alasan kenapa Erroll, Favian, Alrhan, Livana Wadd, Martyas Kaindra, dan Rexnall begitu setia pada Michella. Mereka pasti memiliki alasan yang kuat untuk terus berada disisi Michella saat dunia menawarkan semua kesenangan pada mereka. Yang paling membuat Ethan semakin penasaran dengan alasan mereka adalah kenyataan kalau Erroll dan Rexnall adalah dua orang yang mungkin bisa membuat ribuan orang setia pada mereka dengan kekayaan yang mereka miliki alih-alih memberikan kesetiaan mereka sendiri pada seorang wanita sejak belasan tahun lalu. Erroll adalah programmer jenius yang diincar berbagai perusahaan software dunia yang bersedia menggajinya dengan jumlah yang akan membuat Matt Beckham seperti pengemis. Namun Erroll tidak menerima semua tawaran itu. Dia memilih menjadi progammer lepas dan menjual software-nya pada perusahaan mana saja yang menginginkan karyanya. Sedangkan Rexnall... Pria itu adalah orang pertama dengan silsilah paling elit yang pernah ditemukan Ethan. Seorang keluarga kerajaan dari dua negara? Siapa yang percaya? Apalagi mungkin saja kalau dia adalah pangeran yang hilang? Bayangkan seberapa besar kekuatan diplomatik yang dimilikinya dengan semua silsilah itu. “Kau pasti akan menertawakanku kalau kau mengetahuinya. Tapi... Aku mencintai Michella sejak pertama kali bertemu dengannya 14 tahun lalu.”ujar Erroll pelan kemudian berjalan menjauhi Ethan dan keluar dari apartemen Michella. Selama beberapa detik Ethan hanya melongo_secara harfiah_mendengar ucapan itu. Kata-kata yang baru saja diucapkan Erroll nyaris terasa seperti deretan simbol asing yang sulit diterjemahkan. Namun dalam setiap detik yang berlalu, ucapan Erroll berhasil dicernanya. Ethan membelalak tidak percaya. “Kau bercanda! Michella baru 12 tahun saat itu.” “Jangan khawatir. Aku juga tidak percaya dengan apa yang kurasakan.”gumam Erroll sepakat saat mendengar ucapan Ethan setelah dia keluar dari apartemen Michella. Bahkan sampai sekarang aku masih tidak mempercayainya.bisik Erroll dalam hati. Sementara itu Ethan langsung terduduk di sofa Michella. Apa yang diucapkan Erroll benar-benar membuatnya terkejut. Erroll adalah teman SMAnya, usia mereka sama. Erroll tahu kisah hidup Michella. Segalanya. Tidak. Bukan masalah usia. Sean bahkan lebih tua dariku dan dia juga mencintai Michella.tukas Ethan dalam hati. Ya. Bukan karena usia. Yang membuatku terkejut adalah kenyataan kalau Erroll tidak pernah berjuang untuk mendapatkan Michella bahkan setelah 14 tahun bersama adikku. Dia membiarkan Michella jatuh cinta pada pria lain. Membiarkan Michella tertawa dan disentuh pria lain. Membiarkan Michella menerima hati pria lain. Membiarkan Michella menggenggam hati pria lain. Bukan hanya sekali, namun dua kali. Dan selama itu dia tetap mencintai Michella dan berada disisi adikku. Dia benar-benar pria tangguh. Dengan terlihat bingung Ethan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelpon seseorang. Tiga kali deringan berlalu sebelum sebuah suara berat menyapa dari seberang sana. “Ini pagi, E.”geram suara diseberang terdengar berat dan serak. “Sorry. Tapi aku butuh menelponmu, Nate.” “Sialan, kau.  Jadi katakan apa yang membuatmu menelponku sepagi ini? Aku baru tidur jam 3, E. Ada operasi yang menguras semua kesabaranku.”ujar Nathan sambil berusaha untuk tidur kembali dan berharap kalau kakak kembarnya akan menyerah lalu berhenti berceloteh. “Kau tidak pernah mengeluh sebelumnya.” “Ada dokter baru yang ikut serta dan dia membuatku ingin membedahnya saat itu juga di tempat itu juga.”bisik Nathan serak. “Katakan, E, apa yang membuatmu menelponku jam segini?” “Erroll mencintai Michella, Nate.”ucap Ethan pelan yang langsung membuat kembarannya di belahan benua lain sana benar-benar terbangun dan sadar sepenuhnya. Keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Nathan memecah keheningan. “Kau yakin, E?” “Dia yang mengatakannya padaku, Nate.” Diseberang benua sana Nathan menyisir rambut dengan jemarinya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. “Dia tinggal bersama Michella?” “Disebelah apartemen Michella.” Hening. Ethan tahu kalau saat ini Nathan pasti ingin sekali menemui Erroll sekarang juga kalau bukan karena jarak ribuan mil yang memisahkan mereka. Sedetik kemudian Ethan mendengar suara benda pecah di seberang sana diiringi suara gaduh lainnya. “Nate? Are you okay?” Tetap tidak ada jawaban. Alih-alih jawaban, kali ini Ethan mendengar suara dinding ditinju. “Nathan!”teriak Ethan, berusaha membuat kembarannya itu bicara kembali dengannya. “Jangan berteriak padaku, Ethanial!”teriak Nathan yang langsung membuat Ethan menjauhkan ponsel dari telinganya. Ethan menyesal menelpon Nathan. Dia lupa kalau kembarannya itu menyukai adik mereka sendiri. Saat Ethan masih bisa membedakan kasih sayang antara saudara, sebaliknya dengan Nathan. Dia menyayangi Michella layaknya laki-laki pada perempuan. Namun hanya Ethan yang tahu. Mereka menyembunyikannya demi Michella dan demi kebaikan semua orang. Akan menjadi aib yang sangat besar kalau orang-orang tahu Nate mencintai adik kandungnya sendiri. “Tahan dirimu, Nathanial. Kau di rumah Mom saat ini. Kau pasti tidak ingin membuat Mom menanyaimu, bukan? Tahan, Nate, tahan. You can do it, brother. Erroll hanya mencintai Michella. Dia tidak terlihat ingin menjalin hubungan dengan adik kita.”ujar Ethan tenang, setidaknya dia berusaha agar tetap tenang saat kembarannya mengamuk seperti ini. Ethan masih sibuk menenangkan Nathan saat mendengar pintu apartemen terbuka. “Nate, sepertinya Michel sudah kembali.”gumam Ethan pelan. “Kau ingin bicara dengannya?” Ethan bisa mendengar adik kembarnya itu menarik napas dalam sebelum menghembuskannya dengan gusar, “Aku tidak yakin bisa bicara dengannya saat ini. Michel pasti tahu kalau aku sedang marah. Nanti saja aku menghubunginya begitu aku sudah tidak kesal.”gumam Nathan cepat. “Baiklah. Sampai jumpa, Nate.”ujar Ethan lalu memutuskan sambungan internasional itu. “Hai. Cepat sekali kalian pulang?”tanya Ethan sambil menghampiri pasangan yang baru saja kembali dari supermarket itu dengan kantong belanjaan di kedua tangan mereka. “Gedung ini memiliki supermarket sendiri, E. Tidak harus pergi jauh untuk membeli keperluan dapur. Jadi kau sudah memutuskan untuk memasak apa?”tanya Michella sambil berjalan langsung menuju dapur. Ethan mengangguk pelan lalu mengamati Lucien. Pria yang bersama adiknya itu hanya tersenyum mendengar jawaban Michella. Kelihatan sekali kalau mereka tadi pasti berdebat tentang akan belanja dimana dan Michella-lah yang memenangkan perdebatan itu. “Sudah. Tapi apa yang kau inginkan?”tanya Ethan yang ikut bergabung bersama adiknya di dapur. Michella meletakkan kantong belanjaannya di dapur dan berbalik untuk menatap Lucien. “Kau. Apa yang kau inginkan? E bisa memasak apa saja dan menjadikannya makanan.”tanya Michella cepat. Senyum di wajah Lucien semakin lebar bahkan dengan kata-kata Michella yang terdengar ketus. “Ah... Aku ingin sekali mencoba masakanmu, E. Tapi tadi aku mendapat panggilan dari kantor. Jadi aku rasa kali ini aku akan melewatkan kesempatan untuk menyicipi masakanmu.”sahut Lucien terdengar penuh sesal. “Aku pulang dulu, sweetheart. Kau bisa menelpon atau mengunjungiku di kantor kalau kau merindukanku.” “In your dream.”tukas Michella cepat. Lucien terbahak mendengar jawaban Michella, “Always, sweetheart, everynight.”sahut Lucien di sela tawanya dan kemudian melambaikan tangannya sebelum berjalan keluar dari apartemen Michella. “Dia baik.”ujar Ethan tiba-tiba. “Ha?” “Apa, sayang?” “Kau baru saja bilang apa, big bro?” “Lucien Bergmann itu pria baik.” Michella langsung mendengus pelan. “Kau bercanda, E. Aku mengenalmu. Kau tidak pernah secepat ini menyukai orang. Kau bahkan butuh berbulan-bulan untuk menerima kenyataan kalau aku memiliki kekasih. Dan kali ini aku memiliki tunangan, mustahil kau bisa menerimanya hanya dalam waktu kurang dari dua jam.”seru Michella pelan. “Apa kau salah makan sesuatu, Kak? Atau apa ada sesuatu yang sudah kau rencanakan? Mengikutinya lalu menggantungnya, maybe? Tell me, E.”tanya Michella kemudian, dan kali ini dia benar-benar terdengar cemas. “Orang bisa berubah, Michella.”gumam Ethan pelan. “Jadi, apa kau benar-benar memberi kebebasan padaku untuk menu sarapan hari ini?” “Yes, Cheff.”sahut Michella, “Pantry is yours.”sambung Michella sambil membungkuk dan mempersilakan Ethan melakukan keahliannya. “Kalau begitu, mari kita lihat apa saja yang kau beli.”gumam Ethan yang sudah membongkar isi kantong belanjaan Michella. Ethan menyerukan beberapa perintah pada Michella untuk membantunya. Dengan keahliannya sebagai Cheff selama 10 tahun, Ethan dengan sigap memasak apa yang ada di dalam pikirannya. 45 menit kemudian, sudah ada beberapa makanan menggugah selera tersaji di meja makan Michella. Ethan berhasil memasak Bacon and Egg Casserole, Cookie Bars, Golden Millet Porridge dan Cranberry Tea. “Oh, E, I love it! Looks delicious, E. I love you brother!”seru Michella penuh kerinduan dan langsung menghambur untuk duduk di kursi makan. “Hm... The smell tempted me, E. Berat badanku akan melonjak kalau kau lama disini, E. Bolehkah aku mencobanya?”tanya Michella sambil mencolek Golden Millet Porridge yang didominasi oleh sayuran itu. Ethan terkekeh melihat tingkah adiknya. “Per favore, signora.”(Silakan, Nona) “Jangan sombong. Hanya karena aku belum pernah mengunjungi Italia dan belajar bahasanya, bukan berarti kau bisa menyombongkan kemampuanmu berbahasa asing, Sir.”tegur Michella namun tetap melanjutkan misinya memindahkan makanan-makanan itu dari piring saji ke piringnya sendiri. Ethan kembali terkekeh pelan. Michella menguasai banyak bahasa, tapi bahasa Italia bukan salah satunya. Dan itu cukup membuat heran mengingat adiknya itu bahkan bisa berbahasa Yunani yang tulisannya malah berupa simbol-simbol aneh. *** Lucien benar-benar membuktikan ucapannya. Begitu menyelesaikan semua pekerjaan di kantornya, Lucien mengemudikan BMW SUV-nya ke kediaman Alejandra. Lucien bersyukur saat mendapati mobil ibunya ada dirumah, itu tandanya Alejandra tidak berada di pusat pelayanan sosial miliknya yang menangani anak-anak muda yang kabur dari rumah dan tidak memiliki tempat tinggal. Memberikan perlindungan sementara pada mereka sampai mereka menemukan jati diri mereka. Begitu selesai memarkirkan mobilnya disebelah Roll-Royce milik ibunya, Lucien langsung berderap memasuki rumah yang sudah dibukakan oleh pelayan keluarga Bergmann. “Dimana Mom?” “Nyonya sedang menikmati teh di taman belakang, Tuan.”sahut salah satu pelayan wanita yang tadi membukakan pintu untuk Lucien. Tanpa mengucapkan apapun Lucien langsung menuju ke taman belakang, lokasi favorit ibunya untuk menghabiskan sore sambil menikmati pemandangan danau buatan di tanah pribadi keluarga Bergmann sebelum Marcus pulang. “Hai, Mom.”sapa Lucien saat memasuki taman belakang dan mendapati ibunya duduk memunggunginya. Alejandra berbalik, cukup terkejut melihat putra tunggalnya berada di rumah tanpa diminta. “Lucien, sayang. Apa yang membawamu kesini, Nak?”tanya Alejandra sambil menepuk ringan tempat kosong di kursi kayu panjang di sebelahnya. “Ada hal yang ingin kutanyakan.” “Aku sudah menduganya. Kau tidak akan pulang kalau tidak menginginkan sesuatu. Jadi katakan padaku apa yang ingin kau tanyakan?”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD