Chapter 4

3703 Words
Hening. Tidak ada yang bicara diantara keduanya. “Kau bercanda. Aku minta maaf kalau aku hanya bisa menjadi pengamat disini dan melakukan segalanya dari balik layar tanpa membantumu disana. Tapi kau tidak bisa bercanda seperti itu padaku. Pertunangan apalagi pernikahan itu masalah serius, Er! Dia tidak mungkin melakukannya.”tegur Josh serius. “Kalau saja aku juga bisa menganggap ini hanya candaan, aku pasti tidak akan sekesal ini.”gumam Erroll pelan. Sekali lagi keheningan merebak diantara mereka. Joe mulai sadar kalau nada bicara Erroll terdengar dingin yang artinya, apapun yang sedang Erroll bicarakan saat ini, itu adalah masalah serius. “Kau serius?! Michella bertunangan? Kau yakin? Dengan siapa? Kapan?”sembur Josh tanpa jeda sedikitpun. “Dia baru bertunangan kemarin. Resminya. Tunangannya Lucien Bergmann, pewaris kerajaan bisnis BB Group.” Kembali hening. Erroll tahu kalau saat ini Josh sedang menggali pengetahuannya apakah dia mengenal BB Group atau tidak. Sebagai seorang pengusaha, Erroll yakin kalau pria yang sedang bicara dengannya via telepon ini mengenal perusahaan yang tadi disebutkannya itu. “BB Group sedang menjalin kesepakatan jangka panjang dengan Johnson Group, Er. Mereka pasti akan bertemu setelah 7 tahun Michella menghindari Indonesia. Ironis sekali Princess terjebak dalam situasi seperti ini.”bisik Josh pelan. Informasi ini bukan hal baru bagi Erroll. Sebagai progammer yang juga terbiasa memintas berbagai data, dia selalu tahu apapun informasi yang berkaitan tentang teman-temannya. “Aku tahu. Tapi kita akan mencegahnya kalau segalanya belum membaik. Mereka tidak boleh bertemu kalau dia belum menyadari apapun.” “Ya. Kita harus mencegahnya. Aku tidak ingin melihat Michel seperti itu lagi.” Erroll kembali mengangguk setuju. “Aku juga. Tidak untuk ketiga kalinya.” Selama beberapa detik Josh terdiam. Erroll memang jauh lebih lama mengenal Michella dan itu membuat Erroll lebih banyak memiliki kenangan dengan Michella, termasuk saat-saat terburuk wanita itu. “Aku akan memberikan laporan secara berkala, Er. Hanya kau dan Favian yang bisa diandalkan saat ini, Rex kembali menghilang. Sudah satu tahun aku tidak menerima kabar darinya dan sudah 5 tahun dia tidak pernah muncul dihadapan salah satu dari kita. Sepertinya hanya dia yang benar-benar tidak ingin meninggalkan dunianya.”gumam Josh pelan. “Biarkan saja. Lagipula disanalah Rex dilahirkan, Josh. King Saiga sendiri yang memastikan kalau Rex qualified untuk menggantikannya sebelum dia meninggal. Michel sudah membebaskan kita. Pilihan kitalah untuk tetap bersamanya. Walau aku tidak memungkiri kalau aku akan membenci siapapun yang mengkhianati Michel saat ini.” “Ya.”bisik Josh pelan. “Aku harus segera ikut rapat. Aku akan menelpon lagi nanti. Tolong sampaikan salamku untuk Michel.” “Pasti.”bisik Erroll sebelum memutuskan sambungan teleponnya dengan Josherique Bisley, adik kandung Sean Bisley. Pria yang bukan bagian dari mereka bertujuh, namun memiliki posisi penting seperti mereka dalam hidup Michella. *** Lucien memarkirkan mobilnya di tempat kosong di pinggir jalan. Sudah seminggu dia bertunangan secara resmi dengan Michella dan beberapa kali makan siang bersama wanita itu. Namun Lucien masih tetap penasaran dengan Michella. Ada yang aneh dari wanita yang menjadi tunangannya itu. Michella mengatakan kalau dia tidak suka disentuh orang asing, dan Lucien memahami hal itu. Yang tidak dimengertinya adalah reaksi Michella terhadap segala jenis sentuhan. Untuk orang yang memiliki trauma dengan sentuhan orang lain, reaksi Michella sangat aneh. Wanita itu tidak menangis atau shock, gejala yang biasanya dikeluarkan oleh orang-orang yang memiliki trauma. Alih-alih kedua hal itu, Michella malah terlihat waspada seolah siap menyerang. Reaksi yang juga dimiliki oleh Lucien kalau ada orang asing mencurigakan yang tiba-tiba menyentuhnya. Michella jelas tidak terlihat seperti orang yang pernah berhubungan dengan kejahatan atau malah sang penjahat sendiri. Wanita itu seperti wanita dari keluarga kaya lainnya yang terlihat keras kepala dan rapuh disaat bersamaan. Karakter yang selalu muncul dari dalam diri seorang wanita kalau seumur hidupnya terlalu dijaga. Dan selama beberapa hari terakhir Lucien tidak bisa bertemu dengan wanita itu karena dia harus pergi ke Rio mengurus perkebunan kopi miliknya disana. Semua kebingungan itu membuat Lucien memutuskan untuk menyegarkan pikirannya dengan mendatangi klub yang dulu sering di datanginya saat dia butuh hiburan dan melepaskan hasratnya sebelum Alejandra memberikan kejutan besar dalam hidupnya dengan mengatakan kalau Lucien sudah dijodohkan. Malam ini Lucien hanya butuh duduk sendirian dan minum. Walau bisa dipastikan kalau tempat itu bukan tempat untuk mencari ketenangan. Hingar bingar suara musik langsung menerjang Lucien begitu dia membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam gedung dengan ruangan remang dihiasi lampu-lampu berkelap-kelip itu. Lucien mengedarkan pandangannya sejenak dan memutuskan untuk duduk di bar saja alih-alih private area seperti biasanya. Malam ini Lucien hanya berniat minum, hanya minum tanpa wanita. “One Brave Bull on the rocks.”ujar Lucien setengah berteriak pada bartender di balik meja, berusaha menyaingi kerasnya musik yang terdengar disana. Lucien tidak berniat untuk mabuk malam ini, karena itu dia hanya memesan cocktail ringan dengan campuran tequilla itu. Lucien yakin kalau bartender itu mengambil waktu lebih lama daripada biasanya untuk membuat minuman Lucien karena selama menunggu minumannya, seorang wanita berambut merah tembaga dengan dress ketat mini membalut tubuhnya sempat menghampiri Lucien. “Kau sendirian, tampan?”sapa wanita itu dengan suara yang sengaja dibuat agar terdengar seksi. “Ya.”sahut Lucien malas. Semenarik apapun wanita ini, seseksi apapun, malam ini Lucien sedang tidak dalam kondisi ingin beramah tamah dengan orang asing atau ingin berhubungan seks dengan orang asing. Satu-satunya wanita yang menarik perhatiannya, mampu membuatnya b*******h malah tidak bisa disentuhnya. “Ingin kutemani?”tanya wanita itu manja sambil menggesekkan dadanya di lengan Lucien. Lucien langsung menatap wanita itu dengan tatapan mematikan yang membuat wanita itu mundur perlahan tanpa kata dan kemudian memutuskan meninggalkan Lucien seorang diri. Aura permusuhan yang sengaja dikeluarkan Lucien membuat tidak seorangpun berani mendekatinya. Lucien menunggu seseorang, dan selain orang yang ditunggunya itu, Lucien tidak sudi berbagi waktunya dengan orang asing. Di dalam hatinya Lucien bersumpah dia akan memecat bartender ini. Lucu memang, tapi klub ini adalah salah satu properti miliknya pribadi walau tidak banyak orang yang tahu kenyataan itu. Tepat saat gelas pendek berisi cairan hitam dengan beberapa butir es disodorkan padanya, Lucien merasakan tepukan ringan di bahunya. Seketika itu juga tubuh Lucien menegang dengan waspada. Tiba-tiba saja Lucien mengutuk kecerobohannya. Lucien tidak pernah bepergian seorang diri tanpa mempersenjatai dirinya bahkan walau hanya dengan tali tipis yang terbuat dari titanium murni. Tidak sekalipun. Namun malam ini adalah pengecualian. Lucien benar-benar tidak terlindungi. Fakta kalau keamanan klub mengenalinya sebagai owner tidak mengurangi kewaspadaan Lucien. “Lucien Bergmann. Apa yang membawamu kembali kesini, teman? Bukankah kau sudah bertunangan? Apa dia tidak cantik sehingga seorang Lucien memutuskan untuk mencari kesenangan lain?” Lucien berbalik dan mendapati seorang pria sebaya dirinya sudah setengah mabuk dengan lengan memeluk seorang wanita berpakaian seksi menempel erat di tubuh Erick McMara, teman kuliahnya. Salah satu playboy dan bujangan yang diincar di penjuru Chicago. Ketegangan Lucien perlahan menghilang dan digantikan seulas senyum tipis saat melihat temannya itu. Sesaat Lucien tersenyum geli kalau mengingat apa yang dulu dia lakukan pada Erick setiap kali terjebak dalam urusan Alejandra yang membuatnya harus berhadapan dengan ibu-ibu pemangsa anak laki-laki untuk putri mereka. Saat itu Lucien selalu membawa Erick dan mengumpankan temannya itu sehingga perhatian tidak tertuju pada Lucien. “Kau salah, Erick. Tunanganku cantik dan penuh kejutan. Dia terlalu berharga untuk memuaskan hasrat sesaatku. Dan malam ini aku hanya ingin minum. Kalau tidak kau pasti tidak akan melihatku seorang diri disini.”sahut Lucien pelan, mengingat-ingat kalau memang pertunangan mereka hanya dihadiri relasi orangtuanya dan tidak satupun ada relasi Lucien saat pesta pertunangan itu. Wajar rasanya kalau teman-teman Lucien tidak mengenal siapa tunangannya. Erick berusaha mencerna ucapan Lucien dibawah pengaruh alkohol yang sudah dikonsumsinya selama beberapa saat yang lalu. Erick merasa kalau ucapan Lucien hanyalah kabut asap yang langsung menghilang begitu tertiup angin. Tapi perlahan ucapan Lucien berhasil menembus pengaruh minuman itu. Erick terbahak setelah berhasil mencerna ucapan temannya itu. Walaupun Erick juga termasuk golongan pria yang dilirik wanita dua kali, tapi temannya ini memiliki sesuatu yang berbeda. Lucien memiliki potongan wajah tampan layaknya model dengan rambut dark brownnya yang lebih sering terlihat berantakan. Namun ada kekerasan disana yang akan muncul kalau dia benar-benar terusik. Tubuh Lucien jangkung seperti dirinya, khas peranakan Amerika. Saat mereka kuliah, mereka selalu menjadi incaran para wanita. Namun Erick tidak bisa memungkiri kalau kebanyakan wanita yang mengejar mereka sebenarnya mengincar Lucien. Sejak dulu pembawaan Lucien sudah menjadi magnet bagi para wanita. Dan seperti yang Lucien bilang, kalau dia ingin, wanita akan langsung menempel disisinya hanya dengan mengedipkan mata. Erick iri. Tidak ada pria yang tidak iri dengan apa yang Lucien miliki. Kaya raya, tampan, berkuasa, dan digilai para wanita yang masih bernapas. Namun hanya orang bodoh atau gila yang ingin mencari masalah dengan pria itu dan Erick bukan orang bodoh, karena itu dia memilih untuk berteman dengan Lucien Bergman. “Kau benar-benar percaya diri, bung. Ngomong-ngomong, minggu depan perusahaanku akan mengadakan lelang. Kau harus datang dengan tunanganmu. Aku dengar dia seorang dokter, bukan? Nah, kebetulan hasil lelang itu akan diserahkan untuk pembangunan sebuah rumah sakit. Sekalian aku ingin melihat wanita yang berhasil membuat seorang Lucien menjadi manusia suci.”ujar Erick sambil mengelus bahu telanjang teman kencannya dan semakin turun menuju p******a besar yang hampir tidak tertutup dengan gaun mini merah yang dikenakan wanita itu. Lucien menyesap minumannya dan menatap Erick kembali. “Akan kuusahakan. Michel sangat sibuk. Dan dia tidak suka kalau jadwalnya diubah secara mendadak.”gumam Lucien setelah pengalamannya selama seminggu bersama Michella. Selama seminggu itu juga Lucien sadar kalau sebagai spesialis anak, Michella Reynard memiliki terlalu banyak pasien dan terlalu sering ikut turun tangan dalam operasi pasiennya. Tunangannya memang super sibuk. “Jangan membuat alasan. Kalau orang sepertimu saja masih bisa menyempatkan diri membuang-buang waktu di tempat seperti ini, maka tidak ada orang yang lebih sibuk darimu.”tukas Erick cepat lalu meninggalkan Lucien begitu saja. Baru beberapa menit Erick pergi, seorang pria lain langsung duduk di sebelah Lucien sambil menyerahkan sebuah flashdisk mungil. “Ini yang kau minta, Luke.”ujar pria itu lalu melambaikan tangannya memanggil bartender. “One black russian.”ujarnya cepat lalu kembali memperhatikan Lucien. Lucien baru saja hendak menyerang orang itu dengan cara yang sama dengan caranya mengusir w*************a tadi, namun suara itu sangat dikenalnya. Dan tanpa perlu memastikan siapa yang datang, Lucien mengambil flashdisk itu dan mengamatinya sejenak sebelum memasukkannya ke dalam saku jaket kulit yang dikenakannya. “Aku akan memeriksanya nanti. Sekarang katakan padaku apa didalamnya ada ‘sesuatu’ tentang Erroll, Sam?”tanya Lucien tanpa mengalihkan tatapannya dari gelasnya yang kini hanya berisi setengah. “Erroll Stechkin, progammer lepas seperti yang kau perkirakan. Diincar oleh banyak perusahaan software besar termasuk Microsoft namun dia menolak semuanya dan berdiri sendiri. Hanya ada satu Erroll yang bisa dikaitkan dengan apa yang kau minta. Tapi aku tidak menemukan hubungannya dengan wanitamu, Luke. Dia hanya beberapa kali datang ke kafe yang biasa dikunjungi wanitamu. Mereka tidak pernah bertemu langsung, tidak ada percakapan, dan selalu pergi dengan mobil yang berbeda ke tujuan yang berbeda. Aku tidak bisa menemukan hubungan apapun antara Erroll Stechkin dan Michella Reynard. Bahkan mereka memiliki tempat tinggal yang berbeda. Segalanya yang berhubungan dengan mereka berdua selalu sebuah kebetulan belaka.”jelas pria itu dan kemudian menyambung dengan datar, “Ya, setidaknya sampai hari ini mereka tidak pernah terlihat bersama.” Tidak mungkin. Aku yakin kalau ada sesuatu antara mereka. Michella sering kali menerima panggilan dari Erroll. Dan hanya ada satu Erroll yang berada disekitar Michella walau mereka tidak pernah bertatapan muka secara langsung. Apa aku hanya terlalu berlebihan kali ini?bisik Lucien dalam hati. “Thank you, Sam. You’re the best, guys. I’ll call you later if I need something. I’ll pay for this.”ujar Lucien datar lalu menyesap minumannya sampai habis lalu memberikan credit card  miliknya pada bartender. Lucien sama sekali tidak sadar kalau beberapa tempat duduk darinya, seseorang mengamati semua gerakan Lucien dan mendengar beberapa pembicaraannya. Orang itu hanya tersenyum puas melihat apa yang terjadi. *** Michella mengambil cuti tiga hari untuk menenangkan pikirannya dan juga untuk beristirahat. Sudah lama dia tidak menikmati liburan tanpa gangguan seperti ini. Michella memutuskan untuk mendekam di dalam rumahnya seorang diri sambil menonton film yang belum sempat dilihatnya. Karena itu denting bel adalah hal terakhir yang diinginkannya saat ini. Dengan langkah terpaksa Michella berjalan menuju pintu apartemennya dan langsung membuka pintu begitu saja tanpa memastikan siapa tamunya. Michella sama sekali tidak menduga kalau Lucien-lah yang muncul dihadapannya saat ini, bukan Erroll, Favian, atau saudaranya, tapi Lucien. Pria yang seminggu lalu menjadi tunangannya, dan suka muncul tiba-tiba di setiap waktu makan siang sebelum menculik Michella untuk menemaninya makan. “Ada apa?”tanya Michella jelas merasa acaranya terganggu karena kehadiran Lucien secara mendadak pada jam 11 siang di apartemennya. “Kau tidak mengundangku masuk?”tanya Lucien sambil tersenyum. Senyuman yang kini diakui Michella memang mempesona. Wajar saja kalau Erroll pernah menyebutnya sebagai ‘Dewa Seks’ atau alasan kenapa para wanita memuja sosok di hadapannya Michella saat ini. Mau tidak mau kini Michella mengakui kelebihan pria itu. Struktur tulang wajahnya yang sempurna, rahang keras dengan hidung mancung. Tulang pipi tinggi_yang kalau sang pemilik tersenyum memperjelas garis rahangnya. Rambut dark brown ikal milik Lucien nyaris tidak pernah rapi namun diyakini Michella mengundang siapa saja untuk membenamkan jarinya disana_diantara kehalusan helaian rambut pria itu. Bibirnya yang sensual menambah daya tarik Lucien. Diantara semua itu, sepasang bola mata indah berwarna paduan antara hijau lumut dan kelabu lah yang paling menarik perhatian Michella. Seberapapun Lucien tersenyum, senyum itu tidak pernah sampai di matanya. Mata itu selalu terlihat dalam dan dingin. Seolah ada yang meletakkan gunung es didalamnya. Setidaknya itu yang Michella simpulkan selama seminggu bertunangan dengan pria itu. “Kau terpesona pada ketampananku, sweetheart?”tanya Lucien yang berhasil membuyarkan pikiran Michella tentang apa saja yang dimiliki pria ini sehingga para wanita sampai berlutut memohon perhatiannya. “Pasti itu yang kau inginkan.”desis Michella berusaha menutupi apa yang terjadi dan disambut dengan gelak tawa renyah suara Lucien. Alejandra pasti repot mengusir wanita yang mengantri di depan pintu rumah mereka untuk menemui Lucien atau wanita-wanita yang mengaku hamil demi menjadi bagian dari klan Bergmann-Bayard.pikir Michella sambil menyingkir dan membiarkan Lucien masuk. Begitu Lucien masuk, Michella langsung menutup kembali pintu apartemennya. Namun baru beberapa langkah Michella menjauh dari pintu, bel kembali berdering. Michella menyipitkan matanya menatap Lucien. “Kau membawa orang lain?”tanya Michella cepat. Pria itu menggeleng otomatis. “Tidak. Untuk apa? Aku kan ingin menghabiskan sisa hari ini bersama tunanganku setelah aku meninggalkanmu ke selatan. Kenapa aku harus membawa pengganggu?”tanya Lucien balik. “Kau tidak mengundang seseorang?” “Aku ingin libur, untuk apa aku mengundang orang lain yang jelas-jelas bisa merusak liburanku?”tanya Michella tanpa memperdulikan sindiran dalam suaranya. “Yah, aku tidak masalah mengingat aku datang bukan untuk mengganggu.”ucap Lucien penuh percaya diri, mengabaikan sindiran dalam ucapan Michella. Dengan geram Michella kembali berbalik dan menyentak pintunya dengan kuat. Tapi wajah yang muncul di balik pintu itu langsung membuat kemarahan Michella menguap seketika. Tanpa menunggu apapun, Michella langsung memeluk pria tampan berambut pirang bermata hijau cerah yang menjadi tamunya sementara pria yang dipeluk Michella hanya bisa terkekeh geli dan membalas pelukan Michella dengan erat. Sesaat mereka sama sekali tidak memperdulikan kalau saat ini mereka terlihat seperti kekasih yang saling mencintai dan baru bertemu setelah bertahun-tahun. “Kau kesini!”seru Michella saat melepaskan pelukannya namun membiarkan lengan pria itu melingkar di pinggangnya. “Tentu saja. Tidak mungkin aku tidak menemuimu saat aku disini. Aku merindukanmu, sweetheart.”ucap pria itu lalu mendaratkan kecupan sayang di dahi Michella. “Aku juga. Aku juga merindukanmu.”bisik Michella lembut penuh kasih sayang. “Eghem!” Lucien akhirnya memutuskan untuk mengakhiri adegan mesra itu dengan berdeham keras. Dia tidak suka tunangannya, wanita yang belakangan ini mulai disukainya hingga membuat Lucien mengabaikan wanita-wanita lain berada dalam pelukan laki-laki yang tidak dikenalnya. Apalagi laki-laki yang memeluk tunangannya itu menguarkan aura kepemilikan yang sangat kental seolah menantang siapapun yang melihat mereka untuk melawannya. Dan disinilah Lucien dengan tantangan yang sama untuk pria itu. Dua pria dominan bertemu. Lucien butuh menjaga apa yang menjadi wilayahnya. “Oh, astaga. Aku lupa.”seru Michella cepat dan langsung membebaskan diri dari pelukan pria asing itu. “Ethan, ini Lucien Bergmann, tunanganku. Dan Luke, ini Ethan Alkins.” Pria bernama Ethan itu tanpa segan menatap Lucien dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dahi Ethan berkerut berusaha memikirkan sesuatu. Sama seperti Lucien yang merasakan aura kepemilikan yang Ethan keluarkan, maka Ethan juga merasakan aura yang sama dari Lucien. “Bergmann kau bilang, sweetheart? Apa dia ada hubungannya dengan Alejandra?” Lucien cukup terkejut saat mendengar nama ibunya meluncur dari mulut pria asing itu. “Alejandra Bergmann adalah ibuku.”tukas Lucien cepat sebelum Michella sempat mengucapkan apapun. Sekali lagi Ethan mengamati Lucien dengan seksama dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Michella. “Dia baik padamu?” Michella terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Ya, Ethan. Dia cukup baik.”gumam Michella pelan. Ethan mengangguk pelan. “Baguslah. Itu artinya dia memang anak Alejandra.”gumamnya datar dan kemudian_akhirnya memutuskan_mengulurkan tangan pada Lucien. “Aku Ethan Alkins, kakak pertama Michella.” APA?!teriak Lucien dalam hati dan bersyukur karena melakukannya hanya di dalam hati dan tetap memasang wajah tenang saat membalas uluran tangan Ethan. Kali ini dia benar-benar terkejut. Kakak? Sam tidak pernah mencantumkan informasi yang menyatakan kalau Michella memiliki saudara lain selain Rachelle dan Altora Reynard. Lagipula pria ini tidak mungkin kakak ipar Michella karena Rachelle belum menikah. Menyadari kebingungan Lucien, Ethan menatap Michella penuh selidik. “Kau pasti belum mengatakannya, bukan?”tembak Ethan yang langsung dijawab Michella dengan anggukan ringan. “Itu bukan hal yang bisa diselipkan begitu saja, E. Lagipula kalau nanti kami menikah ada banyak waktu untuk membicarakannya.”sahut Michella ringan lalu menutup pintu di belakangnya. “Kau sendirian, E?”tanya Michella kemudian sambil berjalan ke ruang duduk diikuti oleh Ethan. “Nate sedang sibuk. Dia titip salam untukmu walau dia sempat membatalkan tiket penerbanganku kesini dua hari yang lalu karena iri. Kau tahu sendiri kalau penerbangan ke Chicago itu hampir selalu penuh.”jawab Ethan cepat. “Bagaimana kabar orangtuamu, Luke?” Lucien terkesiap. Kenapa dia juga memanggilku Luke?bisik Lucien dalam hati namun tidak mengucapkannya dengan lantang. “Mereka baik.”sahut Lucien singkat. Aku harus menanyakan ini pada Mom nanti. Bagaimana mereka bisa mengenal Mom.catat Lucien dalam hati. “Ngomong-ngomong, aku baru sadar. Apa kalian tidak bekerja? Sudah jam berapa ini.”tanya Ethan sambil menghempaskan tubuh besarnya di sofa panjang milik Michella sementara Lucien mengambil sofa tunggal di seberang Ethan. Michella duduk di sebelah Ethan sambil meraih remote tv dan melanjutkan film-nya. “Aku cuti, E. Kepala Bagian memberikanku izin. Aku butuh ketenangan setelah beban kerjaku beberapa bulan ini.”gumam Michella pelan lalu menoleh ke arah Lucien, “Tapi entah dengan Luke.” “Aku kosong saat ini. Janji temuku baru ada nanti jam 2. Karena itu aku ingin menghabiskan waktu disini bersama tunanganku.”sahut Lucien pelan sambil mengamati Ethan dengan seksama tanpa terlalu terlihat. Ethan Alkins.catat Lucien dalam hati. Tidak ada yang spesifik dari kemiripan mereka. Hanya sama-sama bermata hijau cerah. Warna rambut mereka berbeda. Sam harus bekerja ekstra untuk menemukan jawaban atas pertanyaanku kali ini. Sam belum pernah dan tidak pernah melewatkan informasi sekecil apapun. Jadi ini benar-benar masalah serius dalam kinerja Sam. “Jadi, apa kau sudah mengatakan masalah ini pada Mom dan Dad, sayang?”tanya Ethan sambil memperhatikan sekeliling apartemen adiknya itu. Tidak banyak yang berubah dari apartemen ini sejak terakhir kali Ethan datang berkunjung. Michella menggeleng pelan. “Aku belum mengatakannya pada Mom, Dad, ataupun Gerrard, E. Ini keputusanku.” “Aku tahu. Tapi mereka tetap berhak mengetahuinya. Kau tidak mungkin merahasiakan ini dan kemudian pulang dengan membawa suamimu begitu saja berkunjung ke rumah, bukan?”tukas Ethan cepat. “Ngomong-ngomong apa kau ada bahan makanan? Aku ingin masak sesuatu untukmu.” “Aku belum belanja, E. Bagaimana kalau kita belanja? Aku juga rindu masakanmu.” Ethan melirik Lucien sebentar dan kemudian menggeleng. “Kau pergi dengan Luke, Michel. Aku akan menunggu di rumah.” Kali ini gantian Michella yang terlihat berpikir sebentar. “Kau tidak masalah kalau mengantarku pergi belanja?”tanya Michella sambil menatap Lucien penuh pertimbangan. “Itulah untungnya jadi bos, sweetheart. Aku bisa kembali ke kantor kapan saja.”sahut Lucien ringan, bersyukur dengan apa yang Ethan lakukan untuk memberikan mereka waktu berduaan. “Ayo kita pergi.” “Baiklah, tunggu sebentar aku ganti pakaian.”ujar Michella yang langsung bangkit dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya menjadi lebih sopan. “Kau menyukai adikku?”tanya Ethan langsung begitu pintu kamar Michella tertutup. Ethan sangat memahami Michella sehingga memutuskan untuk menanyakan hal ini setelah Michella menjauh dari mereka. “Apa menurutmu ada yang tidak menyukai wanita penuh kejutan seperti dia?”tanya Lucien balik, berusaha menemukan apakah ada maksud lain dibalik pertanyaan simpel yang Ethan ajukan itu. Ethan langsung terbahak mendengar pertanyaan Lucien. Jika melihat sikap Michella pada Lucien, maka Ethan berani bertaruh kalau Michella tidak berpura-pura menjadi wanita yang baik, sopan, dan membosankan seperti yang 7 tahun ini dilakukan adiknya namun menjadi wanita ketus, mudah marah, dan mempesona seperti sifat bawaannya. Dan kalau laki-laki ini menyukai sisi pemarah Michella, dia bisa diperhitungkan.pikir Ethan serius. “Aku cukup menyukaimu. Tapi jangan senang dulu. Masih ada banyak orang yang harus kau dapatkan persetujuannya kalau ingin menikah dengan Michella. Dan rasa sukaku bukan berarti aku memberikanmu restu untuk berhubungan dengan Michella.” “Tidak perlu.”tukas Michella yang sudah mengganti pakaiannya menjadi ankle zip skinny jeans abu-abu dengan atasan striped Top putih bergaris hitam vertikal. “Aku yang akan menikah denganmu. Kalau kau menunggu persetujuan mereka, akan membutuhkan waktu lama. Apalagi kalau kau meminta persetujuan Nate. Bisa-bisa aku tidak akan pernah menikah sampai kapanpun.”gerutu Michella. Lucien langsung melirik Ethan. Dan ternyata Ethan juga melirik Lucien. Mereka hanya melemparkan pandangan tidak peduli atas ucapan Michella. “Kami pergi dulu.”pamit Lucien sambil menggandeng Michella keluar dari apartemennya meninggalkan Ethan seorang diri. Dan cukup senang karena Michella tidak langsung melepaskan diri darinya. Ethan hanya berdiri di depan pintu selama beberapa saat sampai Michella dan Lucien masuk ke dalam lift. Ethan ingin memastikan sesuatu. Rasanya aneh melihat adiknya tinggal di apartemen seperti ini tanpa kehadiran orang-orang yang selalu membayanginya. “Kau disitu, Erroll?”tanya Ethan pada ruang kosong di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD