Kali ini Lucien yang menegang saat Michella menoleh ke kursi penumpang di belakang, namun dengan cepat ditepisnya keraguan itu. Michella tidak mungkin dapat melihat bekas noda darah Phillipe yang ada disana. Lagipula darah Phillipe lebih banyak terserap di jas Lucien dan hanya sedikit noda darah di jok kulit hitam mobilnya. Lucien sudah mengelap noda itu, dan kalaupun ada, Michella tidak mungkin bisa melihatnya karena jok kulitnya berwarna hitam. Sesaat kemudian Michella kembali duduk menghadap ke depan.
“Tidak ada. Aku hanya merasakan sesuatu, namun aku tidak yakin.”gumam Michella pelan. “Terima kasih sudah mau mengantarku. Aku rasa Alejandra yang memaksamu, bukan?”tanya Michella setelah menyadari sesuatu. Lucien Bergmann tidak tertarik bertunangan dengannya beberapa hari lalu. Michella tahu kalau Lucien terpaksa karena ini keinginan ibunya. Namun sepertinya ada yang berubah dari pria itu.
“Tidak ada kata terpaksa untuk wanita secantik dirimu.”bisik Lucien lembut lalu menyusurkan jemarinya ke wajah Michella. Menyadari kalau untuk kesekian kalinya tubuh Michella menegang karena sentuhannya. “Kau cantik. Dan aku beruntung memiliki tunangan seperti dirimu.”ujar Lucien kemudian yang langsung melajukan mobilnya keluar dari kediaman keluarga Bergmann.
Michella berusaha menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Lucien sejauh yang diizinkan sisa tempat di dalam mobil itu. “Aku tahu kalau kemungkinan besar akhirnya kita akan menikah, Luke. Namun aku harus menjelaskan sesuatu padamu. Aku tidak suka disentuh oleh orang asing. Kau beruntung karena sejak tadi kita dikelilingi banyak orang dan sentuhanmu barusan adalah hal terakhir yang kuizinkan. Aku tidak akan menolerir sentuhan lainnya saat kita hanya berdua. Ingat itu.”ujar Michella datar yang berhasil membuat Lucien terkejut.
Tidak ada yang bicara kemudian. Lucien sendiri memilih untuk diam dan mencerna ucapan Michella. Beberapa saat kemudian Lucien berhasil menyimpulkan kalau Michella memiliki trauma di masa lalunya yang membuatnya tidak suka disentuh oleh orang asing. Lucien berjanji dalam hati kalau dia akan membuat Michella terbiasa dengan kehadirannya dan juga sentuhannya. Lucien ingin pernikahannya berjalan normal kalau dia memang akan menikah dengan Michella. Dan itu artinya Lucien ingin pernikahan yang lengkap dengan hubungan seks. Bukan pernikahan hanya karena kesepakatan semata atas perjodohan yang dilakukan ibunya.
“Aku mengerti. Aku harap kau mau memberiku kesempatan untuk membuatmu terbiasa dengan diriku.”ujar Lucien lembut.
Namun Michella tidak mendengar ucapan Lucien. Dia masih penasaran dengan firasatnya. Melihat kondisi Lucien yang baik-baik saja, Michella yakin apa yang ada di kursi belakang itu bukan berasal dari Lucien.
Tahan dirimu, Michella. Kau bukan lagi perempuan yang sama dengan 7 tahun lalu. Saat ini kau hanya dokter anak biasa. Ingat itu!geram hati kecil Michella saat Michella berniat menyelidiki Lucien.
Tapi aku tidak mungkin menikah dengan pria yang tidak kukenal!bantah sisi lain Michella.
Kau mengenalnya. Kau mengenal keluarganya. Mereka keluarga terhormat. Apalagi yang kurang?tanya hati kecil Michella.
Lamunan Michella terpecah saat smartphonenya berdering riang.
Rachella calling.
Michella tersenyum saat melihat nama kembarannya muncul di layar. Senyum yang selalu muncul setiap kali salah satu dari keluarganya menelpon. Dengan cepat Michella menjawab panggilan itu.
Melihat Michella yang terhanyut dalam pembicaraan dengan lawan bicaranya via telepon, Lucien tersenyum. Wanita yang duduk disebelahnya ini cantik, sangat cantik malah saat tersenyum. Dia tidak tahu kenapa sebelum ini selalu berpikir kalau Michella hanyalah wanita biasa mengingat wanita itu memiliki kembaran yang cantik seperti Rachella. Lucien bersyukur karena Michella tidak berdandan berlebihan saat kerja dan memilih untuk menutupi kecantikannya dengan gaya formal dan tenang. Namun senyum Lucien langsung menguap dengan cepat saat mendengar ucapan Michella selanjutnya.
“Aku diantar Lucien, Kak, bukan Erroll. Jangan seperti mereka, oke? Sudah cukup Erroll yang memarahiku.”gerutu Michella.
Erroll lagi.bisik Lucien dalam hati. Aku akan memastikan siapa ‘Erroll’ yang dimaksud ini.janji Lucien dalam hati.
Karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Lucien lupa bersikap seolah tidak tahu apa-apa tentang Michella. Dengan lancar Lucien membelokkan mobilnya dan berhenti di depan gedung apartemen yang ditinggali Michella.
“Sudah sampai.”ujar Lucien pelan.
“Terima kasih. Aku tidak percaya kalau kau tahu tempat tinggalku mengingat kau sama sekali tidak menanyakannya.”ucap Michella sambil melepas seatbeltnya. Michella sama sekali tidak bermaksud apapun dengan ucapannya tadi. Dia menganggap wajar kalau Lucien mencari tahu tentangnya setelah apa yang pria itu lakukan selama 3 hari hanya untuk menguntitnya.
Ucapan Michella langsung membuat Lucien mengutuk kebodohannya. Dengan cepat Lucien mencari alasan logis untuk situasinya saat ini. “Mom yang mengatakannya padaku.”ujar Lucien sambil tersenyum puas. Berharap kebohongannya dapat dipercaya oleh Michella.
Michella membalas senyum Lucien. Dia tahu Lucien berbohong. Memiliki banyak saudara dengan berbagai sifat membuat Michella mudah mengenali sebuah kebohongan. Namun setidaknya pria itu pintar mencari alasan yang logis. Dan mungkin saja kalau Alejandra memang pernah menyebutkan alamat rumahnya pada sang anak.
Who knows?
“Sekali lagi terima kasih.”ucap Michella tulus.
“Bukan masalah, Michel.”tukas Lucien cepat, bersyukur Michella tidak menyadari kebohongannya, atau setidaknya itulah yang Lucien yakini. “Apa besok siang kau ada waktu?”
“Mungkin. Kenapa?”
“Aku ingin mengajak tunanganku makan siang bersama. Sebagai tunangan, wajar kalau kita pergi makan siang bersama atau menghabiskan waktu berdua.”ucap Lucien cepat. “Pinjam ponselmu.”
Michella masih tidak percaya dengan ajakan makan siang Lucien, karena itu dia bergerak spontan memberikan smartphonenya pada Lucien. Saat smartphone Lucien berdering, Michella sadar kalau Lucien sudah mendapatkan nomor teleponnya.
How stupid I am.pikir Michella geram karena dirinya sering kali dibuat kaget oleh tindakan-tindakan kecil pria itu.
“Aku akan menghubungimu lagi. Goodnight, sweetheart. Have a nice dream.”bisik Lucien lalu meraih tangan Michella dan memberikan kecupan singkat di telapak tangan wanita itu. Lucien tersenyum geli saat melihat kilat kekesalan di wajah Michella. “Aku ingin sekali mencium bibirmu yang indah itu, tapi kau bilang kalau kau tidak suka sentuhan orang asing. Jadi aku akan membuatmu terbiasa dengan sentuhanku sebelum kita melakukan hal yang lebih jauh. Dan jika saat itu tiba, kita akan saling merindukan sentuhan satu sama lain.”ucap Lucien penuh percaya diri.
“Semoga berhasil.”sahut Michella ketus lalu bergegas keluar dari mobil Lucien dan langsung masuk ke lobi apartemennya tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sepeninggal Michella, Lucien tidak langsung pulang. Laki-laki itu menelpon seseorang. “Tolong periksa orang terdekat Michella Reynard saat ini. Terutama pria bernama Erroll. Pastikan siapa pria itu, apa pekerjaannya dan apa hubungannya dengan Michella.”ujar Lucien dan langsung memutuskan sambungan begitu mendengar respon dari lawan bicaranya.
Lucien menyimpan smartphonenya dan mulai menyiapkan diri. Ia tahu kalau malam ini dia tidak akan bisa menikmati kelembutan ranjang di apartemennya sendiri. Ibunya bisa jadi orang paling menyulitkan dan paling kejam kalau merasa perintahnya dilanggar. Dan Lucien sudah melanggar perintah Alejandra malam ini. Itu alasan kenapa Lucien memutuskan untuk menjenguk Phillipe lebih dulu sebelum pulang ke kediaman keluarganya. Karena bisa dipastikan kalau setelah bicara dengan ibunya, Lucien tidak akan bisa keluar lagi dari rumah sebelum matahari kembali menyapa dunia.
Jauh di dalam hatinya Lucien tahu kalau sifat keras dan kejam dalam dirinya bukanlah sesuatu yang didapatnya dari lingkungan atau turunan genetik ayahnya. Tidak. Fisiknya memang turunan genetik Marcus Bergmann. Namun semua sifat Lucien adalah turunan genetik ibunya.
***
Michella berjalan cepat keluar dari ruang operasi. Kepuasan terpancar jelas di wajah wanita itu karena mereka berhasil menyelamatkan satu nyawa lagi. Seorang anak berusia 3 bulan yang mengalami Transposition of Great Aorta1 disertai Ventriculer Septal Defect2. Bayi itu biru, bukannya merah merona layaknya bayi normal lainnya. Pembuluh yang seharusnya mengalirkan darah kaya akan oksigen malah mengalirkan darah yang mengandung karbon dioksida ke seluruh jaringan tubuh akibat posisi aorta3 yang salah dan adanya defek4 di sekat pembatas ventrikel5 kiri dan kanan. Mereka beruntung karena bisa mengenali gejala dengan cepat dan melakukan operasi segera. Setidaknya bayi itu termasuk dalam 50% pasien yang selamat akibat penanganan lebih awal.
Sebagai dokter anak yang menemukan gejalanya, Michella bisa saja tidak dilibatkan namun ketrampilan Michella saat menjalani program dokter spesialis di bagian bedah membuat dokter-dokter senior di bagian itu_terutama sang dokter bedah anak_ingin Michella terlibat langsung dengan operasi perbaikan jantung bayi mungil itu. Bagian bedah anak merasa Michella menyia-nyiakan bakatnya. Wanita itu bisa menjadi dokter bedah handal namun malah memilih menjadi bagian dari ‘orang-orang yang tidak memegang pisau’. Operasi itu memakan waktu berjam-jam, membuat Michella melupakan janji makan siangnya dengan Lucien. Saat Michella keluar dari ruang operasi, jam sudah menunjukkan pukul dua, karena itu Michella bergegas kembali ke ruangannya, berharap kalau asistennya sudah menyiapkan makan siang untuk Michella karena ia sudah terlambat makan, dan hanya Tuhan yang tahu kapan penyakitnya akan kambuh.
Namun alih-alih sepaket makan siang, Michella malah menemukan Lucien duduk di kursi tamu di dalam ruang kerjanya dalam balutan pakaian kerjanya yang rapi dan mahal, membuat Michella menggerutu kesal.
“Apa yang kau lakukan disini?”tanya Michella tanpa menyapa Lucien sedikitpun.
“Ah, kau sudah selesai rupanya.”ucap Lucien ringan lalu bangkit dari kursi untuk menyambut Michella.
“Aku tanya apa yang kau lakukan disini, Luke?”ulang Michella kesal karena pria dihadapannya ini entah kenapa selalu berhasil membuat Michella kesal. Terlebih lagi pria itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Michella.
Lucien menyipitkan matanya mendengar panggilan Michella. Bagi Lucien, aneh rasanya mendengar orang selain anggotanya memanggilnya dengan ‘Luke’. Bahkan Alejandra tidak memanggilnya seperti itu. Mendengar panggilan itu membuat Lucien merasa sedang berurusan dengan organisasi bawah tanah miliknya.
“Kau suka memanggilku seperti itu, ya?”tanya Lucien spontan.
“Astaga! Jangan mengalihkan pembicaraan! Apa yang kau lakukan di ruanganku saat aku tidak ada?”
“Apa kau lupa kau ada janji makan siang denganku, sweetheart?”
Michella menggeleng cepat. “Aku tidak lupa. Rencananya aku akan menghubungimu begitu operasi selesai. Tapi seperti yang kau lihat, operasi baru saja selesai dan aku tidak menyangka kalau operasi itu memakan waktu lama seperti ini. Lagipula, aku tidak percaya kau masih menungguku hingga jam segini. Ini sudah bukan jam makan siang.”
Lucien tersenyum. “Tentu saja aku menunggumu. Awalnya aku kesal karena kau tidak menjawab panggilanku. Dan saat aku datang dan bertanya pada bagian resepsionis, mereka bilang kau ada operasi sejak pagi. Kekesalanku langsung menguap mengetahui alasan kenapa kau tidak menjawab panggilanku. Kau hanya sedang bekerja, dan aku menyukai orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk pekerjaan.”
“Dan kau belum makan sampai saat ini?”
“Belum. Aku menunggumu. Bagaimana mungkin aku makan siang saat aku sudah berjanji untuk makan bersamamu?”tanya Lucien balik.
Michella menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. “Kau benar-benar pemaksa, bukan?”gumam Michella pelan lalu membuka jas dokternya. Dia tidak percaya kalau pria yang tadinya menurut Alejandra terlihat enggan dijodohkan itu ternyata malah bersemangat seperti ini mendekatkan diri dengan Michella. Jujur, Michella kagum karena pria ini menepati ucapannya. “Baiklah. Ayo kita pergi. Aku juga harus makan karena ini sudah terlambat dua jam dari jam makan siangku.”
“Ayo kita pergi.”sahut Lucien penuh semangat yang langsung menggandeng tangan Michella keluar dari ruangannya. “Oh ya, ngomong-ngomong tadi aku mengatakan kalau aku adalah tunanganmu, karena itu asistenmu mengizinkanku menunggu di dalam. Jadi kalau kau melepaskan genggaman tangan kita sekarang, itu akan terlihat aneh, Michel.”ucap Lucien kemudian, saat merasakan Michella berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Michella menatap Lucien kesal. Tentu saja Ana membiarkan Lucien masuk keruangannya. Malah Ana mungkin tidak bisa berkata apa-apa saat melihat makhluk ini ada dihadapannya.pikir Michella yang menyesalkan kebiasaan Ana menjadi ‘tak berotak’ saat bertemu kaum adam yang memiliki keberuntungan fisik seperti Lucien. Fisik yang membuat wanita-wanita seusia asistennya meneteskan air liur.
Lucien melirik Michella dan mendapati wajah wanita itu berubah kesal. Tanpa sadar tawa renyah meluncur begitu saja dari bibir Lucien, membuat Michella langsung menatapnya bingung. “Kau kenapa? Kalau otakmu memang mengalami masalah, ayo kita periksa mumpung sedang di rumah sakit.”
“Kau benar-benar menarik, Michella Reynard. Aku jadi ingin segera menikah denganmu dan melihat kejutan apa lagi yang akan kau berikan padaku. Dan untuk informasi, aku menyukai wajah cantikmu, namun aku lebih menyukai wajahmu saat ini, wajah kesalmu.”ucap Lucien dan memberikan kecupan singkat di bibir Michella dengan cepat di lorong penuh perawat, membuat Michella tambah kesal pada Lucien walau wajahnya merona saat ini.
Michella tidak menyangka kalau Lucien akan mengatakan hal itu. ’aku ingin segera menikah denganmu’. Michella menggeleng pelan.
Tidak.
Lucien tidak boleh menyukainya apapun alasannya. Karena Michella cenderung jatuh cinta pada pria-pria yang mencintainya dan itu tidak boleh terjadi. Cinta Michella adalah hukuman mati bagi siapapun.
Lucien sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan Michella. Dia senang dengan reaksi Michella dan senyum Lucien tidak hilang selama perjalanan mereka ke restoran. Sejak Lucien datang ke rumah sakit, ia sudah tahu dari sikap para perawat saat ia mengatakan kalau dirinya adalah tunangan dr. Michella Reynard, Sp.A. Para perawat menatapnya dengan sorot mata kekaguman dan ketidak percayaan. Lucien sudah biasa mendapati orang kagum padanya, namun tidak percaya?
Sedikit.
Ucapan Lucien adalah sumpah. Karena itu Lucien langsung bisa menebak kalau Michella jarang menerima tamu pribadi di rumah sakit apalagi seorang laki-laki. Entah kenapa Lucien senang karena dia laki-laki pertama yang mencari Michella ke rumah sakit secara pribadi.
***
Erroll menatap pasangan yang duduk tiga meja dari hadapannya. Dia mengenali pasangan itu. Sang wanita adalah orang yang selama 14 tahun dilindunginya bersama teman-temannya yang lain. Dan sang pria adalah CEO dari sebuah perusahaan multisektor besar yang menguasai dunia bisnis Amerika. Erroll tidak menyukai keputusan Michella untuk menikah dengan Lucien Bergmann. Entah kenapa Erroll yakin kalau Lucien tidak baik untuk Michella. Namun Erroll tidak bisa melakukan apapun. Mereka berenam sudah bersumpah untuk tidak lagi mencampuri urusan pribadi Michella apapun alasannya tanpa izin Michella. Dan sebagai yang paling setia dan menyayangi Michella setelah Sean, Erroll-lah yang paling geram dengan situasinya saat ini. Tidak bisa melakukan apapun saat dia inginkan.
Michella terlihat nyaman dengan Lucien.
Namun Erroll butuh lebih dari fakta itu untuk benar-benar membiarkan Michella menjaga dirinya sendiri. Erroll harus membuktikan kalau Lucien mencintai Michella. Atau akan jatuh cinta secepatnya pada Michella. Erroll sudah belajar dari pengalaman, selain mereka bertujuh_berenam saat ini_hanya orang-orang yang mencintai Michella yang bersedia mempertaruhkan segalanya untuk wanita itu. Pekerjaan ayahnya membuat Michella menjadi incaran para penjahat sejak dia kecil. Bukan sekedar penculikan dengan meminta tebusan, tapi siapapun yang menjadi musuh ayahnya tidak segan melakukan pembunuhan. Dan yang membuat Erroll tidak habis pikir adalah alasan kenapa hanya Michella yang diincar saat wanita itu masih memiliki seorang kembaran dan dua saudara laki-laki lain yang masih sedarah dengannya?
Tanpa sadar ingatan Erroll kembali ke masa 14 tahun lalu, saat ia pertama kali bertemu dengan Michella saat baru berusia 12 tahun. Saat itu dia hanya teman sekelas dari dari si kembar Nathan dan Ethan yang tidak masuk sekolah karena harus mengurus adiknya yang sakit. Awalnya Erroll menduga kalau adik si kembar adalah gadis manja yang menuntut perhatian saudaranya kalau mengingat bagaimana si kembar memanjakan sang adik. Tapi saat Erroll bertemu langsung dengan gadis itu, Erroll terpaksa menelan kembali pikirannya. Michella sudah mandiri sejak kecil. Namun kedua kakak kembarnya memang terlalu menyayangi Michella nyaris menjadi incest. Erroll yang awalnya hanya teman sekelas si kembar lama kelamaan berubah menjadi teman Michella. Bahkan Erroll lebih dekat dengan Michella dibandingkan dengan Ethan atau Nathan. Sejak saat itu Erroll tahu kalau Michella berasal dari keluarga yang rumit. Dan sejak saat itu juga Erroll tahu kalau gadis kecil itu sudah mengenal cinta, walau itu terlalu cepat untuk usianya. Michella 12 tahun sudah menyukai Sean, tetangga mereka di Dallas, yang juga seusia Erroll.
Gerakan di meja ketiga dari mejanya membuat Erroll terhempas kembali ke masa kini. Michella sudah selesai makan siang. Dan satu lagi hal yang Erroll syukuri dari keberadaan Lucien adalah pria itu tetap membawa Michella makan siang walau sudah terlambat. Setidaknya Erroll tidak harus mencemaskan maag kronis yang diderita Michella sejak kecil. Erroll tahu kalau Michella menyadari keberadaannya, karena itu Erroll hanya diam duduk di tempatnya sampai mereka selesai membayar. Erroll segera meletakkan beberapa lembar dollar di mejanya sebelum mengikuti Michella keluar dan memastikan kalau wanita itu masuk dengan selamat ke dalam mobil Lucien.
Erroll meraih ponselnya dan menelpon seseorang. “Bagaimana keadaan disana, Joe?”tanya Erroll sambil berjalan menuju mobilnya sendiri.
Saat menunggu panggilannya dijawab tadi Erroll sudah memastikan kalau Favian mengikuti mobil Lucien. Sejak kemarin Erroll memutuskan kalau Favian yang akan mengikuti jejak Michella, sedangkan dia akan datang beberapa saat kemudian di tempat-tempat yang dikunjungi Michella. Erroll merasa dirinya sedang diawasi, dan seperti sebelumnya, hanya Ty dan Livana yang akan menjalin hubungan normal dengan Michella.
“Tidak ada perubahan. Hanya saja aku harap perjalanannya kali ini menghasilkan sesuatu.”
“Memangnya kemana dia akan pergi?”tanya Erroll bingung karena seingatnya orang yang sedang mereka bicarakan sekarang ini jarang sekali keluar dari Indonesia.
“London. Dia memutuskan untuk menggantikan ayahnya menangani masalah disana sementara ini.”
Sesaat Erroll terkejut dengan apa yang didengarnya. Orang itu akhirnya memutuskan untuk keluar Asia dan terlebih lagi ke Inggris! Erroll mengangguk paham. “Berapa persen dia akan mengenalinya?”
“Aku tidak yakin.”
“Seriuslah.”tegur Erroll.
Josh kembali mengulang ucapannya. “Aku tidak yakin. Aaron terlalu nyaman dengan zona amannya saat ini. Tidak ada seorangpun yang berusaha membuatnya mengingat apa yang terjadi di masa lalunya. 7 tahun bukan waktu yang singkat, Er. Dia bahkan tidak pernah keluar Asia.”
“Aku tahu.”gumam Erroll kemudian dan sempat berhenti bicara untuk memikirkan sesuatu. “Aku harap semuanya belum terlambat, Josh.”
“Ya. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Princess? Kalau dipikir-pikir, 7 tahun belakangan ini kita hidup dengan damai, bukan?”
“Dan sepertinya kedamaian itu segera berakhir. Dia bertunangan.”ujar Erroll datar tanpa bisa menahan rasa tidak suka dalam suaranya.