Vero terlihat sangat kesal, ia menatap ayahnya lekat, namun laki-laki paruh baya di depannya sama sekali tak menghiraukan keadaannya. "Ayah, berhenti membuat Vero pada posisi yang salah." Vero terlihat sangat kesal, duduk di sofa panjang yang berada di ruangan kerja kantor ayahnya. "Lebih baik, kamu pulang." Ayahnya sama sekali tak memandang putra sulungnya. Matanya terus fokus pada layar laptop di depannya. "Ayah, aku serius. Aku nggak akan pernah masuk universitas manapun, kalo Ayah nggak mau denger ucapanku," ancam Vero tegas. "Mau jadi apa, kamu? Ini kesempatan emas, kamu bisa pilih universitas mana aja yang kamu suka." "Tapi, nggak seperti itu caranya. Aku bakal melaporkan kasus suap ini. Aku juga akan menyerahkan diri," ancam Vero. "Vero!" seru ayahnya kencang. Vero tak menghi

