PROLOG - DUNIA MENGENALNYA SEBAGAI ADRIAN CALLWAY
Dunia mengenalnya sebagai Adrian Callway.
Seorang pria berusia 33 tahun yang menguasai segalanya—uang, kekuasaan, dan sebuah kerajaan bisnis yang tunduk di bawah perintahnya. Namanya bukan hanya sebuah nama; itu adalah simbol kemenangan dan ketakutan. Satu keputusan darinya bisa mengguncang pasar saham, menjatuhkan korporasi, atau bahkan menghancurkan kehidupan seseorang dalam sekejap. Sebutan namanya bisa menimbulkan rasa takut, kekaguman, atau iri. Di dunia yang menginginkan kesuksesan, Adrian telah menguasainya.
Namun di balik semua itu, Adrian adalah seorang pria yang hidup dalam kesendirian.
Tak ada keluarga, tak ada kerabat, dan tak ada seorang pun yang benar-benar mengenalnya. Ia membangun kerajaannya dari nol, bangkit melalui kecerdikan dan ambisi. Dia adalah sosok yang tak tersentuh oleh hukum atau moralitas. Bagi dunia luar, dia adalah pria paling berkuasa yang hidup. Tetapi bagi dirinya sendiri, Adrian hanyalah seorang pria yang tidak pernah tahu rasanya dicintai.
Adrian memiliki segalanya—segala sesuatu kecuali satu hal yang sangat ia inginkan. Cinta. Ia tak pernah menjalin hubungan yang lebih dari sekedar bisnis atau manipulasi. Beberapa orang yang pernah dekat dengannya entah merasa takut atau memiliki sesuatu untuk diambil darinya. Adrian tidak mempercayai siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Cinta, baginya, tampak seperti kelemahan yang tidak bisa ia bayar.
Hingga dia bertemu dengannya.
Nadine Elizabeth.
Seorang gadis berusia 22 tahun dengan kehidupan sederhana yang hidup di dunia yang sangat berbeda dengan dunia Adrian. Dia seorang yatim piatu yang telah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis bertahun-tahun yang lalu. Tanpa warisan atau koneksi, Nadine harus berjuang untuk segala sesuatu yang dia miliki. Meskipun keadaannya sulit, Nadine tidak pernah membiarkan kepahitan hidup mendefinisikan dirinya. Ia telah belajar untuk bertahan hidup sendiri, bekerja keras di sebuah kafe kecil untuk menyokong dirinya sementara berkuliah di universitas bergengsi.
Hidupnya sederhana, namun nyata. Penuh perjuangan, tapi juga penuh harapan.
Hari itu di kafe seharusnya seperti hari-hari lainnya.
Dia baru saja menyelesaikan pembuatan kopi ketika seorang pelanggan datang dan meminta pesanan seperti biasa. Ia tersenyum, menuangkan kopi, dan menyerahkannya tanpa banyak berpikir. Ketika ia berbalik untuk kembali bekerja, ia melihat seorang pria duduk sendirian di sudut kafe yang paling jauh. Dia mengenakan jas hitam mahal, wajahnya sebagian tersembunyi oleh koran. Namun ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Keberadaannya seakan memaksa perhatian.
Adrian Callway sudah mengamatinya cukup lama. Matanya mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya. Cara dia tersenyum pada pelanggan, cara tangannya bergerak dengan anggun saat menuangkan kopi, cara dia membungkuk menulis pesanan. Segala sesuatu tentang dirinya membuatnya terpesona.
"Dia berbeda," pikir Adrian dalam hati saat menyeruput wiski, matanya tak pernah lepas dari Nadine. "Dia tidak seperti orang-orang di dunia ini. Namun, dia lebih mencolok dari siapa pun di sini."
Adrian telah melihat banyak wanita dalam hidupnya. Wanita yang cantik, menawan, dan menggoda. Wanita yang akan melakukan apa saja untuk berada di dunianya. Tetapi tak ada satu pun dari mereka yang memberikan efek yang sama seperti Nadine. Ada sesuatu yang tak tercemar dalam dirinya, sesuatu yang masih murni, dan Adrian merasa tertarik padanya. Dia harus tahu lebih banyak tentangnya.
"Dia bukan seperti mereka," lanjut Adrian. "Dia tidak tertarik padaku karena kekayaanku, kekuasaanku. Dia tidak tahu siapa aku. Dan itu membuatnya... menarik."
Ketika Adrian duduk di sana, diam mengamati, Nadine melanjutkan pekerjaannya, tanpa mengetahui bahwa hidupnya akan berubah selamanya. Dia melayani beberapa pelanggan lagi, bertukar senyuman, dan mencoba untuk tetap fokus pada pekerjaan. Dia tak tahu bahwa pria paling berkuasa di dunia duduk hanya beberapa langkah darinya, mengamati setiap gerakannya.
Kemudian, seiring berjalannya waktu, jalan mereka akhirnya bersinggungan.
Adrian bangkit dan berjalan menuju konter. Nadine sedang menyiapkan cappuccino ketika dia menoleh dan mendapati pria itu berdiri di sana.
"Selamat sore," katanya dengan suara tenang dan penuh wibawa.
Nadine terkejut. Ia tidak mengira pria itu akan mendekatinya, apalagi berbicara langsung padanya. Ia memberikan senyum sopan, meski ada sedikit keraguan di matanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ia bertanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
Adrian tidak segera menjawab. Sebaliknya, ia hanya menatapnya dengan intensitas yang membuat Nadine merasa seperti dia bisa melihatnya dengan jelas. Ia mencoba untuk tidak menunjukkan rasa tidak nyaman, tetapi sulit untuk mengabaikan cara kehadirannya yang seakan memenuhi seluruh ruangan.
"Saya ingin secangkir kopi, tapi lebih dari itu... Saya ingin mengenalmu, Nadine."
Mata Nadine terbelalak. Ia tidak menyangka pria itu tahu namanya. Seperti sudah lama ia mengamatinya tanpa ia sadari.
"Bagaimana Anda tahu nama saya?" ia bertanya, suaranya penuh rasa ingin tahu.
Senyum kecil muncul di wajah Adrian. "Saya selalu ingin mengenal orang-orang yang menarik perhatian saya."
Nadine tidak tahu harus menjawab apa. Pria di depannya ini berbeda dari siapapun yang pernah ia temui. Ada sesuatu tentang dirinya—sesuatu yang memikat, namun sekaligus mengganggu. Ia bisa merasakan kekuatan yang terpancar darinya, dan itu membuatnya cemas.
"Saya hanya seorang barista," katanya pelan, berusaha merendahkan situasi. "Tak ada yang perlu diketahui tentang saya."
Adrian melangkah lebih dekat, sedikit bersandar pada konter. "Kamu salah. Ada lebih banyak tentang dirimu yang perlu aku ketahui, Nadine. Saya tidak tertarik pada kehidupan sederhana yang kamu jalani... Saya ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya."
Kata-kata itu menyentuhnya seperti listrik yang mengalir. Ia bisa merasakan beban pandangan Adrian, dan untuk sesaat, ia tidak tahu apakah ingin lari atau bertahan. Namun ia tidak bisa menahan rasa aneh yang muncul dalam dirinya, rasa yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
"Saya hanya berusaha bertahan," katanya perlahan, mencoba menjaga ketenangannya. "Saya tidak tahu apa yang Anda cari, tapi saya hanya ingin menjalani hidup saya."
Senyum Adrian sedikit memudar, matanya menjadi lebih tajam. "Saya rasa kamu tidak mengerti, Nadine. Kamu tidak memiliki kemewahan untuk memilih takdirmu lagi."
Jantung Nadine berdegup kencang. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatnya sadar bahwa ini bukan hanya percakapan biasa. Adrian Callway bukanlah tipe orang yang membiarkan sesuatu berjalan begitu saja. Dia adalah pria yang mengambil kendali.
"Kamu akan melihatnya," kata Adrian dengan suara yang tenang namun penuh maksud. "Hidupmu akan berubah, dan itu akan berubah karena aku."
Dan begitu saja, dunia Nadine mulai berputar. Begitu dia menatap mata Adrian, dia tahu bahwa hidupnya tak akan pernah sama lagi. Dia datang ke kafe ini dengan berpikir bahwa ini hanya hari biasa. Namun kini, ia merasakan tekanan yang aneh di pundaknya.
Ia tak tahu apa niat Adrian, namun satu hal menjadi jelas: Adrian Callway tidak akan membiarkannya pergi. Dan meskipun ia berusaha menolaknya, ia tahu bahwa takdirnya kini tak lagi berada di tangannya.