1. NADINE
Nadine berjalan menyusuri koridor kampus yang hampir kosong, langkah kakinya bergema di dinding. Hari sudah mulai beranjak senja, dan cahaya keemasan dari matahari terbenam menerobos melalui jendela kaca tinggi, memantulkan bayangan panjang di lantai. Bayangannya sendiri terulur di depan, mencerminkan langkahnya yang tidak tenang. Namun yang membuatnya merinding bukanlah bayangannya—melainkan perasaan kuat bahwa dia tidak sendirian.
Perasaan itu semakin intens dalam beberapa hari terakhir, seolah-olah ada sepasang mata yang mengikutinya kemanapun dia pergi. Dia tidak bisa menghilangkan perasaan itu. Setiap langkah yang dia ambil, setiap belokan yang dia buat, rambut di tengkuknya meremang dengan keyakinan bahwa ada mata yang mengamatinya, bahkan ketika dia tak melihat siapapun. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya imajinasi atau paranoia. Tapi jauh di dalam dirinya, dia tahu. Ini bukan hanya dalam pikirannya. Seseorang sedang mengawasinya.
Detak jantungnya semakin cepat, dan dia mempercepat langkahnya. Jarinya menggenggam erat tali tasnya saat dia berjalan, pikirannya berpacu memikirkan siapa yang mungkin mengikutinya. Mungkin itu tidak ada apa-apanya, hanya orang biasa yang kebetulan lewat, tapi mengapa rasanya begitu kuat? Mengapa rasanya sudah berlangsung selama beberapa hari?
Nadine tidak tahan lagi. Dia harus keluar dari gedung ini, harus bertemu Lucas atau Queen—siapa saja yang bisa dia percayai. Siapa saja yang bisa membuatnya merasa aman kembali.
Tepat saat dia mencapai tikungan yang akan membawanya ke pintu keluar, ponselnya bergetar di saku mantel. Suara itu membuatnya terkejut, dan napasnya terhenti sejenak. Dia ragu sejenak, tangannya gemetar saat menarik ponsel keluar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar.
"Jangan pulang sendirian malam ini."
Jantungnya jatuh. Kata-kata itu membuat dingin merayap ke tulang belakangnya. Dia menatap layar, tangannya masih menggenggam ponsel, tetapi dia tak bisa bergerak. Apa ini? Lelucon? Lelucon yang mengerikan? Pikirannya berusaha mencari penjelasan logis. Tapi jauh di dalam hatinya, dia tahu. Ini bukan kebetulan.
Napassnya semakin terengah, dan denyut nadi berdetak keras di telinganya. Dia tidak membayangkannya. Seseorang mengawasinya. Seseorang tahu di mana dia berada, dan mereka telah membuatnya jelas.
Nadine dengan cepat memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, jantungnya berdebar kencang. Dia melihat sekeliling, namun koridor masih kosong. Dia harus pergi. Sekarang.
---
2. ADRIAN
Adrian Callway duduk di ruangan yang remang-remang, matanya terpaku pada layar di depannya. Satu-satunya cahaya berasal dari beberapa monitor yang menyala, masing-masing menampilkan berbagai feed dari jaringan pengawasannya. Jari-jarinya mengetuk dengan lembut permukaan meja kayu yang dipoles, sebuah ritme yang mencerminkan sikap tenangnya. Dia mengamati dengan seksama seorang wanita muda yang berjalan sendirian menyusuri koridor kampus, wajahnya tegang dengan kecemasan.
Nadine.
Senyuman tipis terbentuk di bibir Adrian. Dia sudah mengamati Nadine selama beberapa hari, dan dia bisa merasakan ketakutannya dari jarak yang jauh. Cara dia melihat ke belakang, cara dia menggenggam tasnya, cara langkahnya yang semakin cepat—semuanya terlihat jelas bagi Adrian.
"Akhirnya dia mulai menyadari," gumamnya pada diri sendiri. "Bagus."
Ketakutan adalah hal yang sangat kuat. Itu adalah awal dari kontrol, dan itu semua yang dibutuhkan untuk membawa Nadine di bawah pengaruhnya. Sejak pertama kali dia melihatnya di kafe kecil itu, dia sudah tahu Nadine berbeda. Dan sekarang, setelah waktu yang lama, dia akhirnya mulai merasakan kegelapan yang semakin mendekat.
Adrian sudah merencanakan semuanya dengan sempurna. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Dia memastikan untuk mengelilinginya, memanipulasi situasi sehingga Nadine akan merasa rentan, terisolasi, dan yang paling penting—takut. Ini hanya masalah waktu sebelum dia menyadari bahwa satu-satunya pilihan yang dia punya adalah berbalik kepadanya.
Pikiran tentang Lucas Alexander, pria yang berusaha menghalangi jalannya, hanya membuat Adrian tersenyum sinis. Lucas mungkin memiliki uang, kekuasaan, dan pengaruh, tapi Adrian memiliki sesuatu yang jauh lebih penting: kontrol. Dia telah mengatur segalanya. Nadine akan menjadi miliknya, dan tidak ada seorang pun—terutama Lucas—yang akan menghentikannya.
Adrian bersandar di kursinya, pandangannya tak pernah lepas dari layar saat Nadine terus berjalan menuruni koridor. Dia belum selesai. Belum sampai di sana.
"Segera," Adrian berbisik, suaranya gelap dan penuh antisipasi. "Segera, Nadine, kamu akan menjadi milikku."
---
3. LUCAS
Lucas duduk di kursi belakang mobil, cahaya kota berkelap-kelip melalui jendela saat dia menatap ponselnya. Pikirannya berlarian saat dia membaca pesan dari Nadine.
"Aku merasa seperti ada yang mengikuti aku."
Hatinya terasa jatuh, dan genggaman tangannya pada ponsel semakin erat. Dia tidak ingin panik, tetapi sesuatu memberitahunya bahwa ini bukan hanya imajinasi Nadine yang berlebihan. Dia bukan tipe orang yang mudah panik. Jika dia merasa dia sedang diawasi, maka pasti ada yang mengikuti.
Dia mengumpat pelan. Dia sudah merasakan ada yang tidak beres selama beberapa hari ini. Sejak pertama kali dia tahu bahwa Adrian Callway masih ada di luar sana, mengintai dalam bayang-bayang, segala sesuatu terasa tidak benar. Adrian seharusnya berada di balik jeruji besi. Dia tidak seharusnya bisa menjangkau Nadine. Tetapi Lucas tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa Adrian terlibat entah bagaimana.
"Pasti dia," gumam Lucas pada dirinya sendiri. "Itu satu-satunya penjelasan."
Tangannya mengepal. Lucas mengenal Adrian lebih baik dari siapa pun, dan dia tahu pria itu berbahaya. Dia tidak bisa tinggal diam dan tidak melakukan apa-apa saat Nadine dalam bahaya. Dia harus segera menemui Nadine.
Dia mengetuk layar ponselnya, membuka peta kampus. Dia harus bergerak cepat.
"Aku akan melindungimu, Nadine," katanya, suaranya rendah dan penuh tekad. "Apa pun yang terjadi."
---
4. QUEEN DIOR
Queen Dior berdiri di balkon apartemennya, angin malam yang sejuk mengacak-acak rambut panjangnya. Di tangannya, gelas berisi anggur merah berputar perlahan, cairan itu menangkap cahaya saat bergerak. Tetapi pikirannya tidak pada anggur itu. Tidak pada cahaya kota yang membentang di depannya, atau ketenangan malam itu.
Pikirannya pada Nadine. Sahabatnya itu baru saja menelepon beberapa menit yang lalu, dan Queen mendengar ketakutan dalam suaranya. Ini adalah sesuatu yang belum pernah dia dengar dari Nadine. Nadine selalu begitu kuat, begitu percaya diri. Tapi malam ini, ada yang salah.
Queen meneguk anggurnya perlahan, jarinya sedikit gemetar saat dia mengingat bagaimana Nadine berbicara. Bagaimana dia terdengar begitu... rapuh. Itu membuat sesuatu di d**a Queen terasa sesak.
Dan kemudian ada Lucas. Begitu dia mendengar tentang pesan Nadine, dia langsung bergegas menemui Nadine, tanpa tanya-tanya lagi. Queen tak bisa menahan rasa cemburu yang muncul begitu saja. Dia sudah mencintai Lucas begitu lama, lebih lama dari yang dia akui. Tetapi dia tidak pernah dilihat Lucas seperti dia melihatnya.
Sejak Nadine masuk ke dalam hidup mereka, segalanya berubah. Lucas, yang selalu menjadi tempatnya bersandar, sahabatnya, kini fokus sepenuhnya pada Nadine. Dan Queen tak bisa menahan perasaan dikhianati, meski dia tahu dia tak berhak merasakannya. Nadine adalah sahabatnya. Dia seharusnya ingin yang terbaik untuknya. Tetapi itu sulit, sangat sulit, ketika orang yang selalu kamu cintai mulai menjauh darimu.
"Aku mencintaimu, Lucas," bisik Queen pada dirinya sendiri, suaranya campuran antara kerinduan dan kesedihan. "Tapi aku tidak tahu berapa lama aku bisa berpura-pura bahwa aku baik-baik saja dengan semua ini."
Saat dia menatap kota, hatinya terasa pedih. Cinta untuk Lucas selalu disembunyikan dalam dirinya. Tetapi sekarang, saat peristiwa terjadi di sekitar Nadine, Queen menyadari betapa dalam perasaannya—dan sejauh mana dia bersedia untuk melindungi sahabatnya.
"Aku akan lakukan apapun," bisiknya pelan, kata-kata hampir tidak terdengar di atas keramaian kota. "Bahkan jika itu berarti kehilangan diriku dalam prosesnya."
Dia harus melindungi Nadine. Tapi di mana itu meninggalkan hatinya sendiri?