PART 3 - JARINGAN KEGELAPAN

970 Words
PART 3 - JARINGAN KEGELAPAN NADINE Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Nadine duduk di tepi tempat tidurnya, tangannya gemetar saat mencoba mengangkat secangkir teh hangat yang baru saja dibuatnya. Perasaan tidak tenang itu menetap di dadanya, tidak mau hilang sejak kejadian di kampus tadi. Pesan itu... "Jangan pulang sendirian malam ini." Dia sudah menghapusnya dari ponselnya, berharap itu akan menghapus ketakutannya juga. Tapi kata-kata itu terus terngiang di pikirannya, seperti bisikan yang menempel di telinganya, mengingatkan bahwa dia tidak pernah benar-benar sendirian. Perasaan sedang diawasi tidak pernah hilang, bahkan semakin intensif seiring berjalannya hari. Nadine menarik napas pelan, berusaha menenangkan sarafnya. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanya imajinasi liar—mungkin stres dari sekolah, kelulusan yang semakin dekat, dan segala hal lainnya yang membuatnya cemas. Namun jauh di dalam dirinya, dia tahu ada sesuatu yang salah. Dia tidak bisa menghilangkan perasaan curiga itu. Dia meraih ponselnya dan mengetik pesan kepada Lucas. Dia membutuhkan jaminan, ingin mendengar suara Lucas untuk menenangkan kepanikan yang semakin membengkak dalam dirinya. Nadine: Apakah kamu yakin Adrian masih di penjara? Pesan itu terkirim, dan dalam beberapa detik, ponselnya bergetar. Lucas menelepon. Dia segera mengangkatnya. "Lucas..." "Ada apa? Ada yang terjadi lagi?" Suara Lucas terdengar penuh kekhawatiran, dan Nadine hampir bisa merasakan sifat protektifnya dari sisi telepon. Nadine menggigit bibirnya. Dia tidak ingin lebih membuatnya khawatir, tetapi dia tak bisa lagi menahan ketakutannya. "Aku merasa seperti ada yang mengikutiku tadi. Dan aku mendapatkan pesan aneh." Ada hening sejenak, dan Nadine bisa mendengar Lucas menarik napas, seolah sedang memproses apa yang baru saja dia katakan. Lalu, suaranya memecah keheningan. "Lihatlah keluar jendela." Nadine perlahan berdiri, tubuhnya kaku. Dengan hati-hati, dia menarik tirai kamarnya dan mengintip keluar. Jalanan tampak kosong. Tidak ada orang di sana. Dia menghela napas lega, tetapi nalurinya mengatakan ada yang tidak beres. Perasaan sedang diawasi tidak hilang begitu saja hanya karena tidak ada orang yang terlihat. "Tidak ada siapa-siapa di sana," bisiknya pelan ke telepon. "Tutup tirai dan kunci pintu," kata Lucas tegas. "Aku akan menyelidiki sesuatu. Aku janji, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi." Nadine mengangguk, meskipun Lucas tidak bisa melihatnya. Hatinya terasa sesak memikirkan bahwa Lucas akan menempatkan dirinya dalam bahaya lagi hanya demi melindunginya. Namun dia tidak membantah. Dia tahu Lucas akan melakukan apapun untuk melindunginya, dan itu memberinya sedikit kenyamanan di tengah rasa takut yang menguasai dadanya. Namun jauh di dalam dirinya, dia tahu—Adrian belum pernah benar-benar pergi. ADRIAN Dari layar di ruangnya yang remang-remang, Adrian mengamati semuanya. Nadine, berdiri di dekat jendela kamarnya. Lucas, berbicara padanya lewat telepon. Senyuman tipis mengembang di bibir Adrian saat dia mengamati adegan yang berlangsung. Permainan sudah dimulai, dan semuanya berjalan sesuai rencana. Betapa manis. Lucas berpikir dia bisa melindungi Nadine, seolah dia benar-benar bisa menghentikannya. Namun Lucas sudah kalah sebelum permainan ini dimulai. Adrian sudah menunggu saat ini. Dia sabar, mengamati, dan memanipulasi keadaan. Dia telah membayar orang-orang yang tepat—mereka yang cukup kuat untuk menciptakan ilusi bahwa dia masih terkurung di balik jeruji besi. Tidak ada yang tahu kebenarannya. Tidak ada yang tahu bahwa dia sudah bebas. Dan selama mereka tidak menyadari itu, dia bisa bergerak di bayang-bayang, menarik tali-tali yang mengendalikan semuanya. Adrian bersandar di kursinya, matanya berkilat dengan kepuasan saat dia terus mengamati. Dia telah merencanakan setiap detail dengan sempurna. Nadine selalu begitu kuat, namun bahkan orang yang paling kuat pun bisa runtuh di bawah tekanan. Semakin rentan dia, semakin dekat Adrian untuk membuatnya menjadi miliknya. Dan sekarang, dengan Lucas yang berusaha melindunginya, permainan ini semakin menarik. Adrian tertawa pelan. "Segera, Nadine, segera... Kamu akan sadar bahwa kamu adalah milikku." LUCAS Lucas membanting laptopnya ke meja, suaranya terdengar menggema di ruang yang sunyi. Pikiran-pikirannya berputar, dan amarahnya mendidih seperti badai yang siap meledak. Dia selalu bisa mengantisipasi musuhnya, tetapi Adrian Callway... Adrian adalah musuh yang berbeda. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Lucas telah menghabiskan berjam-jam untuk memeriksa setiap dokumen, setiap catatan keuangan. Semakin dia menggali, semakin banyak yang dia temukan. Segalanya tampak normal di permukaan—laporan tentang penangkapan Adrian, berita tentang persidangannya, dan kenyataan bahwa dia dipenjara di fasilitas keamanan maksimum. Tetapi ada sesuatu yang tidak beres. Lucas mengeklik berkas transaksi perusahaan Adrian dan menemukan sesuatu yang mencurigakan. Ada transaksi besar dalam beberapa bulan terakhir—transaksi yang seharusnya tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang terkurung di penjara. Lucas mengepalkan tangannya. Dia tidak ingin membuat Nadine semakin takut, tetapi dia harus memastikan apakah Adrian benar-benar masih di penjara—atau apakah dia sudah bebas dan mengamati dari bayang-bayang. QUEEN DIOR Queen Dior duduk di dalam mobilnya, mesin mobil menyala pelan saat dia menatap layar ponselnya. Dia baru saja membaca pesan dari Lucas, dan hatinya sakit saat membaca kata-kata itu. Aku perlu menyelidiki sesuatu tentang Adrian. Aku butuh bantuanmu. Dia menggigit bibirnya, menatap pesan itu lama-lama. Lucas selalu datang padanya saat ada masalah. Selalu mengandalkannya. Dan setiap kali itu terjadi, Queen merasa sakit sedikit lebih dalam di hatinya. Dia mencintainya—sudah lama, lebih lama daripada yang bisa dia akui—tetapi Lucas tidak pernah melihatnya seperti dia melihat Nadine. Hatinya hanya untuk Nadine, dan Queen sudah menerima itu. Atau setidaknya, dia mencoba. Namun sekarang, dengan semua yang terjadi, rasa cemburu itu muncul kembali. Dia benci melihat Nadine dalam bahaya, namun di sisi lain, sebagian dari dirinya merasa cemburu setiap kali Lucas menunjukkan betapa dia peduli pada Nadine. Queen menarik napas panjang, mencoba mengusir perasaannya. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terjebak dalam perasaan sekarang. Tidak ketika Nadine berada dalam bahaya. Dia segera membalas pesan Lucas. Queen: Aku sedang dalam perjalanan. Katakan apa yang perlu aku lakukan. Queen tidak tahu apa yang sedang dia hadapi, tetapi satu hal yang dia tahu—dia tidak bisa diam saja. Seseorang harus melindungi Nadine. Bahkan jika itu berarti mengorbankan hatinya. Dan dalam permainan ini, Queen tahu seseorang pasti akan terluka. Namun dia hanya bisa berharap itu bukan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD