PART 4 - TAKDIR YANG TAK TERHINDARKAN

1053 Words
1. NADINE – BAYANGAN MASA LALU Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin berhembus perlahan, membawa kesan seolah ada sesuatu yang bersembunyi dalam kegelapan. Nadine berdiri di balkon apartemen Lucas, tatapannya kosong menatap jalanan kota yang ramai di bawahnya. Lampu-lampu neon berkedip dalam warna biru dan merah, menciptakan bayangan aneh di jendela. Hatinya terasa berat. Sejak pesan anonim itu muncul, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Sesuatu di dalam dirinya terus berbisik bahwa Adrian tidak pernah benar-benar pergi. Bahwa dia selalu ada di dekatnya, menunggu saat yang tepat untuk merebutnya kembali. Tangannya mencengkeram pagar balkon erat-erat. Setiap detik yang berlalu, perasaan itu semakin menguat. Rasanya seperti ada bayangan gelap yang mengikuti setiap langkahnya, bayangan yang tidak bisa dia hindari. Adrian Callway. Nama itu seperti racun yang mengalir di nadinya. Sejak dulu, dia tahu bahwa pria itu berbeda. Tidak ada yang bisa benar-benar melawan Adrian dan menang. Semua orang yang menentangnya akhirnya hancur. Bahkan dirinya, yang begitu keras berusaha untuk bebas dari cengkeramannya, tidak pernah benar-benar bisa melepaskan diri. Namun Nadine sudah cukup lama berjuang. Ia tidak ingin kembali ke dalam perangkapnya. Tidak ingin lagi merasakan ketakutan yang dulu hampir menghancurkannya. Namun kini, setelah pesan itu muncul, semuanya seperti membuka kembali luka lama yang belum benar-benar sembuh. "Nadine?" Suara Lucas membuyarkan lamunannya. Nadine menoleh, mendapati pria itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi cemas. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, melangkah mendekat. Nadine mengangguk pelan, meskipun di dalam dirinya, ia tahu jawabannya tidak sebaik itu. "Aku hanya… merasa ada sesuatu yang salah." Lucas menatapnya tajam. "Aku juga." Dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Nadine. Itu adalah dokumen bisnis yang baru saja ia dapatkan dari sumbernya—transaksi besar yang melibatkan perusahaan Adrian Callway. "Tidak mungkin dia bisa melakukan semua ini dari dalam penjara," kata Lucas. "Dan jika dia benar-benar di luar, itu berarti seseorang di sistem telah membantunya keluar." Nadine merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. "Jadi… dia benar-benar bebas?" suaranya bergetar. Lucas mengepalkan tangannya. "Aku belum punya bukti nyata, tapi semua tanda mengarah ke sana." Mata Nadine mulai berkaca-kaca. "Kalau begitu, kita dalam bahaya, Lucas." Lucas menatapnya dengan serius, lalu meletakkan tangannya di bahu Nadine. "Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi. Aku berjanji." Namun, jauh di dalam dirinya, Nadine tahu—janji itu mungkin tidak cukup untuk menghentikan Adrian. Karena pria itu bukan seseorang yang mundur begitu saja. 2. ADRIAN – MEMATAHKAN HARAPAN Dari dalam mobilnya yang diparkir di sudut jalan, Adrian menatap apartemen Lucas dengan ekspresi datar. Ia bisa melihatnya. Nadine berdiri di balkon, bersama Lucas. Matanya menyipit, rahangnya mengencang. Seharusnya itu aku di sana. Adrian mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan. Adrian: Aku tidak pernah benar-benar pergi, Nadine. Ia menunggu. Hanya beberapa detik kemudian, ia melihat Nadine mengangkat ponselnya dan membeku. Ia bisa membayangkan ketakutan di wajahnya, bagaimana bibirnya akan sedikit bergetar, bagaimana matanya akan membesar dalam keterkejutan. Ia menginginkan momen ini. Saat-saat ketika Nadine menyadari bahwa tidak ada tempat yang cukup aman baginya. Bahwa tidak peduli seberapa keras ia berusaha melarikan diri, ia akan selalu kembali ke tempat yang sama—ke dalam genggaman Adrian. Ia menutup ponselnya dan tersenyum kecil. Semuanya berjalan sesuai rencana. Di dalam mobilnya yang terparkir, Adrian melirik ke luar jendela dan melihat bagaimana langit mulai gelap. Malam semakin larut, dan semakin sedikit orang yang berkeliaran di jalanan. Tapi tidak ada yang tahu apa yang sedang dia rencanakan. Tidak ada yang tahu bahwa ia sedang menyusun kembali potongan-potongan permainan yang telah dia mulai sejak lama. Tapi kali ini, ia tidak akan membiarkan apapun menghentikannya. Tidak ada yang akan menghalangi jalannya untuk kembali ke Nadine. Bahkan jika itu berarti menghancurkan semuanya. 3. QUEEN DIOR – DI PERSIMPANGAN KEHIDUPAN Queen Dior menatap layar ponselnya dengan ekspresi bimbang. Lucas baru saja mengirim pesan, meminta bantuannya untuk menyelidiki Adrian. Namun, di sisi lain, pikirannya dipenuhi dengan perasaan yang ia sendiri sulit pahami. Ia mencintai Lucas. Selalu mencintainya. Namun selama ini, ia hanya menjadi bayangan di antara kisah Lucas dan Nadine. Dia tidak pernah benar-benar berada di posisi utama. Lucas selalu lebih memilih Nadine, dan Queen tahu itu. Ia tahu perasaannya salah, bahwa ia seharusnya tidak memendam perasaan seperti ini. Namun perasaan itu tetap ada, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Jika Adrian benar-benar kembali… bukankah itu artinya Lucas akan semakin dekat dengan Nadine? Bukankah itu artinya, sekali lagi, ia akan kehilangan kesempatan untuk dimiliki oleh Lucas? Tangannya gemetar. Ia bisa memilih untuk membantu Lucas dan Nadine… atau memilih jalannya sendiri. Hatinya berdebar. Keputusan ini akan mengubah segalanya. Queen memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya. Namun semakin dia berpikir, semakin berat rasanya. Ia tahu bahwa jika ia tidak bertindak sekarang, kesempatan itu mungkin tidak akan datang lagi. Dengan berat hati, ia membuka kembali pesan dari Lucas dan mengetikkan jawabannya. Queen: Aku akan membantumu. Tapi kita harus hati-hati. Adrian bukan orang yang bisa dianggap remeh. Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponselnya di samping. Hatinya semakin gelisah. Dia ingin melindungi Nadine, itu sudah pasti. Namun bagaimana jika perasaannya untuk Lucas justru menjadi penghalang? Apa yang harus dia lakukan jika kenyataan yang lebih pahit datang? 4. PERTEMUAN YANG TAK TERHINDARKAN Malam itu, Nadine duduk di dalam apartemen Lucas, mencoba menenangkan dirinya. Lucas sedang berbicara dengan seseorang di telepon, sibuk mengatur strategi. Namun, tiba-tiba… Bunyi ketukan pelan terdengar dari jendela. Nadine membeku. Itu tidak mungkin. Mereka berada di lantai tiga. Dengan napas tertahan, ia perlahan menoleh ke arah jendela. Dan di sanalah dia. Adrian. Berdiri di luar jendela, menatap langsung ke dalam kamarnya dengan ekspresi dingin dan penuh kepemilikan. Jantung Nadine hampir berhenti. Sebelum ia bisa berteriak, ponselnya bergetar. Adrian: Buka pintunya, Nadine. Jangan buat aku menunggu. Tangannya mencengkeram ponsel erat-erat, tubuhnya membeku dalam ketakutan. Tidak bisa. Tidak mungkin. Tapi dia tahu—hanya ada satu cara untuk menghadapinya. Dan itu tidak akan mudah. Lucas masih di ruangan lain. Ia harus membuat keputusan. Melawan… atau menyerah. Setiap detik terasa lebih berat daripada sebelumnya. Nadine tahu bahwa jika dia membuka pintu, segala sesuatu akan berubah. Adrian tidak akan memberi kesempatan kedua. Dia tahu bahwa pria itu bisa mengontrolnya, bisa memanipulasinya, dan dia sudah cukup lama berada di bawah cengkeramannya. Tapi apakah ia akan membiarkan ketakutannya mengendalikan dirinya sekali lagi? Dengan tangan yang gemetar, Nadine menarik napas dalam-dalam. "Lucas," bisiknya, suaranya serak. "Lucas, dia ada di luar." Di dalam hati, Nadine sudah tahu jawabannya. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah benar-benar aman dari Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD