1. NADINE – TERJEBAK DALAM BAYANGAN
Pandangannya terkunci pada sosok yang berdiri di luar jendela.
Adrian Callway.
Pria yang seharusnya ada di dalam penjara.
Pria yang seharusnya tidak bisa menjangkaunya lagi.
Namun kini, dia ada di sana. Mata gelapnya yang tajam menembus kaca, mencengkram pandangan Nadine dengan ketegasan yang tak terbantahkan.
Jantungnya berdebar keras, detaknya menggema hingga ke tenggorokan. Tubuhnya terasa lemas, tetapi kakinya terpaku di tempat, tak mampu bergerak. Ini tidak nyata. Tidak mungkin.
Tetapi getaran ponsel di tangannya mengukuhkan kenyataan yang dingin dan kejam.
Adrian: Buka pintunya, Nadine. Jangan buat aku menunggu.
Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat, seakan benda kecil itu bisa melindunginya dari pria yang berdiri di luar sana.
Adrian tidak mungkin ada di sini. Dia seharusnya ada di balik jeruji, di tempat yang jauh, tidak dapat menyentuhnya lagi.
Namun, dia ada di sini.
Tawa renyah yang samar terdengar dari balik kaca. Bibir Adrian melengkung membentuk seringai yang sangat dikenalnya—seringai yang menandakan bahwa ini bukan kebetulan. Ini rencana.
Dia merasakan sesuatu yang sangat dingin menjalari tulang belakangnya.
Bagaimana mungkin? Bagaimana Adrian bisa ada di sini?
Pikirannya berputar, mencoba mengingat setiap petunjuk yang selama ini ia abaikan. Lucas pernah mengatakan bahwa mereka masih mencari bukti kuat. Semua orang mengira Adrian masih di dalam penjara.
Semua orang salah.
Adrian tidak pernah benar-benar terkurung.
Ini semua hanyalah permainan.
Dan kini, dia ada di sini untuk mengambil kembali sesuatu yang dianggapnya milik pribadi—Nadine.
Tenggorokannya tercekat. Dia harus melakukan sesuatu.
Tangannya gemetar saat dia mengetik balasan.
Nadine: Apa maumu, Adrian?
Dua detik kemudian, ponselnya kembali bergetar.
Adrian: Aku tidak suka mengulang pertanyaan, Nadine.
Dari luar, dia melihat Adrian sedikit memiringkan kepala, seolah sedang mengamatinya dengan penuh minat.
Sial.
Sebelum ia bisa mengambil keputusan, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.
Lucas.
Matanya langsung tertuju pada Nadine yang berdiri kaku, lalu ke jendela. Seketika, rahangnya mengeras saat ia melihat Adrian berdiri di luar.
Dan saat itu, dunia seakan berhenti berputar.
2. LUCAS – MELINDUNGI ATAU KEHANCURAN?
Darah Lucas mendidih saat melihat Adrian Callway berdiri hanya beberapa langkah dari mereka.
Tidak lagi terpenjara. Tidak lagi tersembunyi.
Dan yang lebih buruk—dia cukup dekat dengan Nadine.
Sial.
Tanpa berpikir panjang, Lucas langsung menarik Nadine ke belakangnya, berdiri sebagai benteng antara dia dan Adrian. Matanya menatap penuh amarah dan kebencian.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" suaranya rendah, penuh ancaman.
Adrian hanya tersenyum kecil, tenang seperti biasa. Seakan situasi ini sudah ia rancang sejak awal.
"Lucas," katanya pelan. "Kau tidak mengira aku akan diam saja, bukan?"
Lucas mengepalkan tangan. "Kau seharusnya di dalam penjara."
Adrian mengangkat bahu ringan, seolah itu hal yang tidak penting. "Seharusnya? Kau lebih tahu dari itu, Lucas. Tidak ada tempat di dunia ini yang bisa menahanku."
Lucas benar-benar ingin menghajarnya saat itu juga.
Namun, dia tahu Adrian bukan orang yang bisa dikalahkan dengan kemarahan. Dia harus berpikir cerdas.
Dengan cepat, Lucas menarik ponselnya untuk menelepon seseorang—mungkin polisi, mungkin seseorang yang bisa membantu.
Namun sebelum ia sempat menekan tombol panggilan, Adrian mengangkat satu jari.
"Jangan lakukan itu, Lucas," katanya santai. "Atau kau akan menyesalinya."
Lucas menegang. "Apa maksudmu?"
Adrian tersenyum tipis. "Kau pikir aku datang tanpa persiapan?"
Lucas merasakan bulu kuduknya meremang.
"Apa yang kau lakukan, Adrian?"
Adrian melirik Nadine yang masih berdiri di belakang Lucas, wajahnya penuh ketakutan.
"Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya milikku," jawabnya dengan suara tenang, namun mengancam.
Lucas segera berdiri lebih tegak, tubuhnya tegang. "Nadine bukan milikmu."
Adrian tertawa kecil, lalu menatap Lucas dengan pandangan meremehkan.
"Kau pikir kau bisa melindunginya?"
Lucas tidak menjawab.
Namun, sebelum dia bisa melakukan sesuatu, suara ketukan terdengar dari pintu apartemen.
Lucas menoleh dengan waspada.
Dan suara yang terdengar dari luar membuat jantungnya berhenti sejenak.
Queen Dior.
"Nadine? Lucas? Aku di luar."
Lucas menatap Nadine dengan bingung. "Apa dia tahu tentang ini?"
Nadine menggeleng cepat. "Tidak mungkin."
Lucas mendekati pintu dengan hati-hati. Namun sebelum dia bisa membukanya…
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
"Buka pintunya, Lucas. Atau kau akan menyesal."
Lucas merasa sesuatu yang dingin menjalari tubuhnya.
Ini jebakan.
Dan mereka sudah terlambat untuk melarikan diri.
3. QUEEN DIOR – SAHABAT ATAU PENGKHIANAT?
Dari balik pintu, Queen Dior menggigit bibirnya.
Tangannya sedikit gemetar saat dia mengetuk pintu sekali lagi.
Dia tahu bahwa Nadine dan Lucas ada di dalam.
Namun, dia juga tahu bahwa Adrian ada di luar.
Jantungnya berdebar keras, perasaan bersalah membanjiri dadanya.
Dia tidak ingin melihat Nadine hancur. Dia tidak ingin pengkhianatan ini terungkap dengan cara yang buruk.
Namun, dia juga mencintai Lucas.
Dan jika Adrian benar-benar tidak bisa ditahan… mungkin ini satu-satunya cara.
Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu sekali lagi, tetapi sebelum ia bisa melakukannya, sebuah suara terdengar dari belakangnya.
Suara Adrian.
"Lakukan saja, Queen."
Napasnya tercekat.
Dia menutup mata sejenak, lalu dengan ragu, dia meletakkan tangannya pada gagang pintu.
Dalam hitungan detik, semuanya akan berubah.
---
Queen Dior melangkah maju dengan hati yang terombang-ambing. Rasa takut dan rasa bersalah terus bertarung dalam dirinya. Setiap langkah yang ia ambil menuju pintu terasa semakin berat, seolah ada beban dunia yang bergantung pada keputusan yang akan ia buat.
Dengan tangan yang gemetar, ia memegang gagang pintu dan menariknya dengan pelan. Bunyi pintu yang terbuka membuat udara di dalam ruangan terasa semakin tegang. Di luar sana, Adrian berdiri dengan tatapan penuh percaya diri, seolah tahu bahwa ini adalah langkah terakhir yang harus diambil.
"Nadine," Queen Dior berkata dengan suara serak. "Lucas."
Nadine menatapnya dengan mata penuh pertanyaan. Ada kebingungan dan ketakutan di wajahnya, namun juga sedikit rasa lega, seperti ada sesuatu yang bisa menyelamatkannya.
Namun, ketika mata Nadine beralih ke luar jendela dan melihat Adrian, ia kembali terdiam. Wajahnya berubah, seolah ia menyadari bahwa tidak ada jalan keluar yang mudah kali ini.
Adrian tersenyum penuh kemenangan. "Akhirnya, semuanya menjadi jelas," katanya sambil melangkah mendekat. "Nadine, kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Queen Dior menatap Adrian, lalu kembali ke Nadine. "Aku… aku tidak ingin ini terjadi, Nadine. Aku tidak ingin melihatmu terluka."
Lucas maju satu langkah, melindungi Nadine. "Jika kau berharap kita akan menyerah, Adrian, kau salah. Kami tidak akan membiarkanmu mengambil apapun dari kami."
Adrian menatap Lucas dengan sikap dingin. "Kau pikir kau bisa melawan? Kau tahu bahwa ini bukan tentang kekuatan fisik. Ini tentang siapa yang mengendalikan permainan ini."
Nadine merasa seakan dirinya terjepit antara dua dunia. Satu dunia yang telah dihancurkan oleh masa lalu dan satu lagi yang berusaha untuk membawanya ke masa depan yang lebih baik. Namun, sekarang, kedua dunia itu bertabrakan, dan ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya.
Queen Dior menatapnya dengan ragu, kemudian dengan suara pelan berkata, "Aku—aku tidak bisa melawan ini."
Nadine menggigit bibirnya, mencoba untuk menahan air mata yang mulai menggenang. "Queen, jangan. Jangan katakan itu."
Tapi Queen Dior hanya menundukkan kepala, tidak mampu melihat wajah sahabatnya yang hancur. "Maafkan aku, Nadine. Aku tidak bisa lagi berpura-pura."
Ketika Queen Dior melangkah mundur dan menepi, Nadine merasakan dunia di sekelilingnya runtuh. Ia tidak bisa percaya apa yang baru saja terjadi. Kepercayaannya telah dihancurkan, dan semua yang ia anggap aman kini terasa jauh dan terpisah.
Adrian maju lebih dekat. "Sekarang, Nadine. Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan."
Sementara Lucas dan Queen Dior hanya bisa diam, perasaan mereka tercabik-cabik, menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.