Kurasa hatiku terbakar melihat pembicaraan antara Rania dan suamiku. Sekilas tidak ada yang aneh tentang pembahasan mereka, tapi ada aku dalam pembicaraan tersebut, membuatku sangat kesal. Harusnya aku mendekat padanya sekarang dan menumpahkan sebotol saus pedas di wajahnya tapi... Mas Husein pasti akan sangat marah dan membelanya, lalu aku akan terjebak dalam luka yang lebih menyakitkan. "Rania, anak ayaaah...."Mas Husein terdengar menggoda putrinya, dia membelai pipi gempil anak perempuan berambut berambut ikal itu, sementara bocah itu tertawa dengan mata berbinar-binar. "Aya ... Aya..." Bocah itu berceloteh membuat ayah dan ibunya terlihat bangga, aku yang masih berdiri beberapa jauh dari mereka memutuskan untuk segera pergi saja. Tak baik berdiri dengan hati dengki sementara tak ad

