Bab 1. Rasa Pahit
Pada tahun kelima pernikahan mereka, Amanda Amareta mulai menyadari jika ada sesuatu yang salah.
"Pahit! Kenapa sekarang vitamin ini selalu terasa pahit?" gumamnya.
Vitamin yang diberi oleh suaminya akan selalu ia minum seperti hari-hari biasanya. Namun akhir-akhir ini, pil-pil itu terasa jauh lebih pahit dari biasanya. Rasa getir itu tidak hilang meski sudah ditelan dengan air hangat.
Awalnya Amanda mencoba untuk mengabaikannya. Kevin Clark selalu tampak perhatian. Ia adalah seorang dokter yang dihormati, suami yang selalu terlihat sempurna di matanya. Tidak mungkin ia berniat buruk, bukan?
"Ya sudahlah, biar besok pagi aku periksa." Amanda kemudian memasukkan botol kecil bertuliskan Vitamin itu ke dalam tas kulitnya.
Keesokan harinya, ia membawa botol obat itu ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Kevin. Dokter pun memeriksa pil di dalam botol dengan wajah serius.
"Apa yang sudah Anda minum ini, Nyonya Amanda?" tanya sang dokter sambil meletakkan botol itu di atas meja. "Berapa lama Anda sudah meminumnya?"
"Ke-kenapa, Dok?" tanya Amanda sedikit gugup. "Bukankah itu vitamin? Sudah hampir lima tahun saya meminumnya."
"Lima tahun?" Dokter itu tampak terkejut. "Anda tahu jika Anda sudah meminum racun selama ini?"
Amanda terdiam, seluruh tubuhnya memanas, begitu pula kelopak matanya. Dia dapat menangkap ekspresi sang dokter yang benar-benar serius.
"Nggak mungkin," ucapnya lirih. "Bisakah dokter mengeceknya lagi? Bukankah itu hanya vitamin biasa?"
"Dengar, Nyonya Amanda. Berapa kali pun saya mengulanginya, hasilnya akan tetap sama." Dokter mengangkat botol obat itu sedikit. "Di dalam botol ini berisi mifepristone. Jika obat ini dikonsumsi secara terus-menerus, bukan hanya berisiko menyebabkan kemandulan, tapi juga merusak tubuh Anda secara perlahan.”
Kata-kata itu menghantam jantung Amanda tanpa ampun. Tenggorokannya seakan dicekik dan bibirnya memucat.
“Nggak … ini nggak mungkin, Dok,” ucapnya tak percaya. “Itu adalah obat yang disiapkan suami saya setiap harinya. Namanya Kevin Clark. Dia juga dokter di rumah sakit ini.”
Dokter itu terdiam sejenak. Ia mengangkat kepala, lalu menatap Amanda dengan sorot mata yang aneh.
“Nyonya,” katanya pelan, “sebaiknya Anda sekarang pulang dan jangan banyak membual.”
"Membual? Saya berkata yang sebenarnya, Dok. Saya Amanda, istri dari Dokter Kevin Clark. Anda pasti mengenalnya?" Amanda mencoba mempertahankan diri.
Dokter muda itu pun tersenyum, "Jangan berkhayal terlalu tinggi, Nyonya."
Sang dokter meletakkan kembali botol itu ke atas meja. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan, Amanda merasakan sesuatu yang mengerikan. Apakah mungkin ia tidak benar-benar menjadi istri dari Kevin Clark?
"Nyoya Amanda, kami semua mengenal Dokter Kevin, begitu pula dengan istrinya. Mereka baru saja memiliki seorang anak tiga bulan yang lalu. Jadi, sudahi omong kosong Anda sekarang," lanjut dokter itu lagi.
"Dokter jangan bohong, atau saya akan hubungi suami saya sekarang juga!" sentak Amanda sedikit emosi.
Tidak ingin menanggapi dengan emosi yang sama, dokter itu kemudian merogoh ponsel dari saku kemeja putihnya, dan segera membuka folder galeri yang ada di sana.
"Apakah Kevin Clark ini yang Anda maksud?" tanyanya.
Di dalam foto tersebut, Kevin tampak mengenakan jas dokternya. Dia berfoto di salah satu ruang rawat inap dengan menggendong bayi. Namun, di sampingnya juga tampak seorang wanita yang tersenyum lebar. Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah keduanya.
"Ini nggak mungkin!" gumam Amanda yang hancur melihat foto itu.
Ia mengenali wanita itu, wanita yang dikatakan sebagai istri Kevin. Dia adalah Cecilia, adik angkat Kevin yang memang sudah beberapa kali ia temui.
"Iya, saya sudah mengatakan jika apa yang Anda katakan itu tidak mungkin, Nyonya. Kami semua juga menjadi saksi kelahiran putra Dokter Kevin. Nyonya Cecilia adalah istri dari Dokter Kevin, dan itu adalah anak mereka," sahut sang dokter.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Amanda langsung mengambil botol vitamin yang ada di atas meja dengan kasar. Dadanya terasa nyeri, matanya semakin memanas, tetapi tak ada setitik pun air mata yang turun dari sana.
Dengan langkah cepat ia berjalan meninggalkan ruang periksa, dan dengan dengan tergesa ia masuk ke dalam lift. Ketika pintu tertutup, ia dapat mendengar dengan jelas suara seorang pria yang begitu familiar baginya.
Hari ini Amanda berpakaian rapat dengan mengenakan jaket karena memang ia merasakan tidak enak badan sejak semalam. Mendengar suara itu, Amanda langsung menaikkan penutup kepala yang ada di jaketnya.
"Kevin, kenapa dulu kamu bersikeras meminta agar Amanda kembali kalau ujung-ujungnya tetap menikah sama Cecil? Sekarang kamu sendiri yang harus bermain cantik hanya untuk bertemu dengan anakmu. Apa kamu nggak takut kalau nanti Amanda bakalan tahu, Vin?"
Sedikit kekehan kecil terdengar keluar dari mulut Kevin. "Amanda nggak akan pernah tahu, Den. Asal kamu jaga mulutmu itu baik-baik. Kamu yang paling sering ketemu sama dia, kamu yang paling paham apa yang harus dikatakan dan apa yang harus kamu simpan."
Denny, adalah sahabat dekat Kevin. Iya, Amanda juga mengenalnya, karena memang Denny sering datang ke rumah untuk membahas beberapa hal tentang rumah sakit yang tentu saja tidak pernah Amanda ketahui detailnya.
"Demi Amanda, kamu sampai rela menjauh dari Cecil, lalu dengan segala cara kamu membawanya kembali. Sebenarnya, siapa yang kamu cintai, Vin?" tanya Denny.
Beberapa saat Kevin terdiam. Jantung Amanda sudah berdetak tak karuan menunggu jawaban yang akan keluar.
"Aku mencintai Amanda, tetapi juga nggak bisa melepaskan Cecil. Aku telah membuatnya menjauh, tetapi tiap kali memikirkan Cecil harus hidup sendiri tanpa aku, aku juga kacau," jawab Kevin pada akhirnya.
Jawaban itu sungguh membuat perasaan Amanda hancur, dan seluruh persendiannya melemas. Ingin sekali ia luruh saat itu juga, tetapi ia masih mencoba kuat untuk tetap berdiri.
"Kejam sekali kamu, Vin." Denny menghela napas cukup panjang.
"Aku sudah memberikan status pernikahan sama Amanda, sekarang aku hanya memberikan anak pada Cecil. Setidaknya, itu yang dapat aku lakukan untuk mereka berdua sebagai suami yang adil."
"Woi, Vin. Kamu lupa, bahkan seluruh rumah sakit tahu jika istrimu adalah Cecil, bukan Amanda," sergah Denny.
"Tapi Amanda hanya tahu jika dia adalah satu-satunya istriku," timpal Kevin sambil tertawa kecil, seolah percakapan keduanya hanyalah candaan remeh.
"Lalu ... gimana nanti kalau Amanda juga hamil dan memiliki anak? Apa kamu masih bisa menjadi suami yang adil buat Amanda sama Cecil?" tanya Denny lagi.
Suara lift yang sudah sampai ke lantai tujuan berbunyi nyaring di telinga Amanda. Kevin dan Denny berjalan hingga tanpa sengaja lengan Kevin menyentuh tubuh Amanda, tetapi Amanda tetap menundukkan kepala.
Pintu terbuka bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari mulut Kevin. "Nggak akan."
Denny sedikit tertegun, belum mengerti apa maksud dari Kevin. Antara dia tidak akan memiliki anak dengan Amanda, ataukah dia tidak akan pilih kasih antara keduanya. Namun, Amanda sudah dapat memahaminya.
Kevin tidak akan pernah memiliki anak dengan dirinya, sebab sejak awal Kevin sudah menyiapkan obat steril karena tak ingin jika itu akan mengganggunya bersama istri kecilnya.
Pintu kembali tertutup, lift melaju turun ke lantai satu. Amanda benar-benar bisa bernapas dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Jadi, inikah caramu bermain, Kevin?" gumam Amanda dengan rahang mengeras.