Bab 2. Hati yang Hancur

1070 Words
"Jadi, inikah caramu bermain, Kevin?" gumam Amanda dengan rahang mengeras. Tangan Amanda mengepal di depan dadanya. Mungkin Amanda masih bisa berdiri, tetapi jauh di dalam dirinya, semua terasa remuk. Tak lama setelah itu ponsel Amanda bergetar. Kevin: Kamu di mana, Sayang? Kevin: Siapkan dirimu untuk kejutan yang sudah aku siapkan. Melihat dua pesan yang baru saja masuk ke ponselnya, Amanda merasa begitu emosi. Amarahnya meluap dan detik itu juga, ia terkulai di lantai dengan isak tangis yang akhirnya keluar juga. "Bukankah kamu sudah memberiku kejutan?" gumam Amanda lirih. Amanda tahu jika menjadi dokter adalah sebuah profesi yang sangat menyita waktu. Namun, sejak dirinya menikah, Kevin selalu ada untuk menemaninya. Kevin juga yang selalu berusaha untuk mewujudkan setiap mimpinya satu per satu. Amanda merupakan arsitek terbaik di bidangnya, dan ia rela meninggalkan semua karirnya demi Kevin. Bahkan untuk membuat Amanda bertahan di sisinya, Kevin rela membangun rumah megah persis seperti apa yang Amanda idamkan selama ini. Perlahan, Amanda berdiri. Dengan kasar, ia menghapus air matanya. Dengan nyeri yang begitu terasa, ia menghirup udara dalam-dalam untuk kembali mengumpulkan kepingan-kepingan hati yang sudah hancur. "Aku tidak akan kalah. Kamu hanyalah seorang adik angkat, Cecil," desisnya penuh amarah. Ia kembali melangkahkan kaki dengan langkah yang lebih tegar. Namun, isi kepalanya terdengar berisik. 'Pantas saja Cecil lebih mengenal setiap sudut ruangan yang ada di keluarga Clark dibandingkan dirinya. Pantas saja Cecil yang katanya pergi ke luar negeri bisa menghafal semua nama teman-teman Kevin.' Cecilia bukan sekedar adik angkat, tetapi calon istri yang memang sejak kecil sudah dijodohkan dengan Kevin. Tepat pada saat Amanda hendak membuka pintu mobilnya, sebuah pesan masuk lagi. Di sanalah Amanda tak lagi dapat meneteskan air matanya, karena pesan itu bukan datang dari suaminya. Cecilia: Harusnya kamu sadar dengan posisimu. Kukira kamu wanita pintar, ternyata hanya benalu yang menganggu suamiku. Cecilia: Oh, iya. Apakah kamu mau lihat anak kami? Kata Kak Kevin, anaknya sangat mirip dengan dirinya. Bagaimana kalau menurutmu? Sebuah foto keluarga pun masuk, dan seperti apa yang baru saja Cecil katakan, anak itu memang benar-benar mirip ayahnya. Amanda hanya melihatnya sekilas tanpa ada keinginan untuk membalas. "Jika kamu memang menginginkan Kevin, maka ambillah, Cecil!" ujarnya dingin. Dulu, Amanda sempat berpikir jika orang yang hancur akan menangis sejadi-jadinya. Namun sekarang, saat ia sampai pada tahap ini, Amanda menyadari jika kehancuran yang sesungguhnya justru membuat seseorang tak bisa lagi mengeluarkan air mata setetes pun Amanda masuk ke dalam mobil sportnya, dan menutup pintunya dengan keras. Sebelum ia menyalahkan mesin, ujung jarinya melayang bebas di atas layar. Pada akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor yang hampir ia lupakan. Dering telepon terdengar nyaring, dan saat panggilan itu terhubung, Amanda langsung berkata tanpa menunggu. "Bravy, apakah tahuranmu waktu itu masih berlaku?" Terdengar helaan napas panjang dari ujung telepon. "Amanda—" "Jawab saja! Apakah masih berlaku?" ulang Amanda dengan suara yang lebih tegas. "Satu minggu lagi, aku akan datang untuk menjemputmu," jawab Bravy pada akhirnya. Untuk sesaat Amanda terdiam, tetapi tak lama setelahnya ia justru tertawa kecil. Dirinya belum memberitahu apa-apa, tetapi Bravy begitu yakin jika dirinya akan pergi. Namun, apa yang menjadi tebakan Bravy memanglah benar. "Baiklah, aku tunggu." Amanda begitu yakin dengan dan percaya pada Bravy. Dengan apa yang akan dilakukan Bravy seminggu lagi, meskipun Kevin menggali sampai ke dasar bumi sekali pun, dia tetap tidak akan pernah menemukan dirinya. Sampai larut malam, Amanda sama sekali tidak membalas pesan Kevin. Sebenarnya bukan pulang ke rumah tujuannya, tetapi Kevin merasa cemas setiap kali Amanda tidak membalas pesan darinya. Akhirnya pada malam itu, Kevin kembali ke rumah. "Amanda, Amanda!" teriaknya ketika melihat pintu depan tidak terkunci. Dia benar-benar panik saat tak mendengar suara Amanda. Namun, kecemasannya mulai menghilang ketika ia masuk ke kamar. Di sana, ia melihat Amanda duduk di depan meja sambil mencorat-coret sketsa bangunan. "Manda, kamu baik-baik saja?" Dengan tergesa, Kevin berjalan menghampiri. "Kenapa kamu nggak balas satu pun pesanku?" Kevin memeluk tubuh Amanda dengan erat dengan dagu yang ia letakkan di pundak Amanda. "Aku benar-benar takut, Sayang." Semua kasih sayang dan ucapan itu tampak begitu tulus, bahkan Amanda juga tahu jika Kevin benar-benar mencintainya. Namun, itu sebelum dirinya tahu jika cinta Kevin tidak hanya diberikan pada satu orang saja. Rasa sesak segera memenuhi rongga dadanya. Ingin sekali ia mengamuk saat itu juga, dan membongkar semuanya. Namun pada akhirnya, ia kembali mengurungkan niat itu. Jika dia membongkar semuanya sekarang, maka dia benar-benar tidak akan bisa pergi. Perlahan, Amanda mulai melepaskan pelukan Kevin. "Aku nggak enak badan, jadi aku nggak bisa pergi ke sana." Suara Amanda begitu tenang, hingga Kevin sama sekali tak menaruh curiga padanya. Kevin justru tersenyum dan mencubit kecil pipi mulus Amanda. "Nggak apa-apa, Sayang. Kita masih bisa pergi ke sana lain kali." "Sekarang, kita makan dulu, yuk. Kamu pasti lapar, 'kan?" ajak Kevin sambil mengulurkan tangan di depan Amanda. "Aku sudah memesan meja untuk makan malam. Malam ini aku akan menemanimu makan sepuasnya." Kedua mata Amanda menatap lurus pada tangan yang terulur itu. Ingatannya segera kembali ke masa itu, ketika sang ketua OSIS mengulurkan tangan padanya. "Ayo kita makan, hari ini aku akan mentraktirmu makan sampai puas." Iya, sepuluh tahun yang lalu hanya ada dirinya saja di hati Kevin, tak ada yang lain. Tak ingin menyiksa perutnya yang kosong sejak pagi, akhirnya Amanda mengikuti langkah Kevin untuk pergi makan malam. Semua berjalan normal, dan seperti biasanya, Kevin akan selalu memberikan suapan pertama dari tangannya kepada Amanda. Namun, saat suapan kedua sudah berada di tangan Kevin, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Hal itu membuat Amanda tersadar jika sikap lembut Kevin hanyalah sebuah tipuan yang ia bungkus rapi. "Angkat saja," ucap Amanda datar sambil mengambil makanan dengan sendoknya sendiri. Sesaat, Kevin melirik ponselnya. "Nggak usah, aku nggak mau waktu kita terganggu." Amanda hanya menunduk dan mengunyah, tak berselang lama, ponsel itu kembali berbunyi. "Aku angkat telepon sebentar ya, Sayang," pamit Kevin sembari berjalan menjauh dari meja makan. Amanda melihat kegelisahan yang begitu kentara di mata Kevin saat pria itu kembali. "Siapa?" tanyanya. "Manda, maaf aku harus pergi sekarang juga. Di rumah sakit ada pasien kritis yang harus segera dioperasi," ujar Kevin. "Besok aku akan ambil libur biar bisa temenin kamu lebih lama." Sebenarnya, Amanda sudah melihat nama penelepon sebelum Kevin mengangkatnya. Alih-alih melarang, ia malah mengangguk dan berkata, "Pergi saja." Tak menunggu lama, Kevin pun segera berbalik pergi meninggalkan Amanda di restoran itu sendirian. Rasa nyeri kembali hinggap di relung hati Amanda saat melihat kursi di depannya kosong. "Dan kamu meninggalkanku begitu saja demi adik kecilmu itu?" desis Amanda yang langsung meletakkan sendoknya dengan kasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD