"Percuma!" sentak Amanda seraya menyandarkan punggungnya di kursi.
Ia menatap hot plate di depannya. Beef steak itu baru termakan dua potong. Sisanya masih mengepul dengan aroma daging yang menggiurkan, tetapi tak lagi menggugah selera baginya.
Melihat Amanda yang tampak kesal, pelayan datang untuk menghampirinya. “Apakah ada yang salah, Nyonya?”
“Tidak,” jawab Amanda singkat. “Tolong bawakan bill-nya.”
Tak lama kemudian, ia meletakkan sebuah kartu di sana dan menyelesaikan pembayaran. Setelahnya, Amanda berdiri tanpa sedikit pun menoleh ke kursi kosong di depannya. Ia meraih ponsel dan langsung memesan taksi online.
Sesampainya di rumah, Amanda langsung masuk dan menutup pintu dengan kasar. Sepatu hak tingginya dilepas begitu saja dan dia langsung membaringkan diri di sofa panjang, sofa yang biasa ia gunakan untuk bersantai.
Tepat ketika ia mulai bisa menenangkan diri, sebuah video call masuk, dan betapa muaknya saat Amanda melihat jika itu adalah panggilan dari Cecil. Tak ingin diganggu, ia pun segera mematikan teleponnya. Namun, Cecil tak ingin kalah, puluhan kali ia membuat panggilan video, hingga pada akhirnya Amanda mengangkatnya.
"Kak Manda tadi makan apa? Kenapa suamiku pulang ke rumah dan berbau asap. Apa kalian makan steak?" tanyanya dengan setiap kata yang ditekankan.
"Apa itu penting buat kamu?" jawab Amanda ketus.
"Oh, iya, aku lupa. Meskipun aku nggak penting, tetapi nyatanya Kak Kevin tetap memilih pulang ke rumah," sahut Cecil dengan nada mengejek.
"Cecil, cukup! Apa kamu lupa siapa istri sah Kevin di sini? Apa perlu aku kirim rekaman obrolan ini agar Kevin bisa membuka mata?" sentak Amanda yang mulai memanas.
"Kirimkan saja kalau kamu berani. Kak Manda nggak usah tutup teleponnya, biar Kak Manda tahu betapa bahagianya dia di sini."
Amanda tak habis pikir dengan keberanian Cecilia, tetapi pada kenyataannya Cecil benar-benar tidak menutup panggilannya. Ia berbalik badan, dan merebahkan diri di pelukan Kevin setelah sebelumnya menutup layar ponsel agar tak terlihat.
"Kak Kevin, sekarang sudah ada Sean. Apakah Kak Kevin masih marah sama aku karena aku dulu memilih pergi dengan pria lain?" tanyanya. "Seandainya waktu itu aku nggak pergi, apakah Kak Kevin akan menikahiku?"
Hening untuk sesaat, tanpa Amanda lihat, Kevin tengah menatap dalam pada Cecilia. "Kenapa kamu bertanya seperti itu, Cecil?"
"Aku ... aku hanya bertanya," jawab Cecil dengan suara yang dibuat memelas.
"Iya," jawab Kevin singkat. "Jika saat itu kamu nggak pergi, aku nggak akan mencari Amanda dan menikahinya."
Meskipun Amanda tidak dapat melihat, tetapi dia masih bisa mendengar semuanya. Jawaban yang baru saja keluar dari mulut Kevin benar-benar telah membuat hati Amanda menjadi kosong. Ternyata, Amanda bukanlah satu-satunya wanita yang ada di hati Kevin.
Ia masih ingat semua kata-kata Kevin.
"Tidak peduli sekarang atau nanti, aku ... Kevin Clark hanya akan mencintai Amanda. Apa yang menjadi milikku akan menjadi miliknya. Amanda boleh manja sesukanya, boleh melakukan kesalahan apapun, dan boleh tidak mencintaiku, asalkan dia tidak pernah pergi meninggalkanku."
Amanda menangis tergugu mendengar semua sumpah itu. Namun rupanya, semua sumpah itu sudah palsu sejak awal. Ia mengira jika cintanya dan Kevin begitu sempurna, tanpa pernah tahu bahwa dari awal sampai akhir ia hanya dijadikan pencuri yang merebut tempat orang lain.
Amanda menghela napas panjang dan mencoba mengatur napasnya perlahan. Namun, rasa sesak itu sungguh terasa sakit di tenggorokannya.
"Amanda, simpan air matamu!" ucap Amanda pada dirinya sendiri saat merasakan kelopak matanya sudah mulai menggenang.
Tak ingin merasa sakit yang lebih menusuk, Amanda mematikan panggilan sepihak, membuat Cecilia tersenyum penuh kemenangan di seberang sana.
Amanda masuk ke kamar dan segera mencuci muka. Malam itu Kevin benar-benar tidak pulang, dan Cecil justru mengirim foto Kevin yang sedang tertidur pulas di samping bayinya.
Amanda menatap foto itu begitu lama, hingga tanpa sadar ia tertidur sendiri dalam lelahnya. Tertidur dalam keadaan hatinya sudah mati untuk Kevin.
Pagi ketika Amanda terbangun, rumah masih kosong, Kevin belum kembali. Amanda mengecek ponsel yang semalam ia biarkan begitu saja.
Kevin: Selamat pagi, Sayang. Maaf aku belum bisa pulang. Di rumah sakit masih sibuk.
Kevin: Besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, hadiah khusus yang sudah aku siapkan sejak lama.
Amanda menggenggam ponselnya dengan erat. Hampir saja ponsel itu ia lempar jauh. Bahkan untuk sesaat, ia hampir saja menekan tombol panggil untuk menanyakan apakah Kevin sedang sibuk di umah sakit atau justru sibuk menemani istri kecilnya.
Namun, ia tak ingin membuat semua rencananya gagal. Akhirnya ia hanya membalas pesan itu dengan singkat.
Amanda: Baik.
Baginya, justru akan lebih baik jika Kevin tidak pernah kembali. Hal itu akan memudahkannya untuk mengemasi semua barang-barangnya tanpa sepengetahuan Kevin.
Setelah mengirimkan pesan kepada Kevin, Amanda segera mencari nomor lain di sana. Itu adalah nomor Viona, teman baiknya yang bekerja sebagai seorang pengacara.
"Viona, aku ingin kau membantuku untuk mengurus perceraian!" ucapnya cepat ketika panggilan itu tersambung.
"Tunggu, apa maksudmu, Manda?" tanya Viona yang merasa kaget.
Di depan teman-teman Amanda, Kevin adalah sosok pria yang sempurna. Dia tampan, gagah, berwibawa. Kevin juga bisa dibilang sebagai seorang dokter kaya dan sukses dengan hidup yang bergelimang harta. Namun, tak begitu halnya dengan Kevin. Karena semua teman-teman Kevin, hanya beberapa orang saja yang mengenali Amanda. Selebihnya, mereka hanya kenal dengan Cecilia.
"Tidak ada pertanyaan, Vio. Aku hanya ingin bercerai," jawab Amanda dingin.
Sejenak, hanya ada keheningan diantara mereka berdua.
"Kapan?" tanya Viona pada akhirnya.
"Secepatnya," sahut Amanda.
Sekarang, hanya ada tatapan yang kosong di mata Amanda. Ia sudah tak lagi memiliki rasa pada Kevin, dan di dalam dirinya, semua rasa panas itu sudah hilang, berganti dingin yang tak ada satu orang pun berani menyentuhnya.
Amanda berdiri dan langsung membuka lemari pakaian. Beberapa baju, ia masukkan ke dalam koper. Tentu saja masih ada yang ia tinggalkan di sana. Setelah selesai dengan pakaiannya, Amanda turun ke bawah. Foto-foto pernikahan serta beberapa potret lain yang menggambarkan kebahagiaan mereka terpajang rapi di sana. Begitu banyak, dan tak terhitung jumlahnya.
Amanda mengambil beberapa dari banyaknya foto-foto tersebut, dan memotongnya dengan alat pemotong kertas hingga menjadi serpihan kecil-kecil. Amanda tidak sedang hilang kewarasan, bahkan seandainya bisa, ia pasti akan membakar semuanya.
"Pasti aku akan menghancurkan semuanya, tapi bukan sekarang waktunya."
Amanda berkata dengan gigi yang saling bergemelatuk.
"Kamu ingin memberi kejutan untukku, Kevin? Maka aku harus membalas kebaikanmu itu, bukan?" gumamnya.