Suara motor masih terngiang di telinga Arkha, bahkan setelah ia memarkir Vario hitam miliknya di depan kontrakan. Jam sudah lewat tengah malam. Udara dingin menyelinap lewat celah-celah pintu yang tak sempurna menutup. Tapi hati Arkha... jauh lebih dingin dari malam itu.
Ia duduk di kasur tipis, menatap lantai. Tangannya masih bergetar—bukan karena lelah, tapi karena satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya:
> "Gimana kalau Kirana cuma iseng? Gimana kalau semua yang tadi... cuma basa-basi?"
---
01:17 AM
Arkha membuka laptopnya. Folder yang sama. File kosong itu masih menanti. Tapi tetap tak ada satu pun kata yang bisa ia tulis.
Matanya menatap layar.
Tapi pikirannya... menatap kembali ke sorot mata Kirana saat mengucapkan kalimat itu:
> “Kalau itu bener kamu... makasih. Karena nggak semua orang punya keberanian bilang ‘aku capek’.”
Itu bukan kalimat sembarangan.
Tapi Arkha... sudah terlalu sering kecewa pada harapan.
---
02:09 AM
Pikiran Arkha melayang pada raut wajah Kirana—tatapan kosong yang sesekali muncul di balik senyum ramahnya. Ia mulai sadar: Kirana juga sedang menyembunyikan sesuatu.
Satu kali, ia pernah mendengar bisik lirih dari bilik toilet wanita:
> “Aku capek... kenapa semua orang ninggalin aku?”
Suara itu lirih. Gemetar. Dan kini ia yakin... itu suara Kirana.
---
03:26 AM
Arkha membuka galeri HP-nya. Tak ada foto Kirana. Tapi ada foto lama: dirinya, ayah dan ibu, dan adik kecilnya di teras rumah.
Teringat lagi panggilan dari ibu siang tadi:
> "Khak, Mama butuh uang. Tagihan listrik belum bayar. Utang Mama sama Bu Darmi juga belum lunas... ada 700 ribu lagi."
> "Mama tahu kamu lagi sempit... tapi Mama nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi."
Arkha cuma bisa menjawab, "Iya, Ma... nanti Khak usahain."
---
04:01 AM
Akhirnya Arkha tertidur, tubuhnya menyerah, tapi pikirannya masih tertinggal di tempat parkir tadi. Di senyum Kirana. Di bunyi knalpot yang memalukan. Di kata-kata singkat... yang terasa terlalu dalam.
---
Keesokan Paginya
Suasana kantor mendung, meski matahari terang. Arkha merasa aneh. Semua orang tampak lebih serius. Lalu muncullah pengumuman HRD:
> "Mulai minggu depan, beberapa divisi akan mengalami rotasi dan penyesuaian gaji akibat kondisi perusahaan."
Suasana mendadak beku.
Arkha mendengar namanya disebut: termasuk dalam daftar karyawan yang akan dievaluasi ulang kontraknya. Potensi potong gaji... atau bahkan PHK.
Dunia yang semalam hangat, tiba-tiba runtuh tanpa suara.
---
Saat jam istirahat, Kirana duduk di meja pantri. Wajahnya menunduk. Tangan menggenggam cangkir kopi yang bahkan tak disentuh.
Arkha mendekat, ragu. Tapi Kirana lebih dulu bicara:
> "Kamu tahu... dulu aku pernah tunangan. Orang yang aku percaya... pergi pas aku lagi hancur. Aku belajar diam sejak itu. Belajar terlihat biasa... biar nggak ada yang peduli lagi."
Arkha tertegun. Kirana menatapnya, dan untuk pertama kalinya... tatapan itu tidak sembunyi.
> "Jadi jangan pikir kamu satu-satunya yang merasa kosong, Khak. Aku juga belajar bertahan... sama kayak kamu."
---
Hari itu, mereka tidak bicara banyak lagi. Tapi Arkha tahu:
Bahkan orang yang paling terlihat tenang... menyimpan badai yang sama.
Dan malam itu, ia menulis satu kalimat baru di file kosongnya:
> "Mungkin... kita nggak saling menyelamatkan. Tapi setidaknya, kita saling lihat."
---