Waktu menunjukkan pukul 20:36.
Lantai kantor yang biasanya ramai kini sunyi. Cuma dua cubicle yang masih menyala: milik Arkha dan… Kirana.
Lampu neon putih menyinari ruang itu dingin. Hening yang menggantung seperti selimut tipis, membuat setiap ketikan keyboard terdengar lebih jelas. Lebih dekat.
Di sisi meja, kopi sachet sudah dingin. Mata Arkha mulai berat. Tapi ada hal lain yang bikin dia terjaga malam ini — dan bukan karena pekerjaan.
Tapi karena Kirana... masih di sini.
---
> “Mas Arkha, file pembukuan mingguan yang itu udah dicek belum?”
Suara itu lembut. Sopan. Tapi juga terasa... hangat.
Arkha mengangguk, menyambungkan flashdisk. “Udah, aku baru beresin lima menit lalu.”
Kirana tersenyum. “Cepet juga ya. Aku aja masih stuck di laporan vendor.”
Arkha menggaruk tengkuknya. “Hehe, kebetulan udah hafal polanya.”
Detik berikutnya, sunyi lagi.
Lalu Kirana yang memecah: “Mas Arkha… boleh tanya nggak? Semalam… kamu sempat buka email pribadi nggak?”
Arkha menoleh cepat. Jantungnya nyaris meloncat. “E-eh? Kenapa nanya gitu?”
Kirana tersenyum — tapi kali ini bukan senyum basa-basi. Senyumnya tipis. Seperti menyimpan sesuatu.
> “Nggak apa-apa sih. Cuma… penasaran aja.”
Arkha bingung harus jawab apa. Tapi sorot mata Kirana… sama dengan nada email semalam.
> Lembut. Tapi tahu banyak.
---
Jam bergulir.
Akhirnya semua laporan beres. Kantor makin sunyi. Security sudah dua kali lewat, memberi isyarat: pulang, nak, ini udah malam.
Kirana mengambil tasnya. “Aku harus pulang. Tapi angkot jam segini udah jarang.”
Arkha menelan ludah. “Kalo... mau, aku bisa anterin. Naik motor. Tapi… ya, motorku bukan yang bagus-bagus amat.”
Kirana tersenyum. “Serius? Nggak ngerepotin?”
“Enggak kok. Sekalian jalan pulang juga.”
---
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berdiri di parkiran. Motor Arkha — Vario 125 hitam tahun lama — berdiri setia meski bodinya udah mulai kusam. Dan yang paling bikin Arkha deg-degan...
Knalpotnya bocor.
> “Bismillah,” batin Arkha, sambil menyalakan motor.
Brraaaaakkk!!
Suara knalpotnya menggema. Nyaring. Menggelegar. Dan nggak sopan di malam yang sunyi.
Wajah Arkha langsung memerah. “Maaf ya, Kir. Emang agak… gitu.”
Kirana menahan tawa. Tapi bukannya canggung, ia justru naik dengan ringan.
> “Yang penting bisa pulang. Soal suara... tenang aja, kita nggak bawa kabur bank, kan?”
Arkha tersenyum. Malu. Tapi juga… hangat.
Ia gas pelan, berusaha biar suaranya nggak terlalu bikin warga bangun. Sepanjang jalan, tak banyak kata yang keluar. Tapi di balik helm dan angin malam…
Ada satu hal yang mereka bagi bersama: perasaan tenang, meski di atas motor yang berisik.
---
Di depan kos Kirana, ia turun perlahan.
> “Makasih ya, Mas Arkha. Aku senang bisa ngobrol bareng kamu hari ini.”
Arkha mengangguk. “Sama-sama.”
Kirana berjalan ke pintu, lalu menoleh sekali lagi. “Dan… soal email semalam. Mungkin... kadang kita nulis sesuatu bukan karena ingin dibaca. Tapi karena takut… nggak ada yang pernah benar-benar mendengar.”
Arkha diam.
Tapi malam itu, meski jalan pulang dipenuhi suara knalpot yang malu-maluin — hatinya terasa... lebih sunyi dari biasanya. Tapi sunyi yang penuh.
---
> Dan sejak malam itu, Arkha mulai takut. Tapi bukan takut ditolak. Ia takut... mulai berharap.