Kantor itu masih sama. Lampunya terlalu terang, AC-nya terlalu dingin, dan suara keyboard bersaing dengan dengung mesin printer yang seolah tak pernah lelah. Tapi bagi Arkha… ada satu hal yang berubah hari ini.
Di seberang meja, duduk seseorang yang selalu tahu kapan harus diam dan kapan harus bertanya.
Rafael Dirgantara.
Satu divisi. Satu tawa pahit. Satu perjuangan — meski tak selalu diucap.
Rafa membuka bekal makannya, lalu melirik Arkha yang sejak pagi hanya menatap layar monitor tanpa gerakan berarti. “Khak… elu puasa senin-kamis lagi? Atau… dompet yang ikut tirakat?”
Arkha hanya tersenyum miring. “Tebakan kedua bener.”
Rafa terkekeh pelan, tapi matanya menangkap keseriusan di wajah Arkha. Ia tutup kotaknya, lalu mencondongkan badan. “Cerita. Gue tahu mata lu lagi nyimpan banyak hal.”
Arkha diam sesaat. Lalu membuka suara dengan nada rendah, nyaris seperti bisikan.
> “Ada cewek yang ngirimin email semalam...” “Ngga ada nama, nggak ada salam. Tapi dia bilang dia ‘melihat’ gue. Dia tahu gue lelah.”
Rafa mengangkat alis. “Stalker?”
“Entah. Tapi rasanya… dia bener-bener ngerti gue. Kayak dia tahu hal-hal yang bahkan nggak gue beraniin omongin ke siapa pun.”
“Cantik?”
Arkha nyengir tipis. “Belum tahu. Tapi... perasaannya bikin gue tenang. Aneh, ya?”
Rafa bersandar. “Nggak juga. Kadang yang kita butuh bukan orang yang bisa kita lihat, tapi orang yang bisa benar-benar ‘melihat’ kita. Tapi… tunggu dulu. Lu kayaknya bukan cuma pengen cerita soal cewek, ya?”
Arkha menghembus napas panjang. Lalu membuka layar ponselnya. Ada pesan baru dari ibunya.
> “Khak, bisa bantu mama bayar listrik? 200 ribu aja cukup. Sama utang tetangga sebelah… nanti mama ganti pas panen.”
Di bawahnya, ada saldo e-wallet yang tidak berubah sejak semalam: Rp11.427.
“Rafa… gue bahkan bingung besok mau makan apa. Gaji masih 7 hari lagi. Dan emak gue butuh bantuan. Gue pengen bantu, tapi… ya lu lihat sendiri.”
Rafa tidak langsung menjawab. Ia ambil dompetnya, tarik tiga lembar biru, lalu dorong ke depan Arkha.
“Tuh. 300 ribu. Ambil.”
Arkha terdiam. Matanya memanas. “Raf, gue… sumpah, gue nggak minta.”
“Gue tahu. Tapi elu cerita. Dan gue dengerin. Bukan buat kasihan, tapi karena gue tahu rasanya bingung antara jadi anak baik atau jadi diri sendiri. Ambil, Khak. Lo cuma perlu kuat sampe seminggu lagi. Sisanya… gue yakin lu bisa.”
Arkha menggenggam uang itu dengan tangan gemetar. Bukan karena jumlahnya. Tapi karena makna dari tangan yang masih mau menggenggamnya — saat dunia rasanya udah lepas semua.
> “Raf… makasih. Serius.” “Tenang. Gue nggak butuh makasih.” “Terus butuh apa?” “Lu jangan nyerah.”
Arkha tersenyum. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Karena di tengah reruntuhan hidup, ternyata masih ada satu tempat yang cukup kuat untuk berdiri: persahabatan.
---
Di luar jendela, awan mulai pecah. Sinar matahari menembus tirai tipis kantor, menyinari meja mereka berdua.
Dan di layar komputer Arkha, folder kosong bernama “Yang Tak Pernah Aku Katakan”... mulai terbuka kembali.