Bab 3 — Suara yang Tidak Pernah Diminta

698 Words
Pagi itu Arkha bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat. Tapi karena mimpi semalam terlalu senyap untuk ditidurkan kembali. Tak ada suara, tak ada warna — hanya rasa… hampa. Ia duduk di ranjang, memandangi dinding kontrakan yang retak di sudutnya. Udara pengap bercampur bau debu. Ia menatap jam di ponsel: 06:14. Layar ponsel memunculkan notifikasi w******p dari kontak bernama Mamah 🕊️. > "Kha… bisa bantu mamah, nggak? Listrik belum dibayar. Kalau nggak, hari ini diputus. Mamah juga dikejar utang sama warung." Arkha menghela napas pelan. Gajinya belum turun. Sisa saldo tinggal 147 ribu. Ia tahu kalau ia kirim sekarang, nanti malam ia harus pilih: makan atau nggak makan. Tapi ia tak tega. Selalu begitu. Karena jika dunia ini sudah terlalu berat untuk satu orang, setidaknya ia bisa membagi bebannya. > "Iya, Mah. Nanti siang Kha transfer." Tangannya gemetar sedikit saat mengetik. Tapi ia tekan kirim juga. Lalu menatap pantulan wajahnya di layar ponsel: mata sembab, rahang tegang. Ia tersenyum tipis. > “Pagi juga, Arkha,” gumamnya sendiri. “Selamat jadi kuat lagi.” --- Di kantor, suasana masih seperti biasa: dingin dan steril. Suara keyboard, mesin fotokopi, dan udara AC yang lebih menusuk dari empati manusia di dalamnya. Arkha duduk di meja, menyelesaikan revisi laporan anggaran bulanan. Tiba-tiba suara kepala divisi menggema: > “Teman-teman, kita kedatangan karyawan baru. Perkenalkan, ini Kirana.” Langkah kaki mendekat. Suara sepatu hak rendah. Lalu berhenti di depan barisan meja. Dan ketika Arkha mengangkat kepala, matanya membeku. Kirana. Gadis itu berdiri dengan tenang. Rambutnya hitam gelap, diikat rapi. Wajahnya teduh. Tapi yang membuat Arkha kaget adalah… matanya. Itu mata yang sama dengan yang ia bayangkan semalam. Mata yang seolah pernah melihatnya lebih dalam dari cermin mana pun. > “Silakan kenalan, Kirana,” ujar sang atasan. Kirana menatap ruangan. Tapi ketika matanya bertemu dengan Arkha, sejenak dunia jadi diam. > “Hai… Aku Kirana. Dan aku harap kita bisa saling mengerti, bukan cuma bekerja bersama.” Beberapa orang tertawa kecil. Arkha tidak. Matanya masih terpaku. Ada sesuatu yang menggedor dadanya. Email semalam. > “Aku melihatmu, Arkha. Dan aku tahu kamu lelah.” Kirana. Itu kamu? --- Sepulang kerja, Arkha tidak langsung pulang. Ia duduk sendirian di halte, memandangi jalan raya yang macet oleh cahaya dan suara. Tapi di dalam kepalanya, hanya satu suara yang bergema: > "Kirana tahu namaku… dan tahu aku lelah. Tapi kenapa? Dan siapa dia sebenarnya?" Pikirannya penuh tapi kosong. Ia buka emailnya — tak ada pesan baru. Tidak ada subjek. Tidak ada balasan. Tapi pesan semalam masih ada. Bukti bahwa suara sunyinya tidak sepenuhnya hilang di angin. --- Malam itu, ketika ia sampai di kontrakan, listrik masih menyala. Mungkin ibunya sempat bayar pakai pinjaman darurat. Arkha tak sempat kirim uang hari itu. Tapi yang lebih mengganggu adalah… bayangan Kirana. Ia menyalakan laptop. Folder "Yang Tak Pernah Aku Katakan" masih kosong. Tapi hari ini, jemarinya mulai bergerak: > "Aku bertemu seseorang yang mungkin pernah tinggal di reruntuhanku. Tapi dia tersenyum, seolah reruntuhan itu rumah." Tangannya berhenti. Lalu mengetik lagi: > "Aku ingin bicara padanya. Tapi aku takut… dia mendengar semuanya dan memilih pergi." --- Keesokan paginya, kantor kembali dingin. Tapi kursi di sebelah meja Arkha… sudah terisi. Kirana. Ia menoleh dan tersenyum. "Pagi, Arkha." Arkha membalas dengan anggukan kecil. "Pagi." Suara mereka biasa saja. Tapi ada denting lain di dalam kepala Arkha. Saat istirahat siang, Kirana duduk di pantry kantor, membuka kotak makanannya. Arkha ragu, tapi akhirnya ikut duduk di depannya. Kirana menatapnya. Senyumnya… bukan basa-basi. > “Kamu belum buka pesan keduaku, ya?” Arkha nyaris menjatuhkan sendok. "Apa maksudmu?" Kirana menatap lurus. "Cek inbox. Tapi buka folder spam. Kadang yang penting malah dikira gangguan." --- Malam itu, Arkha membuka emailnya. Folder spam. Satu email baru. Tanpa subjek. Tanpa pengirim yang dikenali. > "Aku pernah ada di titikmu, Khak. Aku juga pernah ingin hilang. Tapi seseorang dulu berkata padaku: 'Kalau kamu merasa tidak ada yang dengar, jadilah suara itu untuk orang lain.' Maka aku di sini. Bukan untuk menyelamatkanmu. Tapi untuk memastikan kamu tahu… kamu tidak sendiri." Arkha menutup laptop. Air matanya jatuh tanpa suara. Untuk pertama kalinya, ia merasa… mungkin ia tidak harus jadi kuat sendirian selamanya. Dan itu cukup. Untuk malam ini. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD