Aku pernah berpikir...
apa gunanya hidup,
jika tak ada yang benar-benar mendengarkan?
Bukan sekadar mendengar suaraku saat bicara,
tapi mendengar hal-hal yang tak pernah aku ucapkan.
Yang hanya tinggal dalam d**a — membatu.
---
Hari-hariku berulang seperti salinan yang tak pernah diperiksa ulang:
Bangun. Mandi. Kerja. Pulang.
Bangun. Mandi. Kerja. Pulang.
Hidupku bukan rangkaian keputusan,
tapi sekadar jeda panjang antara alarm dan layar komputer.
Orang-orang mengira aku baik-baik saja.
Aku tersenyum saat harus tersenyum.
Tertawa saat diperlukan.
Tapi tak satu pun dari mereka tahu,
bahwa aku bahkan lupa... rasanya hidup.
---
Di kantor, aku dikenal sebagai “karyawan teladan”.
Rajin. Disiplin. Tidak banyak bicara.
Mereka menyebutku tenang.
Padahal kenyataannya,
aku hanya sunyi.
Begitu sunyi, sampai kadang suaraku sendiri terdengar asing di kepalaku.
---
> “Arkha, nanti sore kamu handle laporan keuangan yang minggu lalu, ya.”
Suara atasan melayang seperti gema,
tak masuk sepenuhnya ke telinga.
Aku mengangguk. Refleks. Tanpa tanya. Tanpa protes.
Karena aku sudah terbiasa.
Di dunia nyata,
yang terlihat lelah… jarang dipedulikan.
Dan aku sudah terlalu mahir menyembunyikan lelahku.
---
Pulang ke kontrakan kecilku,
aku tak berkata apa pun.
Tak menyapa siapa pun.
Karena tak ada siapa pun.
Aku melempar tubuh ke kasur.
Langit-langit kamar menatapku diam —
seperti cermin besar yang tak peduli apakah aku masih hidup atau sudah usang.
Ada keinginan untuk bicara.
Tapi pada siapa?
> Siapa yang mau mendengarkan suara...
yang bahkan aku sendiri tak tahu cara mengucapkannya?
---
Aku membuka laptop.
Folder kosong.
File kosong.
Judulnya: Yang Tak Pernah Aku Katakan.
Kudetakkan jari di atas keyboard.
Tapi tak ada yang keluar.
Bukan karena tak ada cerita.
Justru karena terlalu banyak.
Terlalu dalam.
Terlalu kusimpan, sampai tak tahu lagi bagaimana cara mengeluarkannya sebagai kalimat.
---
Lalu…
> Ding.
Satu suara notifikasi.
Satu email masuk.
Bukan dari kantor.
Bukan iklan.
Bukan daftar spam.
Alamatnya... tak dikenal.
Tanpa subjek.
Tanpa salam pembuka.
Cuma satu kalimat:
> “Aku melihatmu, Arkha. Dan aku tahu kamu lelah.”
---
Aku terdiam.
Jantungku seperti berhenti sebentar.
Tidak ada yang tahu alamat email itu.
Tidak ada yang pernah memanggil namaku…
dengan cara seperti itu.
Dan yang lebih aneh—
tidak ada yang seharusnya tahu bahwa aku sedang lelah.
Tidak sedalam ini.
Tidak seperti ini.
Aku baca kalimat itu berulang kali.
Sampai huruf-hurufnya seperti meresap ke kulit.
> “Aku melihatmu, Arkha. Dan aku tahu kamu lelah.”
---
Kupeluk tubuhku sendiri.
Seolah kalimat itu bisa menjahit kembali sesuatu dalam diriku
yang sudah lama sobek tapi tak pernah sempat kubenahi.
Untuk pertama kalinya setelah entah berapa tahun,
dadaku terasa sesak —
tapi bukan karena beban.
> Karena ada seseorang di luar sana...
yang mungkin benar-benar melihatku.
Bukan wajahku.
Tapi retakan yang tak pernah kutunjukkan ke siapa pun.
---
Malam itu, aku tidur.
Bukan karena lelah.
Tapi karena... untuk sekali ini,
aku tidak merasa sendirian sepenuhnya.
---
Tapi saat aku terbangun...
aku tahu:
ini bukan akhir dari keanehan itu.
> Karena ketika aku membuka laptop keesokan harinya...
email itu sudah hilang.
---