Bab 13 Keprihatinan Reiko

2406 Words
"MISAKI-CHAN~!" erang Reiko dengan tampang memelas di saat ia memilih beberapa aksesoris untuk Misaki. "Reiko. Aku tidak apa-apa. Sungguh." Ia tersenyum tulus. "Aku BE.NAR. BEEEEE.NAR minta maaf!" kedua tangannya dirapatkan di depan kepalanya yang menunduk di atas meja lesehan. "Itu tidak perlu. Reiko-san tidak salah apa-apa, kok!" katanya berusaha menenangkan. Kakak Sang Playboy ini, sejak masuk kembali ke ruangan, ia terus meminta maaf atas kelakuan adiknya itu. "REI.KO. REIIII. KOOO!" telapak tangannya memukul-mukul meja. "Ah… maaf. Aku belum terbiasa. Aku butuh waktu." Mulut Reiko dimajukan ke depan. "Baiklah. Kurasa aku terlalu cepat berharap. Padahal, kau itu cocok sekali dengan Wataru-kun." Kali ini dia bertopang dagu, matanya menerawang jauh ke luar kaca pintu balkon. "Reiko-san.…" Raut wajah Reiko berubah jengkel dalam sekejap. "Misaki! Aku heran bagaimana kau bisa tahan bertetangga dengan Wataru-kun dengan kebiasaan buruknya itu?" "Ah… Itu…." Ia hanya tersenyum pucat. Pemilik suara yang baru datang tadi mulai mengeluarkan suara-suara yang tak enak didengar. Sesekali jeritan dan desahan yang bikin bulu kuduk merinding, membuat siapa pun ingin melempar bom ke sebelah saja saking mengganggunya. "Dasar lelaki bej*t!" Reiko mengepalkan tangan kuat-kuat. "Hmmm. Reiko-san. Bagaimana kalau kita makan dulu baru mulai dengan semua ini?" tawarnya. "Misaki…" suaranya terdengar merana dan iba, pandangannya terlihat kasihan, "kau tidak keberatan? Kau tunangannya, loh!" "Aku baik-baik saja." Jawabnya mantap dan tegas, diselingi jempol di udara. "HEEEEEEE?????" Reiko nyaris lepas kendali lagi, tapi dia menahan diri, hanya melengos di antara tumpukan baju mahal di atas meja. "Reiko-san. Seperti yang diucapkannya tadi. Palsu tetaplah palsu. Kami berdua sama sekali tak ada hubungan yang spesial, kecuali bawahan dan atasan. Tidak lebih, tidak kurang." Ia mengelap kacamatanya, berkilau saat memakainya seraya berkata dengan nada kuat penuh keyakinan, "Dia tak ada artinya buatku." Reiko terdiam sesaat, lalu dengan nada hati-hati mengeluarkan unek-uneknya. "Apa uang lima ratus juta yen itu sangat penting untukmu? Aku yakin kau bukan tipe perempuan mata duitan. Jika kau memang mata duitan, sejak dulu kau bisa memanfaatkan kecantikanmu saat ini. Kau bisa membuat para lelaki berperang demi memperebutkanmu. Aku serius. Bahkan nyawa bisa jadi taruhannya." Suaranya dalam dan tak ada keraguan sedikit pun. "Reiko-san terlalu melebih-lebihkannya saja. Kualifikasiku tak seperti itu." Matanya melirik ke samping, pipinya merona hebat. "Tapi, terima kasih atas pujiannya. Aku siapkan makan malam dulu." Ia tersenyum simpul. "Pujian apa? Aku berkata yang sesungguhnya, kok. Kecantikanmu seperti berlian yang tertutupi lumpur yang pekat. Gawat sekali kalau beberapa pria menyadari keistimewaan anak ini dalam waktu bersamaan... sepertinya akan ada masalah besar yang akan terjadi…" gumamnya pada diri sendiri, matanya memandang iba pada punggung Misaki yang menjauh. "Wataru-kun bakal kesulitan jika dia beneran sampai jatuh cinta pada Misaki… Aku kasihan duluan pada bocah itu, deh." Reiko menghela napas pasrah. Suara tipi sengaja dibesarkan untuk meredam suara-suara menyebalkan di samping, bercampur dengan suara berisik di dapur. Reiko dicegat untuk membantu Misaki setelah wortel yang dipotongnya melompat ke arah api kompor dan hampir menyebabkan kebakaran pada keset dapur. Jadi, perempuan seksi itu hanya duduk malas-malasan di depan tv. "Misaki! Kalau tunangan BRENGS*KMU itu membuangmu, AKU AKAN MENGENALKANMU PADA BEBERAPA PRIA HEBAT KENALANKU! Suaranya sengaja dibuat-buat, dan menekankan pada beberapa kalimat tertentu agar Wataru mendengarnya. Waduh. Reiko sepertinya masih sulit mengendalikan diri. Misaki sama sekali tak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengiyakan hal itu, tangannya sibuk menyiapkan makan malam secepat mungkin. "OH! AKU BISA MENGENALKANMU PADA PRIA INI!" Reiko bersemangat bukan main, tangannya menggantung di udara dengan remot tergenggam. Wajahnya begitu merona ceria. "MISAKI! PRIA INI MODEL DAN AKTOR YANG SANGAT TERKENAL! JUGA SANGAT SUKSES! TAHUN INI, DIA BARU BALIK DARI KOREA DAN AMERIKA, LOH! DIA JUGA ANAK CEO PERUSAHAAN TERNAMA DUNIA! TAJIR MELINTIR DIA INI! UANG LIMA RATUS JUTA YEN BISA DIBUANG PERCUMA DALAM SEDETIK, LOH! TIDAK SEPERTI SESEORANG YANG PELITNYA BUKAN MAIN SAMPAI BERLAKU LAYAKNYA SEORANG TIRAN SEGALA!" Ampun! Reiko benar-benar, deh! Tingkah lakunya seperti orang yang habis minum saja! "Reiko-san. Sudahlah. Mari kita makan!" tangannya sibuk merapikan isi meja dan menggantinya dengan menu makan malam yang meski sederhana sangat menggugah selera. "MISAKI! LIHAT BAIK-BAIK PRIA INI! DIA INI TIPE YANG SANGAT DIIDOLAKAN SEANTERO JEPANG, LOH!" Kedua telinga Misaki ditutup, wanita itu berbicara terlalu keras dan kencang. Kupingnya rasanya mau pecah! "Wataru-kun~" suara perempuan di sebelah merajuk, lalu mendesah sekali, "tetanggamu sepertinya punya masalah dengan tunangan brengs*knya. Kasihan sekali, ya dia? Kalo Wataru-kun, jadi tunanganku pasti luar biasa, kan?" kali ini suaranya agak menjerit, dan kedengaran sengaja agar didengar. Kuping Reiko memerah karenanya. "Sialan! Wanita itu mau cari gara-gara, ya?! Wataru-kun juga! Katanya dia itu genius, tapi kalau masalah perempuan sepertinya otaknya korslet?!" tangannya menyambar acar dalam jumlah banyak di atas meja, melumatnya keras-keras. Alhasil, ia pun tersedak. "Pelan-pelan makannya, Reiko-san" Misaki panik dan memberinya segelas air. Setelah menepuk-nepuk  d a d anya dan menelan kuat-kuat. Ia menghela napas lega. "Misaki. Lihat pria di TV itu baik-baik. Aku beneran bisa mengenalkannya padamu, loh! Koneksiku di dunia hiburan cukup bisa diandalkan. Setelah kupertimbangkan, kau itu terlalu baik untuk adikku yang b*jat." Ia meletakkan gelas dengan bunyi debam yang cukup untuk menghancurkan gelas itu sendiri. "Lihat pria itu, Misaki! Dia bibit unggul!" Saat melirik canggung, Misaki melihat acara wawancara orang terkenal dengan seorang pria berstyle ala J-Rock—celana jeans robek di lutut, dalaman kaos abu-abu dan luaran menyerupai sweater berwarna hitam. Di  d a d a  kirinya ada korsase putih dari kain, plus lehernya dililiti oleh syal hitam kecil ramping dan panjang. Ia tak begitu melihat wajahnya karena lelaki itu duduk menyilangkan kaki dan bertopang dagu ke arah pembawa acara, wajahnya tertutupi rambut panjang ikal nan indah sebahu miliknya. Muka Misaki berubah pucat luar biasa. Reiko-san mau mengenalkannya pada pria semacam itu? TERLALU BERKILAU! LEBIH BURUK DARI TOSHIO! pekiknya dalam hati. "Bagaimana? Apa kau mau? Aku tinggal menghubungi kenalanku saja. Pria itu mungkin saja idola seantero Jepang, tidak, seantero dunia, mungkin." Ia berpikir sejenak. "Walau begitu, tidak mustahil aku bisa mengenalkanmu dengannya dan membuat kalian terlibat cinta yang panas dan romantis." "Reiko-san. Itu sungguh berlebihan." Suaranya gemetar. "Kenapa? Apa kau tidak percaya diri?" Misaki tertunduk, genggaman sumpitnya melemas. YA, IYALAH! jeritnya dalam hati. Apalagi dengan masa lalunya yang kelam… Apa itu masuk akal? "Kau harus lebih percaya diri, Misaki. Apalagi jika tunanganmu Wataru-kun." "PALSU! Tunangan palsu…" cepat-cepat ia mengoreksi hal itu dengan wajah tak nyaman dan panik, kedua tangannya bergerak-gerak gelisah di bawah meja. Reiko melemaskan bahunya, bertopang dagu mengamati Misaki. "Aku tak tahu apa yang terjadi padamu di masa lalu. Tapi, firasatku mengatakan kau tidak seperti ini dulunya." Jleb! Wanita ini sungguh berbahaya! Cenayang, kah? pikir Misaki cemas. "Kalau kau mau menyelesaikan kontrak dengan baik tanpa ada masalah, sebaiknya kau harus meningkatkan rasa percaya dirimu. Teman-teman kuliah adikku itu bukan orang biasa. Profesi mereka macam-macam, mulai dari koki kelas dunia, desainer kelas satu, sampai pebisnis kelas kakap Jepang. Biar begitu-begitu, Wataru-kun adalah lulusan terbaik universitas nomor satu di negeri ini. Dan masuk jajaran pria genius yang bertalenta." "Apa?" bola mata Misaki mengecil, dengan susah payah ia menelan ludah. Si playboy itu memiliki kualitas semacam itu? Apa-apaan itu? Selama ini ia hanya melihatnya seperti pria yang suka pulang malam, kerja tidak jelas, main dengan perempuan ini-itu, merokok dan mabuk semalaman di balkon atau depan pintu masuk, dan kadang pula suka melempar tatapan dingin dan jijik padanya kalau berpapasan. SIALAN! DUNIA KADANG MEMANG TIDAK ADIL! umpatnya dalam hati. "Kau baru tahu ini? Kau tidak baca artikelnya di majalah? Ia tidak memberitahumu apa-apa selama ini?" Reiko tercengang, "dia itu tunanganmu, loh!" jempolnya menghadap ke dinding belakang. "Yup. Palsu. Tunangan palsu," katanya singkat, tersenyum dipaksakan. "Palsu, ya, palsu. Tapi tunangan, tetap saja tunangan. Ah, ribet! Intinya kau tetap saja tunangannya meski palsu. Dan status itu tidak sembarangan bisa diisi, Misaki." "Ah, iya. Terserah saja, deh." Ia menggigit udonnya, matanya menolak bertemu mata wanita itu. "Aku cemas dengan kondisimu yang seperti ini. Sekarang kau paham, kan, aku sangat marah saat mendengar ia menjadikanmu tameng? Meski kau tahu maknanya apa, tapi ini jauh lebih buruk dari yang kau pikirkan." "Benarkah?" makanannya jadi sulit tertelan, menatap Reiko dengan bola mata bergetar. "Aku harap kau bisa bertahan sekuat mungkin. Kamu bisa kena bullying, loh, Misaki. Aku peringatkan sejak dini. Jadi, persiapkan mentalmu baik-baik." "Hah?" "Bukan 'hah'! Wataru-kun itu adalah anak hasil selingkuhan ayahku. Jadinya ia suka dianggap remeh oleh orang lain." "Eh? Kukira…" Reiko tertawa kecil. "Kau kira aku yang anak haram, ya, gara-gara reaksiku tadi?" Misaki mengangguk cepat. Senyumnya kecut dan penuh kesedihan. "Wataru pindah ke rumah kami sejak berusia tujuh tahun. Selama itu, dia banyak mengalami hal-hal yang tak mengenakkan. Walau begitu, dia tak pernah mengeluh atau menunjukkan emosi apapun. Pernah suatu hari, ia jadi bulan-bulanan teman-temannya sewaktu di SMP gara-gara status anak haramnya terbongkar. Kau tahu, kan, betapa kerennya adikku itu? Jadi, banyak yang kagum, tapi juga banyak yang iri dan dengki padanya. Mungkin ia sudah lelah, hingga saat masuk ke bangku kuliah, ia memutuskan untuk hidup sendiri dan menolak dukungan dari keluarganya. Mulai detik itu, Wataru berubah. Dulu, ia adalah anak yang patuh dan manis. Entah sejak kapan menjadi brengs*k dan bej*t seperti sekarang ini." Reiko meringis prihatin, air matanya seakan ingin meluber keluar dari matanya yang indah dan lentik. "Toshio-san…." "Rasanya aku gagal jadi kakak untuknya…" sumpitnya digenggam kuat, nyaris patah. Apakah Reiko merasa bersalah dengan keadaan Toshio saat ini? Ingin rasanya ia bertanya demikian, tapi takut menyentuh topik sensitif itu. Jadi ia hanya diam saja mendengar semua keluh kesahnya tanpa protes. "Wataru-kun… sangat membenci status anak haram yang disandangnya. Bahkan sampai merendahkan dan menghina diri sendiri. Kau lihat, kan, tadi itu?" Misaki mengangguk khidmat. "Kami telah memasukkannya ke dalam daftar resmi keluarga, tapi tetap saja sebagian pandangan orang-orang tidak berubah. Kami sekeluarga juga bersikap baik padanya. Yah…. Ayahku tidak masuk hitungan, sih. Dia itu gila penerus perusahaan. Didikannya keras. Untung saja ia adalah anak yang patuh dan genius, jadi semua bisa dilalui tanpa masalah yang berarti. Sayangnya, ada harga yang harus dibayar untuk semua itu. Masa mudanya dihabiskan hanya untuk memenuhi ambisi ayah kami…" Ambisi? Penerus? Apakah mereka ini keluarga kaya tajir melintir juga seperti model di tv tadi? Tidak heran baju-baju yang dibawanya adalah keluaran merek terkenal. Orang memang tak bisa ditebak dari penampilannya, ya? batin Misaki. Selesai makan, Reiko mulai mengajari Misaki beberapa hal tentang dasar-dasar make up dan memadu-madankan pakaian. Masalah dandan, ia juga sangat terampil dulunya, tapi sejak bersembunyi, tangannya kaku dalam hal rias-merias wajah. Selera berpakaiannya juga jauh di bawah standar. Yang penting baju itu nyaman dan hangat. Tak masalah bentuknya bagaimana. Terlalu mencolok juga tak baik untuk low profile. Beberapa kali Reiko terkagum-kagum dengan hasil karyanya, memperlakukan perempuan berponi rata itu layaknya boneka barb*e yang bajunya digonta-ganti sesuka hati, diberi rambut palsu dan aksesori yang berkilau nan mewah. Hampir tiga jam dihabiskan hanya untuk berdandan dan melatih Misaki agar terlihat luar biasa, ia menyerap ilmu dalam waktu singkat. Misaki bahkan menyiapkan buku catatan khusus agar mencatat apa-apa yang penting disampaikan oleh Reiko. Perempuan anggun itu sangat puas dengan berlian hasil polesannya hingga mengambil foto Misaki nyaris sebanyak enam ratus jepretan foto. Misaki tak bisa protes sama sekali, ia hanya dibolehkan memasang pakaian-pakaian itu seorang diri tanpa bantuan Reiko, karena wanita cantik itu nyaris tak bisa dibantah saat sudah berubah jadi mode penata rias. Cerewet dan sangat penuh semangat! "Kurasa ilmu yang kuberikan sudah cukup." Reiko tersenyum bangga. "Te-terima kasih, Reiko-san…" katanya tulus, masih dalam balutan karya seni Reiko. Misaki memakai rambut palsu kecoklatan ikal sepinggang, bajunya berupa dres biru bergaris di atas lutut. Di pinggangnya dililit pita coklat kecil yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Make up-nya sangat cerah dan natural. Di kedua telinga terpasang anting mutiara tunggal. Kacamatanya pun diganti dengan kontak lensa cadangan. Benar-benar orang yang berbeda! Dijamin tak akan ada yang mengenalinya jika ia berdandan seperti ini! Walau agak risih, tapi ia harus melakukannya. Sesuai permintaannya pada Reiko agar dibuat seratus delapan puluh derajat berbeda dengan dirinya yang asli. Bahkan dengan teknik make up Reiko, wajahnya sedikit berubah. "Baiklah Ini sudah malam. Aku pulang  dulu, ya. Hubungi aku jika ada masalah! Nikmatilah kecantikanmu, Misaki. Jangan minder, lagi!" Misaki mengangguk patuh, tersenyum seperti orang sakit gigi, dan mengantarnya sampai ke depan pintu. Saat Misaki hendak menutup pintu, Reiko yang berjalan melewati pintu apartemen Wataru, tiba-tiba dihadang oleh suara yang terdengar tiba-tiba. "Jangan kemari lagi. Kau mengerti, kan?" Misaki mematung. Pintunya yang menutup separuh berhenti ditarik. Apa mereka akan bertengkar lagi? Bagaimana ia akan bereaksi nantinya untuk melerai mereka? "Jangan suka ikut campur urusan orang lain. Dia adalah budakku, jadi harus atas seizinku dulu." Katanya dingin, bajunya tak dikancing dan memperlihatkan  d a d anya yang berotot. Di balik badannya, seorang perempuan mungil memakai selimut Wataru, berlari menerjang punggungnya, memeluk dengan manja. "Eeeeh? Siapa ini, Wataru-kun?" tanyanya sok imut. "Bukan siapa-siapa." Jawabnya singkat. "Berhentilah sebelum menyesal, Wataru-kun." Reiko memicingkan mata, dia melirik jijik pada teman perempuan Wataru itu. Lelaki itu terdiam sejenak. "Bukan urusanmu. Pergi sana!" Reiko mendengus sebal, melangkah cepat-cepat meninggalkan tempat itu. "Dan kau!" matanya melirik dingin ke arah pintu yang tertutup separuh, menyembunyikan tubuh Misaki di baliknya. "Jaga mulutmu soal kontrak kita. Apa kau tidak punya tata krama dan etika bisnis?" Misaki tertunduk. Ia memberitahu Reiko karena ingin menyelesaikan kontrak itu dengan baik tanpa masalah dan cepat-cepat memutus kontak apa pun dengannya. Kalau bukan itu alasannya, ia tak akan begitu bodohnya membocorkan kontrak itu. Itu, kan, kakaknya sendiri, jadi harusnya tidak mengapa. "Maaf… tidak akan kuulangi lagi…" katanya datar. Tak tahu harus berkata apa. "Kontrak apa, Wataru-kun?" perempuan itu meliuk-liukkan badannya ke punggung Wataru. "Bukan hal penting. Ayo masuk!" "Baik!" teriaknya sok imut. BLAM Pintu tetangganya itu dibanting keras. Misaki terperanjat. Pegangan Misaki pada kenop pintu melemah. Tangan satunya berada di  d  a d a, kepala tertunduk. "Bertahan. Aku mesti bertahan. Demi ayah…" bisiknya pada diri sendiri, matanya berubah sendu. Sementara itu di bawah, Reiko berjalan menuju mobil sportnya seraya bergumam. "Playboy macam apa yang tak bisa melihat harta karun yang ada di dekatnya sendiri?" Ia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel. "Halo? Kazuki-san! Ini aku Reiko! Aku butuh beberapa profil pria tampan dan berkelas milikmu. Untuk apa? Tentu saja bukan buatku. Suamiku bisa ngamuk, tahu!" dia tergelak keras. "Aku ingin mengenalkan seorang perempuan luar biasa dengan pria yang tepat. Kalau bisa, tolong masukkan profil yang high quality, ok? Masalah membujuknya, serahkan padaku!" Lalu ia menutup telepon dengan senyum puas penuh dendam. "Akan kubuat kau menyesal, Wataru-kun. Tunggu saja!" -------------   *Tiran: raja atau penguasa yang lalim dan sewenang-wenang (biasanya memperoleh kekuasaan dengan jalan kekerasan).
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD