Bab 14 Mencuri Dengar

1410 Words
Wataru berjalan pelan di trotoar. Ia baru saja menyelesaikan lari paginya. Meski suhu udara pagi masih terbilang cukup dingin di musim semi ini, ia tetap memaksakan diri beraktivitas di luar, sudah lama ia melewati kegiatan rutin paginya itu. Peluh membasahi wajah dan outfit olahraga hitamnya. Di kedua telinganya terpasang headset, lagu beat aliran J-rock lembut bermain mengisi moodnya. Kakinya berhenti di tepi trotoar, menunggu lampu berganti agar bisa menyeberangi jalan. Ia hendak ke mini market di ujung jalan tak jauh dari situ. Warna lampu pun berganti, kerumunan dari dua arah itu tumpah ruah di tengah jalan. Saat sedang meresapi lagu yang ia dengar, matanya menangkap sosok familiar di kejauhan, dilihatnya seorang pria berjaket cokelat marun, senada dengan warna topinya. Di topi itu ada dua bintang besar yang saling menimpa sisi masing-masing, seolah bergandengan tangan. Pria bertopi itu tersenyum pada seorang perempuan di sebelahnya. Perempuan dengan rambut cokelat ikal panjang, stylenya sederhana tapi sangat modis—baju wol longgar warna peach dan rok putih gading bergaris selutut. Wataru membeku sesaat melihat senyum hangat perempuan itu. Dadanya tiba-tiba seolah dipenuhi oleh kehangatan yang sulit dijelaskan, begitu menentramkan. "Pacarnya, ya?" bisiknya pada diri sendiri, entah kenapa hatinya sedikit gelisah. Saat berjalan cukup jauh, tubuhnya dibalikkan melihat kedua punggung pasangan itu. "Di mana, ya, aku pernah lihat laki-laki itu?" lalu matanya melirik takut-takut pada sosok perempuan di sampingnya, seolah penjahat yang takut ketahuan. Ia menggeleng cepat. Otaknya pasti belum sadar pagi ini. Sembari berdehem keras memikirkan jawabannya, ia melangkah cepat menuju mini market. "SELAMAT DATANG!" Yuka berteriak dengan sangat keras hingga membuat lamunannya buyar. Matanya terbelalak kaget, spontan ia menarik lepas headsetnya. Suara gadis kecil ini benar-benar seperti speaker ganda! "Maafkan dia! Maafkan dia! Entah kenapa hari ini dia seperti baru menang lotere saja!" rekan kerjanya yang seorang pria membungkuk dalam-dalam. "Yuka-san! Minta maaf cepat!" matanya melotot tajam. Bukannya minta maaf, Yuka malah kembali berteriak. "IKEMEN FAVORITKU!" ia bertopang dagu di atas meja kasir dengan air liur nyaris menetes. "YUUUUKKAAAA!!" BLETAK! Satu pukulan kecil mendarat di kepala gadis super ceria itu. "Te-he! Maaf!" lidahnya terjulur sedikit, sebelah mata menutup jahil. "Silahkan berbelanja, Toshio-san! Sejak kau sering datang kemari, dagangan kami laku keras. Terima kasih jadi  p e l a n g g a n  setia kami. Rajin-rajinlah kemari!" Pria ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Wataru hanya mengangguk pelan, hatinya tidak enak setiap kali bertemu orang asing yang tak dikenalnya dan tahu namanya, kemudian bercakap-cakap seolah akrab dengannya. Dan, ya, ampun, dia jadi penglaris mini market ini rupanya. Apakah sehebat itu ketampanannya? Apakah dia harus minta tarif pada mereka? Kakinya melangkah cepat menuju lemari pendingin dengan pikiran usilnya itu, tangannya sibuk mempertimbangkan beberapa minuman isotonik. "Eh? Perempuan tadi itu benar-benar cantik, ya?" Suara bisik-bisik dua pria di samping Wataru terlalu keras untuk didengar. Tanpa sadar, kupingnya membesar. Malu, sih, mencuri dengar kayak gini, tapi ia penasaran. "Benar. Apakah dia itu idol? Lelaki itu beruntung sekali!" "Mereka cocok, ya, rasanya jadi iri. Yang satu cantik, yang satunya lagi ikemen." "Apa aku juga harus menghadiahi pacarku dengan pakaian imut sederhana seperti itu, ya? Lalu menyuruhnya ganti warna rambut?" Mendengar ini, tiba-tiba di pikirannya terlintas perempuan yang tersenyum hangat tadi. Pipinya merona sedikit. "Itu warna apa, sih? Bajunya itu, loh!" "Warna peach. Bukan pink, loh!" "Wuah. Aku tak sabar ingin menyuruh pacarku bergaya semacam itu. Mungkin saja jadi mirip perempuan itu! Dia benar-benar cantik!" lelaki itu memeluk dirinya sendiri, wajahnya memerah hebat. Pria satunya tertawa terbahak-bahak akan hal tidak masuk akal itu, terus menerus meledeknya sampai ke meja kasir. Suara ribut-ribut mereka sungguh keras dan menyita perhatian. "Cantik." Wataru bergumam. "Perempuan itu memang sangat cantik," tangannya meraih sebotol minuman isotonik, kedua matanya menatap langit-langit mini market, pipinya kembali merona, "rupanya dia dari mini market ini, ya?" matanya tertuju ke luar dinding kaca. Bola matanya tampak merindukan sosok itu. BLAM Pintu lemari pendingin ditutup. Ia menyerahkan keranjang belanjaannya ke kasir. Isinya cuma asal ambil saja untuk sarapan paginya. "Semuanya 2300 yen!" seru Yuka, matanya berbinar-binar pada Wataru. "Aku juga mau satu pak rokok seperti biasanya." "Baik! Tunggu sebentar!" gerakan tangannya membentuk hormat, lalu berbalik mengambil pesanan Wataru. "Anak itu sejak malam energinya meluap-meluap sekali. Ditambah dengan kehadiranmu, Toshio-san. Dia seperti gunung api yang meletus." Wataru hanya mengangguk canggung. Dia tak begitu kenal dengan orang ini. Rasanya aneh jika harus mengomentari orang lain dengannya. "Semuanya 2750 yen!" tangannya menyodorkan rokok itu di atas meja. "Oh, Baik. Tunggu." Sementara Wataru merogoh dompetnya, pria rekan kerjanya itu menginterogasi Yuka. "Yuka-san. Apa kau baru saja menang lotere? Jangan sembunyikan, dong! Bagi-bagi, kek!" "Siapa yang menang lotere? Ini jauh lebih hebat dari menang lotere!" telunjuknya maju ke depan, bangga. "Hah? Apa yang lebih hebat dari menang lotere?" "IKEMEN!" "Apa?" "Hari ini aku bertemu dengan dua ikemen luar biasa! Syukur aku belum pulang. Ah~ rasanya dunia jadi indah dan jernih. Bukan begitu, Toshio-san?" ia memandang wataru dengan wajah berseri-seri. "Ah, ya…." Katanya kikuk. "Memang ada pria yang lebih tampan dari Toshio-san?" Mendengar ini, rasanya Wataru seperti tak dianggap di depan mereka. Apakah dia itu udara kosong bagi mereka? Matanya memicing kesal. "Meski tak selevel Toshio-san. Eikichi-san itu manis dan sangat segar!" "Memang dia itu buah, apa? Manis dan segar?" protes rekannya itu. "Oho! Teman Mi-chan itu berada pada level yang lain. Kau tidak lihat betapa manisnya dia itu tadi? Ikemen itu, bagiku ada berbagai macam jenis dan tipe." Terangnya bangga berapi-api. "Ini uangnya." Wataru menyodorkan uang ke arah sang pria, bukan si gadis itu. Antisipasi agar tak ada kehebohan lainnya. "Takeda-san terlalu terpesona, sih, dengan wanita di sampingnya, sampe lupa liat yang lain. Dasar jomblo!" TAK! Ia memukul tangan rekan kerjanya yang mengambil uang itu, cengiran kesalnya membuat tangan pegawai mini market itu mundur. "Silahkan, Yuka-san!" ujarnya cepat-cepat diselingi tawa aneh. "Kembaliannya 250 yen, Toshio-san!" ia tersenyum ramah kelewatan. Saat hendak mengambil uang itu, Wataru harus berjuang ekstra keras melepas uang dari tangan Yuka yang sepertinya sengaja ingin berlama-lama dengannya. "Loh? Misaki-chan punya teman seperti itu juga? Jadi itu temannya, ya?" pria itu keheranan luar biasa. Mendengar hal itu, otomatis mata Wataru melirik ke arah rekan Yuka, fokusnya teralihkan dari rebutan uang kembalian itu. "Fujihara Misaki?" tanpa sadar ia mengucapkannya. Benar juga. Mini market itu adalah tempat kerja tunangan palsunya itu. Kok, lupa, sih? "Eh? Toshio-san kenal dia? Rasanya Toshio-san tidak pernah bertemu shif-nya, kan? Toshio-san hanya sering datang di pagi atau sore hari, kan? Aneh sekali!" Yuka memajukan badannya, curiga. "Apa? Kau memata-mataiku?" matanya memicing tajam, suasana hatinya memburuk. "Aku tahu semua jadwal kedatangan Toshio-san ke toko ini, loh! Jangan anggap remeh pecinta ikemen!" tangannya menunjuk ke arah CCTV. "Kau mau aku laporkan ke polisi, ya?" ujarnya kesal. "Lupakan itu! Toshio-san, apa kau memasukkan Mi-chan ke dalam daftar mainanmu?" selidiknya galak. Apa status playboynya sudah seperti teriakan peringatan darurat bencana bagi orang-orang di sekitarnya? Dia, kan, tak seburuk, itu. Ya, kan? Toh, itu hubungan simbiosis mutualisme semata. Hati nurani dan logikanya berperang. "Kau benar kenal dia, Toshio-san? Hebat sekali Misaki itu. Tak kusangka hantu jepang kita punya kenalan pangeran-pangeran tampan!" pria itu tertawa menahan perutnya. Sepertinya ini adalah hal lucu luar biasa baginya. "Hantu jepang?" ulang Wataru, mendengarnya entah kenapa kesal tapi senang juga. "Cepat katakan!" Yuka mencengkeram lengan  p e l a n g g a nnya itu. "Meski kau ikemen nomor satu favoritku, aku tak akan memaafkanmu jika mempermainkan Mi-chan!" wajahnya berubah galak. Hooo… sadar juga gadis kecil itu sedang mengagumi siapa, pikirnya kesal setengah bangga. "Kami hanya tetangga satu apartemen. Itu saja." Katanya singkat, dan melepas tangannya. Uang kembaliannya dijejalkan paksa ke dalam saku celana. Jengkel bertubi-tubi. "Sungguh?" tatapan mata Yuka masih terpaut padanya, meminta lebih banyak penjelasan daripada alasan. "Kau boleh tanya padanya. Dia juga bukan tipeku. Jelek begitu. Terima kasih atas layanannya." Ia menyambar kantong belanjaannya dengan kasar, kemudian berlalu pergi. "Datang kembali, ya! Dan jangan dekat-dekat dengan Mi-chan!" teriak Yuka ceria memperingatkan. Terlambat, tahu! umpatnya dalam hati. "Yuka! Kau serius itu teman Misaki-chan? Lalu perempuan cantik bersamanya tadi itu siapa? Pacarnya?" "Mungkin." Jawabnya penuh aura misterius, rona wajahnya sungguh berbunga-bunga. "Aku mau pulang, ah! Jam kerjaku sudah habis dari tadi!" Wataru yang mencuri dengar percakapan singkat itu, tiba-tiba berhenti, pintu mini market terbuka separuh. Otaknya memproses semuanya dengan cepat. "Oh! Benar juga... Pantas saja familiar... Jadi dia lelaki yang bersama Misaki waktu itu?" spontan teringat kembali ketika ia mendapati perempuan berponi rata itu berduaan saja dengan seorang pria tak dikenalnya di bangku taman pada malam hari. "Selera wanitanya tinggi juga." Pipinya merona untuk kesekian kalinya. Lalu ia tersenyum jahat. "Kasihan sekali kau, Misaki."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD