Bab 24 Irama Tubuh (2)

684 Words
"Ti-tidak tertarik." Mata Misaki sedikit berputar-putar. Sampai kapan mereka berdansa, sih? "Hoooo. Memang kau tak penasaran rasanya bagaimana?" Pancingnya. "Bisa membuatmu melayang, loh!" Ia meraih dagu Misaki, mata mereka bertemu. Sesaat, suasana itu menjadi begitu romantis. Namun, hal itu dirusak oleh mata menyipit misaki yang memancarkan rasa penasaran lain. "Ketimbang itu, aku lebih penasaran kenapa Toshio-san yang katanya memutus hubungan dan menolak dukungan keluarga, tiba-tiba saja seperti ini?" Wataru tak langsung menjawab. "Reiko itu cerewet sekali, ya." "Jadi, kau ini Toshio Wataru atau Miyamoto Wataru? Sisi mana yang aku kenal sebenarnya?" "Apa mulutmu itu tak punya rem? Untuk apa menggali lebih dalam pada tunangan palsumu? Kau  diam-diam suka padaku, ya?" Misaki kaget. Ia menunduk malu.  Benar juga! Ia lupa! "Maaf. Aku tidak sadar. Soalnya penasaran." "Tsk! Aku ini Toshio Wataru. Miyamoto Wataru hanyalah alat bagi Miyamoto group. Selama aku bisa lepas dan bebas dari cengkeraman mereka 24/7, aku lebih memilih sehari dua hari menjadi Miyamoto Wataru." "B u d a k." "Apa?" "Sesama  b u d a k, aku mengerti rasa itu." Matanya berkaca-kaca penuh rasa iba. "Kau ini!" "Kenapa? Memang benar, kan?" tantang Misaki, senyumnya mengejek. "Menarik. Jadi pasangan berkacamata ini sudah merasakan percik-percik cinta rupanya." Reiko berjalan ke arah mereka, bertepuk tangan kecil dan tersenyum. "Ini hanya latihan. Jangan berkhayal yang aneh-aneh!" Mereka berhenti berdansa, lelaki itu memperbaiki pakaiannya, lalu matanya menatap tajam dan jijik pada Misaki. Respon perempuan bermata empat itu hanya menyipitkan mata, jengkel dan bingung tersirat di kedua bola matanya. "Bagaimana? Masih mau lihat foto Misaki, tidak?" Reiko kembali usil. "Tidak tertarik. Misaki, ayo pulang! Ini sudah malam. Kau mau kerja, kan?" Ia berjalan meninggalkan tempat itu. Reiko menghela napas panjang. "Anak itu…" "Reiko-san. Terima kasih banyak atas hari ini. Ini sangat luar biasa." Misaki membungkukkan badan, berkata dengan sungguh-sungguh. "Jangan sungkan. Tolong jaga Wataru-kun untukku, ya!" ia memeluk Misaki kuat-kuat. *** "Ingat semua hal yang kau pelajari tadi. Besok sebisa mungkin aku tak akan berlama-lama di tempat itu." Wataru memasang sabuk pengaman, kacamatanya berkilau. "Memangnya tujuan Toshio-san hadir di reuni itu apa, sih?" Dia tak menjawab langsung, tangannya memegang kemudi. "Kau ini cerewet juga, ya, seperti Reiko. Apa kau sudah ketularan virus darinya?" Duh, masa bertanya saja tidak boleh? Misaki ciut. "Yah… kan, aku perlu tahu sedikit informasi mengenai tunangan palsuku. Kalau ada yang bertanya padaku, aku jawab apa, dong?" Sesaat, Wataru tampak berpikir. "Benar juga." Iyalah! Memang benar! Pekik Misaki dalam hati, kesal bertubi-tubi. "Jadi, kau mau tahu apa tentangku?" "Ehm…. Untuk pertama-tama. Apa pekerjaan Toshio-san?" Misaki mengamati ekspresi lelaki itu. "Aku bermain saham." "Oh… kirain gig*lo…" ucapnya spontan, setengah berbisik. "Apa?" mata Wataru memicing tajam ke arahnya. Cepat-cepat Misaki menggeleng, panik. Gawat! Mulutnya jadi suka lepas kendali akhir-akhir ini sejak bersama lelaki itu. "Coba kau ulangi lagi." Nada suaranya terdengar tak ada keramahan sama sekali. Hati Misaki mencelos. Perasaannya jauh dari kata baik-baik saja. "Aku bilang. Toshio-san hebat, ya, main saham." Ia tersenyum kikuk. "Kau mau membodohiku, ya? Ulangi kalimat sebelumnya!" Tatapan lelaki itu kini tampak dingin. "Ki-kirain… gi-gig*lo…" Suara Misaki mengecil seiring kata-kata yang keluar dari mulutnya, ia merapatkan tubuhnya ke pintu mobil sejauh mungkin dari lelaki yang mulai tampak seolah ada api berkobar tinggi di belakangnya, takut dengan reaksi selanjutnya. Namun, ternyata lelaki itu hanya diam membisu, kedua matanya menatap Misaki dengan tatapan yang sulit ditebak. Pembawaannya berubah dingin dan tenang. Dia ini benar-benar roller coaster, ya! Seru Misaki membatin. "To-Toshio-san…?" tegur Misaki takut-takut. Mendengar itu, tangannya memutar kunci mobil dan menginjak gas kuat-kuat. Perempuan bergaun merah itu berteriak histeris seketika itu juga. Kedua tangan dan tubuhnya terhentak ke belakang, panik bukan main, dan buru-buru memakai sabuk pengaman yang belum sempat dipasangnya. Laju mobil itu sangat kencang hingga sekujur tubuhnya menggigil hebat! Wajahnya pucat bukan main. Kedua tangannya berusaha menahan tubuhnya agar tidak terlempar, mencengkeram kuat-kuat pada apa saja yang sanggup diraihnya di dalam mobil mewah itu. "MAAFKAN AKU! MAAFKAN AKU, TOSHIO-SAN!" Bukannya menerima permintaan maaf Misaki, lelaki itu malah menambah kecepatan dan membelah jalanan seperti orang gila lepas kendali. Senyum di wajahnya terlihat bengis dan penuh jenaka tiada ampun.  -----------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD