"Sepertinya kau punya gaya bicara yang unik, ya, 'waka. sama'?" sindirnya dengan penekanan dibuat-buat di akhir kalimat. Wataru menatap miring ke arah Mamoru. Ia memijat-mijat tangannya yang sakit akibat pitingan tadi. Meski terlihat tangguh di luar, tapi dalam hati ia meringis efek dari pitingan sang butler, lumayan juga untuk pria sepertinya. Sudah lama ia tak melatih tubuh dan kemampuannya sehingga tak heran dengan mudahnya ia dikalahkan. Walau tahu kenyataan itu, tetap saja membuatnya cukup terkejut oleh serangan tiba-tiba yang tak pernah dibayangkannya hadir dari seorang butler tua. Keterkejutan itu meninggalkan rasa jengkel lain selain sikap para penumpang mobil limusin yang begitu sombong. Mamoru kembali tertawa-tawa girang sejenak, "saya orang yang sibuk. Tolong sebutkan saja ber

