Selama beberapa menit, Wataru duduk di ruang tamu dengan wajah merengut tak nyaman, kesal dan berusaha menahan kesabarannya. Jika bukan karena ingin bertemu keluarga Misaki dan menggali informasi tentang mereka, mana mau ia bersama seorang ibu-ibu kompleks ngeteh di ruang tamu dan menghabiskan waktu untuk bergosip. Apalagi kalau bukan itu? "Maaf, tehnya baru selesai disiapkan!" ujarnya pada Wataru, tersenyum lebar nyaris cengegesan. Tangannya meletakkan secangkir teh panas di depan tamunya dan menyisihkan sisanya untuk dirinya sendiri. "Terima kasih," gumam Wataru, menjaga sopan santunnya. "Ya, silahkan. Ini sedikit camilan enak. Ayo, dicoba!" Perempuan itu melirik diam-diam penuh minat pada Wataru ketika menggeser sepiring kue berbagai macam bentuk dan rasa ke tengah meja. Kedua mata

