Bab 06: Benar-benar terpisah

1208 Words
Queen of Ze liyang Kuda berlari mengarah kepada Xue Ze dan juga Hua ren, begitu pula juga dengan kelompok berbaju hitam yang saat ini sedang mengejar mereka. "Lihat paman ada minguk kemari!" seru Xue Ze saat kuda tersebut makin dekat dengan mereka. "Apa kamu bisa menaiki kuda?" tanya Hua ren memperhatikan kuda dan juga orang-orang yang berada di belakangnya. "Tentu saja aku bisa." ungkapnya. "Baiklah, bersiaplah lemaskan badanmu." ucap Hua ren memegang tubuh Xue Ze dan dengan seksama memperhatikan kembali kuda tersebut. Aaa! Paman! Xue Ze di lempar oleh Hua ren, tepat ke punggung kuda. Ia sempat menjerit, namun setelah tersadar lemparan Hua ren tepat sasaran ia pun terdiam. kemudian, ia memperhatikan ke belakang, melihat Hua ren yang tertinggal jauh bersama dengan kelompok berbaju hitam. Hua ren melihat kedua tangannya, "Sepertinya aliran KI milikku masih belum bisa digunakan sepenuhnya. Paling tidak, aku sudah menyelamatkan anak Xue tao sebagai balas budi." Terdengar seruan, kelompok berbaju hitam. "Kejar gadis itu dan jangan bunuh dia." mereka melewati Hua ren, begitu saja tanpa menghiraukannya. "Entah kenapa aku kesal, mereka melewatiku begitu saja." Hua ren langsung bangkit dari persembunyiannya dan melempar beberapa batu yang mengenai langsung ke kepala salah satu anggota dan membuatnya pingsan. "Ada seseorang di belakang!" serunya kepada anggota yang berada di belakang. Mereka berbalik ke arah Hua ren, sedangkan sisanya tetap mengejar Xue Ze. Mereka saling memegangi kawat yang sama dan di rentangkan mengarah kepada Hua ren. Sebaliknya, satu orang di belakang mereka berdua menyerang menggunakan pisau kecil yang di lempar kepda Hua ren. Hua ren yang hanya bersandar ke pohon sambil menyeringai menunjukkan wajah angkuh meski fisik belum pulih spenuhnya. "Ayolah kemari! Aku akan melawanmu dengan tangan kosong." cetus Hua ren tersenyum angkuh.  Lawan makin segan untuk membunuh Hua ren, salah satunya menyerang sendirian. Ia dengan lihai memanfaatkan kecacatan kaki yang terjadi pada Hua ren. Hua ren sebisa mungkin meminimalisir gerakannya, namun ia telah melakukan banyak gerakan dan tindakan yang cukup merugikan bagi dirinya. Meski gerakan yang di hasilkan tidak tidak sempurna, karena kecacatannya. Namun ia cukup lihai menghalau serangan lawan. Lawan hanya mengalihkan perhatiannya, Hua ren pun dikejutkan oleh lawan yang tiba-tiba, sudah berada di dekatnya sambil merentangkan kedua kawat. Hua ren melompat tinggi memanfaatkan aliran KI. Setelah meleset, suara nyaring pun terdengar lalu dilanjutkan dengan suara pohon rubuh. Hua ren baru menyadari pohon tersebut roboh hanya dengan menggunakan kawat saja. "Mereka sungguh gila bagaimana jadinya jika aku tidak bisa menghindari serangan tersebut." gumam Hua ren yang hanya meranga di atas tanah. Sebelum kakinya benar-benar turun, serangan lemparan pisau mengarah padanya. Kemudian disusul oleh lawan yang melempar kepada Hua ren. Gerakan tiba-tiba yang dilakukan lawan cukup membuatnya kerepotan apa lagi salah satu kakinya sedang tidak dalam kondisi prima, akibatnya ia tidak bisa menghindar sempurna dan luka fisik pun tak terhindarkan. Gerakan kedua orang yang baru saja merobohkan pohon begitu lincah menyaingi salah seorang rekannya yang sibuk menyerang Hua ren. Tendangan kombinasi antar kedua orang berbaju hitam begitu kompak. Hua ren terplanting sejauh dua puluh meter akibat serangan dua orang tersebut. Lalu, tubuh Hua ren tertahan oleh pohon besar yang berada dibelakang dan mulutnya mengeluarkan banyak darah karena luka dalam. Raut wajah sayu terlihat samar, ia menatap kembali kaki kirinya, "Sepertinya ini adalah akhir kisah hidupku bersama dengan dosa besarku ..." ungkap Hua ren menatap satu orang berbaju hitam berlari ke arahnya sedangkan kedua orang yang baru saja membuatnya tersungkur pergi ke arah Xue Ze. Kini orang berbaju hitam sudah berada didepan Hua ren, terlihat lemas menatap sayu wajah tertutup yang akan membunuh dirinya, tangannya terlihat mengangkat pedang. Darah keluar dari daging hidup, ia dikejutkan darah keluar dari tubuh yang ternyata bukan berasal darinya melainkan dari lawan. Salah satu orang berbaju hitam ikut terkejut setelah melihat sesuatu di dadanya tertembus. Orang berbaju hitam tersebut pun terjatuh tepat menindih Hua ren dengan panah yang menembus d**a. Padahal dirinya sudah memasrahkan nyawanya sendiri. "Hua ren? Apa kau baik saja?" seru Xue tao dari jarak jauh, lalu ia pun melempar kedua senjata milik Hua ren, "Terima ini! aku yakin kamu sudah bisa memakai sedikit kekuatanmu untuk bergerak." sambungnya segera pergi mengejar kelompok berbaju hitam yang juga mengejar Xue Ze. Hua ren yang tadinya pasrah seketika kembali berdiri, dan mulai menyingkirkan mayat yang saat ini menindihnya. Meski hanya menggunakan satu kakinya, ia tetap berdiri dan melangkah hati-hati melewati setiap jengkal bekas pijakan Huaren. *** Suara guntur menggelegar, hujan pun turun bersamaan membuat tanah lembab dan becek. Dedaunan pun berguguran bersamaan dengan hembusan angin kencang. Kemudian, langkah mereka berlari menerjang alam. "Sial gara-gara pria kaki satu tadi kita berdua tertinggal!" "Tenanglah kak, paling tidak misi kita akan berakhir dan kita akan mendapatkan uang yang banyak." Baru saja suasana keruh, tiba-tiba ia tertawa kencang. "Kau benar saudara kecilku, mereka akan membayar tinggi setelah berhasil menculik mereka. "Benar sekali kak, mereka akan membayar mahal atas tindakan kita." "Ayo cepat dik, kita harus mengejar mereka agar kita cepat-cepat mendapat bagian." Mereka mempercepat laju larinya menggunakan KI yang sudah terlatih sejak kecil. Namun, saat tengah mempercepat laju, tiba-tiba sesuatu melesat tajam menyalip mereka dengan mudahnya. Mereka berdua pun lantas memperlambat sebentar lari untuk hanya sekedar menengok. Panah tiba-tiba kembali menyerang mereka, tepat setelah mereka menengok dan melewati mereka berdua. "Sial, ada seseorang yang menyerang kita dari belakang ." gumam salah satu dua bersaudara. Mereka terus berlari menghiraukan orang yang berada di belakang. Namun, tembakan lawan makin meresahkan setelah salah satu saudaranya terkena pada bagian lengan kiri. Salah satunya terhenti, "Kakak!"  Mengetahui adiknya terkena panah, ia pun berhenti sambil bersembunyi di balik pohon. Hujan lebat membuat darah saudaranya menyebar luas ke kain dan bercampur dengan air hujan. "Tenang saja, kau akan baik saja." ungkapnya menenangkan. Anak panah itu menembus dalam hingga terlihat ujung panahnya. Dirinya memberanikan diri untuk menarik panah yang menancap ke lengan adiknya, "Adik bertahanlah aku akan mengambil panah ini." ungkapnya. Ia mematahkan badan kayu anak panah, selanjutnya ia menarik dari depan bagian tajam dari panah sekuat tenaga. Adiknya berteriak kencang menggema bercampur dengan suara lebatnya hujan badai saat itu. Setelah itu, adiknya terlihat terdiam. "Adik Liu ..." ucapnya sambil menepuk pipi berulang kali. Lalu panah pun kembali mengejutkan dirinya yang menancap di pohon tempatnya berlindung, "Sabarlah dik, aku ... akan menjagamu." sambungnya sambil ia mengusap air hujan yang menghalangi pandangan. Panah itu kembali melesat mengenai pohon yang menjadi tempatnya berlindung berdekatan dengan panah sebelumnya. "Apa kamu masih menyimpan obat penyembuhnya?" "Belum aku pak-ai ... masih ada di sakuku, sepertinya sudah basah." "Pakai saja, jangan pikirkan apapun. Aku akan membereskan pengecut itu." "Hati-hati kak Yong." "Tenang saja." Yong pergi meninggalkan Liu sendirian dibawah pohon besar dalam kondisi luka berat pada lengannya. Hujan badai makin kencang, kilatan petir pun makin terang setiap kali guntur berbunyi keras. Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Riyuu Way
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD