Queen Of Ze liyang
Yong keluar dari persembunyiannya di balik pohon memancing lawan untuk menunjukkan diri. Pandangannya melihat sekeliling, meski yang ia lihat hanya pohon saja, namun ia yakin sedang di awasi dan sedang di jadikan target panah lawannya.
"Keluarlah kau!"
Baru saja mengucapkan dua buah kata, panah kembali melesat dari titik buta Yong. Menggunakan Reflek dan rasa waspada tinggi, Yong dapat menghindari.
Guntur kembali menyeru disusul dengan kilatan petir. Bayang-bayang pohon rindang dan juga dedauan terlihat dalam sekejap, mereka seakan tidak peduli saat alam sedang menunjukkan kekuatan dasyatnya. Namun, lagi-lagi panah kembali melesat ke arah Yong, ia begitu hebat mengendalikan akurasi tembakannya meskipun angin makin kencang yang sering kali menghambat arah lajur anak panah.
Yong tidak tinggal diam saja, ia kembali merasakan arah tembakan panah itu lagi. Padahal beberapa inderanya dihambat oleh alam yang tidak terlalu mendukung. Yong sedari tadi menghindari anak panah itu, tanpa melawan.
Pada titik tertentu ia pun mengetahui beberapa lokasi anak panah itu di tembakkan. Lawan yang di hadapi Yong cukup handal menyembunyikan diri di balik gelap malam di banding Yong sendiri.
Tanpa berpikir lagi Yong segera bersembunyi di balik pohon-pohon sambil langkahnya mendekati arah panah itu di luncurkan. Secara acak namun pasti Yong mulai mengetahui arah tembakan lawannya.
Akhirnya, ia pun melempar belati bersamaan dengan terikatnya kawat pada gagang belati. Yong membuat penghalang dari kawatnya guna mempersempit jalan kabur pemanah misterius.
Mereke sangat memperhitungkan langkah masing-masing agar tidak masuk ke dalam jebakan. Kewaspadaan mereka dalam menentukan langkah seperti bertarung dengan bayangan.
***
"Sudah aku bilang kau tidak bisa kabur saat ini."
Xue tao menembakkan anak panahnya, sialnya anak panah tersebut meleset setelah angin kencang tiba-tiba muncul bersamaan dengan hujan deras.
"Sial!" umpat Xue tao, kembali berlari mengejar mereka. Ia kembali mencari posisi yang tepat untuk mempermudah menembakkan anak panahnya.
"Sebaiknya persiapakan dirimu." Xue tao kembali menembakkan anak panahnya, kepada mereka berdua yang tengah berlari menjauhi dirinya. Salah satu dari mereka terkena anak panah Xue tao tepat pada bahu sebelah kirinya. Xue tao segera berhenti setelah mengenai salah satunya dan mendengar teriakan lawan yang bercampur rasa takut.
Hujan makin lebat diiringi dengan kencangnya angin. Ia lebih memilih berhenti dan menjaga jarak sejauh tiga ratus meter dari lokasi lawan.
Lawannya bersembunyi di balik pohon, Xue tao kembali menembakkan anak panahnya memberi peringatan kepada sang lawan, bahwa ia sedang mengawasi mereka. Dua kali tembakan di tengah hujan lebat Xue tao lancarkan sengaja berdekatan dengan anak panah sebelumnya.
Xue tao terlihat sangat sengaja melakukan hal tersebut kepada lawan, ia pun lebih memilih pergi meninggalkan mereka.
"Keluar kau!"
Xue tao mendengar seruan keras seolah menantang dirinya untuk keluar.
"Sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini." gumam Xue tao melihat arah suara itu di serukan. Ia pun kembali membidik orang berbaju hitam di tempat yang cukup terbuka tepat di belakang orang itu. Xue tao menembakkan anak panah itu beberapa kali bersamaan dengan hujan deras dan juga guntur yang menggelegar secara terus menerus. Tapi, lawan Xue tao cukup tangguh, ia beberapa kali menghindari anak panahnya. Kemudian, ia tiba-tiba berlarian kencang membuat arah bidikannya semakin acak, lalu menghilang di tengah gelap malam.
***
kawat milik Yong sudah mencapai batasnya, ia pun langsung melancarkan rencana selanjutnya. Yong mencari lokasi tepat lawan bermodalkan arah panah yang tertuju padanya.
Rentetan panah kembali melesat ke arahnya, Yong semakin yakin arah yang dituju saat ini sudah dekat dengan tujuannya.
Tanpa tidak diduga Yong juga di kejutkan dengan lawan yang muncul secara tiba-tiba mendekat dan melewatinya, "Apa kamu mencariku?" Ia pun menyerang menggunakan busurnya yang kokoh serta di masing-masing ujung busur terdapat pisau tajam.
Reflek hindar Yong cukup bagus di gelapnya malam, mereka bertarung dengan sengit. Hujan badai mengiringi pertarungan mereka, petir dan guntur seolah menyemangati untuk saling membunuh.
Pedang Yong saling beradu dengan busur lawan. Senjata mereka terus beradu bahkan pada bagian ketajaman senjata masing-masih mulai terkoyak menumpul karena terlalu sering beradu.
Tidak ada satu pun dari mereka, yang terluka. Kekuatan mereka seimbang. Mereka saling menjauh setelah mengalami beberapa luka akibat pertarungan.
"K-kau sungguh hebat, sudah lama aku tidak merasakan hal ini. Apa kerajaan baik-baik saja?"
"Terima kasih, kau pun begitu. Apa yang kamu maksud? "
"Oh begitu, jadi kamu bukanlah bagian dari kerajaan? Pantas saja, gaya bertarungmu sangat berbeda dengan apa yang pernah aku pelajari."
Mereka saling memandang, lalu kembali berlari kearah yang berlawanan dan kembali beradu senjata.
"Xue tao itu namaku."
"Yong, senang mengenalmu."
Perkenalan di tengah pertarungan, mereka saling mengakui kemampuan masing-masing individu.
Yong begitu lincah memanfaatkan celah lawan yang masih terlihat kaku. Hingga beberapa kali Xue tao mengalami luka pada bagian bahunya meski tergolong ringan.
Xue tao berusaha lebih keras karena telah lama tidak menggunakan teknik bertarungnya. Serangan mematikannya beberapa kali masih sanggup di tangkis. Meskipun, anak panah Xue tao masih ada dan beberapa kali memiliki kesempatan, namun ia tetap tidak mau menggunakannya.
Gerakan gesit masih di miliki Xue tao meski masih kalah gesit dengan Yong. Pertarungan sengit mereka akhirnya berhenti saat Yong terlihat kabur menjauhi Xue tao.
Mengetahui niat Yong, tentu saja Xue tao mengikutinya namun ia tidak berlari melainkan membidiknya seolah menembak buruan seperti biasa dirinya lakukan.
Yong berlari zig-zag demi bisa menghindari semua anak panah yang di arahkan padanya. Lalu ia pun memotong Kawat yang berada didepannya menggunakan pedangnya. Tanpa di duga setelah itu, beberapa pohon tumbang jatuh di sekeliling Xue tao jatuh ke arahnya. Namun ada beberapa pohon yang terlambat jatuh, karena tersangkut pohon lain menahan.
Yong pun berhenti berlari setelah rencananya berhasil dilancarkannya. Ia melihat beberapa pohon besar tumbang tepat di depan matanya dan memperhatikan situasi yang ada.
Hujan badai sudah mereda, petir pun sudah tidak muncul kembali. Yong berpikir untuk kembali ke saudaranya yang sedang terluka.
Baru saja ia memalingkan pandangannya, Yong kembali di kejutkan oleh panah yang kembali melesat lalu mengenai kakinya, ia pun terjatuh saat itu juga dan kembali memandang ke arah panah itu di arahkan padanya.
"Kau benar-benar membuatku terluka. Baru saja aku memberimu hormat. Ternyata cara bertarungmu cukup licik," cetus Xue tao berjalan tertatih ke arah Yong.
Yong hanya terdiam saja tidak membalas ucapan lawannya, "Baiklah sekarang apa yang akan kamu lakukan? Mau membunuhku? Lakukan saja."
Xue tao kini berada dekat dengan Yong, "Aku menyukai gaya bertarungmu persis sewaktu aku seusiamu. Tenang saja aku akan membiarkanmu hidup, sampai bertemu lagi, Yong." ia pun meninggalkan Yong begitu saja tanpa membalas lagi, meski baru saja ia hampir terbunuh akibat pohon tumbang itu.
Xue tao kembali berlari cepat meski telah banyak luka akibat pertarungan melawan Yong.
Yong terlihat bingung menanggapi situasi yang saat ini dialaminya, ia melihat lawannya pergi begitu saja. Mengetahui ia di berikan kesempatan hidup, Yong tidak menyia-nyiakannya. Ia pun mencabut panah yang tertancap pada kaki lalu pergi menuju adik yang sedang menunggunya.
---------------------------------------------------------------------------------------
Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku.
Mohon di mengerti, kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE.
Riyuu Way