Queen of Ze Liyang.
Semalaman mereka berkutat dengan kematian, sepanjang malam itu pula mereka berpisah. Namun, saat subuh menjelang pagi mereka di pertemukan kembali dan saat ini mereka tidak bisa lagi kembali ke rumah dan harus menuju ke timur untuk menemui teman Xue tao di sana.
Selama perjalanan mereka menuruni gunung dan bukit yang belum pernah dilalui manusia, ini sengaja dilakukan agar orang-orang berbaju hitam tidak dapat menemukan mereka selama perjalanan.
Butuh waktu setidaknya setengah hari untuk menuruni gunung dan juga mencari jalan. Meski jalan yang dilalui cukup sulit untuk di lewati. Namun, mereka tidak terlalu banyak mengeluh dan terus melangkah sampai mereka menemukan jalan umum yang sering di lewati manusia.
Jalanan tampak sepi dan itu hal wajar, mengingat kondisi tanah yang sangat becek serta berlumpur pasca hujan badai tempo lalu.
Mereka terpaksa turun dari kuda-kuda yang mereka tunggangi karena tanah terlalu licin membuat kuda tidak bisa berjalan dengan baik.
Kaki mereka di penuhi lumpur, alas kaki yang terbuat dari jerami pun ikut menyatu dengan lumpur yang terbawa setiap kali melangkah.
"Ayah, aku lapar ... aku ingin makan ubi rebus." ucap Xue Ze mengeluh lapar sambil mengelus perutnya.
"Lihat sebentar lagi kita sama di desa." tunjuk ayah ketika menemukan beberapa orang yang berada di depan mereka terlihat ramai berbondong-bondong menuju arah yang sama.
Mereka tetap sabar menanti, sampai pada akhirnya mereka pun tiba di sebuah desa bernama Yelu yang sangat dekat dengan ibukota Lin pei.
Mereka kembali menaiki kudanya saat dirasa tanah tidak terlalu licin. Riuh-riuh ramai saat melewati desa masih terasa meski sudah siang. Mereka akhirnya sampai ke kedai yang berada di seberang jalan. Lalu mereka pun turun dari kuda, selanjutnya menuntun kuda itu di samping kedai.
Xue Ze menarik-narik baju ayahnya, "Apa ayah mempunyai uang?"
Xue tao hanya tersenyum mendengar perkataan anaknya, "Tenang saja, aku mempunyai uang. Cukup untuk kita bertiga." terangnya kepada putrinya.
Senyuman terpancar setelah mendengar ucapan ayahnya, Xue Ze pun segera menarik kedua orang terdekatnya, "Ayo ayah kita masuk kesana."
Salah satunya terkejut ketika di tarik keras. "Hei, hati-hati lihat aku meninggalkan kayuku!" seru Hua ren menahan gerakan ayahnya sendiri saat di tarik oleh Xue Ze.
Xue Ze melepas pegangan tangannya , "Ayolah cepat Paman, nanti aku tunggu ya."
Hua ren hanya memasang wajah tersenyum saja, "Iya nanti aku susul." kemudian mengambil batang kayu sebagai penyeimbang tubuhnya yang di ambil saat tengah menuruni gunung, selanjutnya ia segera menyusul masuk ke kedai.
Jalan masuk kedai tidak di menggunakan pintu melainkan hanya menggunakan tirai kain berwarna coklat saja sebagai gantinya, selanjutnya Hua ren menyibakkan tirai. Pandangannya sangat teliti, disana ia melihat sekumpulan Pria dari segala usia dan beberapa anak kecil, meja-meja saling terhubung satu sama lain. Tidak ada batasan tempat duduk karena meja yang saling terhubung. Meski kedai terlihat kecil, akan tetapi bagian dalam terlihat sedikit luas mungkin penyebabnya karena penataan tempat yang rapi.
"Mau apa tuan? Di sini ada Bapau daging, sup daging, dan juga masakan andalan kami yaitu mie." ucap pramusaji menawarkan beberapa makanan kepada Xue tao.
Xue tao melirik putrinya, "Apa kamu mau sesuatu?"
"Aku mau mie, aku sedikit penasaran dengan rasanya." ucap Xue Ze tanggap menjawab sambil tersenyum lebar.
"Pesankan kami tiga porsi mie." ucap Xue Ze memesan.
"Baik, apa tuan mau memesan minuman juga? Kami juga memiliki arak yang sangat enak."
"Pesankan aku tiga gelas air saja."
"Baik akan segera tersedia, mohon tunggu sebentar." ucap pramusaji tersenyum kepada pelayannya, ia segera menyiapkan.
Hua ren duduk di samping Xue tao, tidak ada pembicaraan selama menunggu pesanan datang. Mereka hanya memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya.
Pesanan pun datang, pramusaji menata rapi mangkuk dan gelas, "Ini dia mie yang tuan pesan, dan juga air minumnya, silakan di makan tuan."
"Terima kasih." balas Xue tao membalas senyuman pramusaji.
Mereka segera memakannya dengan lahap, tanpa memperdulikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Tentu saja, para pelanggan yang mampir di kedai tersebut terpaku pada mereka.
Mereka menghabiskan mie tersebut dalam beberapa menit. "Ah, terima kasih makanannya. Berapa harga makanan ini?" tanya Xue tao mengelap sisa kuah yang bersarang di kumisnya.
"Hanya satu koin perak dan lima perunggu tuan." balasnya tersenyum."
"Terima kasih," Xue tao segera membuka sekantong koin yang berisi berbagai jenis koin. "Ini koinnya." Kemudian ia pun memberikannya kepada pramusaji.
Mereka bertiga segera pergi meninggalkan kedai. "Tuan tunggu sebentar." Tidak berselang lama, pramusaji itu menyetop mereka.
"Apa kalian bertiga penyintas? Jika kalian berjalan lurus mengarah ke ibukota, di sana ada penginapan murah, bernama penginapan Kaili." ungkap pramusaji itu dengan murah senyum.
Xue tao tersenyum, "Terima kasih, kebetulan itu yang sedang kami butuhkan." Lalu mereka pun pergi dari kedai dan kembali melanjutkan perjalanan. menuju Ibukota.
***
"Apa benar ini tempatnya?"
Xue tao melihat papan kayu bertuliskan 'PENGINAPAN KAILI'. Rasa ragu muncul dalam benak Xue tao, saat ia membayangkan penginapan murah yang dapat ia bayangkan adalah tempat itu memiliki kesan kotor dan kumuh karena tidak terawat. Namun, penampilan tempat penginapan bertolak belakang dengan apa yang dirinya bayangkan. Xue tao memutuskan turun untuk mengecek langsung penginapan tersebut.
"Xue Ze sekarang kamu pergi ke kandang itu ... bersama paman dan tunggu Ayah menghampirimu." tutur Xue tao sambil menunjuk kandang yang berada di samping penginapan, setelah itu ia pergi berjalan masuk ke rumah penginapan.
Xue Ze memangangguk menuruti ucapan ayahnya lalu pergi bersama kuda tunggangan. Setelah menaruh kuda di kandang, Xue Ze dan juga Hua ren hanya memperhatikan orang-orang yang sedang lalu-lalang membawa barang menggunakan kudanya ataupun hanya berjalan kaki.
Ibukota terlihat lebih ramai dari desa sebelumnya. Mereka saling berbagi jalan untuk sampai ketujuan masing-masing. Pemandangan nyaman itu terhenti setelah ada pencuri yang lari dari kejaran orang-orang.
Mereka mengejar dan meneriakinya tanpa henti sampai ia tidak terlihat lagi dari pandangan Xue Ze.
"Paman, kenapa ayah lama sekali?" tanya Xue Ze menatap cemas.
"Sebentar lagi ayah datang, tunggulah sebentar." jawab Hua ren tersenyum yang masih menunggangi kuda kecil begitu pula dengan Xue Ze.
Xue Ze nampak gusar tapi ia tetap menuruti perintah ayahnya, karena takut akan terjadi sesuatu. Mereka kembali menunggu sampai berbagai kejadian yang belum di lihat Xue Ze terjadi di tempat ini.
Aya Xue Ze pun datang, ia memasang wajah senang. Xue Ze yang melihat ekspresi senang ayahnya pun dapat menebak bahwa mereka telah dapat penginapan.
Xue tao mengajak turun, Xue Ze dan juga Hua ren untuk pergi ke penginapan. Mereka memesan dua buah kamar. Sesudah itu, masing-masing dari mereka memutuskan membersihkan diri dan beristirahat menunggu pagi menyapa kembali.
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Riyuu Way