Queen of Ze Liyang.
Suara telapak kuda sedang berlari cepat menerjang badai hujan yang sudah mereda. Penunggang kuda sangat lihai menungganginya di keadaan malam gelap dan becek, pandangan tetap menatap ke depan tanpa ada keraguan sedikitpun. Meski ia tahu ada sekumpulan orang di belakang yang sedang mengejar dirinya.
"Hyah! cepat minguk! Aku mengandalkanmu!" seru Xue Ze memerintah kudanya untuk lebih cepat berlari.
Kuda yang ditunggangi Xue Ze begitu cepat meninggalkan orang-orang sekelompok berbaju hitam. Xue Ze dan kudanya pergi masuk ke dalam hutan, entah mengarah kemana asalkan dirinya bisa kabur.
Minguk sangat patuh mengikuti perintah Xue Ze yang sedang menungganginya. Kemudian, mereka berdua berlari makin dalam ke hutan gelap. Akhirnya mereka berhenti di tepi tebing curam yang hampir membuat Minguk celaka dan juga penumpang.
Xue Ze menengok ke arah belakang, memperhatikan situasi yang makin genting jika ia berdiam terlalu lama di satu tempat. Kudanya bersuara, ia seperti memberikan isyarat agar segera pergi dari sini.
Dirinya mendengar sebuah langkah cepat sedang mengarah kemari. Xue Ze terlihat kebingungan, dan jalan satu-satunya yang ia tahu di saat itu juga yaitu menuju ke jurang sana. Xue Ze bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi jika ke bawah sana, ia hanya mengetahui disana gelap.
Suara langkah itu semakin dekat, Xue Ze tidak ada waktu untuk memilih pilihan lain. "Minguk ... percayalah padaku ..."
***
"Aku yakin mendengar suara kuda di arah sana, cepat kerahkan semua kemampuan kalian." mereka sangat senang setelah melihat sebuah kesempatan besar menanti didepan mata.
"Kita semakin dekat."
Lari mereka semakin cepat melangkah. Pada akhirnya mereka menemukan sebuah jurang tinggi di bawah sana, Salah satu orang sempat membuka topeng wajahnya. Orang tersebut terlihat seperti pemimpin kelompok, itu sudah bisa di tebak dari gaya bicaranya.
"Sial!" Umpat pemimpin kelompok sambil membuang penutup wajah ke dalam jurang, "Gadis dan kuda tersebut ada dimana sekarang?" Matanya memandangi segala arah tidak terkecuali jurang gelap di bawah sana.
Mereka pun membagi dua kelompok untuk menelusuri bibir tebing jurang yang panjang. Hujan badai sudah mereda dan hampir berhenti namun Xue Ze belum lepas dari pengejaran.
Salah satu anggota tiba-tiba memasang kawat ke pohon lalu ia pun langsung terjun begitu saja. Tanpa memberitahukan ke rekannya. Setelah ia terjun, dirinya masih meraba-raba gelapnya malam karena minim cahaya.
"Apa kamu melihat sesuatu disana?" Sahut rekannya yang ikut mengintip dari balik tebing.
Orang itu masih terdiam, lalu ia pun kembali memanjat pohon menarik kawatnya. "Aku tidak melihat apapun di sana yang mencurigakan, yang ada di sana hanya sebuah akar-akar besar seperti sedang menarik kedua tebing dan juga tumbuhan merambat." ucapnya begitu detil menggambarkan situasi yang berada di bawah.
"Berpencar satu-satunya cara kita dapat menemukan gadis itu."
Mereka pun menyebar sesuai arahan yang ada.
***
Kuda bernama Minguk berada di bawah bersama dengan Xue Ze. Minguk sempat bersuara khas di bawah sana dan menggesek-gesekkan kakinya. Xue Ze hanya terdiam mendengarkan dengan seksama keadaan diatas sana sambil menahan suara yang di hasilkan Minguk.
Beberapa kerikil terjatuh kebawah jurang, ia mendengar ada seseorang sedang turun ke bawah jurang. Xue Ze menarik napas dalam menahan napasnya saat salah satu orang berada di bawah.
Xue Ze menarik napas lega setelah ia mengetahui orang tersebut tidak menghampirinya. Lalu ia mendengar langkah mereka berlari ke arah berlawanan. Ia kembali menarik napasnya. Ia memutuskan berdiam diri untuk sementara hingga keadaaan benar-benar aman, Xue Ze merasa lelah dan kehausan, tapi ia menahan diri sampai dirinya tidak sadar telah tertidur diatas kuda.
***
Suara tapak kuda berlari ke arah tebing curam, Xue Ze terbangun dari tidur singkatnya setelah mendengar suara tersebut.
Minguk bertingkah aneh lagi ia seolah mengetahui sesuatu dan ingin segera memberitahukan itu kepada Xue Ze. Namun Xue Ze Ragu untuk mencari tahu lebih dalam, Ia hanya berdiam diri sambil mengelus-ngelus kudanya agar tetap tenang dan tidak bersuara.
Tapak kuda semakin mendekat, hingga keujung tebing rasanya kuda itu tepat berada diatasnya. Xue Ze mendengar suara hentakan kaki yang turun dari kuda, detak jantung dan juga napas Xue Ze makin tidak beraturan serta napas tidak beraturan hingga sulit bernapas.
Ia melihat dan juga mendengar suara langkah yang mendekati bibir tebing tanahnya kerikil berjatuhan ke bawah tebing.
Detak jantungnya makin tidak beraturan serta napasnya pun makin sesak, tangan Xue Ze tetap terus menerus mengelus agar minguk tidak bersuara dan tetap tenang.
Kuda yang berada di atas kembali bersuara, selanjutnya tapak kuda menghentak beberapa kali ke tanah. Xue Ze Mendengar suara itu dengan jelas, respon mengejutkan dilakukan oleh Minguk kuda milik Xue Ze.
"Siapa yang berada di bawah sana?"
Kedua orang yang berada di bibir tebing saling mencari tahu asal suara itu.
"Xue Ze? Apa itu kamu?"
Sontak mendengar suara itu, Xue Ze langsung menjawabnya, "Ayah!" serunya terdengar menggema.
Xue tao melihat tebing yang gelap tanpa rasa takut, "Apa kamu berada di situ?" sambil memperhatikan setiap sudut gelap tebing.
"Aku berada di sini ayah! Aku berada di bawah!" seru Xue Ze kembali menggema.
Hua ren menelungkupkan badan dan membiarkan kepalanya berada bibir tebing, "Bagaimana kamu bisa masuk ke atas sana?" Ia kebingungan setelah mendengar ucapan Xue Ze.
"Aku melompat kebawah, di bawah sini ada akar besar yang terhubung langsung ke tebing!" seru Xue Ze dari balik bawah tebing menyerukan suaranya.
"Jadi apa kamu bisa kembali ke atas?!" seru Ayah Xue Ze ikut menyerukan suaranya.
"Ah, itu dia masalahnya. Aku tidak tahu cara ke atas sana." ucapan Xue Ze begitu mengejutkan mereka berdua yang berada di atas.
"Aku sudah mengetahui ini akan terjadi," cetus Hua ren memasang wajah masam, "Untung saja kuda yang kamu bawa masih kecil dan ringan untuk di tarik."
"Apa kamu punya rencana untuk mengangkatnya?" tanya Xue tao memandangi Hua ren.
"Tentu saja aku mempunyai ide, kita gunakan kudamu untuk menarik kuda yang berada di bawah dan juga Xue Ze. Aku sudah ada menyimpan peralatan disini."
"Lakukan saja, aku tidak mau banyak bertanya." ucap Xue tao.
Hua ren segera menurunkan tali dan juga melepas pakaiannya sendiri, "Aku membutuhkan pakaianmu juga." Pintanya kepada Xue tao yang sedang memperhatikan dirinya melepas pakaian.
Xue tao menurut saja saat Hua ren membutuhkannya dan tidak terlalu berkomentar banyak. Hua ren menggabungkan kedua pakaian mereka berdua untuk di jadikan alas saat mengangkat kuda dan juga Xue Ze. Selanjutnya, mengikat kuat-kuat kedua ujungnya pakaian lalu membiarkan sisa ujung lainnya.
Dengan satu kakinya yang masih tersisa, Hua ren begitu lincah melakukan aktivitasnya dengan melompat-lompat. Setelah semua di rasa sudah cukup, ia pun langsung menurunkan pakaian yang sudah terikat oleh tali. Entah bagaimana caranya mendapatkan peralatan dan juga kuda tersebut, akan tetapi itu tidaklah penting.
"Xue Ze, aku sedang menurunkan sesuatu padamu, pakailah itu lalu lingkarkan pada badan kuda milikmu dan jangan lupa untuk mengikatnya."
Xue Ze menuruti semua arahan Hua ren, "Baiklah, walau sedikit bau keringat." gumamnya sambil mengikatkan kedua ujung sisi lain pakaian milik kedua orang yang berada di atasnya.
"Sudah!"
"Baiklah," Hua ren segera mengalungkan tali itu ke kuda, lalu ia memerintahnya untuk menarik.
Melihat kuda itu sedikit berat menariknya Xue tao segera ikut membantu menarik ke atas. Mereka menarik secara perlahan agar tidak merusak tali, kuda yang berada di bawah tidak terlalu bersuara saat tengah di angkat ke atas.
Kendala terjadi saat hampir di ujung bibir tebing, kuda itu mulai merintih karena kesakitan bagian rambutnya terjepit. Xue tao langsung maju perlahan, dan segera memotong rambut itu menggunakan belati hasil jarahan. Akhirnya, kuda itu berhasil di angkat dengan selamat meski terdapat lecet di tubuhnya.
Sekarang tinggal Xue Ze yang masih berada di bawah, Xue tao kembali menurunkan pakaian itu. Tanpa berkomentar banyak Xue Ze segera mengikat pinggangnya mengguna kain lalu di tariknya dengan kuda. Proses penarikan Xue Ze lebih cepat dari pada kuda sebelumnya.
"Ahh, pakaianku robek," oceh Xue tao sambil melirik Hua ren yang terlihat datar mendengar ucapannya.
"Ayah ayo pulang." ajak Xue Ze menarik-narik pakaiannya.
Xue tao menarik napas dalam, "Kita tidak bisa pulang ke sana lagi ..."
"Terus, kemana kita harus pergi?" tanya Xue Ze bingung.
"Kita akan ke timur, di sana ayah mempunyai kenalan dan juga barang-barang yang ayah sengaja tinggalkan" ucap Xue tao lembut.
"Ini sudah menjelang pagi, ayo pergi sekarang." ajak Hua ren kembali menaiki kudanya.
"Apa kamu yakin mau mengikuti kami?"
"Tentu saja, aku berhutang nyawa kepada kalian."
"Baiklah kalau begitu kau turun sekarang juga." ucap Xue tao tegas.
"Hah? Kenapa kamu menyuruhku turun?" tanya Hua ren kebingungan tapi ia tetap menuruti permintaan Xue tao.
"Aku dan Xue Ze akan menaiki kuda besar itu, sedangkan kamu duduk menggunakan kuda itu."
"Bukannya itu terlalu kecil untukku?"
Xue Ze dibantunya ayahnya menaiki kuda, "Tenang saja, kuda itu kuat. Apa lagi berat badanmu sedikit ringan." ledek Xue tao melirik sebelah kaki kirinya, kemudian ia segera menaiki kuda, lalu pergi meninggalkan Hua ren begitu saja.
Hua ren terkejut setelah mendengar ucapan Xue tao, "Lucu sekali candaanmu itu, pak tua." Ia pun segera menaiki kuda kecil milik Xue Ze dan segera mengejarnya.
---=------------------------------------------------------------------------------------
Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku.
Mohon di mengerti, kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE.
Riyuu Way